
Rain membawa Bianca keluar, baling-baling helikopternya sudah menyala, Ken yang langsung turun tangan menjaga mereka berdua, memastikan Bianca dan Rain selamat masuk ke dalam helikopter itu.
Setelah dia merasa anak buahnya bisa mengatasi keadaan di sana barulah Ken segera bergabung dengan Rain, saat dia duduk, Helikopter segera mengudara, dengan cepat meninggalkan daerah itu.
Rain terus mendekap Bianca di dalam pelukan satu lengannya, Ken melihat ke arah Rain, Rain hanya menganguk seolah mengucapkan terima kasih untuk Ken.
Ken juga hanya memberikan sebuah anggukan dan senyuman tipis, dia langsung memasukkan pistolnya, rasanya tidak perlu menggunakannya di luar sini.
Helikopter itu mendarat di sebuah helipad banguan apartemen, Bianca yang dari tadi berada di dalam kehangatan itu rasanya masih enggan untuk melepaskan tubuh pria itu, namun Rain segera melepaskan dirinya, perlahan memegang tangan Bianca lalu melihat mata indah itu menatapnya.
"Kita sudah sampai, kau sudah aman," ujar Rain pada Bianca yang cukup kacau penampilannya, Bianca mengangguk tanpa ragu, dia segera mengikuti langkah Rain, Rain turun duluan dan segera setelah itu dia sendiri yang membantu Bianca turun dari helikopter. Ken yang sudah turun dari tadi segera memimpin jalannya, dengan tegas mencoba tetap menjaga Rain dan Bianca.
Ken segera membukakan pintu apartemen itu, Bianca membesarkan matanya ketika beberapa pelayan berjejer untuk menyambut mereka, salah satunya adalah Yuri.
"Selamat datang kembali Tuan dan Nona," ujar mereka hampir serempak memberikan salam.
Bianca yang melihat itu hanya ingin tersenyum, namun sisi bibirnya yang pecah membuat rasa nyeri yang terasa ketika dia mengembangkan bibirnya. Rain yang memperhatikan ringisan dari Bianca langsung mengetatkan pegangan tangannya, Rain langsung membawa Bianca ke ruang tengah apartemennya.
"Duduklah dulu, ambilkan kotak P3K," ujar Rain lebih sepeti memaksa Bianca untuk duduk dan memerintahkan pelayannya.
Bianca mengerutkan dahinya, Ken dengan sigap memgambil sofa tunggal yang ada di ruangan itu, meletakkannya tepat di depan Bianca, disitulah Rain langsung duduk.
Rain mengamati wajah Bianca yang ujung bibirnya tampak kebiruan, dia juga melihat kelingking jari kanan Bianca yang terdapat luka berdarah kering di ruas pertamanya. Selain itu yang sangat mengganggu Rain dari tadi, perban yang sudah berubah warna menjadi merah. Tak lama kotak P3K-nya langsung dibawakan oleh pelayan Rain.
__ADS_1
"Ken, panggilkan dokter pribadiku," kata Rain tanpa memperhatikan tatapan sendu dari Bianca untuknya, Ken hanya mengangguk, lalu segera menghubungi dokter pribadi Rain.
Bianca hanya diam memperhatikan Rain yang membuka kotak P3K itu, dengan cekatan mengambil kasa steril, membubuhinya sedikit dengan cairan anti septik lalu perlahan dia menatap wajah Bianca, tanpa meminta persetujuan, menekankan kasa itu pada ujung bibir Bianca yang membuat Bianca sedikit menahan nyeri.
"Sakit?" tanya Rain singkat, namun tangannya tetap menekan dan membersikan luka itu.
"Tidak," jawab Bianca yang sebenarnya semakin sakit hatinya dan bingung harus bagaimana, dia baru saja membuat pria di depannya ini kehilangan wilayah kekuasaannya, namun pria ini malah memperlakukannya begini, tentu rasa bersalah Bianca semakin besar.
Bianca mungkin sudah terlalu sering menderita, sehingga dia menjadi terbiasa untuk menerima penderitaan, namun menerima kebaikan begini, nyatanya dia belum siap, setiap kali Rain melakukannya Bianca malah merasa bersalah, dan itu siksaan yang jauh lebih berat.
Bianca menahan tangan Rain yang masih sibuk mengoleskan dengan selembut sebisa dia lakukan, Bianca memegang tangan Rain hingga mata mereka terpaut, Ken dan orang-orang yang ada di sana sadar keadaan, pelan-pelan mereka mundur dan menjauh.
"Terima kasih tapi aku juga ingin minta maaf," ujar Bianca yang merasa dia sudah bisa berbicara, orang-orang di sekitarnya juga sudah menjauh.
"Aku belum pernah mengatakannya, tapi terima kasih untuk selalu ada."
"Hmm," gumam singkat Rain yang mulai mengolesi kembali Kassa yang baru dengan antiseptik, Sebuah jawaban yang bahkan bisa mengerutkan dahi Bianca dan mengundang senyuman tipisnya, pria ini? tak bisakah merespon lebih baik.
Rain melirik sejenak pada wajah tertawa kecil Bianca, dia tak ambil pusing segera membersihkan kembali luka Bianca, kali ini jari kelingking kanannya.
Bianca menahan perihnya yang nyelekit saat antiseptik itu meresap ke lukanya, membuat Bianca ingin menarik jarinya.
"Jangan bergerak, jika tidak akan infeksi," ujar Rain memaksa tangan Bianca agar tidak bergerak di pangkuannya, sebuah kelakukan yang malah membuat seluruh tangan Bianca nyeri karena Rain menahan tangan Bianca dengan keras.
__ADS_1
Ken lalu tiba-tiba datang, dia tak sendiri, pria pendiam itu yang selalu menjaga Bianca di sana juga mengikutinya.
"Tuan," kata Pria pendiam itu.
"Bagaimana, Bram?" tanya Rain bahkan masih sibuk menyingkirkan darah kering dari luka kecil namun ternyata cukup dalam, Drake tak main-main,sedikit lagi luka itu akan mengoyak otot persendian Bianca, dan hal itu akan membuat kelingkingnya tak berfungsi lagi.
"Kami sudah memastikan semua di sana aman, mereka juga melepaskannya dengan selamat, pasukan sudah di tarik mundur semua," ujar pria itu yang Bianca baru tahu namanya adalah Bram.
Bianca menatap Bram, dia memberikan sebuah senyuman manisnya, membuat Rain mengerutkan dahinya.
"Terima kasih sudah menjagaku di sana," ujar Bianca lembut menatap Bram dengan senyuman yang tetap terpatri.
"Tidak Nona, sudah menjadi tugas dan misi saya untuk membuat anda tetap aman, namun maafkan saya harus memukul Anda hingga anda tak sadarkan diri dan luka di bagian bibir Anda, itu karena saya harus memastikan Anda tetap ikut dengan kami hingga misi ini berjalan lancar, Tuan Drake bisa melakukan hal yang lebih parah," ujar Bram lagi, sebagai pria dia sangat anti memukul wanita, namun hal itu harus dia lakukan.
"Ken! berikan dia hukuman yang sama dengan yang dia lakukan pada Bianca," ujar Rain tenang, baginya, semua kesalahan harus dibayar dengan cara yang sama.
Bram sedikit terkejut, namun dia menerimanya, Ken juga tampak tak enak untuk menghadiahkan Bram sebuah tamparan yang dia tahu tujuannya tadi untuk melindungi Bianca.
Bianca yang mendengar hal itu membesarkan matanya, kenapa Bram harus dihukum?
"Jangan, itu tak perlu, aku yang salah, aku terus berontak dan Drake ingin memukulku, karena Bram takut Drake menyiksaku lebih parah, Bram sengaja membuatku tak sadar agar aku lebih aman," bela Bianca cepat, tak mau gara-gara dia Bram menjadi mendapatkan hukuman.
"Kalian berdua Keluar," ujar Rain tanpa mau melihat Ken atau Bram, Ken dan Bram segera memberikan salam, tanpa menunggu lama mereka pergi, tahu persis mood Tuannya sedang jelek sekarang.
__ADS_1