Rain In The Winter

Rain In The Winter
36. Anda belum bisa membiarkan Nona keluar dari pulau.


__ADS_3

Rain duduk di meja kerjanya, Ken dengan setia menemaninya, berdiri tegak di sampingnya. Suara ruang ketukan di pintu ruang kerjanya memecah konsentrasinya.


"Masuk," ujar Ken mewakili.


Rain melirik ke arah siapa yang masuk ke dalam ruang kerjanya, Luke yang baru saja datang dan segera masuk, memberikan bungkukkan salam untuk Rain.


"Saya ingin mengatakan bahwa Nona Lily sudah mendapatkan tempat tinggal, sebenarnya Nona Lily tidak ingin pindah terlalu jauh, jadi dia hanya pindah beberapa blok dari apartemen Anda," ujar Luke menyampaikan tugas yang sudah selesai dikerjakan.


"Baiklah, kalian duduklah, Ken, sudah kau dapat apa yang ku pinta kemarin?" tanya Rain melirik Ken yang segera mengambil posisi di depan Tuannya.


Luke segera mengambil tempat di samping tempat duduk Ken.


"Sudah Tuan, aku sudah menyelidiki dan mendapatkan sedikit informasi dari informan kita, para kaki tangan Tuan Drake termasuk kaki tangan yang royal padanya, mendapatkan hal yang pasti cukup sulit," ujar Ken membuka tabletnya.


"Baiklah, apa yang kau dapatkan?" tanya Rain.


Dia tentu tahu mendapatkan tujuan utama Drake itu pasti susah, dia malah akan curiga jika hal itu terlihat gampang di dapatkan, pasti ada sesuatu lagi yang akan terjadi jika semuanya terasa mudah.


"Aku mendapatkan beberapa data dari para kolega kita, aku menemukan sedikit informasi dari mereka yang pernah beberapa kali bertanya apa tujuan dari Drake, dan dia selalu menjawab hal yang sama, dia ingin menguasai semua bisnis dan juga kekuasaan di negara ini, dengan kata lain dia ingin menggeser posisi Anda," kata Ken pada Rain.


"Seperti yang sudah saya pernah kabarkan pada Anda, dia sangat berkembang pesat saat Anda memutuskan untuk mendekam di dalam penjara dan membuat vakum perusaan kita sejenak, kedatangan Anda kembali pasti mengusiknya," kata Luke menyaut, tahu arah tujuan pembicaraan ini.


"Ya, dan saya dapatkan bahwa sebelumnya Drake selalu gagal menguasai apa yang dia inginkan karena Anda lebih dahulu melangkah, dia pasti takut kehilangan semuanya lagi, sekarang saja saya lihat langkahnya sudah mulai terbatas, apalagi para kolega mulai tahu Anda sudah kembali," kata Ken lagi.


"Saya menemukan hal lain lagi, seharusnya saya melaporkannya kemarin tapi karena Anda langsung pergi ke pulau, saya belum bisa melakukannya," kata Luke mantap serius ke arah Tuannya yang menatap tajam.


"Apa itu?" tanya Rain.


"Tuan Drake mencoba untuk mengambil alih semua wilayah yang kita punya, awalnya wilayah selatan, saat kita mulai mengincar wilayah barat, secara mengejutkan dia juga mengembangkan usahanya di sana, beberapa kali menghubungi Tuan Roland, memberikan tawaran menggiurkan, lalu saat kita mulai membuka kembali bisnis kita di kota bagian timur, dia juga melakukan hal yang sama, jadi saya kira ...." kata Luke menatap Ken yang mengangguk, seperti sepemikiran dengan Luke.


"Tuan Drake ingin menguasai semua wilayah yang ingin kita kuasai," kata Ken langsung.

__ADS_1


Rain diam, dia perlahan sekali menyenderkan tubuhnya pada kursi kerjanya yang empuk, membenamkan dirinya sambil berpikir, ujung-ujung jarinya di satukannya, membuat gestur berpikir yang terlihat jelas.


"Pria yang ambisius ternyata, ingin menguasai negeri ini sendirian, terlalu ambisius hingga lupa bahwa suatu saat dia akan membutuhkan kita juga," kata Rain.


"Ya, dia hanya tak ingin menjadi orang nomor dua di negara ini, dia katakan hal itu pada Tuan Roland," kata Ken.


"Berarti dia mengakui kalau aku adalah orang nomor satu di sini, bagus sekali," kata Rain dengan senyum mengembang.


"Ya," balas Ken lagi datar, namun Luke mengikuti Tuannnya tersenyum.


"Kalau begitu, ayo kita lihat sejauh mana dia bisa mengimbangi permainan ini, aku akan senang melihat wajah kekalahannya," kata Rain lagi dengan percaya diri.


Ken dan Luke senang melihat sorot percaya diri yang dari dulu menjadi ciri khas Rain kembali lagi, Tuan mereka yang dulu akhirnya mereka temukan kembali.


"Ken, bagaimana tuntutan dan juga pencarian untuk Bianca?" tanya Rain melirik asistennya itu.


"Kabar mengejutkan, Tuan Drake menghapus semuanya, jadi sekarang Nona Bianca dinyatakan langsung oleh Tuan Drake kabur dari rumah, bukan di culik atau menghilang, aku rasa jika dia kembali kemari dia tak akan membuat tuntutan pada Anda," kata Ken.


"Benar, lagi pula, ini mencurigakan jika seorang Drake mencabut tuntutan seperti itu saja, pasti ada yang tersembunyi di sini, Tuan, Anda harus hati-hati," kata Ken lagi.


"Ya, aku tahu, aku mengerti hal itu," ujar Rain yang kembali berubah dingin.


Ken dan Luke tak bisa mendesak lebih jauh, padahal mereka ingin agar Rain jangan lagi mendekati atau berhubungan dengan Bianca, mereka sangat curiga dengan wanita itu, tapi entah kenapa? malah hubungan antara Rain dan Bianca terasa makin dekat.


Terbukti Bianca malah mendapatkan asisten dan juga semua kebutuhannya, soal hati memang siapa yang tahu, bahkan jika beracun tapi sudah cinta akan tetap didekati.


"Luke lakukan tugasmu, pimpin rapat hari ini, laporkan padaku, ada yang harus aku urus dengan Ken," kata Rain melirik Luke.


"Baik Tuan, Saya permisi dahulu," kata Luke yang memang sudah biasa menggantikan Rain menghandle semua urusan pekerjaannya, Rain hanya mengangguk pelan.


"Ken, bagaimana dengan dia?"

__ADS_1


"Sejauh ini semua masih dalam hal yang wajar, keamanannya terjaga, dan semua masih dalam pengawasan kita," kata Ken segera mengerti.


"Jaga dia, jangan sampai dia melakukan hal yang mengakibatkan keburukan bagi dirinya dan membahayakan kita lagi, tetap awasi dia dengan seluruh pasukan penuh, ku serahkan dia padamu," ujar Rain serius.


"Pasti Tuan," kata Ken mantap


"Tinggalkan aku sejenak," ujar Rain pada Ken yang segera mengangguk.


"Baik Tuan," Ken segera berdiri dan mengikuti langkah Luke yang segera keluar dari ruangan itu. Berjalan sedikit lebih cepat agar berjalan sejajar dengan Luke.


Ken mengerutkan dahinya, mengendus sedikit wangi luar biasa dari tubuh Luke, dari tadi cukup mengganggunya, tapi tak bisa dia katakan di depan Tuannya.


"Wangimu manis sekali," ujar Ken mengusap hidunganya dengan jari telunjuknya.


Luke hanya tersenyum sambil melirik ke arah rekan kerjanya itu.


"Suatu keuntungan bekerja dengan wanita, bagaimana hubunganmu dengan kau tahu siapa?" kata Luke melirik temannya yang juga sebelas dua belas dengan Tuannya, jarang sekali melunakkan wajahnya.


"Dia baik-baik saja, masih dalam pengawasanku," ujar Ken datar, profesional.


"Lain kali aku akan bertanya, bagaimana rasanya punya hubungan dengan adik angkat Tuan sendiri," goda Luke pada Ken.


Ken hanya berdehem, dia tahu nada menggoda dari teman kerjanya ini, dia menarik ke jasnya menatap lurus saja, membuatnya Luke hanya tertawa kecil melihat salah tingkah dari Ken itu.


_________________________________________


Ken



Luke

__ADS_1



__ADS_2