Rain In The Winter

Rain In The Winter
70.


__ADS_3

Bianca bahkan tak percaya apa yang dia dengar dari bibir Rain, pria ini mengajaknya menikah? Apa ini benar? Apa dia sedang tidak bermimpi di tengah siang bolong begini? mungkin tersengat panas siang ini membuatnya berhalusinasi.


Namun, Bianca bisa melihat keseriusan dari Rain yang tampak pada matanya yang tajam tanpa berkas keraguan di sorot mata pria itu.


Bianca kembali mengulas senyumnya, kali ini tipis.


"Pernikahan bukan sesuatu yang main-main, lagi pula bagaimana kau bisa menikah dengan wanita seperti ku?" Tanya Bianca, suaranya lemah mengucapkan hal itu, sadar siapa dirinya sendiri.


"Karena aku tak main-main denganmu maka aku mengajakmu menikah, tak peduli siapa kau, aku hanya mengikuti hatiku, menikahlah denganku," ujar Rain lagi dengan suara tegasnya, membuat Bianca yang sekarang ragu pada dirinya sendiri, apa yang dia harus lakukan?


Bianca kembali menggigit bibirnya, kepalanya seolah benar-benar berhenti berpikir, jauh di hati kecilnya yang rapuh, kata-kata ini sangat membuatnya bahagia, terasa manis dan hangat, namun entah kenapa masih ada keraguan yang terasa, bukan hanya ragu akan diri Rain, tapi dirinya sendiri, pantaskah dia menikah dengan pria ini?


"Kalau kau masih tidak percaya padaku, ayo ikut aku sekarang," ujar Rain lagi, cukup banyak dia berbicara hari ini.


"Nona, sudah waktunya Anda bekerja," tegur pemilik toko itu, namun dia langsung canggung melihat tatapan tajam Rain, dia juga melihat mereka sedang bergandengan tangan.


"Mulai detik ini dia akan berhenti," ujar Rain tegas, bahkan pemilik toko itu tak bisa membantah.


"Eh, tidak! Bagaimana bisa kau mengatakan aku berhenti dari pekerjaaan ku ini,?" Kata Bianca, susah payah dia mencari kerja tiba-tiba Rain mengatakan dia berhenti begitu saja.


"Aku tak akan mengizinkan calon istriku bekerja seperti ini, detik ini dia berhenti, lepaskan kostum aneh itu," ujar Rain yang langsung memaksa Bianca untuk melepaskan kostum itu, Bianca yang melihat Rain membuka kostumnya hanya bisa pasrah mengikutinya.

__ADS_1


Setelah semuanya lepas, Rain segera menyerahkan kostum itu pada pemiliknya, setelah itu dengan tanpa memberikan waktu Bianca untuk bernapas, Rain langsung menarik tangan Bianca kembali menuju ke arah mobilnya terparkir, sekali lagi memaksa Bianca yang bahkan tak bisa protes, Rain juga segera masuk ke dalam mobil itu sebelum mereka malaju pergi.


"Kecilkan AC-nya, baju nona Bianca sedang basah," ujar Rain sejenak sebelum dia melepaskan jasnya, dia lalu memakaikan jas berwarna kelabu ke tubuh Bianca agar wanita itu terlindung dan tak merasa tak enak badan karena dari tempat yang panas ke tepat dingin, juga karena bajunya yang basah.


Bianca melirik pria itu, wangi tubuh Rain itu terasa menyelimutinya, dia tak menyangka detail sekecil itu pun di perhatikannya.


Rain hanya diam saja begitu juga dengan Bianca, Bianca tak tahu dia harus berkata apa, dia hanya melihat Rain beberapa kali melihat jamnya, pria itu dengan wajah datarnya dan juga hanya melihat lurus ke depan, bagaimana Bianca bisa menebak apa yang ada di dalam hati pria itu, jika wajahnya selalu sedingin itu.


Bianca awalnya berpikir dia akan dibawa kembali ke apartemen Rain, tapi dia salah, dia malah di bawa ke sebuah tempat yang akhirnya dia tahu adalah sebuah bandara pribadi.


Mobil itu berhenti di dekat sebuah pesawat jet pribadi yang sudah terparkir di sana, Rain segera keluar lalu Bianca sedikit terkejut ketika Rain membukakan pintu untuk Bianca.


"Ayo, aku harus membawamu bertemu seseorang," ujar Rain, sekali lagi terasa datar.


Rain melangkahkan kakinya menapaki tangga kecil yang merupakan pintu pesawat pribadi itu, sengaja dibukakan ketika Rain sampai di sana, saat Rain hampir saja sampai di atasnya, dia menjulurkan tangannya pada Bianca untuk menapaki tangga kecil itu.


Bianca menatap pria yang tampak begitu berkilau terkena matahari, Bianca menggapai tangan itu.


Rain membawa Bianca ke dalam pesawat pribadi yang membuat Bianca tercengang, interiornya tak kalah mewah dengan kapal milik Rain kemarin, yang tak kalah membuatnya tercengang ketika dia melihat wanita cantik yang segera berdiri melihatnya, Bianca belum pernah melihat gadis secantik itu, Bianca minder apalagi dengan keadaannya saat ini.


Ken yang ada di sana pun segera berdiri dan memberikan hormat pada Tuannya, matanya berpindah melihat Bianca yang tampak bingung.

__ADS_1


"Nona Biaca, selamat datang," kata Ken memberikan salam, Bianca hanya tersenyum simpul.


"Wow, akhirnya aku bisa bertemu dengannya secara langsung dan akhirnya aku tahu kenapa kau bisa membuat kakakku tergila-gila," ujar Siena, berjalan dengan gayanya, Bianca memperhatikan gadis itu, dari ujung rambut hingga ujung kakinya tampak begitu sempurna, ini wanita atau boneka Barbie, pikir Bianca.


"Siena, dia adik angkat ku, kekasih Ken," ujar Rain memperkenalkan Siena.


"Hah, kakakku memang sangat tak bisa di andalkan, Bianca, benar bukan?" Kata Siena melirik kakaknya yang bahkan tak ada hangat-hangatnya berbicara, heran banyak wanita yang menyukainya, terlepas dari wajahnya yang tampan, rasanya pun Siena tak akan tahan jika punya pasangan dengan sikap seperti ini.


"Ya," kata Bianca masih bingung, kenapa Rain membawanya kemari hanya untuk menemui adik angkatnya yang bahkan dia tak pernah ketemu sebelumnya. Melihat tatapan bingung dari Bianca, Siena tahu pasti dia belum diberitahu apapun tentang dirinya oleh kakaknya itu.


"Baiklah, ikut aku, aku pinjam wanitamu sejenak kak," kata Siena menarik tangan Bianca sambil melirik ke arah Rain yang baru saja ingin mengambil posisi duduk di sofa di dekatnya, Bianca tentu kaget, ternyata memang menarik tangan orang seenaknya adalah ciri khas keluarga dari Rain.


Siena membawa Bianca masuk lebih dalam ke pesawat pribadi itu, di suatu tempat yang seperti ruang tengahnya, Siena membawa Bianca duduk, seorang pramugari langsung menawarkan minuman.


"Mau minum apa? Jus? Teh? Champagne? Atau alkohol?" Tanya Siena dengan gayanya, bau harum lembut dari dirinya membuat Bianca merasa dirinya sangat bau, bau keringat dan matahari.


"Teh saja," ujar Bianca pada pramugari itu sambil membalas senyumannya, pramugari itu menuangkan teh dan meletakkan es batu ke dalamnya, melihatnya membuat Bianca seketika sadar, dia sangat haus, namun mencoba tetap menjaga tata Kramanya tak sopan rasanya langsung menegak minuman yang baru saja dihidangkan itu.


"Minumlah, bibirmu terlihat sangat kering, pasti bekerja seperti tadi sangat melelahkan," kata Siena lagi bisa melihat bagaimana inginnya Bianca meminum es teh manis itu.


Bianca hanya tersenyum, ingin menegaknya hingga habis, tapi dia sekali lagi tahu aturan, hanya meneguknya sedikit cukup melepas dahaganya saja.

__ADS_1


"Ehm, darimana kau tahu aku bekerja?" Tanya Bianca memberanikan diri, melihat Siena yang sibuk mengirim pesan entah pada siapa.


__ADS_2