
Rain segera turun dari helikopternya saat helikopter itu baru saja mendarat dengan sempurna pada landasan di pulau itu. Dia berjalan dengan cepat bahkan lebih seperti berlari kecil untuk masuk ke dalam ruangannya, dia memerintahkan Ken untuk meminta penjaganya membawa Bianca ke dalam bangunan utama.
Para penjaga langsung membukakan pintu untuk Rain ketika dia baru saja ingin masuk ke dalam rumahnya, dengan cepat berjalan menuju ruang tengah, dan dia berhenti saat melihat ke arah sofa di ruang tengah itu, tempat tubuh Bianca terbaring lemah.
Matanya nanar melihat wajah polos itu tak sadar, bahkan lebih seperti tertidur, Rain mengertakkan giginya lalu berjalan mendekat pada Bianca, menyisipkan tangannya pada belakang pundak Bianca juga di bawah lututnya, dengan cepat dia menggendong Bianca. Rain Menatap wajah wanita yang terlihat lemas itu, tubuhnya sangat ringan, Rain baru sadar betapa kurusnya Bianca.
"Aku ingin orang-orang yang melakukan hal ini padanya dibawa ke hadapanku segera, panggilkan dokter, aku ingin berbicara padanya," ujar Rain dengan sorot mata yang penuh dengan amarah, Ken hanya menngguk dan segera pergi dari sana.
Rain lalu membawa Bianca ke arah kamar tidurnya, dibantu oleh pengawalnya yang membukakan pintu, Rain langsung berjalan ke arah ranjangnya yang terlihat sangat empuk dan mewah, dia meletakkan tubuh Bianca dengan sangat hati-hati, perlahan dan penuh dengan perasaan.
Wanita itu tampak masih tak sadarkan diri, rambutnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya, Rain mencoba memperbaikinya, menarik napasnya panjang ketika melihat wajah polos itu, terlalu cantik namun juga menyedihkan. Pintu kamar Rain terketuk, Rain tak bangkit hanya mengizinkan seseorang yang ada di luar sana untuk masuk.
"Tuan, Dokter dan juga orang-orang yang Anda minta sudah datang," ujar Ken segera.
"Suruh Dokter itu masuk," kata Rain, tak lepas pandangnya memandang wajah damai itu, Rain mengerutkan dahinya, bagaimana bisa sedamai itu padahal dia baru saja mengalami penyiksaan.
Dokter itu masuk segera, dia segera mendekati Rain, berhenti beberapa langkah dari posisi Rain yang duduk di tepian ranjangnya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rain langsung tanpa basa basi lagi.
"Nona Bianca baik-baik saja, memang ada jejas di bagian perut bagian kanannya, tapi tidak berbahaya," ujar Dokter itu menjelaskan pada Rain.
"Lalu kenapa dia tidak sadar sampai sekarang?" Tanya Rain tak ada ramah-ramahnya.
__ADS_1
"Mereka sengaja mencekoki Nona Bianca dengan minuman keras, mungkin karena tak biasa meminumnya, Beliau menjadi tak sadarkan diri, perawat sedang melakukan persiapan untuk mengompres bagian dari perut Nona Bianca, Tuan, apa Anda mengizinkan perawat untuk masuk ke dalam kamar Anda?" Tanya Dokter yang tahu ini adalah daerah terlarang bagi mereka untuk masuk, bahkan hanya orang-orang tertentu yang di izinkan untuk membersihkan kamar Rain, dokter ini saja baru pertama kali masuk ke kamar ini.
"Ya, aku izinkan mereka masuk," ujar Rain melirik ke arah Dokter itu.
"Terima kasih Tuan," kata Dokter sungkan.
Ken yang mendengar bahwa Rain sudah memberikan izin segera membukakan pintu dan mempersilakan 2 perawat yang membawa alat untuk mengompres perut Bianca. Mengetahui perawat masuk, Rain segera bangkit lalu membiarkan dua perawat itu dengan perlahan melakukan tugasnya.
Mereka manaikkan baju Bianca, menyingkap bagian perutnya yang malah membuat Rain tampak tak percaya dengan apa yang dia lihat, bekas-bekas luka yang cukup terlihat jelas, luka-luka sayatan benda tajam yang bukan hanya satu.
Rain menatap nanar namun juga kesal, sedih, dan juga penuh emosi melihat bekas luka itu, dia tahu dengan pasti siapa yang sudah memberikan luka itu pada Bianca, membuat dia benar-benar ingin meledak sekarang. Ditambah dia melihat bekas lebam itu, pasti mereka melakukannya dengan sangat keras hingga meninggalkan jejak seperti itu.
Rain tidak sanggup lagi melihat keadaan Bianca, dia segera menuju ke arah pintu keluarnya, berhenti sejenak melirik ke arah Ken yang setia berdiri di dekat pintu keluar.
"Mereka ada di luar bangunan, kami belum mengizinkan mereka untuk masuk ke dalam," ujar Ken segera.
"Suruh mereka masuk, aku menunggu di ruang tengah," ujar Rain lagi, Ken mengangguk seraya membukakan pintu untuk Rain.
Rain segera menuju ruang tengah, duduk dengan gayanya yang tampak berkuasa, memasang wajah datarnya dan tatapan tajam miliknya sehingga membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan takut karenanya.
Tak lama 3 orang wanita yang berpakaian pelayan masuk dengan wajah dan gestur ketakutan mereka, mereka benar-benar tak percaya bahwa hanya dengan membuat Bianca seperti itu, Tuan Rain datang langsung ke sini dan menangani mereka. Rain hanya menatap ke 3 orang wanita yang ada di depannya, mereka tampak menunduk ketakutan.
"Katakan apa alasan kalian bertiga melakukan itu pada Nona Bianca," ujar Ken mewakili apa yang ingin dikatakan oleh Rain.
__ADS_1
"Kami benar-benar tidak melakukannya, kami melihat Bianca minum minuman keras, kami melarangnya dan tiba-tiba dia ada di sana tak sadarkan diri, kami melarikan diri karena kami takut akan disalahkan karenanya," kata seorang pelayan yang memiliki tubuh paling tambun diantara yang lain. Rain tahu pelayan inilah yang melakukan pukulan pada Bianca.
Rain mengerutkan dahinya, bagaimana sesseorang bisa berbohong padahal dengan gamblang mereka yang melakukan, Rain memiringkan wajahnya menatap Ken, Ken langsung mengerti arti gestur yang di berikan oleh Rain itu. Ken segera mengambil remote yang ada di dekat TV yang berada di belakang Rain, menghidupkannya dan TV itu langsung menunjukkan rekaman CCTV, di sana terlihat dengan jelasnya apa yang mereka lakukan pada Bianca.
"Apa kalian masih ingin mengelak?" Tanya Ken yang benar-benar menjadi penghubung bagi Rain dan para pelayan yang tampak kaget melihat apa yang mereka lakukan ternyata terekam oleh kamera CCTV, padahal mereka sudah mencari tempat yang kira-kira tidak bisa direkam oleh CCTV, jadi jangan-jangan semua kelakukan mereka selama ini diawasi oleh Tuan mereka.
"Apa alasan kalian melakukan itu?" Tanya Ken lagi.
"Aku tahu, mereka pasti sangat iri karena Bianca begitu cantik dan juga dia menjadi wanita yang pernah ditolong oleh Tuan Rain, jadi mereka sangat membencinya dan melakukan itu, selain itu mereka juga menyuruh Bianca untuk bekerja terus menerus, bahkan terkadang Bianca hingga tak bisa makan sama sekali, mereka menyiksanya Tuan," ujar Lisa yang juga ada di sana sebagai saksi apa yang sudah dilakukan mereka, dia tak menyangka mereka berani melakukan hal itu pada Bianca.
"Bawa mereka ke penjara bawah tanah, gantung kedua tangan mereka dan berikan mereka minuman yang sama seperti yang diminum oleh Bianca, dan perlakukan mereka seperti yang mereka lakukan pada Bianca, khusus yang sudah memukul Bianca, lakukan hingga dia punya bekas lebam yang sama dengan Bianca, aku tidak ingin ada yang membantah," kata Rain dingin bahkan tidak ingin melihat ketiga orang yang langsung berwajah panik mendengar perkataan Rain tadi.
"Tuan, Tuan, maafkan kami," panik mereka hampir bersamaan, namun Rain bergeming, wajahnya dingin dan lurus tanpa ada ekspresi sama sekali, para penjaga pun tak berani membantah apa yang diperintahkan oleh Rain, bahkan mereka tak memperdulikan ketiga pelayan yang mengemis meminta pengampunan.
Rain masih diam sejenak setelah mereka semua keluar, dia lalu berdiri dan segera berjalan masuk ke dalam kamarnya, Ken setia mengikutinya dari belakang.
Rain melihat perawat mengompres luka Bianca dengan perlahan, namun wanita itu masih saja tak sadarkan diri.
"Kalian keluarlah," perintah Rain yang langsung didengar dan dilakukan oleh para perawat dan juga dokter itu, buru-buru mereka keluar dari kamar Rain, Ken keluar paling terakhir sambil perlahan menutup pintunya.
Rain yang mendengar pintu kamarnya sudah tertutup baru bergerak mendekati Bianca, melihat tubuh wanita itu secara keseluruhan, terlalu lemah dan ringkih, pasti dia tak bisa melawan walaupun diperlakukan bagaimana pun. Gadis yang sangat lemah dan menyedihkan.
Rain meraba handuk kompres yang masih ada di perut Bianca, hangatnya sudah tak ada lagi, setelah itu dia segera mengambil handuk itu, memasukannya kembali ke air hangat memerasnya lalu meletakkannya dengan hati-hati di perut Bianca yang putih, kembali memandang wajah wanita itu tapi kali ini dengan tatapan melunak dan penuh arti, raut perhatian yang sangat akhirnya muncul di wajahnya. Rain terjaga sepanjang sisa malam itu, menjaga dan merawat luka Bianca.
__ADS_1