
"Mami!"
Lorong sepi itu terpecah dengan teriakan semangat dan juga langkah kaki berlari milik Gwi dan Gio yang sudah merindukan ibunya, dari kemarin malam hingga siang ini mereka belum menemukan sosok ibu mereka yang mereka cintai.
"Gio, Gwi," kata Bianca menyambut kedua anaknya dengan pelukan hangat dan ciuman di kedua Pipi mereka.
Seperti Biasa Gio segera mengobservasi keadaan lingkungannya, bau obat dan ruangan yang penuh dengan peralatan seperti ini, mereka pasti di rumah sakit.
"Mami, kenapa kita di rumah sakit?" Tanya Gio mengerutkan dahinya, khas sekali gayanya.
"Ya, Mami, mana papi?" Tanya Gwi,dia juga rindu sosok ayahnya.
"Karena itulah mami ingin mengajak Gwi dan Gio ke sini, Mami ingin Gio dan Gwi melihat keadaan papi, papi pasti senang melihat Gio dan Gwi ada di sini," kata Bianca, mencoba mengulas senyum walau tak ingin.
"Oh, apa papi sakit?" Tanya Gio mulai cerewet.
"Kita lihat saja ya," kata Bianca yang menggenggam tangan masing-masing anaknya, berjalan menuju ke arah ruangan besuk yang tadi dikatakan oleh Dokter Malvis.
Siena dan yang lain yang melihat adegan ibu anak ini hanya diam saja, ada rasa getir di hati mereka, kedua anak polos ini tak tahu bagaimana keadaan ayahnya dan keadaan yang akan mereka hadapi nanti.
Bianca membuka ruangan yang dingin itu, ini juga kali pertama dia masuk ke dalam, dia sengaja ingin masuk dengan kedua anaknya.
Air mata Bianca langsung terinduksi keluar, mengisi rongga matanya dan sekali kedip saja air mata itu akan lolos, namun dia berusaha agar tegar, ada kedua anaknya di sisinya.
"Papi!" Pekik Gwi melihat tubuh ayahnya terbaring di ranjang rumah sakit, masih terlihat tidur dengan nyenyak.
"Mami, papi kenapa tidur di sana?" Tanya Gio polos.
"Papi harus tidur di sana karena papi sedang sakit," ujar Bianca, perlahan tapi pasti melangkah dan akhirnya berhenti karena halangan kaca itu.
Rain tak ada bedanya, hanya tampak tidur dengan tenang, bagaimana bisa begitu tenang padahal di sini Bianca begitu mengkhawatirkan nya. Air mata Bianca lolos juga.
"Papi! Bangun papi! Gwi ada di sini," suara imut dari Gwi malah menggetarkan hati Bianca, membuatnya tambah sulit mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Mami! Kenapa menangis mami? Papi tidak apa-apa kan mami?" Tanya Gio mendengar suara tangis tertahan ibunya.
"Ya, papi tidak apa-apa, pasti papi sembuh, apalagi ada Gio dan Gwi di sini," kata Bianca masih bergetar, menatap kedua anaknya bergantian, tak tahu bagaimana menyampaikan bahwa mereka juga harus menjalani prosedur yang sama dengan ayahnya.
"Gio, Gwi," kata Bianca tersekat.
"Iya, Mami?" Kata Gio dan Gwi bersamaan, membuat Bianca kembali menggigit bibirnya, Bianca berlutut agar sejajar dengan kedua anaknya, menatap wajah polos mereka yang tak tahu apa-apa.
"Dulu waktu Gwi dan Gio kecil, mami pernah membawa kalian untuk imunisasi, gunanya adalah agar Gio dan Gwi tak terkena penyakit yang gawat, sekarang Gio dan Gwi sudah 3 tahun, maka harus di imunisasi lagi, Papi bilang agar Gio dan Gwi sehat dan tak seperti papi," kata Bianca, tak mungkin dia menjelaskan tentang penyakit keturunan itu pada anaknya, mereka tak akan mengerti tentang hal sukar itu.
"Jadi Gio dan Gwi akan di imunisasi?" Tanya Gio.
"Ya."
"Imunisasi itu apa mami?" Tanya Gwi lagi.
"Gwi dan Gio akan di suntik, setelah di suntik Gwi dan Gio akan sehat selalu, papi akan senang saat papi bangun dan Gio dan Gwi sudah diimunisasi," kata Bianca mengelus pipi Gio.
"Kalau Gio imununisasi," kata Gio sejenak menatap kearahnya, "papi akan bangga?"
"Jangan menangis mami, Gio mau di suntik imunisasi," kata Gio menghapus air mata ibunya, hal ini malah membuat tangis Bianca makin pecah, dia menunduk, menggigit bibirnya agar tangisnya tertahan.
"Gwi takut disuntik mami," Polos suara Gwi terdengar, Bianca langsung melihat putrinya.
"Tidak apa-apa, mami janji mami ada di sana, Gwi gadis yang kuat, mami akan menjaga Gwi," kata Bainca menenangkan putri kecilnya agar lebih berani, namun raut wajah Gwi tampak takut, dia melirik ayahnya.
"Papi juga ada kan mami?" Tanya Gwi melirik ayahnya dengan wajah ingin menangis, takut dengan suntikan yang bahkan dia belum terbayang bagaimana bentuknya.
"Papi nanti akan menyusul, jika papi tahu dia pasti bangga pada kalian, Gwi dan Gio pasti baik-baik saja, mami janji," kata Bianca memeluk kedua anaknya yang sebenarnya takut, bahkan Gwi terus mencoba agar tak menangis.
Bianca menatap suaminya yang masih saja terpejam, menggigit kembali bibirnya dengan keras.
Cepatlah kembali pada kami, aku membutuhkanmu sekarang, pinta Bianca dalam hatinya.
__ADS_1
Bianca memegang tangan kedua anaknya yang sekarang terbaring di atas ranjang rumah sakit, Gio dan Gwi menatap ibunya dengan wajah cemasnya, Bianca mencoba terus tersenyum, memberikan semangat pada anaknya walaupun sebenarnya air matanya sudah ingin jatuh lagi.
"Nyonya kita akan melakukan pemasangan infus dan juga pengambilan darah," kata dokter Irene, khusus dia menangani mereka agar mereka tenang.
"Baiklah," kata Bianca, "Gio, Gwi, Ayo tutup mata, mami akan ada di sini."
Gio dan Gwi langsung patuh, menutup mata mereka erat sambil berharap dan cemas menebak perasaan apa yang akan mereka rasakan.
Tangis Gwi meledak saat jarum infus kecil itu mulai mengoyak punggung tangannya, membuatnya menatap ibunya dengan wajah merahnya.
Di sisi lain Gio meringis, hampir menangis walau tertahan dengan rintihan kecilnya, Bianca tampak bingung melihat kedua anaknya yang menangis bersamaan, tangannya di remas kedua anaknya dengan erat, rasanya ingin sekali Bianca menggantikan mereka.
"Mami! Sakit! Gwi sakit! Mami Lepas!" Rengek Gwi mengoyak hati Bianca, dia melihat perawat yang secepatnya ingin menyudahi prosedur ini, Gwi terus menangis keras hingga air matanya meleleh keluar dan wajahnya merah.
Sisi lain Gio menangis, namun menahan diri untuk mengatakan sakit karena tahu akan membuat ibunya semakin sedih, air mata Bianca tak dapat lagi di tahannya, pautan tangan mereka tak ingin lepas.
"Sudah, darahnya sudah diambil, infus juga sudah di pasang, Gio dan Gwi anak yang pintar," kata dokter Irene tersenyum walau si kembar masih saja menangis, "saya permisi dulu Nyonya."
Bianca hanya mengangguk, melihat anaknya yang sudah terpasang infus, rasanya jika boleh dia yang diinfus, bahkan lebih dari 2 pun dia akan sanggup, asal jangan kedua anaknya ini.
"Mami, Gwi mau sama mami!" Ujar Gwi, perawat yang mendengar hal itu hanya tersenyum, dia menggendong Gwi perlahan dan meletakkannya di pangkuan Bianca, Bianca langsung memeluk putri kecilnya dengan erat, tangan infusan Gwi tampak tegang dia pandangi terus menerus sambil menangis pilu.
"Cup,cup, anak manis, sudah tak sakit lagi kan?" Kata Bianca mengecup kepala anaknya.
"Gwi ga suka di suntik, mami lepas boleh?" Raung Gwi pada ibunya.
"Jangan, tahan sedikit lagi, mami Peluk Gwi ya, mami di sini terus dengan kalian ya," kata Bianca, tak lupa melirik jagoan kecilnya yang juga menangis namun berusaha tak membuat ibunya khawatir, jadi dia harus puas hanya menggenggam erat tangan ibunya,Bianca tersenyum melihat betapa hebatnya anak laki-lakinya.
"Gio pintar sekali, jangan menangis ya, sebentar lagi semua akan selesai," ujar Bianca menghapus air mata anaknya dengan ibu jarinya.
Gio mengangguk walau wajahnya masih merah dan meringis, melihat satu anak saja di tusuk jarum infus sudah begitu menyesakkan, apalagi harus melihat 2 anak dan disaat bersamaan, untunglah si kembar tak terlalu rewel dan cepat mengatasi tangisnya.
Puas menangis, Gwi akhirnya tertidur di pelukan ibunya, Gio pun tak terlalu lama menyusul, membuat hati Bianca sedikit tenang melihat keduanya. Dua perawat siaga di samping mereka agar menjaga infus mereka tak bermasalah saat mereka tidur.
__ADS_1
Semoga semua cepat terlalui, pikir Bianca yang sekarang perasannya terbagi-bagi.