Rain In The Winter

Rain In The Winter
73. Sekarang kau sudah jadi milikku, jangan coba-coba pergi dariku.


__ADS_3

Bianca sekali lagi berpikir setelah dari bandara itu dia akan dibawa ke apartemen Rain yang kemarin, sekali lagi ternyata dia salah, Rain malah membawanya ke sebuah daerah dengan rumah besar yang sangat megah, bergaya Mediterania yang sangat luas dan indah dengan pohon-pohon palem yang menghiasi taman-tamannya.


Rain segera turun ketika Luke yang sudah ada di sana duluan, Rain lalu membukakan pintu untuk Bianca yang tak bisa mengedipkan matanya menatap rumah itu, luas sekali dan tentunya sangat memukau.


"Ini?" Tanya Bianca.


"Rumahku, jika sudah menikah aku tak akan membiarkanmu tinggal di apartemen, harus memiliki rumah yang hangat," ujar Rain lagi kembali memegang tangan Bianca, tanpa ragu menariknya ke arah pintu depan rumahnya itu.


"Selamat sore Nona Bianca," ujar Luke sopan, bagaimana pun tak ada yang bisa menginulir bahwa wanita ini akan menjadi istri dari tuannya.


"Selamat datang kembali nona Bianca," ujar Yuri yang juga ada di sana, mendengar kabar dari Luke tentang permintaan Rain agar Luke menyiapkan pernikahan membuat Yuri hampir terpekik kegirangan.


Pintu rumah itu terbuka, 20 pelayan wanita dan pria berdiri sejajar dengan baju seragam yang sama dengan sopannya memberikan sambutan hangat pada Bianca dan Rain.


"Yuri, beritahu di mana kamar Nona," kata Rain seperti biasa, dingin dan datar.


"Silakan Nona," kata Yuri.


"Pergilah dulu, ada yang harus aku kerjakan dengan Luke, jika ingin bertemu denganku, aku ada di ruang kerja," ujar Rain seperti biasa dengan nada menyuruhnya.


Bianca mengerutkan dahinya, kenapa seharian ini Rain cukup cerewet menurutnya.


"Kenapa?"


"Hari ini kau cukup banyak bicara," ujar Bianca.


Rain mengerutkan dahinya, dia lalu sedikit tersenyum tipis.


"Kau akan bosan jika aku terus diam selama pernikahan kita," kata Rain lalu segera meninggalkan Bianca, walau cukup banyak berbicara, sikap dingin dan susuah di tebaknya tetap saja sama.

__ADS_1


Bianca segera masuk ke dalam kamar utama yang ditunjukkan oleh Yuri, tak seperti biasa Yuri tak masuk ke dalam ruangan itu membuat Bianca mengerutkan dahinya.


"Kenapa tidak masuk?" Tanya Bianca.


"Saya tidak diizinkan untuk masuk ke dalam kamar Nona dan Tuan, itu sudah peraturannya," ujar Yuri tersenyum manis.


"Benarkah?" Kata Bianca yang tak percaya.


"Ya Nona, ngomong-ngomong, selamat atas rencana pernikahanya Nona," kata Yuri senang sekali, akhirnya Tuannya itu tak melajang lagi dan menemukan cintanya, Bianca sudah pasti orang yang tepat.


"Kau juga tahu?" Tanya Bianca pada Yuri.


"Semua orang di sini tahu," ujar Yuri, "Nona, masuklah dan bersiap-siaplah, mungkin sebentar lagi Tuan Rain ingin bertemu dengan Nona," ujar Yuri lagi, dia membukakan pintu itu, namun tak berani untuk masuk barang selangkah saja.


"Baiklah," ujar Bianca.


Bianca lalu mencari tempat kamar mandinya, dia melihat lorong di salah satu sudut ruangan itu dan terkejut melihat walking closet yang sangat luas, satu sisi terdiri dari baju-baju Rain, sepatu, bahkan kolesi jamnya dengan rak kayu mahoni berwarna hitam, sedangkan sisi lain terdiri dari rak-rak yang masih tampak sedikit kosong dengan warna putih gading, dia melihat baju-baju dari apartemennya sudah di pindahkan ke sana, ditengahya ada sofa berwarna hitam dan putih yang saling bertolak belakang, di sisi bagian yang berwarna putih gading ada tempat rias yang sangat besar.


Barulah di ujungnya Bianca melihat sebuah pintu, mungkin itu adalah kamar mandinya dan akhirnya benar itulah tempatnya, namun kamar mandinya pun sangat luas dengan bath up bergaya klasik, juga ada tempat untuk shower, Bianca segera membersihkan tubuhnya.


Dia keluar hanya berbalut jas mandi berwarna putih, rambutnya yang basah tergurai begitu saja, Bianca membesarkan matanya ketika melihat Rain sedang ada di walking closet itu tampak sedang ingin melepaskan arlojinya, Rain melirik ke arah Bianca yang langsung menutup erat-erat jas mandinya, padahal tanpa begitu tak terlihat apapun dari tubuhnya, hanya saja itu refleks dilakukannya.


"Aku akan mandi, setelah ini kita akan makan malam," ujar Rain yang hanya melirik Bianca, melewatinya begitu saja sambil masuk ke dalam kamar mandinya, meninggalkan Bianca yang hanya bisa terpatung, jantungnya berdegup kencang melihat lirikan itu, pria ini paling bisa membuat Bianca terpatung begini.


Bianca secepat kilat mengambil dan memakai pakaiannya, matanya dan telinganya awas mendengarkan perubahan di kamar mandi itu, dia tak ingin Rain keluar saat dia belum siap menggunakan pakaiannya.


Saat dia selesai menggunakan bajunya, dia melihat Rain keluar dengan handuk yang hanya menempel di pinggulnya, wangi segar itu langsung menyeruak, Bianca membesarkan matanya, melihat tubuh Rain yang nyatanya sangat mengairahkan itu, otot-ototnya terpahat sempurna.


"Aku … aku menunggu di luar saja," ujar Bianca yang gugup melihat semua pemandangan menakjubkan itu.

__ADS_1


"Hmm,"setuju Rain yang bahkan tak melirik wanitanya yang wajahnya sudah berwarna merah padam karena melihat dirinya.


Bianca menenangkan dirinya sambil menunggu Rain di sofa dekat dengan perapiannya, tak lama pria itu muncul dan seketika membuat Bianca kembali gugup, Bianca segera berdiri duduknya.


"Kita akan makan kan?" Kata Bianca lembut melihat sosok pria itu mendekat ke arahnya, Rain hanya mengangguk pelan. "baiklah, ayo."


"Tunggu dulu," Rain menahan tangan Bianca, memegangnya dengan sangat lembutnya, Bianca yang mendapatkan sentuhan itu segera terdiam.


Rain kembali menyusur lengan Bianca, membuka telapak tangannya lalu memberikan sebuah kotak cincin berwarna biru berbahan dasar beludru, dia membukakannya, memperlihatkan cincin bertahtakan berlian biru tua yang dikelilingi oleh berlian putih yang sangat indah, tak terlalu besar namun siapapun yang melihatnya akan sangat menyukainya.


"Ini cincin pernikahan ibuku, aku tak tahu ini benar atau tidak, namun katanya ini cincin turun temurun dari keluarga ayahku, dia memberikannya pada istri pertamanya dan setelah itu memberikannya pada ibuku, sekarang aku memberikannya padamu," kata Rain lembut, sorot matanya pun tak tajam seperti biasanya, hanya memandang wajah cantik yang sekarang tak bisa berpaling karenanya.


Cukup lama Bianca menatap ke arah Rain, membuat Rain Sampai mengerutkan dahinya.


"Kenapa?" Kata Rain melihat tatapan Bianca.


"Kau benar-benar memberikan ini padaku?" Kata Bianca lagi.


"Tentu," kata Rain, dia mengambil cincin itu, memegang tangan Bianca dengan lembut lalu memasukkannya ke dalam hari manis Bianca yang lentik, Bianca merasakan sedikit demi sedikit cincin yang langsung pas di jari manisnya itu, "mulai sekarang kau adalah milikku, jangan coba-coba pergi dariku, Minggu depan kita akan menikah," ujar Rain.


Bianca mengerutkan dahi sembari tersenyum, cara Rain melamarnya bukannya terkesan romantis malah sedikit menakutkan.


"Ayo, makan malam," ujar Rain tak menunggu jawaban dari Bianca, seperti biasa menariknya menuju ruang makan.


________


pojok Author :


hai kak! banyak yang tanya kenapa kemarin dikit banget upnya! karna saya tepar! wkkwkw capek benget kemarin jadi maaf ya kak, ini diusahakan lumayan upnya hehhe

__ADS_1


__ADS_2