
"Apa yang kau ingin dapatkan dariku?" tanya Bianca menatap ke arah Rain. Jika benar ini adalah hari-hari terakhirnya bersama pria ini, maka dia ingin membalaskan kebaikan Rain, walau cuma sesaat, ini adalah hari-hari paling indah di hidup Bianca.
"Apa maksudmu?" tanya Rain bingung dengan perkataan Bianca yang ambigu baginya.
"Jika kau menginginkan sesuatu dariku, aku akan memberikan padamu," kata Bianca dengan senyuman manisnya, membuat wajahnya yang bahkan diam saja sudah begitu cantik, menjadi begitu menarik, siapa pun akan jatuh dalam pesonanya.
"Kesempatan, aku sudah mengatakannya padamu, pergilah istirahat," ujar Rain lagi, ingin segera keluar namun genggaman Bianca nyatanya tak mengendur.
"Boleh aku bersama denganmu malam ini?" tanya Bianca lagi.
Rain punya perasaan yang tak enak melihat tingkah laku Bianca ini, karena hal itulah Rain menyetujuinya, dia mengangguk membuat Bianca semakin melebarkan senyumannya.
"Ayo," kata Rain yang berbalik memegang tangan Bianca, mencoba membantu wanita itu untuk berdiri dengan menarik halus tubuh Bianca.
Rain segera keluar dengan tetap memengang tangan Bianca, Yuri yang melihat itu langsung tersenyum lebar, selalu senang melihat pasangan ini.
Rain membuka pintu ruangan khususnya, jika dia ke resort ini, tempatnya lah yang paling khusus, tidak di dalam gedung resort itu, dia memiliki gedungnya sendiri, sebuah bangunan yang ada di samping resort itu, gedungnya berbentuk unik, terdapat bagian balkon berbentuk setengah lingkaran yang lebih menjorok ke laut, seolah melayang di tepi tebing itu.
Hanya Rain dan Bianca yang masuk ke dalamnya, 2 penjaga dan Yuri berdiri di luar dari bangunan itu, saat masuk Bianca terkesima dengan interiornya yang berkesan lebih sederhana, dinding depannya penuh dengan dinding kaca, sebuah mini bar terlihat di sana, hanya ada satu set sofa berwarna coklat, selainnya dibiarkan kosong hingga terlihat luas.
__ADS_1
"Aku ingin membersihkan diri dulu, tunggu saja di sini," kata Rain yang segera masuk ke dalam kamarnya.
Bianca melihat ke arah dinding kaca itu, semuanya begitu indah, pemandangan malam di sana sangat menakjubkan, Bianca membuka pintu kaca itu, dia segera menjejakkan kakinya di balkon rumah itu yang cukup luas, dia bisa melihat lampu-lampu kuning yang membuat sendu suasana di sana.
Obor-obor tampak bersusun menerangi jalan setapak dan tangga yang digunakan untuk turun ke pantai pasir putih yang juga dihiasi dengan lampu kuning dan juga obor-obor, Bianca bisa melihat beberapa orang sedang menikmati malam mereka di pantai pribadi milik resort itu.
Pemandangan laut malamnya juga tak kalah menakjubkan, laut yang tampak menggulung, suara ombaknya sayup-sayup terdengar, langit yang bertahtakan bintang-bintang yang bertaburan bagaikan sebuah berlian, selain itu juga udaranya yang dingin dengan bisikan-bisikan angin yang begitu membuai, lembut menerbangkan anak-anak rambut Bianca.
Saat Bianca sejenak lupa dengan gundahnya karena terhipnotis dengan segala yang disuguhkan alam, tiba-tiba saja lampu ruangan di belakangnya mati, Bianca segera melihat ke arah belakang, melihat sosok Rain yang sedikit tampak karena ada lampu dari ruangan lain, pria itu perlahan menuju ke arahnya, berjalan ke arah Bianca.
Bianca tersenyum, Rain segera berdiri di samping Bianca yang tampak bersandar di pagar pembatas, di bawahnya tampak pepohonan yang rindang.
"Akan terlihat lebih indah jika tanpa cahaya," ujar Rain yang memandang ke arah depan.
Bianca lalu mengikuti arah pandangan Rain, menatap ke arah pemandangan yang nyatanya semakin hidup, bintang-bintang dan cahaya lain malah semakin terlihat bersinar dan cemerlang.
"Ini rumah singgah yang dibuatkan oleh ayahku untuk ibuku," kata Rain menghentikan keheningan malam itu.
"Ayahmu pasti begitu mencintai ibumu," kata Bianca, beruntung sekali memiliki ayah yang begitu mencintai keluarganya.
__ADS_1
Rain tersenyum sinis, membuat Bianca mengerutkan dahinya, senyum sinis itu sedikit berubah tawa.
"Ayahku berumur 50 tahun saat menikahi ibuku yang baru berusia 20 tahun, ibu hamil diriku hingga dia harus menikahinya, tak ada yang tahu keberadaanku hingga ayahku meninggal, saat ibuku bertanya pada Kakak tiriku yang usianya bahkan cocok menjadi ayahku, dia mengatakan bahwa ayahku dibunuh oleh seseorang, sejak itu ibuku hidup begitu menderita dan akhirnya dia memutuskan balas dendam, tapi karena itulah dia terbunuh, aku menyaksikan sendiri bagaimana mereka menembak ibuku, karena itu aku pun hidup dalam rasa dendam, aku berusaha untuk bisa mendapatkan semua ini, dan asal kau tahu, semua yang aku lakukan ternyata sia-sia saja, kakak tirikulah yang membunuh ayahku untuk mendapatkan kedudukan raja, kalau kau mengatakan ayahku mencintai ibuku hanya karena dia memberikannya rumah ini, aku rasa itu bukan tanda cintanya," kata Rain panjang lebar membuat Bianca terdiam, selama ini dia hanya mendengarkan kisah hidup Rain dari Ken atau Yuri, kali ini dia mendengarnya langsung.
Hidup Rain juga penuh kesedihan, Bianca tersenyum sambil menunduk.
Tenang saja, kali ini aku tak akan menambah kesengsaraan padamu.
"Kita punya perjalanan kita masing-masing, aku doakan kehidupanmu selanjutnya akan selalu sesuai dengan keinginanmu dan penuh kebahagian," kata Bianca yang tak mau berlarut-larut, dia ingin menikmati malam ini, mengingat semua gambaran indah ini, sebelum dia meninggalkannya.
"Kau tak ingin menemaniku diperjalananku ke depannya?" tanya Rain dengan sorot mata penuh kelembutan, baru kali ini Bianca melihat sorot mata itu dari Rain membuat hati Bianca bergetar.
Bianca cepat membuang wajahnya, dia takut sedetik lagi dia memandang sorot mata itu, maka hatinya akan ragu untuk meninggalkan pria ini, tidak, jika dia tinggal dan bersama Rain, dia hanya akan jadi sumber kesedihan baginya.
"Bian," kata Rain yang segera membuat Bianca menatapnya, panggilan sayang yang selalu di ucapkan ibunya.
Bianca seketika terperangkap oleh mata yang berbinar walau dalam gelap malam itu, jari jemari Rain menyusup ke jari jemari Bianca, mengelusnya perlahan membuat nyaman Bianca, Bianca bahkan seolah tak bisa lagi memalingkan dunianya dari pria ini, serasa hanya ada mereka berdua di sana.
Perlahan sekali Rain mendekatkan tubuh dan wajahnya ke arah Bianca, kali ini tidak ada paksaan, malah hanya ada sentuhan lembut, elusan jari jemari rain di tangan Bianca, wajah pria itu sekarang begitu dekat dengannya, Bianca bisa merasakan hembusan napas segar berbau mint dari Rain, hangat menerpa pipinya.
__ADS_1
"Berikan aku kesempatan," ujar Rain lagi, kali ini tangannya berpindah dari jari Bianca menjadi memegang lembut rahang bianca, ibu jari Rain ngusap lembut dan perlahan bibir Bianca, memberi sensasi yang lain dari pada yang lain yang bisa dirasakan Bianca.
Rain mengantikan usapan jari itu menjadi sentuhan pelan dari bibirnya, tidak langsung menekan, hanya menempel sejenak agar Bianca bisa terbiasa. Bianca membesarkan matanya, napasnya kembali berat dia rasakan, berusaha menekan dan mencoba menahan pikirannya agar tak lagi memunculkan pikiran-pikiran yang merusak dirinya, dia bahkan menutup matanya dengan sangat erat.