Rain In The Winter

Rain In The Winter
44. Menangis dalam kegelapan.


__ADS_3

"Apa mereka masih mengintai?" ujar Rain lagi.


"Ya, aku pastikan dari tadi mereka memperhatikan," kata Ken lagi.


"Baguslah, kita akan segera tahu bagaimana reaksi mereka, aku ingin tahu apakah dia terpancing atau tidak?" kata Rain lagi memulai langkah meninggalkan geladak yang panas itu.


"Kita akan sampai segera Tuan, Anda harus segera bersiap-siap," kata Ken.


"Baik, sudah siap semua di sana?" kata Rain lagi berjalan menuju ke arah kamarnya.


"Sudah Tuan, Anda bisa langsung rapat bergitu sampai di sana," kata Ken lagi.


Rain tak menjawab, dia hanya langsung masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Ken sendiri di depan pintunya, berdiri setia menunggu dirinya.


---***---


Drake mengepalkan tangannya dengan apa yang dia dapatkan, dia sedang menonton sebuah rekaman laporan yang dia dapat dari bawahannya. Tentang Rain dan Bianca yang ada di geladak kapal pesiar mewah milik Rain, entah kenapa rasanya tak suka pria itu bermain-main dengan wanita miliknya itu.


"Kemana mereka pergi?" tanya Drake lagi masih dengan tatapan kesal, wanita itu senang sekali bisa berada di samping Rain, dasar wanita murahan, wanita sampah seperti itu, bagaimana bisa menarik minat Rain.


Namun Drake langsung menunjukkan senyumannya yang sinis, Rendah sekali seleranya, tahukah dia wanita itu adalah bekas dirinya? Drake merasa sedikit bangga, sudah mencicipi Bianca dahulu daripada Rain.


"Sepertinya mereka menuju pesisir timur, Tuan Rain punya resort di sana," kata Ben melihat laporannya.


Drake menyingkirkan tablet yang menunjukkan video dan foto tentang Rain dan Bianca, wajahnya tampak berpikir.


"Sisipkan beberapa orang ke sana, lakukan perlahan, jangan sampai mereka tahu, lihat bagaimana hubungan Rain dan Bianca dari dekat, dan aku ingin kepastian apakah kira-kira Bianca sudah cukup dekat untuk mengetahui kira-kira dimana Rain akan menjejakkan langkah berikutnya," ujar Drake lagi pada Ben, Ben segera mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Baik Tuan, saya juga mendapat kabar, Tuan Rain akan melakukan rapat besar di sana, para kolega dan juga bawahan-bawahan kepercayaannya dia minta untuk datang ke resort itu, saya punya feeling, ini rapat yang sangat penting," kata Ben.


"Benarkah? kalau begitu, rubah rencananya, aku ingin mereka menekan Bianca, minta wanita itu untuk mencari apa hasil dari rapat itu, pasti ada laporannya," kata Drake tersenyum sinis seolah mendapatkan durian runtuh, kesalahan sekali membawa wanita dalam rapat kerja seperti itu.


"Baik Tuan, apa kita harus menggunakan kartu AS kita terhadap nona Bianca?" tanya Ben lagi.


"Tentu, tanpa itu dia tak akan melakukannya, tekan dia dan katakan, jika dia tak mau melakukannya, maka ibunya yang sekarat itu akan menghembuskan napas terakhirnya hari ini," kata Drake lagi, hatinya sangat senang sekarang.


"Baik Tuan, kami akan laksanakan," kata Ben memberikan salam dan segera keluar dari ruang kerja Drake.


Drake melirik sinis ke arah foto mesra Rain dan Bianca, dia akan menghancurkan hidup pria ini.


----***---


Bianca sudah cukup lama berada di kamar di resort itu, tentu dia terkesan dengan segala yang ada, namun karena perasaannya sedang tak nyaman, dia kurang bisa menikmati semuanya.


"Nona, apakah anda ingin makan siang? Tuan Rain meminta saya untuk membawa Anda makan siang," kata Yuri pada Bianca yang hanya duduk di ranjang kamarnya yang langsung menghadap laut.


Bianca mengangguk, setelah bersiap diri sejenak dia segera keluar ruangannya dan mengikuti Yuri menuju restoran di resort itu, namun belum dia Sampai di sana, Dia berpapasan dengan Rain yang tampak sangat serius mendengar penjelasan dari Ken.


Rain hanya melirik dingin ke arah Bianca sebelum dia masuk ke dalam ruangan rapat yang sudah dipenuhi oleh peserta rapatnya, perasaan Bianca malah menjadi semakin suram, sesuram pancaran matanya ketika melihat lirikan dingin Rain, apakah pria itu marah padanya? Ya, tentu dia marah, Bianca menolak perasaannya seperti tadi, bahkan meninggalkannya begitu saja, melihat sifat Rain, pria itu pasti kesal dengannya.


"Ayo, Nona," kata Yuri yang segera menyadarkan Bianca dari diamnya, Bianca mau tak mau melanjutkan jalannya, dia segera menuju ke restoran di resort itu.


Makanan yang terhidang adalah makanan menu utama di restoran itu, rasanya dan bentuknya pasti menggugah selera, namun sama sekali tak membuat Bianca bisa lahap memakannya, pandangan dingin yang luar biasa itu, membuat perasaannya sangat tertusuk.


"Yuri, sebentar, aku ingin ke kamar kecil dulu," kata Bianca yang malah menjadi mual, perasaannya benar-benar tak enak.

__ADS_1


"Saya akan menemani," kata Yuri ingin beranjak.


"Tak perlu, aku hanya ke kamar kecil, tak perlu mengikutiku, ke sana kan?" tanya Bianca memastikan.


"Ya, Benar tak apa-apa Nona?"


"Ya, tenanglah."


Bianca segera beranjak menuju ke arah kamar kecil, kamar kecil itu terletak di sudut yang cukup sepi. Bianca masuk ke dalam salah satu bilik untuk buang air kecil, setelah selesai dia segera keluar.


Namun begitu dia keluar, tiba-tiba sebuah tangan besar langsung menyergapnya dan membekap mulutnya, Bianca tentu segera berontak, dia berteriak namun suaranya tertahan oleh telapak tangan yang begitu erat menutup bibirnya.


"Diam! lihat ini!" kata seorang pria yang ada di depan Bianca, dia menunjukkan sesuatu yang membuat Bianca terdiam, matanya membesar tak percaya, dia kaget melihat apa yang ada di tablet itu.


Dia melihat ibunya dalam keadaan yang tak sadar, seluruh tubuhnya dipasangi alat penunjang kehidupan, dari video itu dia bisa melihat ibunya masih bernapas.


"Dengar! Nanti malam akan ada orang yang menelepon ke kamarmu, angkat dan dengarkan apa yang diinstruksikan, jika kau tidak melakukannya, kau pasti sudah tahu apa yang akan terjadi bukan! karena itu kerjakan!" kata Pria itu dengan wajah garangnya. Bianca mengerti, dia mengangguk pelan dengan tubuhnya bergetar hebat.


"Jangan menjerit, jangan mengadu, jangan menangis, setelah ini keluar dan berlakulah seperti biasa, kami ada banyak di sini dan selalu mengawasimu, sedikit saja ada yang aneh, ibumu akan kami kirim ke neraka detik itu juga," kata pria itu lagi.


Bianca kembali mengangguk, walaupun matanya sudah memerah dan basah, Bianca mencoba untuk menahannya, juga mencoba menahan agar tubuhnya tak gemetar.


Pria yang membekapnya lalu melepaskan tangannya, dengan kasar membuka pintu kamar kecil itu lalu segera mendorong Bianca keluar dari sana, Bianca menarik napasnya yang terputus-putus, rasanya begitu cepat hingga dia bingung dan syok, namun perlahan Bianca mencoba menahan dirinya, berjalan perlahan menuju ke arah Yuri.


"Nona?" tanya Yuri yang melihat wajah pucat Bianca.


"Aku mual, mungkin karena naik kapal tadi, Yuri, aku akan kembali ke kamar," kata Bianca lagi.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengantar Anda," ujar Yuri segera.


Bianca sampai ke kamarnya, dia segera menutup dan mengunci kamarnya, menutup semua jendela yang ada di sana, dan setelah itu semua dia lakukan, dia segera menangis dengan sangat kencang, kenapa hidupnya bisa begini? Bianca akhirnya hanya bisa menangis dalam gelap kamarnya.


__ADS_2