
...Penderitaanmu terpancar jelas di wajahmu....
...Entah kenapa membuat hatiku jadi ragu....
...Sekarang aku tak tahu....
...Apa perasaan yang harus aku tunjukkan padamu?...
___________________________________________
Bianca terus berlari walaupun kakinya lecet dan juga dingin menusuk kulitnya, ranting-ranting pohon yang kecil membeset kulitnya yang putih membuat goresan-goresan kecil mengeluarkan titik-titik darah.
Bianca tak memperhatikan langkahnya hingga dia tiba-tiba salah menginjak tanah gembur yang langsung longsor dan membuat dirinya langsung jatuh dan berguling ke arah lereng hutan itu.
Tubuh Bianca yang memang sudah lemah berguling cukup jauh ke bawah hutan dan saat tubuhnya berhenti, Bianca sudah tak bisa lagi melakukan apa-apa, hanya melihat sekitarnya berputar di sana, pohon-pohon hutan itu perlahan hilang, dan lagi-lagi Bianca kembali hilang kesadaran.
---***---
Rain menikmati paginya, seperti biasa yang dulu dia lakukan dia hanya duduk menikmati secangkir kopi pahit sambil menatap ke arah pemandangan, dia mengetuk meja dengan jemarinya, Ken setia berada di belakangnya.
"Tuan, aku mendapatkan berita tentang Nona Bianca," ujar Luke yang langsung masuk dan melaporkan berita yang baru saja dia dapatkan.
Rain tidak merubah wajahnya, tak ada raut apapun di wajahnya yang membuat Luke sedikit bingung haruskah dia meneruskan laporannya tersebut. Luke melirik ke arah Ken, Ken hanya mengangguk sejenak seperti menyuruh Luke untuk melanjutkannya.
"Seseorang menemukan Nona Bianca di pinggir jalan di dekat hutan," kata Luke.
Mendengar hal itu barulah Rain sedikit bereaksi dengan mengerutkan dahinya, dia lalu melirik ke arah Ken.
__ADS_1
"Biarkan saja, aku rasa itu hanya jebakan," kata Ken ke arah Rain, Rain pun berpikir seperti itu, untuk apa dia kembali peduli dengan wanita yang sudah memfitnahnya, apalagi dengan gamblang Rain tahu wanita itu adalah milik Drake, jika dia kembali punya simpati, dia akan kembali di permainkan.
"Keadaannya sangat mengkhawatirkan, sepertinya dia sangat lemah, kepalanya sobek, dan kakinya penuh luka, pergelangan kakinya juga mengalami sprain (keseleo) Tuan, apakah kita masih akan meninggalkannya?" tanya Luke lagi.
Rain menyipitkan matanya, kilasan mata sedih dan juga takut saat melihat Rain waktu itu, membuatnya sedikit ragu, tapi Rain adalah orang yang tepat janji, apalagi untuk dirinya sendiri.
"Sepertinya Nona Bianca mencoba melarikan diri, dia jatuh ke lereng hutan yang merupakan bagian belakang rumah Tuan Drake, dia di temukan jam 3 pagi," kata Luke lagi yang ingin sekali menunjukkan foto yang membuatnya miris melihat wanita cantik itu terlihat begitu lemah dan pasti tak mungkin ada yang mau melukai dirinya sendiri hingga begini kecuali dia benar-benar tak takut.
"Ken?" kata Rain lagi tanpa melihat pria itu dibelakangnya.
"Benar, menurut informasi, mereka sedang sibuk mencari Nona Bianca, sepertinya dia berhasil kabur, Tuan, kita butuh dia untuk bisa melawan Tuan Drake, Nona Bianca satu-satunya saksi bahwa anda tak bersalah, kita bisa menekannya untuk mengaku, " ujar Ken lagi yang baru saja mengecek kebenarannya dan memberikan salam. Mempertegas apa yang memang ada di pikiran Rain saat ini, dia bisa memanfaat wanita ini tentunya.
Rain kembali diam, dengan tenang berdiri mendekat ke arah dinding apartemennya yang seluruhnya terbuat dari kaca, menunjukkan pemandangan indah namun membuat gentar siapapun yang punya fobia ketinggian karena tempat itu berada di lantai 32, Luke dan Ken menunggu sesaat sebelum Tuannya itu akhirnya mengeluarkan kembali suaranya.
"Ken, bawa dia ke pulau," ujar Rain yang segera mendapat anggukan dari Ken, tanpa menunggu Ken segera pergi dari sana, tinggal Luke menunggu apa tugasnya kali ini. "Apa jadwalku hari ini?"
"Besok?" kata Rain lagi.
"Tak begitu padat, bisa dihandle dengan rapat conference," kata Luke lagi
"Siapkan keperluanku, sore nanti kita akan kembali ke pulau, katakan pada Ken, tambah penjagaan, pastikan tidak ada yang bisa keluar masuk kecuali kita," kata Rain memberikan tatapan tajam lalu segera berjalan keluar.
"Baik," kata Luke patuh segera mengirim pesan untuk Ken.
---***---
Rain baru turun dari Helikopternya yang mendarat sempurna di sisi rumah yang pernah menjadi tempat penyerangan dan pembantaian itu, karena hal itu pula sekarang seluruh pulau itu dipenuhi penjagaan dan menara-menara pengintai, benar-benar ketat penjagaannya.
__ADS_1
Rain berjalan mantap masuk ke dalam ruangan rumahnya, tentu semua sudah tak seperti dulu lagi, semua sudah diperbaiki dan diperbaharui, dia langsung di sambut Ken yang sudah lebih dahulu ada di sana.
Rain melirik ke arah Ken, seolah arti lirikannya itu adalah pertanyaan 'bagaimana?'
"Keadaan stabil walau banyak luka luar akibat melarikan dirinya, telapak kakinya penuh luka akibat terkena batu atau duri, tubuhnya penuh luka goresan, dan dahinya sepertinya terluka dengan benda yang berpikiran lancip namun tumpul, sudah menyembuh, diduga sudah ada sebelumnya, dokter yang menangani sebelumnya mengatakan, di kekurangan nutrisi, mungkin tak makan berhari-hari," ujar Ken mengajak langsung Rain ke ruang perawatan khusus yang fasilitasnya tak kalah dengan rumah sakit, ini karena Rain tak suka sama sekali dengan rumah sakit.
Rain hanya diam saja mendengarkan penjelasan dari Ken, dia tiba di dinding kaca yang menunjukkan tubuh lemah dan kurus Bianca, hal ini entah kenapa membuatnya mengingat kenangan saat dia juga pernah melihat wanita lain yang di rawat di sana.
"Biarkan saja dia," kata Rain yang segera berpaling, tak ingin ingatan itu berlarut-larut, seharunya dia sudah melepaskan wanita itu selamanya.
Rain ingin meninggalkan Bianca namun entah kenapa dia malah tertarik melihat Raut wajah wanita yang belum juga sadarkan diri itu, Rain bisa melihat raut kesedihan walaupun saat ini dia tak sadar, Rain. mengerutkan dahinya? apa yang membuat seseorang begitu sedih bahkan saat tak sadar pun dia bisa menunjukkan raut wajah semenyedihkan itu? apa yang terjadi padanya? pikirnya sambil meninggalkan tempat itu.
Rain duduk di ruang kerjanya, dia menatap ke arah gelombang laut yang mulai mengganas menuju malam, dia kembali teringat dengan wajah memelas menahan sedih yang amat sangat, jika seseorang bahkan saat tak sadarnya tampak sangat sedih maka kesedihannya pastinya teramat dalam, itu bukanlah sesuatu yang bisa dibuat-buat.
Rain jadi ingat bagaimana saat mereka berdua di hutan, dia pernah menangkap saat Bianca diam-diam menangis begitu saja melihat dirinya padahal saat itu suasana sedang bahagia.
Apa dia di sana menderita? Ah, itu bukan urusannya, yang pasti wanita itu sudah mau bekerja sama dan menjebaknya, juga memfitnahnya,terlepas dia di ancam, namun tetap saja dia sudah membuat Rain dalam masalah dan menjelekkan namanya hingga ke seluruh negara ini, siapa pun yang melakukannya, apa pun alasannya, Rain tak peduli lagi, pikirnya sambil menghempaskan pena yang ada di tangannya ke meja kerjanya.
Semua yang macam-macam dengannya akan tahu akibatnya, pikirnya lagi dengan mata membara.
"Aku mau kalian membuat wanita itu sadar, dia harus sadar untuk bisa mendapatkan pelajaran dariku, jangan biarkan dia mati dengan mudahnya," ujar Rain dengan wajah yang sangat datar.
Baik Ken ataupun Luke keduanya hanya mengangguk mengerti. Ken dan Luke juga sudah tahu, Tuannya ini pasti tak semudah itu melepaskan wanita ini.
____________________________________________
Karena harus kembali Ke RS hari ini, ga di klinik aja, aku izin up selanjutnya mungkin malam, tapi ga janji ya kak haha, semoga ada cukup waktu mengejar upnya, sebelum ketiduran lagi, wkkwkwk...
__ADS_1
terima kasih untuk selalu setia, ah, aku cinta kalian semua ( Tim melirik sinis, ini otor lebay amat)1