Rain In The Winter

Rain In The Winter
105. Kabar mengejutkan (1)


__ADS_3

Sebulan kemudian...


Rain mengedarkan matanya mencari sosok yang sudah tak dia lihat dari tadi pagi, dia sudah selesai bersiap-siap, tak seperti biasanya, Bianca tak hadir membantunya bersiap-siap, istrinya itu hanya menyiapkan pakaiannya.


"Kemana Nyonya?" Tanya Rain pada Yuri yang baru juga dia lihat.


"Nyonya tadi ada di ruang makan Tuan," ujar Yuri.


Rain mengangguk pelan, istrinya itu memang suka menyiapkan makanan terutama sarapan pagi untuknya, Rain kembali masuk ke dalam ruang makan mereka, seluruh pelayan yang ada di sana menundukkan kepala mereka seolah memberikan salam bagi Rain, Rain hanya mengangguk kecil, mencoba tetap menghargai para pelayan yang setia padanya.


Rain lalu mengarahkan bola matanya melihat sosok istrinya yang sedang mengoleskan mentega di rotinya yang akan di panggang olehnya, namun Rain bisa melihat Bianca sedikit berbeda dia tampak lebih banyak menghela napas dan tampak pucat dan lemas.


"Selamat pagi," ujar Rain dengan mata cemasnya, dia lalu berhenti di dekat Bianca.


"Pagi," ujar Bianca, memaksakan sebuah senyuman, entah kenapa 2 hari ini tubuhnya terasa berat dan hari ini rasanya lebih berat, badannya lemas dan terasa kurang enak badan, bahkan mengerjakan hal kecil seperti membuat sarapan sederhana untuk Rain saja rasanya begitu berat.


"Kau tidak apa-apa?" Lembut Rain bertanya, dia meletakan tangannya di dahi Bianca karena melihat bulir keringat di sana. Tak terasa hangat.


"Aku hanya merasa kurang enak badan, mungkin karena kecapekan," ujar Bianca dia meletakkan roti itu ke pamanggang.


"Sudah, duduklah dulu," ujar Rain yang merasa mungkin benar, Bianca tak suka keluar rumah, harinya hanya dihabiskan di rumah mereka, kecuali Rain mengajaknya keluar, dia tak akan keluar, selain itu memang Rain melarangnya, karena itu dari pada bosan, Bianca sering melakukan banyak pekerjaan rumah, walau dia punya banyak pegawai untuk membantu dan melakukan hal itu.


Bianca menurut, sepertinya dia juga tak sanggup berdiri lama-lama, sangat tak nyaman rasa tubuhnya. Melihat Bianca yang lemas dan juga menghela napas panjang lagi, Rain bertambah cemas.


"Luke panggilkan dokter, batalkan pekerjaanku hari ini," ujar Rain segera.


Luke mendengar itu kaget, hari ini hari penting, Rain harus bertemu dengan rekannya yang akan bekerja sama dalam sebuah proyek besar, jika diundur lagi maka mereka akan berpikir perusahaan Rain hanya main-main saja, karena sebelumnya Rain sudah mengundurkan pertemuannya akibat ada masalah di tempat lain.

__ADS_1


"Tapi Tuan, Tuan Jefrey akan sangat kecewa, beliau sudah jauh-jauh terbang ke pulau selatan," ujar Luke, Rain tak bergeming, namun Bianca melihat wajah khawatir dari Luke.


"Hey, aku tidak apa-apa,ini hanya kelelahan saja, lagi pula dokter sebentar lagi akan datang kan? Aku bisa memintanya untuk memberitahukanmu apa hasil pemeriksaan ku, paling juga di suruh istirahat," ujar Bianca lembut mencoba menggoda suaminya agar mengurungkan niatnya agar tidak membatalkan pertemuannya.


Rain mengerutkan dahinya menatap mata indah dengan bulu mata lentik itu, dia juga tahu seberapa penting pertemuan ini, tapi dia merasa kesehatan Bianca lebih penting, uang baginya gampang untuk di cari, tapi jika istrinya? Butuh 30 tahun baginya mencari baru menemukannya.


"Tidak, jika dia membatalkannya artinya memang tak berjodoh denganku, aku harus tahu bagaimana keadaanmu," ujar Rain bersikukuh.


"Rain, lihatlah, aku tidak apa-apa, hanya tak enak badan sedikit, bahkan aku tidak demam sama sekali jangan-jangan setelah sarapan aku malah sudah sehat, dan aku pasti sangat sedih jika hanya karena itu kau kehilangan kerja kerasmu, kau pasti sudah sangat berkerja keras untuk ini kan?" Kata Bianca, matanya melirik Luke, Luke hanya mengangguk, sudah hampir 1 Minggu ini dia dan Tuannya ini bahkan harus tidur larut hanya karena kerja sama ini. Rain kembali diam, Bianca jadi kesal, tahu bagaimana keras kepalanya pria di depannya ini.


"Baiklah, bagaimana jika saat pemeriksaan aku akan meneleponmu agar kau bisa tenang?" Kata Bianca.


Rain tampak berpikir, lalu dengan wajah yang enggan dia mengangguk, "baiklah, ayo kita sarapan, makanlah yang banyak agar bertenaga, setelah ini beristirahatlah, jangan berkerja," perintah Rain sangat tidak bisa di bantah.


"Siap suami," kata Bianca dengan wajah sumringah menggoda suaminya itu, Rain tak tertawa, masih ada berkas kecemasan di wajahnya.


"Aku pergi dulu, mungkin akan pulang malam," ujar Rain, perjalanannya harus membelah lautan agar bisa sampai ke pulau selatan.


"Baiklah, aku akan memberitahukan tentang keadaanku segera," ujar Bianca, Rain mengangguk, mengecup dahi istrinya yang menjadi sebuah ritual wajib baginya sebelum pergi, karena mencium aroma lembut itu Rain nyatanya sudah merindukan istrinya ini padahal belum selangkah dia meninggalkannya.


Bianca tersenyum, sebuah lambaian tangan hangat dia berikan, tak mengharap balasan dia hanya menatap suaminya itu naik dan pergi menuju helikopternya.


Bianca sedang mencoba istirahat di ruang tengah, jika ke kamar Bianca merasa sedikit sumpek.


"Nyonya, dokter sudah datang," kata Yuri membuat Bianca langsung mengarahkan perhatiannya ke arah Yuri.


"Baiklah," kata Bianca.

__ADS_1


"Selamat pagi Nyonya," kata dokter wanita yang belum pernah Bianca lihat.


"Nyonya, ini dokter Sani, Tuan Rain sudah menunjuk beliau menjadi dokter pribadi anda," kata Yuri, tahu persis Tuannya tak mau istrinya di tangani oleh dokter pria, karena itu mereka harus mencari dokter wanita yang terbaik untuk Bianca.


"Oh, baiklah," kata Bianca.


"Nyonya, kita lakukan pemeriksaan segera ya Nyonya," kata Dokter Sani ramah dan tak ingin mengambil waktu lama lagi.


"Baik dokter," kata Bianca.


Bianca menceritakan semua hal yang dia rasakan, lemas dan tak enak badan, Dokter Sani mendengarkannya dengan seksama, dan dia mencurigai sesuatu.


"Bagaimana siklus haid Anda Nyonya?" Kata dokter Sani.


"Ehm, tanggal berapa ini?" Ujar Bianca yang memang sudah tak ingat ini tanggal berapa.


"Tanggal 15 Nyonya," kata Yuri.


"Aku seharusnya Haid tanggal 10," kata Bianca polos, membuat Dokter Sani tersenyum manis.


"Lebih baik aku sarankan untuk melakukan pemeriksaan testpack, mungkin saja anda tidak sakit tapi anda sedang mengandung," kata Dokter Sani lembut dengan senyuman menentramkannya.


Bianca membesarkan matanya, benar juga, kenapa dia tak berpikir bahwa dia bisa saja hamil, tapi apa mungkin?


"Aku akan mencarikan Testpacknya Nyonya," kata Yuri yang juga bahagia mendengarkannya, baru saja keluarga ini kehilangan, mungkin inilah hadiah dari Tuhan kepada mereka, walau tahu Carel tak mungkin terganti, namun jika Bianca benar-benar mengandung, maka ini adalah pelipur hati mereka.


Yuri tak lama mencari Testpacknya, tak hanya saja dia membeli 3 buah testpack yang bahkan berbeda-beda merek, dia mau mencari yang terbaik untuk calon Tuan mudah atau Nona muda mereka dan 3 merek ini dikatakan yang terbaik.

__ADS_1


__ADS_2