
Bersamaan dengan ucapan terakhir Ken, pintu ruang kerja itu terbuka, Ken segera berdiri melihat sosok Rain ada di sana, Bianca yang tadinya sedang diam langsung menatap ke arah pria yang memandang dirinya. Bianca segera berdiri.
"Saya akan menyiapkan helikopter sekarang," kata Ken yang merasa Rain ingin berbicara dengan Bianca.
Rain tak mengiyakan namun juga tak melarang saat Ken mulai keluar dari ruangan itu, pintu ruangan segera tertutup.
Bianca hanya diam, suasana kembali berbalut suasana yang sangat canggung, karena cerita Ken tadi membuat Bianca jadi salah tingkah.
"Aku akan keluar juga, permisi Tuan," Ujar Bianca yang tak mau berlarut-larut dalam kecanggungan ini, dan entah kenapa, bahkan rasanya bahkan mendengar nama Rain tersebut saja Bianca sudah mengalami serangan sesak, apa dia harus minta tolong dokter memeriksa keadaan parunya, mungkin dia mulai memiliki masalah jantung dan masalah paru-paru.
Bianca segera berjalan ingin berlalu meninggalkan Rain, namun langkahnya langsung berhenti ketika sebuah sentuhan tangan terasa di lengan atasnya, menahannya untuk bisa melangkah lebih lanjut, Bianca langsung melihat ke arah tangan itu dan melihat siempunya.
Bianca terdiam melihat sepasang mata yang biasanya tajam itu menatapnya dengan kesan lembut yang tak bisa dia jelaskan.
"Jangan panggil aku Tuan," suara datar itu terdengar, namun bisa membuat seluruh tubuh Bianca bergetar karenanya. Rain melonggarkan genggaman tangannya, menyusur tangan Bianca hingga dia menyentuh jari jemari Bianca, membuka tangan itu hingga telapak tangan Bianca menghadap ke atas, Bianca menahan napas saat Rain melakukan hal itu.
Rain lalu meletakan sebuah ponsel satelit karena memang daerah itu tidak bisa terjangkau dengan sinyal ponsel mana pun.
"Aku tidak bisa menjagamu di sini selamanya, ini adalah ponsel satelit, ada nomorku di dalam sana, jangan ragu meneleponku apapun yang terjadi di sini," ujar Rain menutup jari jemari Bianca agar dia mengenggam ponsel satelit itu. Bianca hanya bisa diam dengan apa yang dilakukan Rain, bagaimana bisa pria ini selalu membungkamnya.
"Maafkan aku, aku sungguh sudah merepotkanmu," ujar Bianca lagi, perasaannya sungguh tak enak, ntah kenapa seharusnya Rain tak perlu repot-repot menjaganya.
__ADS_1
"Aku pergi, jangan takut, semua orang di sini tidak akan lagi yang mengganggumu," Ujar Rain ingin memulai langkahnya.
"Rain, Terima kasih, berhati-hatilah, bisa kirim kabar jika kau sudah sampai?" tanya Bianca yang mulai mencoba membuka diri, mengurangi kecanggungan pada pria ini, ingat saat dihutan pria ini cukup hangat.
Rain menatap Bianca, melihat senyuman manis yang mengembang di wajah wanita itu mengundang sedikit raut wajah ramah di wajahnya, Rain menaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Ken akan mengabarkannya padamu," kata Rain sebelum dia pergi keluar dari ruangan itu.
Bianca mengerutkan dahinya, inginnya Rain yang mengabarkannya, tapi kenapa malah Ken? namun Bianca tak bisa lagi meminta lebih, dia hanya mengikuti kemana Rain pergi, menatap pria itu masuk ke dalam helikopternya, sesaat dia melirik pada Bianca yang hanya bisa memberikan senyumannya saat helikopter itu pergi dan menjauh.
---***---
Siena memotong steak medium rare-nya perlahan, dengan gerakan anggun memasukkannya ke dalam mulutnya, dia lalu mengambil segelas wine yang sudah tertuang di gelas khusus winenya, memandang pria yang baru saja datang masuk ke dalam ruang khususnya, Drake memberikan senyuman manis.
"Senang sekali melihat Anda di sini," kata Drake dengan gayanya.
"Ya, saya juga, tak menyangka Anda kembali menghubungi saya, apakah sudah ada kabar tentang mantan tunangan Anda itu?" tanya Siena lagi memandang dalam pada Drake.
"Sayangnya sepertinya kita harus bersabar, sepertinya Rain bukan orang yang mudah ditahlukan, masih belum ada apapun yang bisa kita gunakan," kata Drake dengan wajah sedikit kecewanya.
"Jangan terlalu buru-buru, lagi pula, bolehkah aku bertanya? kenapa Anda harus mencari masalah dengan Rain? Anda sudah punya semuanya bukan?" tanya Siena lagi memandang dengan tatapan tajam namun tetap menawan.
__ADS_1
Drake diam sesaat dengan gayanya mengamati wajah cantik Siena yang sekarang lebih condong ke arahnya, Siena sengaja memindahkan beberapa anak rambutnya ke belakang telinganya, membuat gerakan yang pastinya bisa membuat semua orang tergoda melihat leher putihnya.
"Tentu semua ini karena kekuasaan, aku bisa mendapatkan semua ini semenjak dia tidak ikut campur dengan semua hal di negara ini, sebelumnya langkahku selalu saja terbatas karena dirinya, aku tak ingin kembali menjadi orang kedua, aku ingin menguasai semuanya di sini," kata Drake meminum wine yang ada di sisinya.
"Well, hanya itu? aku kira ada hal lain yang lebih personal," kata Siena lagi terlihat sedikit tak berminat, Membuat sisi kesal Drake muncul melihat acuhnya wanita ini.
"Nona Siena, pernahkah kau merasa tak dianggap, kau melakukan hal yang kau bisa, berusaha hingga kau mencurahkan segalanya di sana namun saat kau merasa semua akan berjalan lancar, usahamu itu terpatahkan begitu saja karena seseorang yang punya uang? Kau mencoba dengan begitu keras memperbaiki hidupmu, namun semua kandas hanya seseorang bisa membayar semuanya dan punya koneksi? semua talenta dan kepintaranmu hanya dianggap sampah, tak bisa mengalahkan Uang?" tanya Drake yang mencoba mengatur emosinya. Mengingat hal dulu yang pernah dia lalui, berusaha keras namun hanya karena Rain punya segala materi, dia tersisih.
Siena diam sambil memegang gelas Winenya, dia mengangguk kecil.
"Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?" tanya Siena lagi.
"Haruskah aku mengatakan padamu?" tanya Drake lagi, bagaimana pun belum seratus persen percaya dengan siapa pun kecuali dirinya sendiri.
"Tak mengatakannya juga tak apa-apa, apa kau sudah mencari tahu tentangku, tentu sudah bukan?" kata Siena lagi.
Drake menarik sedikit sudut bibirnya, tentu dia sudah tahu siapa Siena ini, dulu dia dekat dengan Rain, namun Rain hanya menjebaknya untuk membalaskan dendam, setelah itu dia diselamatkan Malah oleh orang yang ingin dia bunuh dulu.
"Ayah angkatku tentu punya kuasa, mungkin jika aku meminta, dia bisa membantuku atau membantumu," kata Siena.
"Wilayah, aku butuh wilayah yang ingin dikuasai oleh Rain, Rain punya sesuatu yang tak ku punya, dia punya intuisi dimana semua wilayah yang dia kuasai memiliki perkembangan yang sangat baik, karena itu aku ingin tahu dimana selanjutnya dia akan melakukan perkembangan, bulan lalu, dia sudah menjegal langkahku lagi, aku rugi hingga 8 triliun," kata Drake lagi.
__ADS_1
"Jadi itu yang kita tunggu dari mantan Tunanganmu itu? baiklah, aku suka dengan rencana itu, tapi bolehkan aku tambahkan sedikit detail kecil,kau harus menguasai tempat itu, pegang orang yang berkuasa di sana, aku mungkin bisa memambantumu. Biarkan Rain melakukan langkah awal, biarkan dia bertaruh besar dengan wilayah itu,lalu setelah itu patahkan semuanya, buat dia kalah banyak dan itu akan membuatnya sangat frustasi, aku ingin melihat bagaimana dia kehilangan segalanya," ujar Siena tersenyum sinis sekali, Drake melihat perubahan wajah cantik itu menjadi sinis menakutkan hanya menyipitkan matanya, terkadang wanita ini bahkan membuat Drake sendiri ketakutan.