Rain In The Winter

Rain In The Winter
46. Ma, kita akan pergi bersama dan bahagia dia sana.


__ADS_3

Bianca terdiam, matanya memandang ke arah yuri dengan wajah yang tak percaya, benarkah apa yang dikatakan oleh Yuri, Rain melakukan itu semua padanya saat dia tidur tadi.


Bianca menarik napasnya lebih dalam, pandangannya mengabur seketika, apa yang dikatakan oleh Yuri semakin membuat hatinya sakit, bagaimana bisa dia kembali menghancurkan pria itu? jika Drake menyuruh Bianca untuk mencari wilayah dan hasil laporan rapat itu, pasti Drake punya hal buruk yang ingin dia lakukan pada Rain, Bianca yakin itu.


Lalu bagaimana bisa? Bianca akan menjadi sumber kehancuran pria itu. Kenapa Bianca harus terlahir memiliki nasib buruk yang bukan hanya berdampak padanya, bahkan orang-orang yang mencoba baik padanya pun mengalami dampaknya.


Bianca menarik napasnya panjang dan berat, seolah napasnya itu tak sampai mengisi kedua paru-parunya, benar-benar berat rasanya hanya untuk bernapas, dia berusaha keras agar air matanya tidak turun.


"Nona, Anda tidak apa-apa," Kata Yuri yang melihat mata berkaca-kaca Bianca.


"Aku harus ke kamar mandi, perutku sakit sekali," ujar Bianca mengumpulkan tenaga terakhirnya hanya untuk bisa berdiri dan berjalan ke kamar mandi.


"Nona, aku akan memanggilkan dokter pribadi Tuan Rain," kata Yuri yang masih berpikir keadaan Bianca karena penyakit.


Bianca tak mengiyakan atau pun melarang, dia segera berjalan masuk dan menutup pintunya cukup keras. Bianca lalu mengunci pintu itu, bersandar di pintunya sejenak, memejamkan matanya dengan keras hingga air matanya yang sudah dari tadi berkumpul kembali mengalir deras, dia menahan suaranya, namun tangisnya terasa sangat pilu menyiratkan sakit yang luar biasa dia rasakan, sebuah tangis dengan keputus asaan yang terdalam.


Bianca berpindah dari belakang pintu itu menuju ke westafel, menatap dirinya yang lemah di depan kaca.


Bianca melihat ke arah dirinya,


Gadis cantik yang sangat lemah, menyedihkan sekali kau ini! dengan segala kekelamanmu, semua orang pastinya hanya akan mengasihi dirimu karena kasihan, gadis lemah yang mudah dipermainkan, yang bisanya hanya menangis, entah apa tujuan Tuhan menciptakan dirimu, membiarkan dirimu hidup sampai sekarang?


Kau! Gadis lemah yang dari kecil hanya hidup dalam ketakutan, tak punya keberanian sama sekali, Lemah! Bodoh! pantas saja orang selalu menyiksamu! Gadis ini hanya bisa menangis! dan menyusahakan orang saja! sepertinya dunia akan bahagia jika kau hilang dari atasnya.

__ADS_1


Ya! Kau harusnya tidak ada di sini, jika kau pergi selamanya dari dunia ini, maka tak akan ada yang menderita, tak akan ada yang bisa terluka, Benarkan?


Ma? bukankah Mama juga ingin pergi meninggalkan dunia ini? mama … tunggulah aku, kita akan pergi bersama.


Ulasan senyum putus asa yang menyeramkan itu terlihat di wajah Bianca, dia menyentuh kaca di depannya, dia bisa kembali memcahkannya, pergi dengan cara yang sama dengan ibunya kemarin, dia juga akan merasakan bagaimana sakitnya saat ibunya berusaha mengorbankan dirinya untuk Bianca, setelah Bianca meninggal, mereka juga akan melepaskan ibunya, Ibunya pun pasti mengerti kenapa Bianca membiarkannya pergi, mereka akan bahagia di alam sana.


*Mama p**asti akan mengerti, pasti*!


Saat Bianca memegang kaca itu, tiba-tiba kilasan tentang Rain terlintas, matanya kembali liar menatap sekeliling kamar mandinya,


Tidak! aku tidak bisa melakukannya di sini, jika aku melakukannya di sini, Rain akan kembali kesusahan karenanya, Tidak!


Drake yang sudah merenggut semua dalam hidupnya, dia yang sudah membuatnya seperti ini, maka jika memang dia mau mengakhiri hidupnya, dia harus melakukannya ditempat pria itu, biarlah tubuhnya nanti hanya akan dibuang atau hanya ditinggalkan membusuk begitu saja, namun dengan kematian Bianca, pria itu akan merasa kesal dan juga sibuk mengurusi rumahnya yang penuh dengan darahnya.


Bianca mencuci mukanya, setelah selesai mencuci mukanya dia segera membuka pintu kamarnya, dia sedikit terkejut melihat tidak hanya Yuri yang ada di sana, dia melihat seorang pria yang dia asumsikan dokter dan Rain di sana.


"Yuri mengatakan bahwa kau sakit?" kata Rain dengan wajahnya yang tampak sedikit perhatian, Bianca melirik ke arah Yuri sejenak lalu berpindah ke arah Rain, Bianca memandang wajah pria itu cukup lama tanpa mengatakan apa-apa, membuat Rain semakin mengerutkan dahinya.


"Perutku nyeri, mungkin hanya karena tak biasa naik kapal," suara Bianca terdengar lembut, perlahan dia mengatakannya dan tenang, namun ketenangan itu malah mengusik siapapun yang mendengarnya, tenang yang mengundang curiga.


"Bianca?" kata Rain yang mengerutkan dahinya lebih dalam.


"Dokter, Anda bisa memeriksa saya," ujar Bianca pada dokter yang ada di belakang Rain, Rain langsung memasang wajah dinginnya.

__ADS_1


"Ya, silakan berbaring dulu Nona," ujar Dokter itu, dia jadi sungkan melihat tatapan tajam dari Rain itu.


Dokter segera memeriksa keadaan Bianca, Rain memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh dokter itu, Bianca hanya memandang Rain dengan tatapan sayunya, saat pandangan Rain jatuh pada Bianca, wanita itu tersenyum manis, membuat rasa tak enak muncul di hati Rain.


"Sejauh ini tidak ada masalah Tuan, Nona Bianca mungkin memang hanya sekedar mabuk laut, esok keadaannya akan membaik," ujar Dokter itu.


"Baiklah," kata Rain.


"Saya permisi dulu Tuan," kata Dokter itu undur diri, Yuri pun merasa lebih baik dia menunggu di luar ruangan, mungkin Rain ingin berdua dengan Bianca.


"Kau bisa kembali ke rapatmu, aku sudah tidak apa-apa," ujar Bianca yang mencoba duduk, Rain segera membantunya, dia duduk di samping Bianca, memandang datar pada wajah yang tampak bahagia dengan senyum manisnya itu.


"Ken mengambil alih semuanya, sebentar lagi juga akan selesai," ujar Rain datar, matanya awas menatap Bianca.


"Kau masih marah padaku?" tanya Bianca, dia tak mau Rain marah padanya disaat terakhirnya ini.


"Aku tidak marah," ucap Rain datar.


"Baguslah, jangan sering marah, tahu kah kau kalau kau ini tampan sekali, kau sangat manis jika tersenyum, lain kali harus sering tersenyum, jangan berwajah datar terus," ujar Bianca memandang wajah Rain, wajah datar itu berubah menjadi wajah bertanya, heran dengan apa yang dikatakan oleh Bianca, kenapa tiba-tiba mengatakan hal itu.


"Tidurlah, besok kau akan baik-baik saja," ujar Rain yang segera ingin bangkit, merasa mungkin hal ini terjadi karena efek obat yang tadi pagi dikonsumsi Bianca, moodnya menjadi labil. Namun baru saja dia ingin melangkah, tangannya langsung dipegang oleh Bianca.


"Rain," lembut suara Bianca mengucapkan nama itu, membuat hati Rain sedikit bergetar karenanya, dia lalu memandang ke arah Bianca, tak mengucapkan apapun.

__ADS_1


__ADS_2