
Seharian kemarin Bianca benar-benar mencoba untuk menyibukkan dirinya agar dia tak lagi memikirkan pria itu, namun begitu ternyata dia tak bisa menghentikan rasa sakit ataupun bisa membuatnya berhenti mengingat pria itu.
Bianca membenci perasaannya, Bianca tahu betul pria itu hanya memanfaatkan dirinya, hanya pura-pura mencintainya, tapi kenapa? saat dia tak ada, Bianca malah merasakan kehilangan yang sangat.
Bianca tahu dia seharusnya membenci pria itu, tapi dirinya sendiri tak mengizinkan hal itu terjadi, Bianca bahkan bingung apa yang harus dia lakukan, ternyata dia sangat membutuhkan pria itu.
Bianca menghabiskan malamnya dalam hening dan cahaya lilin lampu, karena sudah begitu lama tak ditempati rumahnya yang bahkan bisa dibilang hanya sepetak ruangan kecil, sudah tidak ada listrik yang meneranginya.
Namun tempat itu tempat ternyaman bagi Bianca, harum ibunya dan kejahatannya masih terasa menyelimuti Bianca yang hanya bisa menahan perih hatinya dan juga perutnya, dia belum makan seharian ini, membuat dia bahkan kesusahan untuk masuk ke dunia mimpi.
Tapi untunglah, di saat malam yang dingin itu, seorang yang mengaku tetangganya membagikan makanan yang cukup banyak sebagai hadiah perpindahan mereka, Bianca saja bahkan kaget dengan begitu banyaknya makanan yang mereka berikan.
Tapi semua itu nyatanya tak bisa membuatnya tidur dengan nyenyak, ternyata bukan perut kosongnya yang menghalanginya untuk tidur, melainkan
hatinya yang kosong lah yang menghalangi dirinya untuk bisa sekedar melupakan semuanya.
Dia terbangun pagi sekali, merasakan lemah dan lemas di seluruh tubuhnya, padahal dia tak melakukan apapun, tubuhnya ingin terus berbaring, namun matanya tak mau lagi terpejam, karena itu dia putuskan untuk membersihkan dirinya dan segera keluar, dia ingin mencari kerja, tak mungkin selamanya dia akan mendapatkan keberuntungan seperti semalam.
Hari masih cukup gelap hanyalah sedikit cahaya yang tampak mulai menerangi di ufuk timur, udaranya pun masih cukup membuat bulu kuduk berdiri dan membuat pori-pori menciut, namun Bianca sudah berjalan perlahan, dia menggunakan Hoodie hitam dan masker untuk tidak di kenali.
__ADS_1
Bianca berjalan cukup jauh untuk bisa mendapatkan akses kendaraan umum, maklum saja rumahnya cukup jauh dari jalan utama, di jalan utama nyatanya sudah cukup ramai, bis berlalu lalang mulai padat namun Bianca tak punya uang sepeser pun untuk naik bis, karena itu dia terus berjalan, matanya awas melihat apakah ada lowongan kerja yang dia butuhkan walau Bianca tahu bahwa di sekitar sini sangat kecil kemungkinan dia akan mendapatkan pekerjaan, mudah-mudahan kakinya tahan berjalan sampai ke kota.
Bianca terhenti ketika sebuah bis berhenti di sampingnya, Bianca mengerutkan dahinya, sepertinya dia tidak memanggil bis.
"Nona? Anda ingin ke kota?" Tanya pengemudi bis itu pada Bianca.
Bianca mengerutkan dahinya menatap wajah pengemudi bis yang tampak ramah itu, dari mana dia tahu Bianca ingin ke sana?
"Naiklah, hari ini masih hari bis gratis," ujar pria itu senang, sumringah sekali.
"Oh, benarkah?" Bianca menjadi senang mendengarnya, kemarin pun begitu, Bianca awalnya berpikir dia harus berjalan kaki menuju ke rumahnya, namun di tengah jalan, dia melihat sebuah bus yang menawarkan tumpangan gratis, katanya ini dari pemerintah dan beruntungnya lagi, bis ini ternyata menuju ke daerah rumahnya.
Bianca meletakkan tangannya ke bibir Jendela, membiarkannya menyanggah dagunya, anak-anak rambutnya yang kecil berterbangan ketika dia membuka hoodie-nya, matanya yang indah tampak kosong menandakan bahwa pikirannya sudah melalang buana entah kemana.
Tak lama bis itu berhenti, sepasang lansia itu hendak turun rupanya, Bianca yang sedang melamun menjadi tersadar, dia lalu segera melihat ke belakang.
Pria tua itu bangkit perlahan, Bianca bisa melihat dia begitu kesusahan hanya untuk berdiri, mungkin lututnya sudah terlalu aus untuk bergerak, tangannya yang sudah keriput itu gemetaran menggenggam pegangan yang ada di depannya.
"Ingin saya bantu Tuan?" tawar Bianca yang merasa pria itu butuh bantuan.
__ADS_1
"Nah, tidak perlu gadis manis," ujarnya perlahan dengan suara gemetar khas orang tua, dia tersenyum sejenak pada Bianca, "aku sudah melakukan ini selama 60 tahun, aku yakin aku masih bisa melakukannya beberapa tahun lagi," ujar pria itu kembali dengan senyuman manisnya, dia memberikan tangannya pada wanitanya, sementara wanita itu meraba tangan prianya, senyuman manis itu terkembang sempurna.
"Aku buta sejak kecil dan dia sudah menjadi mataku selama 60 tahun, dia tak pernah ingin memberikan tanganku pada siapapun, katakan padaku, apa dia masih tampan?" Tanya wanita tua itu sama gemetarnya, pria tua itu menariknya, entah bagaimana bisa dia lakukan, padahal tadi dia tampak begitu lemah.
"Ya, dia masih tampan," kata Bianca tersenyum karena merasa begitu indah melihat pasangan tua ini, begitu terlihat mencintai bahkan dengan segala kekurangan mereka.
"Jangan berbohong, dialah yang terlihat cantik," kata Pria itu memuji istrinya, istrinya hanya tersenyum, akhirnya mereka bisa keluar dari tempat duduk mereka.
"Hati-hati dijalan Tuan dan Nyonya, aku senang melihat kalian," ujar Bianca melihat pria itu menuntun dengan sabar wanitanya yang buta walau langkahnya sendiri goyah.
"Kami juga, nikmatilah hidupmu, ketika kau sudah mendapatkan seseorang dimana hati kecilmu sendiri mengatakan dia adalah orang yang tepat, maka jangan pernah lepaskan, Jika sudah saling jatuh cinta, saling menginginkan bersama, kenapa harus menyiksa diri untuk berpisah, nikmati hidupmu gadis muda," kata Pria tua itu sejenak hingga dia menghilang karena turun dari bis itu.
Bianca langsung terdiam, bagaimana kata-kata itu bisa tiba-tiba menusuk hatinya, jika sama-sama ingin bersama, kenapa harus menyiksa diri untuk berpisah?
Bianca kembali mengulum senyumnya, mungkin dia memang ingin bersama dengan pria itu, sangat ingin malah, namun apa pria itu ingin bersama? Bianca tak yakin, semua perhatiannya yang membuat Bianca tak bisa lepas darinya adalah sebuah sandiwara saja bahkan pria itu hingga kini tak lagi mencarinya, jadi jika hanya satu pihak yang ingin bersama, kebersamaan itu malah akan menyesakkan.
Mata Bianca mulai awas ketika bis itu mulai masuk ke dalam kawasan perkotaan, dia melihat sebuah toko makanan kecil yang terlihat kertas di depan pintunya, Bianca langsung berpikir itu mungkin lowongan yang bisa dia kerjakan.
"Aku berhenti di sini," ujar Bianca.
__ADS_1
Supir bis itu sedikit kaget, begitu juga 4 orang pria yang ada di belakang, mereka saling melempar pandang, saat bis menepi, Bianca segera turun.