Rain In The Winter

Rain In The Winter
166.


__ADS_3

"Tidak, dia akan pergi ke negara kakak untuk menyelesaikan masalah di sana, tadi juga Bram sudah meneleponnya, dia butuh bantuan dan Ken memintanya untuk bertemu di sana," ujar Siena.


"Tapi, Bram itu …." Kata Bianca yang kaget, bukannya pria itu sudah mengkhianati mereka, membuat mereka jauh dari Bianca? Apakah mereka belum tahu?


"Aku sudah tahu kakak, jangan khawatir, aku harus ke sana untuk meluruskan semuanya, lagipula Tuan Rain pasti membutuhkan aku di sana," ujar Ken menatap raut wajah cemas Bianca. Bianca menggigit bibirnya, perlahan dia hanya mengangguk.


"Hati-hati dalam penerbangan dan di sana, berikan aku kabar," ujar Siena menatap wajah tampan suaminya yang selalu saja serius.


"Pasti, kau juga, kabari aku jika sudah sampai di kediaman," kata Ken mencium dahi Siena, tak lama dia lalu melepaskan ciuman dan menutup pintu mobil itu, tak mau terlalu lama mereka terkena udara pagi yang membeku.


Bianca menatap Siena yang melirik suaminya hingga wajah suaminya sudah tak tampak lagi ketika mereka sudah berjalan.


"Aku yakin dia akan baik-baik saja, kakak jangan cemas, dia sudah banyak berlatih," ujar Siena, sebenarnya untuk menenangkan dirinya sendiri juga, Bianca hanya mengangguk kembali, tak tahu harus mengatakan apa, karena hal ini mereka harus berpisah, Bianca jadi merasa tak enak.


"Lihatlah, dia sepertinya sangat nyaman di sini, dia sudah tertidur lagi, bibi akan menghangatkan mu," kata Siena melihat Gwi sudah mulai tertidur lagi, Siena memeluk Gwi bagaikan sebuah boneka bayi, melihat tingkah Siena itu Bianca hanya tersenyum, dulu dia kira wanita ini begitu elegan, setelah sekian lama tak bertemu, gadis manja ini memunculkan sifat aslinya.


Gio tak bisa mengedipkan matanya, dia melihat kota besar yang bahkan sepagi ini sudah begitu menarik, lalu lalang jalanannya tak pernah berhenti, kelap kelip lampu dan bangunan yang menjulang tinggi membuat Gio membuka mulutnya takjub, mereka benar-benar pindah dari kota kecil ke kota metropolitan.


"Mami, Gio akan sekolah di kota sebesar ini?" Ujar Gio senang dan semangat, tak bisa membayangkan bagaimana hebatnya sekolahnya nanti.


"Mereka sudah sekolah?" Kata Siena, baginya mereka masih terlihat seperti bayi kecil.


"Ya, mereka mendapatkan undangan di sekolah mereka dulu, tapi usia mereka masih terlalu kecil, jadi aku tak memaksakan mereka," kata Bianca.


"Kalau begitu aku akan memasukkan Gio dan Gwi ke sekolah khusus milik kerajaan, lagipula mereka di sini statusnya juga Pangeran dan Putri, pasti tak akan ada yang berani menolaknya," kata Siena senang.

__ADS_1


"Benarkah? Apa sekolahnya besar?" Tanya Gio, selalu semangat dengan sekolahnya.


"Tentu, sangat besar, terletak di dekat kerjaan, lagipula kalian harus bertemu sepupu-sepupu kalian, ada Pangeran Xander dan Putri Gwyneth, mereka akan menyukai kalian," kata Siena lagi.


"Ya, tapi sebelum itu, Gio harus banyak beristirahat dulu ya, besok belum bisa sekolah," ujar Bianca memberikan pengertian pada anaknya, jika tidak Gio pasti akan menuntut terus, lagipula, Bianca belum bisa melepaskan anaknya, negara ini asing sekali baginya.


"Ya, benar," kata Siena, Gio tampak sedikit kecewa namun dia hanya mengangguk, selalu patuh pada ibunya.


Perjalan mereka menuju sebuah bukit yang jalan masuknya saja sudah dijaga begitu ketat, Siena geleng-geleng kepala, suaminya ini memberikan begitu banyak penjagaan berlapis hanya kerena dia tak ada di sini.


Mobil mereka terus berjalan menuju ke sebuah rumah yang letaknya tepat di atas bukit yang tinggi, dari sana pemandangan seisi kota tampak indah, Bianca menaikkan sudut bibirnya, rumah Khas selera Rain sekali.


"Wow, Mami, kita tinggal di sini?" Tanya Gio kaget, rumah itu besar sekali, gerbangnya saja tinggi menjulang, Bianca melirik ke arah Siena.


"Ya, ini tempatnya, ini rumah kak Rain jika dia ada di negara ini, sudah lama tak di tinggali, tapi semua tetap terjaga."


"Selamat datang Nyonya," ujar Luke memberikan salam.


"Luke?" Kata Bianca kaget, tak menyangka akan menemui pria ini di sini, Yuri saja kaget, jika Ken pasti Yuri tak kaget, istrinya memang penduduk negara ini, tapi Luke, dia kira pria ini sudah entah kemana.


"Ya, dia ikut kami selama ini, dia dan Ken tak bisa dipisahkan, aku saja suka cemburu dengan mereka," canda Siena yang segera turun, menggendong kembali Gwi dengan hati-hati.


"Gio Panggil paman, dia adalah salah satu asisten kepercayaan papi Gio," kata Bianca, Gio yang baru turun segera memberikan salam formalnya.


"Paman," kata Gio.

__ADS_1


"Tuan Muda, anda tak perlu membungkuk di depan saya, saya yang harusnya memberikan hormat pada anda," ujar Luke tak enak, namun bangga anak Tuannya begitu sopan.


"Tak apa-apa, dia harus menghargai dirimu," ujar Bianca.


"Ayo masuk, aku rasa Gwi pasti lebih nyaman di ranjang," ujar Siena menimang keponakannya ini, tak ingin melepaskannya tapi juga ingin membuat Gwi nyaman.


Mereka menapak ke arah rumah yang halamannya saja begitu luas, pintu besar itu terbuka, menunjukkan kemewahan rumah yang juga terasa hangat itu, Siena langsung menuju ke kamar utama agar dia bisa meletakkan Gwi di ranjang dan tidurnya akan lebih nyaman.


"Nah, ini kamar kakak, beristirahatlah, aku juga akan ada di sini selama Ken tak ada, boleh ya? Agar aku bisa bermain dengan keponakanku," pinta Siena.


"Tentu, Siena, terima kasih," kata Bianca.


"Sama-sama kak, istirahat lah, pasti melelahkan, esok kita akan mengobrol lagi, bye Gio," kata Siena sambil berjalan keluar dari kamar yang luasnya hampir 1/2 dari bangunan rumah di lantai 2 itu.


"Wah, Mami, kamar ini besar sekali," ujar Gio takjub, tak pernah dia lihat rumah sebesar ini.


"Ya, ini kamar Papi Gio, Gio juga tidur, ini masih terlalu pagi buat Gio bangun, esok pagi kita akan melihat sekeliling," ujar Bianca sambil melirik ke arah anaknya yang masih tampak ingin menjelajahi kamar itu.


Mendengar perkataan sang ibu, Gio mengurungkan niatnya untuk melihat seisi kamarnya, dia mendekati Bianca, Bianca tersenyum, dia lalu membuka jaket Gio lalu segera menaikkan anaknya ke ranjang dan menutupi tubuh kecilnya dengan selimut tebal nan nyaman itu.


"Mami, papi benar-benar kaya?" Polos Gio berkata.


"Ini semua diberikan papi untuk kita, jadi Gio harus banyak belajar agar mengerti caranya menggunakan semua yang diberikan papi," kata Bianca mengusap pipi Gio agar anaknya Kembali terlelap namun seperti anaknya ini sudah cemerlang.


"Jika papi begitu kaya, kenapa dia membiarkan mami bekerja keras?" Tanya Gio lagi.

__ADS_1


"Papi tidak melakukannya, hanya mami yang ingin melakukannya, sudah, masih terlalu pagi, Gio tidurlah," kata Bianca yang kembali melanjutkan menidurkan anak sulungnya ini.


Cukup lama akhirnya Gio kembali menutup matanya, mungkin terlalu semangat hingga tak gampang untuknya kembali terlelap, bahkan Bianca yang merasa asing dengan semuanya merasa tak bisa tertidur jadi dia putuskan untuk membersihkan dirinya sedikit.


__ADS_2