Rain In The Winter

Rain In The Winter
130.


__ADS_3

"Hmm? Ada apa?" Tanya Rain menanggapi Gwiyomi yang memeluk bonekanya.


"Paman, paman tahu dimana kakak dan bibiku?" Tanya Gwi lagi dengan suaranya yang lucu.


Rain mengerutkan dahinya, bagaimana tiba-tiba dia ditanya seperti itu tentu dia tak akan tahu, dia saja baru bertemu dengan anak ini, namun dia tahu itu hanya pertanyaan anak-anak.


Rain menaikkan satu bibirnya, lalu dia sedikit berjongkok mensejajarkan tubuhnya pada gadis kecil yang berhasil menarik perhatiannya.


"Siapa namamu?" Tanya Rain.


"Gwiyomi," ujar Gwi dengan lugunya.


"Gwiyomi? Apa artinya?" Tanya Rain yang merasa nama itu sedikit aneh untuk di dengarnya, baru kali ini dia mendengar namanya itu.


"Mami bilang artinya imut dan menyenangkan," ujar Gwiyomi lagi.


"Benarkah? Nama itu cocok untukmu, apakah kau tersesat?" Tanya Rain, mendengar hal itu Gwi hanya menunjukkan senyuman manisnya sambil mengangguk semangat, senyuman itu membuat Rain mengerutkan dahinya, serasa ingat dengan senyuman ini.


"Ya, aku kehilangan bibi, kakak kembarku dan Pamanku," ujar gwi lagi.


"Kemana ibumu?" Kenapa anak ini tak mengatakan ibunya?


"Mami sedang berkerja hingga malam nanti pukul 7."


"Ibumu bekerja? Bagaimana dengan ayahmu?" Ujar Rain sedikit bingung, apakah hidup mereka begitu susah hingga ibunya juga harus bekerja hingga malam hari?

__ADS_1


Gwiyomi mengangguk mengiyakan bahwa ibunya bekerja, "Aku tak punya ayah, Ibu bilang ayah sudah lama pergi ke surga," ujar Gwi lagi dengan sangat polos.


Rain diam, perkataan anak itu tiba-tiba saja menusuk hatinya, tak tahu kenapa? Padahal begitu banyak cerita-cerita seperti ini yang pernah dia dengar, namun ketika kata-kata itu keluar dari bibir gadis kecil ini, hatinya merasa sakit.


Rain lalu mencoba tersenyum karena dia tak tahu harus berkata apa, dia lalu melihat penjual gulali.


"Ingin gulali?" Tanya Rain berdiri memberikan kode buat penjualnya agar membuat gulalinya namun setelah itu dia kembali memandang wajah Gwiyomi, rasanya terlalu memikatnya.


Antony yang melihat itu saja sampai mengerutkan dahinya, 4 tahun membuntuti Rain baru kali ini dia banyak berbicara kecuali saat rapat.


"Tidak," kata Gwiyomi menggelengkan kepalanya, "Mami bilang Gwi tak boleh menerima hadiah dari orang yang tidak di kenal, Gwi tak kenal paman," ujar Gwi lagi.


Rain mengerutkan dahinya, dia melirik ke arah penjual gulali yang sudah membuatkannya gulali berwarna merah muda itu.


"Tenang saja, lihat, paman tak memberikan apapun di sini, kau boleh memakannya, paman janji itu tak apa-apa," ujar Rain ramah, Antony hanya mengerutkan dahinya, aneh sekali melihat tuannya bisa begitu ramah pada seorang gadis kecil.


Baru saja dia mengambilnya, sayup terdengar suara anak laki-laki yang memanggil namanya, Rain dan Gwi lalu melihat ke belakang, mata Gwi berbinar, senyum manisnya kembali mengembang, membuat Rain menaikkan sedikit sudut bibirnya, ketagihan atas senyum manis itu.


"Kakak!" Ujar Gwi melihat Gio mendekatinya, Gio tadi melihat adiknya, bibi dan pamannya panik mencari Gwi yang tiba-tiba menghilang, Gio sebenarnya mencari Gwi dengan bibinya, namun dia melihat Gwi dan segera berlari tanpa tahu bibinya mencarinya ke tempat yang lain.


"Gwi, bagaimana bisa di sini?" Ujar Gio, dia melirik pria di sampingnya, dia melihat pria ini memberikan Gwi sebuah gulali, apa pria ini ingin merayu adiknya dan menculiknya? Gio menyipitkan matanya, menganalisa Rain dari atas hingga bawah.


"Gwi apa dia mengganggumu?" Tanya Gio melirik tajam pada Rain seolah menunjukkan arti bahwa jangan macam-macam padanya walau dia masih kecil, Rain mengerutkan dahinya di tatap seperti itu namun Rain bukannya merasa kesal karena tatapan Gio tapi Rain malah tersenyum lebar yang bahkan tampak seperti ke tawa kecil, anak ini hebat sekali meliriknya, hal itu membuatnya merasa lucu.


"Tidak, aku bertanya pada paman tentang kalian, dia juga memberiku gulali," senyum Gwi mengembang, membuat Gio sedikit tenang namun segera melirik ke arah Rain dengan tajam, ingin menunjukkan bahwa dia yang bertanggung jawab terhadap adiknya.

__ADS_1


"Bibi dan Paman mencari, ayo bertemu mereka," kata Gio menarik tangan Gwi namun Gwi bergeming, membuat Gio mengerutkan dahinya.


"Paman terima kasih, Gwi pergi dulu," ujar Gwi sopan, memberikan salam, dia tahu tata Krama berhadapan dengan orang lain.


"Baiklah, hati-hati," ujar Rain, Gwi kembali melemparkan senyuman manisnya, Gio hanya diam, sedikit menjaga jarak dari Rain.


Setelah melakukan itu Gio menarik Gwi yang segera menurut abangnya.


Rain menarik sudut bibirnya, rasanya akan menyenangkan memiliki anak selucu mereka, tapi senyum itu langsung pudar, bagaimana bisa dia memiliki anak dengan Lidia, menyentuhnya pun dia tak bisa.


"Tuan, sepertinya kita harus kembali ke penginapan, Kepala cabang di bagian timur ingin berbicara dengan Anda," ujar Antony.


"Baiklah," kata Rain yang masih saja memperhatikan kepergian Gio dan Gwi, setelah melihat mereka mendekati seseorang wanita, Rain membalik tubuhnya, berjalan keluar dari sana.


"Gwi kemana saja?" Ujar Yuri panik, gadis selucu dia bisa saja diculik.


"Gwi di sini, mencari bibi dan paman," kata Gwi polos.


"Gwi minta bantuan dengan seorang paman dan dia memberikannya gulali," ujar Gio yang melihat adiknya perlahan memakan gulali itu, Gio jadi ingin juga, Gwi yang melihat itu menyodorkannya pada kakaknya, mereka memang selalu berbagi. Gio langsung senang dan mengambilnya.


"Paman? Paman yang mana?" Tanya Yuri lagi menatap sekitar.


"Di sana? Eh, pamannya sudah tak ada," ujar Gio, tak lagi melihat pria dengan dandanan rapi itu, Gio yakin dia bukan orang dari pulau ini, karena tak ada orang di pulau ini yang Serapi dia.


"Sudah, kita pulang saja, beberapa jam lagi Mami akan pulang, ayo kita buat makan malam untuk mami, lagi pula Gio dan Gwi sudah dari siang di sini kan?" Ujar Yuri, merasa kedua anak ini bahkan seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


"Ya, ayo, Gwi sudah kangen mami," ujar Gwi, Gio hanya mengangguk setuju sambil sibuk memakan gulalinya, Gwi hanya diam melihat kakaknya menghabiskan gulalinya.


Rain menatap kembali pasar malam itu, dia masih teringat dengan senyum manis dan tatapan tajam dari anak-anak itu, rasanya mereka sungguh lucu, selama 4 tahun ini, inilah kejadian yang membuatnya bisa merasa senang, Rain rasanya ingin kembali bertemu dengan mereka, mungkin besok dia bisa kembali lagi ke sana.


__ADS_2