
Bianca lalu tak menyia-nyiakan hal ini, dengan cepat dia berjalan dan menyelinap pergi sambil melihat penjaga itu yang masih sibuk membantu bapak tua itu.
Bianca segera berjalan secepat yang dia bisa menuju loby Utara, matanya liar mencari mobil yang di maksud, tak jauh dari sana hanya beberapa meter dari loby itu, Bianca akhirnya menemukan mobil yang di maksud, dengan tarikan napas panjang dia mencoba tenang berjalan menuju mobil itu, padahal sejujurnya, dia sangat gugup dan takut.
Pintu belakang terbuka sendiri saat Bianca sudah hampir sampai di mobil itu, Bianca sekali lagi menarik napas panjangnya dan melihat dengan seksama siapa saja di dalam mobil itu, ternyata 2 orang yang kemarin melakukan peringatan padanya di kamar mandi, mereka bertindak sebagai supir dan lainnya lagi duduk di kursi penumpang depan, Bianca langsung masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang.
Mobil segera melaju kencang, pintu mobil itu terkunci cepat, Bianca menatap lurus ke arah depan dengan tangan yang dia peras sendiri untuk menyalurkan rasa gugup dan takutnya, bahkan dia tak memperhatikan 2 orang di depannya sedang memperhatikannya.
"Silakan istirahat, kami menjamin keselamatan Anda hingga sampai ke tempat Tuan Drake," ujar salah satu dari mereka yang memang diperintahkan begitu.
"Kalau begitu baguslah," ujar Bianca yang segera bersandar, merasakan pisau itu menekan dirinya, sakit namun untungnya dia sudah membalutnya hingga pisau itu tak langsung melukai kulitnya, Bianca mencoba bersikap setenang mungkin, walaupun sebenarnya dia bahkan tak bisa bernapas dengan baik.
Perjalanan mereka nyatanya cukup jauh, para pengantar Bianca singgah sebentar di sebuah restoran cepat saji, mungkin mereka sedikit kasihan atau malah terganggu dengan suara perut Bianca yang dari tadi bergemuruh, dari kemarin dia tak terlalu banyak makan.
Penjaga itu memberikan Bianca makanan untuk dimakan sembari mobil tetap berjalan, sebuah burger yang cukup besar dan sekotak kentang goreng dengan keju, minumannya minuman bersoda.
Bianca mencoba memakannya, tak banyak yang masuk, namun dia cukup lahap memakan kentang gorengnya, sedangkan minumannya malah membuat kerongkongannya sakit, Bianca menghentikan makannya saat dia sudah merasa mual.
Bianca menatap jalan-jalan yang mereka lewati, hutan, pemukiman, hutan kembali dan sesekali kota kecil, entah sudah berapa lama mereka berkendara, pastinya matahari bahkan sudah melewati puncak tertingginya.
Bianca sendu melihat tanaman yang berkejaran mereka lewati, melihat langit biru dan awan putih yang perlahan menghilang berganti yang baru, Bianca tersenyum kala panasnya matahari menembus kulitnya menerobos kaca mobil itu, Bianca ingin merasakannya sekali lagi, mungkin untuk terakhir kalinya.
Ingatannya jatuh pada sosok pria itu tatkala dia menutup matanya saat menikmati sinar matahari, senyumnya seketika pudar, dia tak mengucapkan atau meninggalkan kata perpisahan, bahkan dia tak sempat mengucapkan terima kasih untuk tiap detik terindah dalam hidupnya.
__ADS_1
Pria itu, akan kehilangan sementara, Bianca hanya hadir dalam hidupnya sejenak saja, seberapa lama dia akan kehilangan dirinya? ah, tak akan lama, mungkin hanya beberapa minggu saja.
Ya! hanya beberapa Minggu saja.
Bianca mengubah arah pandangnya, sekarang dia menatap ke arah depan, dia tak ingin lagi menatap ke arah sampingnya, dia telah meneguhkan hati, bahkan sudah mengucapkan selamat tinggal untuk hari dan hati.
Tak lama mereka mulai memasuki perbatasan dari ibukota itu, hari semakin menuju sore, matahari yang awalnya terik sudah mulai menjinak, meninggalkan berkas jingga untuk memberikan sekali lagi lukisan indah dunia sebelum salam perpisahannya di ufuk barat.
Bianca tetap menghadap depan tak tertarik untuk melirik gedung-gedung menghujam langit.
Napasnya semakin berat ketika mobil itu mulai masuk ke area perumahan Drake, akhirnya di sinilah nantinya yang akan menjadi tempat terakhirnya.
Pintu mobil dibuka, Bianca segera turun tanpa ragu, tangannya yang gemetar di genggamnya kuat, matanya tampak tegas melihat segalanya, pintu neraka itu telah dibukakan untuknya.
Bianca segera diajak masuk ke dalam rumah itu, tak ragu dia berjalan masuk, tetap sama, udara tempat itu tetap memuakkan dan menyesakkan, Bianca segera dibawa ke salah satu ruangan, ruangan kerja Drake.
Bianca dipaksa untuk berjalan hingga ke tengah ruangan itu.
"Selamat datang kembali," sambut Drake dengan tingkahnya yang memuakkan itu.
Bianca bergeming, bahkan sama sekali tidak mengubah raut mukanya, Bianca berusaha sebisa mungkin tak ingin menunjukkan bagaimana takutnya ia padahal jauh di dalam hatiny di begitu takut bahkan hanya karena mendengarkan suara pria ini, dia menggigit bibir dalamnya untuk melampiaskan hal ini, anyir darah sudah begitu terasa di dalam mulutnya.
Drake mengerutkan dahinya, menatap sikap tenang Bianca yang jauh dari ekpektasinya, dia berharap wanita ini akan gemetar, wajahnya akan cemas, dia akan seperti Bianca sebelumnya, tapi gadis di depannya ini bahkan menatap matanya lurus, tak ada kesan ngeri yang dia cari.
__ADS_1
"Wow, perubahan luar biasa Bianca, apa yang sudah Rain buat padamu hingga kau berani sekali menemuiku sekarang?" tanya Drake, tangannya sudah mengepal, tak suka melihat perubahan Bianca.
Bianca tersenyum tipis membuat alis Drake terangkat karena aneh melihat tingkah Bianca, bagaimana gadis ini bisa seperti ini sekarang.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Drake tersulut emosinya, terganggu akan hal itu.
"Kau, aku menertawakan kau," suara Bianca terdengar cukup lantang, lagi-lagi sebisa mungkin dia menahan dirinya, menguatkan dirinya agar tak terdengar suara bergetarnya.
"Apa maksudmu!" kata Drake tak terima diejek oleh wanita murahan seperti Bianca. Bianca tersenyum dalam hati, akhirnya pria ini terpancing.
"Lihatlah, apa seorang Drake yang dulunya hebat sekarang takut dengan wanita lemah seperti aku, hanya karena aku mendatangimu, kau harus menyiapkan 4 penjaga untuk mengantisipasi diriku, Drake, apa kau takut dengan wanita sepertiku?" ujar Bianca lagi dengan nada merendahkan dan menghina.
Mata Drake tajam menatap Bianca, dia menggertakkan kedua giginya, membuat rahangnya terlihat keras. Dia terus memandang Bianca yang bergeming, tenang, sangat tenang hingga membuat kesal Drake.
Drake segera melihat 4 orang yang menjaganya, Dia mengeluarkan gestur agar para penjaga itu keluar, dia lalu melihat Ben, dia pun menyuruh Ben Keluar.
"Tapi Tuan," ujar Ben yang khawatir dengan keadaan Tuannya.
Namun Drake malah menatapnya dengan tatapan tajam, Ben tak bisa membantah, dia segera pergi meninggalkan Bianca dan Drake di dalam berdua.
Drake menatap ke arah wanita itu, apa yang bisa dilakukan oleh gadis lemah,kurus dan ringkih ini, bahkan matanya saja tampak bengkak, dia pasti menangis semalaman.
Drake lalu keluar dari zona meja kerjanya, dia berjalan mendekati Bianca yang ada di tengah ruangan itu, tangan Bianca siaga, menatap pria iblis ini, pikirannya seketika berubah.
__ADS_1
Drake mendekati Bianca, dengan senyum sinis yang tipis dia berhenti di depan Bianca, merasakan napas wanita itu berat, dia tahu Bianca berpura-pura berani.
Drake memegang rahang kecil Bianca, membiarkan mata Bianca menatapnya, mencoba untuk menekan psikis wanita ini. Bianca bergeming, dengan wajah kesalnya dia terus saja menatap Drake.