Rain In The Winter

Rain In The Winter
154.


__ADS_3

Bianca melambaikan tangannya perlahan dengan senyuman yang merekah mengantarkan ke dua anaknya dan Yuri yang berjalan menyebrangi jalan untuk menuju ke halte bis, Gwi dan Gio yang dituntun oleh Yuri tampak sangat ceria membalas lambayan tangan ibunya.


Bianca segera masuk ketika melihat Yuri dan si kembar sudah masuk ke dalam bis, Bianca mencoba merengangkan lehernya yang terasa berat, baru saja dia ingin melangkah ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya, dia mendengar ponselnya bergetar lagi. Bianca berjalan malas ke arah kamarnya, namun dia segera mengambil ponselnya dan melihat ke arah layar itu, masih nomor yang sama dengan yang digunakan Rain.


"Halo? Iya, aku tahu, aku akan pergi mandi dan setelah itu ke tempatmu, tunggulah sebentar," ujar Bianca yang sudah tahu pasti yang ada di seberangnya adalah Rain.


"Tidak perlu," kata Rain menjawab.


"He? Maksudmu?" kata Bianca kaget, bukannya kemarin dia mengatakan bahwa dia ingin Bianca bersama dengannya.


"Tidak perlu ke sini, aku yang akan datang ke rumahmu, bisakah kau memasakan makan siang untukku tapi buatlah sedikit lebih banyak, aku akan membawa tamu," kata Rain lagi.


"Kau ingin ke sini dan makan di sini? dan ada tamu?"


"Ya, keberatan?"


"Bukan, bukan begitu, aku hanya bingung, apa yang harus aku masak? Lagi pula rumahku kecil, bagaimana bisa kau membawa tamu ke sini, bukannya lebih bagus di rumahmu saja, rumahmu besar," kata Bianca memegang dahinya, kepalanya langsung pusing memikirkan apa yang harus dia masak untuk Rain dan tamunya.


"Masak saja apapun yang kau mau, mereka pasti suka dengan makananmu, Baiklah aku akan datang saat makan siang," kata Rain, Bianca mengerutkan dahinya selain pusing memikirkan akan memasak apa, tentunya dia bingung bagaimana menjamu tamu Rain ini.

__ADS_1


"Tapi Rain …. " kata Bianca namun tiba-tiba saja panggilan itu segera terputus membuat Bianca langsung membesarkan matanya dan juga membuatnya membuka mulutnya, kesal dan tak menyangka bahwa Rain melakukannya lagi di saat genting seperti ini ingin rasanya Bianca melempar ponsel itu, namun baru saja dia ingin melakukannya akal sehatnya kembali, apa salah ponsel ini? yang salah adalah Rain, pikirnya.


Bianca benar-benar pusing apa yang harus dia masak hari ini, untung saja rumahnya selalu bersih dan rapi, setidaknya dia tak perlu terlalu memikirkan bagaimana membersihkan rumahnya, Bianca cukup menyapunya sedikit dan mengepelnya, juga mengelap beberapa tempat dan semua tampak sudah sangat bersih.


Bianca akhirnya memutuskan untuk berbelanja ke kota untuk membeli beberapa sayur dan lauk seperti daging dan ikan, setelah semuanya selesai dia segera memasaknya, menyiapkan beberapa hidangan istimewa untuk Rain dan entahlah siapa tamamunya.


Ponsel Bianca kembali bergetar di dekatnya tepat saat dia selesai menyiapkan hidangan terakhirnya, wangi lezat menyeruak ke seisi ruangan, Bianca meletakkan Sup kepala ikan kakap merah itu di meja sebelum dia mengangkat ponselnya.


"Halo?" tanya Bianca.


"Sudah selesai?" tanya Rain datar saja, membuat Bianca menarik napasnya dalam, pria ini tanpa basa basi sama sekali, hilang ingatan atau pun tidak sikapnya sama saja.


"Hanya dua, baiklah, aku akan ke sana, mereka sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu," kata Rain lagi menaikan sudut bibirnya membuat sebuah lengkungan yang manis.


"Baiklah, aku akan mandi dulu," kata Bianca merasa baunya seperti bau masakan yang dia masak.


"Ya, kami tak akan lama," kata Rain lagi.


"Ok," kata Bianca segera melepaskan celemek dari tubuhnya, tak menunggu lagi Rain mengucapkan kata-kata karena dia sudah tak ingin lagi berharap pria itu punya basa-basi sebelum menutup ponselnya, benar saja panggilan itu segera diputus oleh Rain.

__ADS_1


Bianca membersihkan dirinya sedikit karena Rain mengatakan dia tak akan lama, karena itu dia segera keluar dan menggunakan baju yang cukup pantas, Dia mengerutkan dahinya, kira-kira siapa tamu yang akan di bawa oleh rain ini? tapi kenapa dibawa kemari? Bukannya tadi pagi Rain mengatakan bahwa Bianca bahkan tak boleh mengatakan keberadaannya pada orang-orang terdekatnya, Bianca cukup penasaran sambil dia menata rambutnya, memoleskan sedikit lipstik berwarna orange muda yang membuat penampilannya tampak lebih segar tanpa memberikan kesan terlalu berlebihan.


Tak lama setelah itu suara pintu terketuk, Bianca segera berjalan ke arah pintu rumahnya, tak lupa seperti yang selalu dia lakukan dia mengintip sedikit dari jendela rumahnya, pemandangan yang ada di sana membuat mata Bianca membesar hingga mulutnya kembali terbuka tanda dia benar-benar kaget dengan apa yang dia lihat, Rain yang tahu wanitanya sedang mengintip hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Bianca segera secepat mungkin membuka pintu usangnya itu, dia masih tak bisa menutupi wajah tercengangnya, bagaimana bisa?


"Mami! Kami membawa Paman Tampan," kata Gwi cengegesan dalam gendongan Rain, Bianca benar-benar hanya bertampang kaget.


"Ya, bukannya mami sudah mengizinkan kami membawa Paman?" tanya Gio yang melihat wajah ibunya sangat kaget seperti baru saja melihat hantu.


"Bagaimana Nyonya apa aku boleh datang ke rumahmu?" tanya Rain yang malah senang melihat wajah melogo Bianca itu, dia hanya tersenyum hampir tertawa kecil, Gwi yang melihat hal itu juga tampak tertawa kecil, baru kali ini Bianca melihat Rain dan Gwi tertawa bersama, tawa mereka benar-benar seperti cermin.


"Mami?" kata Bianca yang bahkan tak menjawab satu pun pertanyaan mereka, mendengar suara anaknya menegurnya, Bianca akhirnya sadar, dia menggeleng-gelengkan kepalanya, dia lalu mengangguk pelan.


"Ya, tentu boleh, ehm, masuklah," kata Bianca rasanya serat mengatakan hal itu, Rain menurunkan Gwi dahulu baru melepaskan Gio, si kembar dengan langkah kecil nan bahagianya menghambur ke arah ibunya, Bianca segera berjongkok, seperti yang biasa dia lakukan kala menyambut anaknya, si kembar pun sudah tahu apa yang harus mereka lakukan, mereka segera mencium pipi ibu mereka.


"Ayo masuk paman," Undang Gio masuk ke dalam rumahnya.


Bianca memipihkan bibirnya sambil bangkit perlahan, menatap mata tajam Rain yang menatapnya walaupun ada senyuman tipis menghiasi bibir Rain tapi entah kenapa Bianca malah jadi tak enak hati dan takut untuk menatap wajah pria yang perlahan mendekatinya.


"Bagaimana bisa? " kata Bianca pada Rain yang berhenti sejenak di depannya.

__ADS_1


"Kau kira aku tidak akan bisa mengetahuinya?” kata Rain dengan senyuman sinisnya, membuat Bianca hanya diam, Pria itu dengan gayanya perlahan masuk ke dalam rumah Bianca, rumah sewaan yang tentunya terlihat sama dengan penampilan depannya, kecil, ruang pertamanya digunakan langsung menjadi ruang tamu, ruang makan dan juga ruang tengah, tak ada apa-apa hanya sebuah meja yang dipenuhi oleh makanan, di ujungnya langsung terlihat dapur kecil tapi terlihat bersih dan tertata, di kanan kirinya hanya ada pintu ruangan kamar Bianca dan Yuri, Rain diam menatap semua itu, bagaimana bisa dia membiarkan keturunannya tumbuh di sini.


__ADS_2