Rain In The Winter

Rain In The Winter
119.


__ADS_3

Siena membuka matanya perlahan, dia menatap langit-langit putih polos, dia lalu melihat ke arah sampingnya, pria dengan otot kekar dan tampan itu sedang tidur tenang di sampingnya.


Siena tersenyum, baru kemarin dia hampir kehilangan pria ini dan tak menyangka sekarang dia ada di sini bersamanya.


Siena mencubit hidung Ken menahannya hingga empunya langsung terlihat kaget dan terbangun terduduk karena kesusahan bernapas, dia kira ada yang menyerang dirinya, melihat sikap siaga Ken itu Siena tertawa.


Ken mengerutkan dahinya, dia masih cukup kaget dengan cara Siena membangunkannya, namun mendengar tawa ceria gadisnya itu dan juga wajahnya yang bahagia, itu membuat Ken jadi tertular karenanya.


"Gadis nakal," kata Ken yang segera menyerang Siena, memeluk gadis itu sambil menggelitiki sedikit tubuhnya, membuat Siena langsung mengelinjang kegelian.


"Sudah! Sudah! Ampun," ujar Siena, namun Ken belum mau melepaskannya, dia belum selesai melampiaskan kekesalannya karena Siena membangunkannya dengan cara seperti itu.


Ken menarik tubuh Siena ke atas tubuhnya lalu membiarkan Siena memandanginya dengan penuh cinta, Ken meletakan ke dua tangannya menjadi tumpuan Di belakang kepalanya.


Mata mereka saling terpaut, senyuman mereka tipis namun penuh makna, perlahan Siena mendekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir Ken.


Awalnya hanya ciuman tenang yang manis namun perlahan menjadi sedikit bernafsu, Ken menyedot semua napas Siena, membuat bibir tipis itu menjadi sedikit menebal karena bengkak, Ken lalu melepaskan sejenak pautan bibirnya, membiarkan Siena bisa bernapas sejenak.


"Garang sekali," ujar Siena yang duduk di atas perut Ken yang rata itu.


Ken tertawa kecil, dia lalu melihat wajah cantik yang sudah bersemu merah itu, sangat menggemaskan, dia ingin segera melahap gadis yang ada di atasnya ini.

__ADS_1


"Jangan menganggu pria pagi hari kalau tidak mau diterkam, sangat berbahaya," kata Ken tak sabaran, dia mengangkat tubuhnya sehingga terduduk, dengan tangannya menahan tubuh Siena lalu tanpa menunggu langsung mencium leher Siena, membuat gadis itu langsung mendesah tanpa bisa dia tahan, tangan Ken menyusup ke dari bawah, menyentuh pinggang belakang Siena hingga naik ke pundaknya, membuka pengait untuk melepaskan penahan bagian depan, perlahan tangannya masih mengusap punggung Siena, kali ini gadis itu mengelinjang geli karena sensasi yang lain, Ken tersenyum, selalu tahu daerah itu sangat sensitif bagi Siena.


Mata saya Siena menatap ke arah Ken, Ken lalu menghentikan semua hal yang dia lakukan, namun wajah Siena tampak kesal, merasa Ken mempermainkan dirinya hingga membuatnya merasa tanggung.


"Kenapa berhenti?" Tanya Siena yang sudah kepalang tanggung dengan perasaan yang tadi di berikan oleh Ken.


"Pernikahannya masih beberapa Minggu lagi, kan kemarin kau yang membuat peraturan tak boleh melakukannya lagi sampai menikah nanti, agar istimewa kan? Aku sudah janji, tak ingin mengingkari," Kata Ken santai dengan tawanya yang seolah mengejek Siena.


Siena berwajah kusut, dia jengkel dengan Ken, dia ternyata ingat dengan hal itu, bahkan Siena saja sudah lupa tentang peraturan yang dia buat sendiri, tapi kenapa! Sudah membuat Siena dipenuhi fantasi malah meninggalkannya saat dia merasa butuh tindakan lebih dari Ken.


"Jangan cemberut," kata Ken, terlalu gemas, dia takut malah dia yang tak tahan. Namun mendengar itu bukannya Siena memudarkan wajah cemberutnya, dia malah membuat 'puppy eyes' yang benar-benar membuat Ken tak bisa menolaknya, Ken langsung mencium kembali bibir Siena, memegangi tubuh mungil gadisnya itu, menyerangnya dengan ciuman yang kasar namun malah menambah nafsu keduanya.


"Siapa?!" Suara besar dan kesal Ken terdengar, menganggu saja, pikirnya, Siena pun tampak cukup kesal.


"Ken! Ada beberapa orang dari pihak kepolisian ingin bertemu denganmu," suara Bram terdengar dari Luar.


Ken dan Siena terdiam dan saling berpandangan, dengan Cepat Ken bangkit dari posisinya yang ada di atas tubuh Siena, menyambar kaosnya lalu melihat Siena yang juga sedang memperbaiki baju yang dia pakai, belum sempat dilepaskan oleh Ken.


Setelah melihat semuanya selesai, Ken segera membuka pintunya, di sana dia melihat Bram dan Luke dengan wajah cemas mereka, dia juga melihat beberapa orang dengan seragam polisi ada di sana.


"Ada apa ini? Bagaimana kalian bisa masuk ke dalam sini?" Ujar Ken.

__ADS_1


"Tuan Ken Walker, Anda kami tahan karena pembunuhan dari Tuan Drake," kata Polisi itu menunjukkan surat perintah penangkapan Ken.


Ken mengerutkan dahinya, bagaimana bisa tiba-tiba dia dituduh membunuh Drake.


"Tidak, dia tidak membunuh Drake, dia masih hidup kemarin, lagi pula Ken menolongku," ujar Siena yang juga tak percaya mendengarkan penjelasan dari polisi itu. wajahnya kaget, apalagi ini? ada saja yang mencoba mencelakakan mereka, Siena kesal namun juga sedih.


"Anda bisa memberikan penjelasan di kantor polisi, saat ini kami hanya mengikuti perintah," ujar Polisi itu, dia langsung memasangkan Borgol pada Tangan Ken yang tak berkutik, dia tak ingin mengatakan apapun, karena dia tahu apa yang dia katakan sekarang dapat menentangnya di pengadilan nanti.


"Jangan! Kau tak boleh melakukannya!" Ujar Siena yang melihat Ken pasrah, mencoba menghalangi polisi itu membawa Ken pergi, matanya yang tadi tampak berbinar sekarang kembali berhiaskan air mata.


"Siena, Siena tenang, aku yakin kita akan baik-baik saja," kata Ken mencoba untuk menenangkan Siena yang histeris, "Bram, Luke, temani Siena dan Temui aku di kantor polisi," ujar Ken yang tampak tenang, dia percaya dia tak bersalah dan pastinya dia akan segera bebas dari sana.


Bram dan Luke segera mengangguk dengan mantap sedangkan Siena hanya bisa melihat Ken di masukkan ke dalam mobil polisi, Bianca yang akhirnya datang karena melihat keramaian dan juga tahu ada sesuatu yang tak beres hanya bisa mencoba untuk menenangkan Siena yang sekarang ada di pelukannya, menangis melihat Ken di bawa pergi oleh Polisi.


------


Sebelum ada yang komen,


Quin, bukannya Ken pihak militer, kalo pihak militer punya Maslah bukannya yang menangani adalah pihak Polisi militer, Ya! benar, tapi Ken udah berhenti jadi tentara, jadi statusnya warga sipil hingga polisi bisa menangkapnya, mereka di markas karena Bram, dia yang masih aktif di tentara. sekian, wkkaka


(sok serius si Quin, Btw maaf kak , ini aku nulis seluruh ketegangan dl, besok baru up yang cinta2 lagi, wkwkk)

__ADS_1


__ADS_2