Rain In The Winter

Rain In The Winter
98. Dia harus sembuh.


__ADS_3

Rain duduk di salah satu sofa di dekat ranjang Carel, seumur hidupnya baru kali ini dia begitu lama ada di rumah sakit, walaupun dia begitu enggan ada di sana, namun melihat Bianca yang sangat khawatir tentang keadaan anaknya, Rain tak tega mengajak istrinya pergi.


Rain sesekali melihat keadaan Carel, dia menggantikan Bianca sesaat karena istrinya itu harus ke kamar mandi. Bau menyengat khas rumah sakit dan nuansa putih yang monoton benar-benar membuatnya mual, namun Rain mencoba bertahan, dia sudah punya rencana untuk memindahkan Carel ke ruang perawatan khusus miliknya.


Suasana sepi di ruangan itu terpecah karena suara dering ponsel milik Rain, Rain mengerutkan dahinya sejenak, Luke ada di luar, dan sekarang tak ada pekerjaan yang penting, jadi siapa yang meneleponnya?


Rain menyambar ponselnya, melihat pada layarnya dan melihat sebuah panggilan Video dari Siena, Rain segera menjawabnya.


"Hai, kakak!" Suara riang itu terdengar menggema di ruangan yang sepi itu. Rain tak terpengaruh dengan suara riang itu, datar dia menatap ke arah wajah cantik itu.


Siena memajukan bibirnya tampak manja dan menunjukkan wajah merajuknya, begitu ceria dia memanggil kakaknya ini tapi ekspresi kakaknya hanya datar saja.


"Kakak! Kau tidak senang aku menelepon?" Tanya Siena lagi


"Senang, bagaimana keadaanmu?" Datar Rain mengatakannya, Siena memutar bola matanya, benar-benar tak berubah, jadi dia tak ingin mengambil pusing.


"Baik, tebak! Kenapa aku sangat bahagia?" Tanya Siena.


"Apa ini ulang tahunmu?" Tanya Rain, sangat tak suka melakukan tebak-tebakan seperti ini, tapi Siena selalu melakukannya, tak peduli dengan wajah tak suka Rain.


"Itu sudah bulan lalu, ih! Kau memang sangat datar, aku senang karena Bulan depan aku akan menikah! Yey! Pinangan Ken akhirnya disetujui ayah angkatku," kata Siena senang sekali, wajahnya yang cantik semakin cantik.


"Selamat jika begitu," kata Rain lagi, suara pintu kamar mandi terbuka, dia melihat Bianca keluar, Bianca mengerutkan dahinya menatap ke arah Rain, "Siena menelepon."


Bianca hanya mengangguk, kembali lagi ke posisinya memegang tangan Carel, sudah dia lakukan itu seharian ini dan Lidia tak lagi menunjukkan batang hidungnya, entah kemana ibu anak ini sekarang berada.


"Apa itu Bianca?" Tanya Siena.


"Ya."


"Jadi kapan kakak menikah dengan Bainca? Masa aku duluan yang menikah padahal kakak yang duluan melamarnya? Apa kakak belum bisa menahlukan hatinya?" Siena tampak penasaran dengan percintaan kakaknya ini.


"Aku sudah menikah," ujar Rain enteng.


"Apa! Kenapa tak mengabarkan padaku? Bagaimana kakak bisa menikah tanpa mengatakan padaku!" Mata Siena tampak membesar, wajah kagetnya terpatri jelas, benar-benar kaget tiba-tiba saja kakaknya sudah menikah, dan dia tak menyangka kakaknya tega tak memberi tahukannya pada dirinya.


"Dan aku sudah punya anak," ujar Rain lagi tak menjawab pertanyaan Siena, percuma saja, adiknya itu akan tetap marah padanya.


"What!!! Bagaimana bisa? Bukannya kau dan Bianca juga baru kenal? Menikah saja sudah sangat ekspres, bagaimana kalian bisa punya anak hanya dalam 2 bulan?" Tanya Siena bingung, walaupun kakaknya sudah memberikan uang muka duluan pada Bianca, tapi tak akan secepat itu juga.


"Bukan dari Bianca," ujar Rain datar.


"Lalu?" Tanya Siena, dia tahu betul kakaknya ini, dia bukan tipe pria yang menebar benihnya dimana-mana, bahkan dia tak pernah tahu kakaknya pernah dekat dengan wanita.

__ADS_1


"Lidia," ujar Rain malas mengatakan nama itu.


"Lidia? Kakak! Bagaimana kau bisa tidur dengan wanita seperti itu? Kakak! Kau gila? Kenapa aku jijik membayangkan kau tidur dengannya," kata Siena dengan wajah jijiknya, dia tahu siapa Lidia, dia tahu apa yang sudah dilakukan oleh Lidia, wanita itu salah satu psikopat yang dia tahu, walaupun Siena juga bukanlah wanita suci, tapi siapa yang tega sebagai sesama wanita, menusuk perut ibu hamil, itu tentu tindakan gila.


"Aku tidak tidur dengannya."


"Jadi kalau kakak tak tidur dengannya, bagaimana kakak punya anak darinya?"


"Dia mengambil sampel sper*ma ku, membuat bayi tabung, dan melahirkan anakku."


"Wow, wanita itu cerdas tapi juga gila," kata Siena tak menyangka begitu terobsesinya dengan kakaknya ini.


"Ya."


"Lalu, dimana anakmu itu? Apa dia setampan kakak?" Kata Siena, anak tak punya dosa apa-apa dan dia yakin dia akan menyukai keponakannya itu.


Rain tak menjawab, dia hanya mengantikan kamera depan menjadi kamera belakang, menunjukkan keadaan yang ada di depannya, Bianca dan Carel yang masih tak sadarkan diri, panasnya tetap saja tinggi.


"Keponakanku sedang sakit?" Tanya Siena, Rain mengembalikan kamera menunjukkan sosoknya kembali.


"Ya, panas hingga kejang."


"Dia sakit apa?"


"Dokter belum tahu dia sakit apa, mereka masih mencari apa penyakit Carel," ujar Rain.


Siena terdiam sejenak, wajahnya tampak berpikir, dia mengerutkan dahinya, lalu dia ingat sesuatu.


"Kakak, kau adalah keturunan kerajaan kan?" Pasti Siena pada Rain.


"Ya," kata Rain, tak ingin mengakuinya, namun memang itulah darah yang mengalir di dalam tubuhnya.


"Kakak, apa kau tahu tentang penyakit keturunan dari keluarga kerajaan?" Tanya Siena, Rain tak menjawab, hanya menunjukkan wajah yang sedikit berkerut, Siena yakin Rain tak tahu hal itu, "ayah pernah menceritakan tentang penyakit keturunan itu, paman Angga dan Archie lolos dari penyakit mematikan itu, dan setauku, Pangeran Xander adalah penawar penyakit itu, jika Carel adalah anakmu, maka kemungkinan dia bisa terkena penyakit itu."


Rain mengerutkan dahinya lebih dalam, dia melirik ke arah Bianca yang juga jadi terfokus dengan kata-kata dari Siena.


"Apa gejala penyakit itu?" Tanya Rain.


"Setauku, Demam tinggi, tak sadarkan diri, kejang dan jika tak mendapatkan pengobatan yang benar, maka akan terjadi kematian akibat pendarahan, aku pernah mendengar percakapan dari ayah dan paman Angga tentang bagaimana ayahmu meninggal, kakak tirimu menyuntikan darahnya sehingga membuat penyakit itu mengganas dan membuat ayahmu meninggal, kakak, jika itu memang penyakit itu, maka keadaan Carel akan sangat kritis," jelas dari Siena.


Bianca yang sudah ada di depan Rain menjadi semakin cemas, dia bahkan menahan dirinya untuk tak menangis, menatap ke arah Carel yang masih lemah.


"Bagaimana pengobatannya?" kata Rain.

__ADS_1


"Aku tahu kau tak akan melakukannya, tapi demi Carel kau harus melakukan ini, kau harus meminta darah dari paman Angga atau Archie, bahkan jika bisa, meminta darah pangeran Xander," kata Siena.


Rain mengerutkan dahinya, dia sudah bersumpah tak akan lagi berhubungan dengan pihak kerajaan dan menginjakkan kakinya kembali ke kerajaan itu.


"Kakak, tolong pikirkan tentang keadaan Carel," kata Siena yang tahu melihat wajah Rain yang tampak berpikir.


"Aku akan memikirkannya," kata Rain lagi datar.


"Baiklah, aku akan mencari informasi lain tentang itu, kirim salam dengan istrimu," kata Siena, Rain hanya mengangguk dan panggilan itu terputus.


"Apa itu penyakit keturunan?" Tanya Bianca.


Rain sejenak diam, dia juga tak terlalu tahu tentang hal itu, yang dia tahu obat dari penyakit itu adalah darah keturunan mereka yang sudah sembuh dan dalam ingatannya adalah darah Archie.


"Penyakit keturunan dari keluargaku," kata Rain.


"Apa berbahaya? Apa seperti yang dikatakan oleh Siena?" Cerca Bianca, Rain hanya mengangguk, Bianca menutup mulutnya yang terbuka keget, artinya keadaan Carel sekarang kritis.


"Aku dengar ada cara menyembuhkannya?" Tanya Bianca lagi menuntut jawaban.


"Ya, tapi harus memintanya pada pihak kerajaan," kata Rain pada Bianca.


"Itu bisa kau lakukan kan? Tinggal minta tolong mereka dan Carel akan selamat, mereka keluargamu, mereka akan melakukannya, lagi pula ini anak kecil, aku yakin mereka bisa melakukannya, itu bisa kan?" Kata Bianca panik.


Rain hanya diam, bagaimana caranya meminta bantuan darah dari keponakannya yang pasti sangat menaruh dendam padanya, apalagi meminta darah dari anak Archie, karena dirinyalah pangeran Xander hampir saja tak ada di dunia ini.


"Aku tak bisa," ujar Rain.


"Kenapa?" tuntut Bianca lagi, matanya tampak berkaca-kaca memikirkan anak 3 tahun di dekatnya itu sedang meregang nyawa.


"Aku tak bisa," kata itu keluar lagi dari bibir Rain.


"Rain! Ini demi anakmu," ujar Bianca lagi.


"Bianca, aku tak bisa, aku harus meminta darah Archie sedangkan aku adalah orang yang berusaha merebut istrinya dan gara-gara aku Lidia hampir membunuh anak dan istrinya, mereka tak akan mau menerimaku, bahkan aku sudah dicekal untuk datang ke sana," ujar Rain berdiri, rasa yang dia pendam akhirnya tak bisa dia sembunyikan.


"Jadi itu yang dilakukan Lidia,dia hampir membunuh Ceyasa?" Tanya Bianca, pantas saja Rain begitu membencinya, Lidia hampir membunuh orang yang sangat dicintai oleh Rain dulu.


"Ya, dia menusuk perut Ceyasa saat dia hamil pangeran Xander, karena itu pangeran Xander harus dilahirkan prematur dan keduanya hampir tak bertahan, jadi menurut mu bagaimana? Apa mereka akan menolongku?" Tanya Rain.


Bianca diam, dia menelan napasnya dengan susah payah, dia lalu melirik ke arah Carel. Rain yang melihat keputusasaan itu di mata Bianca mendekati istrinya, dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Jika Angga dan Archie bisa selamat Carel pun bisa, aku akan meminta tim dokter mencari obatnya tanpa mereka, Carel pasti selamat," ujar Rain menenangkan Bianca yang sudah menumpahkan air matanya dalam pelukan Rain.

__ADS_1


Bianca tak merespon, walau hanya baru beberapa hari bersama Carel, namun tahu bagaimana keadaan pria kecil itu, membuat hatinya Miris, ibunya tak menyayanginya dan hanya menjadikannya alat untuk mendapatkan Rain, saat ini dia sedang berjuang hidup dan mati, bagaimana hatinya tak tersentuh oleh hal ini.


Rain pun hanya melihat wajah kecil dengan bibir pucat itu, dadanya masih terangkat menandakan dia masih bernapas, banyangan kematian pria kecil itu entah kenapa menyesakkan hatinya, 3 tahun dia tak tahu bahwa Carel ada, baru beberapa hari mereka bertemu, kenapa Tuhan malah ingin mengambilnya dari sisi Rain. Tidak! Dia tak boleh mengizinkan hal itu terjadi, Dokter harus mendapatkan penyakitnya, dia harus sembuh, harus!


__ADS_2