Rain In The Winter

Rain In The Winter
60. Kesenangan dan semangat yang telah lama hilang.


__ADS_3

Bianca menyiapkan dirinya, menurut pengalamannya tempat itu tentulah dingin karena itu dia menggunakan sweater berwarna orange, celana jeans yang dan syal dan topi yang warnanya cocok semua sengaja Yuri siapkan untuk malam ini, kapan lagi Tuannya yang kaku itu mau mengajak wanita berkencan, bahkan Yuri kaget saat Bianca menceritakannya, karena itu Yuri ingin penampilan Bianca yang biasanya begitu sederhana menjadi luar biasa, namun tak berlebihan.


Bianca keluar kamarnya, dia berpikir di sana yang menunggunya adalah Rain, namun dirinya sedikit kecewa ketika yang berbalik melihatnya adalah Ken.


Ken bahkan tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya, Bianca begitu tampak modis dengan baju yang dia kenakan, wajahnya yang memang secantik bidadari itu tampak manis dengan riasan tipis ala tangan Yuri, rambutnya yang biasanya lurus tampak bergelombang natural ditutupi topi rajut itu, benar-benar cantik.


"Ehem, Tuan Rain masih ada rapat yang tak bisa dia tinggalkan, karena beliau sudah berjanji ingin membawa Anda bermain Ice Skating, beliau mengutus saya untuk mengantikannya," kata Ken yang sedikit tergagap, terlalu gugup melihat kecantikan alami itu.


Bianca yang mendengar itu langsung berwajah kecewa, dia sudah mengharapkan sekali pergi dengan Rain, namun pria itu malah mengutus orang lain agar menemaninya, bukan hanya Bianca yang merasa kecewa, bahkan Yuri juga begitu, padahal dia ingin sekali melihat Rain yang terkesima melihat Bianca.


"Tidak apa-apa, toh tanpa dia es di sana tak akan mencairkan?" kata Bianca mencoba menelan kecewanya.


"Baiklah Nona, silakan," ujar Ken mempersilakan.


Ken melihat wajah Yuri yang tampak ngambek dan kecewa berat, Ken menaikkan satu alisnya, kenapa malah Yuri yang seperti itu.


Mereka segera pergi, Ken tak lupa membukakan pintu untuk Bianca, dia duduk di depan, sedangkan Bianca dan Yuri duduk berdua.


Bianca tak terlalu memperhatikan jalan mereka, dia hanya sibuk menata perasaannya yang terasa masih begitu kecewa.

__ADS_1


Bianca baru sadar akan keadaan ketika mereka berhenti, Bianca menatap ke arah luar.


"Sudah sampai Nona," ujar Ken langsung sambil keluar, tanpa menunggu lama dia segera membuka pintunya.


Bianca keluar, dia lalu ngikuti Ken menuju suatu gedung, saat Bianca masuk dia terkesima dengan tempat Ice skating yang nyatanya tidak memiliki atap, hanya dipagari oleh gedung-gedung yang dihiasi oleh lampu-lampu, di tengahnya lapangan ice skating terlihat begitu besar, Dan tempat itu benar-benar kosong. Melihat hal itu Bianca sejenak melupakan ke apa yang terjadi.


"Kenapa tempat ini kosong?" tanya Bianca.


"Tuan Rain menyewa tempat ini hanya khusus untuk Nona saja, silakan jika anda ingin ber-ice skating," ujar Ken.


Bianca mengangguk senang segera, wajahnya yang tadi muram sekarang cerah dengan senyuman merekah, Ken menggaruk belakang lehernya, pantas saja Tuannya bisa jatuh hati dengan wanita ini, siapa yang tahan melihat wajah sumringah itu, Bianca menarik Yuri untuk ikut dengannya.


"Nona, saya tidak ikut, saya tidak bisa," ujar Yuri yang memang belum pernah bermain ice skating itu.


Bianca mulai menjejakkan sepatu Ice skatingnya ke lapangan es itu, dia perlahan memegang tangan Yuri yang tampak kesulitan dan takut dalam menyeimbangkan dirinya.


Bianca menarik perlahan Yuri yang sesekali ingin terjatuh, namun perlahan dia bisa mengatasinya.


"Menyenangkan bukan?" ujar Bianca yang sudah dari tadi merasa sangat bersemangat, ternyata keceplosannya tadi sangat bermanfaat, dia sudah lupa kapan terakhir kalinya dia bisa sesenang ini.

__ADS_1


"Ya, tapi … Nona … aku mohon jangan melepasku," kata Yuri yang gelagapan karena Bianca mulai melepaskan tangannya.


"Perlahan saja, ayo," kata Bianca yang segera berseluncur mundur ke belakang, membuat Yuri hanya bisa diam, melihat anggunnya Bianca berseluncur ria di atas es, Yuri saja sudah merasa beruntung bisa berdiri seperti itu, apalagi meluncur seindah Bianca.


Ken di pinggir lapangan itu pun berusaha untuk melihat lenggok anggun dari Bianca yang sangat lihat berselancar di es, bahkan seperti sedang terbang, namun dia tak bisa memalingkan wajahnya, terlalu bagus untuk tak di nikmati.


Bianca berselancar ria, kadang maju, kadang mundur seolah melepaskan semua emosinya di sana, benar-benar menikmati waktunya itu, Yuri dan Ken hanya bisa diam menikmati hal itu.


Bianca menyudahi kesenangannya sesaat, dia ingat ada Yuri yang berjuang untuk bisa berdiri di sana, dia lalu mendekati Yuri, membawa Yuri perlahan ke pagar, lalu dia mengeluarkan Yuri dari lapangan Es itu.


"Kalian sangat baik padaku, aku akan berterima kasih pada kalian, aku tak punya apa-apa, mudah-mudahan kalian suka," ujar Bianca yang segera mundur tanpa menunggu jawaban Ken dan Yuri yang hanya bisa saling pandang.


Bianca berdiri di tengah lapangan, dia bersiap beraksi dengan menaikkan kedua tangannya dan mencondongkan badannya, bagai seorang balerina yang akan mulai menari.


Saat begitu tiba-tiba seluruh lampu mati, hanya tinggal lampu sorot yang mengarah ke Bianca yang hidup, Bianca sedikit bingung, kenapa bisa begini?


"Silakan Nona, kami akan mengiringi Anda," suara seorang pria terdengar, Ken dan Yuri pun bingung, namun perlahan terdengar suara lagu lembut,


A thousand Years.

__ADS_1


Bianca tersenyum, dia kembali melakukan posenya, dengan luwesnya dia menggerakkan tubuhnya, berseluncur dengan indah, bagaikan balerina namun tampak terbang.


Yuri saja sampai tak bisa menutup mulutnya karena terkesima, Ken apalagi, berkedip pun dia susah, namun matanya yang tadinya mengikuti Bianca tiba-tiba menangkap satu sosok yang tiba-tiba juga sudah ada di dekatnya, mata itu tajam meliriknya membuat Ken segera menundukkan matanya.


__ADS_2