
Bianca menatap ke arah anak-anak dan suaminya, setelah semua pergi akhirnya mereka bisa berkumpul berempat lagi, Rain tampak senang bersama kedua anaknya yang juga tampak nyaman bercengkrama bersama ayah mereka, seolah Bianca terlupakan sesaat karena anaknya lebih memilih ayahnya untuk bercengkrama.
Rain melirik istrinya yang sedang sibuk menyiapkan makan siang untuknya dan juga anak-anaknya, dia sudah menyisihkan makanan yang akan dia berikan pada anaknya, rencananya Bianca ingin menyuapi anak kembarnya itu.
"Istirahatlah," ujar Rain mendatangi Bianca.
Bianca melirik suaminya yang ada di belakangnya, dengan senyum manis yang terulas ketika dia membalikkan tubuhnya, menatap suaminya yang tampak perhatian menatapnya.
"Bukannya seharusnya yang mengatakan itu aku? Kau yang baru saja sehat jadi seharusnya kaau yang banyak istirahat," kata Bianca lembut.
"Tidak, kau yang istirahat, lihatlah lingkar matamu, Kemarin pasti kau kurang tidur bukan? Aku tak mau nantinya kami sehat dan kau yang sakit," ujar Rain mengambil nampan berisi makanan untuk anaknya, mendengar perkataan Rain Bianca merasa hatinya sangat hangat.
"Setelah menyuapi mereka aku akan istirahat," ujar Bianca lagi mengikuti suaminya yang Mulai berjalan ke arah anak-anak mereka yang kembali sibuk dengan mainan masing-masing.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya, Mereka juga anak-anak ku, biar aku mengurus mereka sedikit," ujar Rain dengan lembut namun wajahnya serius seolah tak bisa lagi dibantah oleh Bianca.
"Baiklah, aku akan istirahat di sofa itu, tidak apa-apa kan?" Tanya Bianca.
Rain mengangguk, dia juga tahu bagaimana pun Bianca tak akan bisa melepaskan pandangannya seratus persen dari anak-anaknya.
Rain dengan telaten menyuapi anak-anaknya untunglah Gio dan Gwi bukanlah anak yang sudah makan, mereka lahap apalagi saat disuapi oleh ayah mereka.
Rain sesekali melirik ke arah Bianca yang awalnya masih mengawasinya memberi makan pada kedua anaknya, tak perlu terlalu lama, Bianca akhirnya terlelap sendiri, Rain menaikkan sudut bibirnya, akhirnya wanitanya itu bisa tidur juga.
"Papi, papi sudah sembuh kan? Papi jangan sakit lagi ya," Tanya Gwi setelah meminum minumannya saat selesai memakan makan siangnya, Yuri membantu Tuannya meneruskan tugas Rain untuk memberikan minum dan membersihkan mulut Gio dan Gwi.
__ADS_1
"Ya, papi sudah sehat, Gio dan Gwi juga hebat sekali, Papi bangga," kata Rain mengacak rambut Gio yang tampak begitu senang ayahnya bangga padanya.
"Gio tidak nangis Papi, Gwi yang nangis," kata Gio kembali membanggakan dirinya.
"Ya, papi yakin, Gio anak yang kuat," ujar Rain.
"Itu karena sakit sekali, Gwi tidak suka di sini," kata Gwi yang tampak sedikit cemberut di sudutkan kakaknya.
Rain menaikkan sudut bibirnya, ternyata ketidaksukaannya menurun pada putri kecilnya.
"Papi, tadi Gwen menceritakan bahwa dia baru saja liburan ke tempat yang ada saljunya, Papi, salju itu bagaimana?" Ujar Gwi, dia memang penasaran, Gwen mengatakan dia sangat senang ada di sana.
"Gwi ingin melihat salju?" Tanya Rain pada putri kecilnya.
"Ya! Gio juga," malah Gio yang semangat menjawab pertanyaan dari ayahnya.
"Wah, jadi benar kita akan sekolah lagi?" Tanya Gio tambah semangat.
"Ya, setelah sehat kalian akan langsung sekolah."
"Asik! terimakasih papi," ujar Gio, Gwi hanya tersenyum melihat ayahnya.
"Gwi dan Gio tidur siang dulu agar keadaannya membaik, papi ingin membawa mami ke tempat tidur agar mami bisa nyaman," ujar Rain beranjak dari tempatnya dan mengarah ke istrinya yang tertidur nyenyak di sofa, Rain melirik Yuri yang langsung tahu bahwa Rain ingin dia menjaga anak-anaknya sekarang.
Gio dan Gwi mengangguk lalu tersenyum kecil melihat ibunya yang perlahan di gendong oleh ayahnya, mereka merasa senang ayah mereka begitu menyayangi ibu mereka.
__ADS_1
Rain meletakkan Bianca ke ruangan tidur khusus penunggu di ruangan itu, Bianca tampak menggeliat sejenak, tampak sekali wanita itu sangat kelelahan karena sekali lagi dia tampak sama sekali tak terganggu walau sudah dipindahkan oleh Rain, Rain menarik selimut untuk Bianca setelah itu mulai berbaring sejenak di sebelahnya, bagaimanapun dia bangun sangat-sangat pagi tadi.
Bianca perlahan membuka matanya, dia langsung melihat sosok yang tenang tidur di sampingnya, Mata Bianca tampak kaget dan segera terduduk, dimana dia sekarang? mungkin karena gerakan yang tiba-tiba membuat Rain pun terganggu dan segera terbangun.
Bianca lalu menatap ke arah suaminya yang tampak sedikit malas membuka matanya, dia masih ingin membuai diri di mimpinya.
Bianca menatap Rain terus menerus, Rain yang di tatap itu sedikit mengerutkan dahinya.
"Ada apa?" Tanya Rain bingung di tatap oleh Bianca begitu.
"Kau masih mengenaliku?" Tanya Bianca polos.
Rain mendengar itu langsung tertawa kecil sambil kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal empuknya, tak menyangka Bianca bertanya hal itu. Mendengar tawa suaminya membuat Bianca mengerutkan dahinya.
Rain lalu segera membetulkan posisinya, dia segera duduk lalu memandang wajah istrinya, jauh lebih segar dari saat di tidur tadi.
Rain menaikkan sudut bibirnya, menghalau rambut-rambut yang jatuh menutupi wajah indah istrinya meletakkannya tepat ke belakang telinga Bianca. Sentuhan-sentuhan tangan Rain yang hangat membuat Bianca sedikit terbuai.
"Sudah ku bilang itu hanya hipotesis dari dokter Malvis, aku tidak mau setiap kali aku bangun dan kau bertanya tentang hal itu," ujar Rain lembut.
"Tapi …." Kata Bianca terputus ketika bibirnya langsung di tutup oleh Bibir Rain yang seketika membungkamnya, Bianca membesarkan matanya kaget dengan tindakan tiba-tiba suaminya namun dia akhirnya menikmatinya juga.
Ciuman itu lembut dan perlahan, tak ada rasa nafsu di dalamnya, sehingga setiap sentuhannya dapat dinikmati oleh Biancas. Tak lama Rain mencium Bianca, dia memandang istrinya yang terdiam dan matanya yang tertutup, Bianca membuka matanya ketika merasa kecupan hangat di dahinya.
"Setiap kali aku bangun aku akan mencium dahimu agar kau tahu bahwa aku masih mengingat dirimu, jika aku tidak melakukannya, mungkin memang aku terkena efek itu, tapi aku yakin aku tak akan terkena efek itu, jadi mulai sekarang jangan Bebani dirimu dengan hal itu, aku tak mau setiap hari kau was-was hingga lupa untuk menikmati harimu dengan ku dan anak-anak," ujar Rain dekat, bahkan napasnya yang hangat menerpa Pipi mulus Bianca, hal ini membuat Bianca tak bisa berkata apapun, dia hanya mengangguk pelan, membuat Rain gemas dan ingin memeluk istrinya.
__ADS_1
Rain memeluk Bianca erat, setelah ini dia yakin tak akan ada yang bisa membuat keluarganya sedih lagi, dia berjanji akan selalu membuat senyuman Bianca merekah selalu.