Rain In The Winter

Rain In The Winter
136.


__ADS_3

Bianca segera keluar dari ruangan itu, sesampainya dia lobi hotel dia masih bisa melihat Rain yang masuk ke dalam mobil sedan hitam mewah miliknya, dia hanya menyipitkan matanya mencoba menahan gejolak kesalnya, rasanya ingin sekali dia berteriak untuk kembali melampiaskannya.


"Bianca!" tegur seorang teman kerja Bianca yang bertugas sebagai resepsionisnya.


"Ya?" kata Bianca sedikit kaget karena dia baru sadar dari pikirannya yang penuh kekesalan.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya resepsionis itu mendekati Bianca, suaranya sedikit cemas.


"Eh? apa yang aku lakukan?" tanya Bianca bingung, masih sedikit linglung dengan semua ini, kenapa temannya tampak begitu cemas?


"Iya, apa yang sudah kau lakukan sehingga tamu itu keluar dari sini? dia baru saja keluar dari hotel, padahal seharusnya dia ada di sini 4 atau 5 hari, tapi baru sehari dia langsung keluar dari sini," kata resepsionis itu tambah cemas, tentu dia harus cemas, bos mereka dari kemarin mewanti-wanti semua karyawan agar memperlakukan tamu VIP itu dengan sangat baik karena kelangsungan hotel ini


ada di tangannya, kalau begini bosnya pasti marah besar.


"Ha? dia keluar? bagaimana bisa? aku sudah melayaninya dengan baik," ujar Bianca, dia semakin kesal dengan tingkah Rain, sudah dia dipaksa melayaninya dengan baik, dia malah keluar begitu saja dari hotel ini, apa sih maunya Rain ini?


"Bianca!" suara menggelegar itu kembali terdengar membuat baik Bianca dan temannya itu kaget, teman Bianca saja sampai kembali buru-buru ke meja kerjanya melihat bos mereka datang dengan wajah marah.


Bianca membalikkan tubuhnya melihat bosnya mendekat, Bianca hanya bisa diam melihat Bosnya itu, apakah dia akan dipecat gara-gara ini? tapi ya jika dia pecat sepertinya tidak apa-apa, toh dia memang sudah ingin keluar dari pekerjaan ini, karena itu Bianca sudah siap dimarahi oleh Bosnya ini.

__ADS_1


"Tuan," kata Bianca melihat Tuan Pier memandangnya dengan wajah sedikit kesal.


"Pulanglah sekarang!" kata Tuan Pier cukup keras, membuat Bianca dan temannya cukup kaget, Bianca sedikit menggigit bibirnya, dia benar-benar dipecat? tak masalah dia dipecat tapi dia tetap harus meluruskan sesuatu, dia tak mau jika dia dijadikan penyebab Rain pergi dari sini dan memutus kesempatan dari hotel ini berkembang, karena bagaimana pun Bianca sudah melakukan yang terbaik yang dia bisa tadi untuk melayani Rain.


"Tuan, tapi saya sudah melayaninya dengan baik, Saya bahkan memasak sesuai dengan keinginan Tuan itu, saya tak tahu kenapa dia keluar dari sini," Bela Bianca, semua orang harus tahu, ini bukan salahnya


"Sudah pulanglah sekarang, besok pagi saja baru datang bekerja lagi," kata Tuan Pier membalik tubuhnya dan berjalan meninggalkan Bianca, Bianca mengerutkan dahinya? esok bekerja lagi? apa artinya dia tak jadi di pecat? tapi dia juga ingin keluar dari sini agar dia bisa kembali menjauh dari pria itu.


"Tapi Tuan," ujar Bianca mencoba mengatakan bahwa dia ingin keluar, namun Tuan Pier tak menghentikan langkahnya, dia malah pergi saja dari sana.


"Bianca, sudahlah, Tuan Pier sedang marah, besok saja kau datang lagi, untung saja kau tidak dipecat," ujar teman kerja Bianca itu lagi, Bianca mengerutkan dahinya, dia menggigit bibirnya kembali, ya, mungkin lebih baik membicarakannya nanti, sekarang akan membuat Tuan Pier makin kalut, mungkin nanti sebelum dia pergi dia bisa mengucapkan salam perpisahan pada teman-temannya bagaimana pun Dia sudah punya banyak teman di sini.


Bianca segera naik, Sepanjang jalan dia hanya melihat ke arah jendela, jalan ini menyimpan banyak kenangan, sudah hampir 2 tahun ini dia selalu melewati tempat ini selama dia bekerja, dia juga melihat pantai dengan pasir putih tampak berbaur indah dengan birunya laut yang senada dengan indahnya langit. Tempat ini penuh kenangan, penuh dengan cerita awal, di sini si kembar tumbuh dengan bahagia, Bianca ingat bagaimana si kembar pertama kali dia bawa ke pantai, dia ingat langkah kecil Gio yang langsung berani menghadapi ombak lalu Gwi yang menangis karena pertama kali terseret ombak.


Bianca tersenyum tipis mengenang semua hal itu, saat itu pula bis yang ditumpangi oleh Bianca berhenti di halte dekat rumahnya, Bianca perlahan turun lalu segera menuju rumahnya yang sederhana.


Bianca lalu segera masuk ke pekarangan rumahnya dia segera membuka pintu rumahnya yang terkunci, Bianca mengerutkan dahinya, biasanya jika Yuri dan si kembar di rumah, mereka tak pernah mengunci rumah, Bianca merogoh kunci yang ada di sakunya, langsung membuka pintu rumahnya yang sudah cukup terlihat usang termakan angin laut yang asin.


Bianca meletakkan tasnya di tempat dia biasa meletakkannya, melihat ke arah setiap sudut rumah yang kecil namun selalu rapi itu, Bianca masuk ke kamarnya, namun tak menemukan si kembar, lagi pula rumah itu terasa sepi, jika si kembar di rumah, rumah tak akan pernah bisa sesepi ini.

__ADS_1


Bianca melihat kamar Yuri, kamar itu pun sudah tampak. sangat rapi, Bianca jadi sedikit panik, kemana mereka? atau jangan-jangan Rain sudah ke sini dan membawa anak-anaknya pergi, Bianca langsung cemas, dia mengobrak Abrik tas kecilnya, ingin secepatnya mencari ponsel jadul yang dia punya, begitu mendapatkannya Bianca tanpa menunggu lama segera menelepon ponsel Yuri, sialnya ponselnya tak bisa dihubungi.


Bianca bingung dan panik, dia harus apa sekarang? dia juga sudah membuang kartu nama Rain yang dia berikan tadi, sial, kenapa dia harus membuangnya kalau tidak dia bisa menelepon dan bertanya tentang Yuri dan si kembar.


Bianca segera merapikan barang-barang pentingnya, memasukkannya kembali ke tasnya, lalu dengan cepat dia keluar dari rumahnya, tak lupa menguncinya terlebih dahulu.


"Bianca," suara renta seorang wanita terdengar ramah.


Bianca yang tadinya masih panik segera mencari suara itu, melihat Nyonya Mia, seorang tetangga rumahnya sudah berdiri dengan senyuman manis yang ramah.


"Nyonya Mia, maaf aku sedang buru-buru," ujar Bianca yang segera ingin pergi mencari anak-anaknya.


"Mencari Yuri dan Si kembar?" tanya Nyonya Mia dengan santainya, membuat Bianca yang baru saja ingin keluar dari areal rumahnya segera berhenti dan berjalan kembali mendekat ke arah Nyonya Mia yang bergeming dengan senyumannya.


"Ya! Nyonya apa kau tahu di mana mereka? tolong katakan padaku sekarang?" kata Bianca dengan mata menuntut, di kepalanya sudah banyak spekulasi, ini pasti ulah Rain, pantas aja dia langsung ingin keluar dari hotel, dia ingin menahan anak-anaknya, Dasar pria jahat! beraninya dia mengambil si kembar dari Bianca, kalau terjadi apa-apa dengan si kembar karenanya, Bianca bersumpah dia akan membunuh pria itu terserah walaupun dia sebenarnya adalah ayah dari si kembar.


-----


hai kak, maaf ya, aku tadi udah nulis 3 bab, tapi terhapus dan tak bisa di recovery lagi, jadi aku harus nulis ulang, besok pagi aku up lagi ya.... 1 dulu ya

__ADS_1


__ADS_2