Rain In The Winter

Rain In The Winter
42. Ada kapal yang mengikuti kita.


__ADS_3

Rain terdiam di balik pintu kamar Bianca, nyatanya dirinya tak beranjak dari sana dan juga menyaksikan semua yang dilakukan oleh Bianca dari sela pintu yang memang sengaja tak ditutupnya rapat, dia melihat Bianca yang sibuk mengeluarkan obatnya dan meminum obat itu. Rain tahu obat apa itu, dia juga melihat wanita itu menangis tersedu-sedu, terduduk di lantai sambil memeluk lututnya.


Suara tangisannya pilu, membuat Rain merasakan sakitnya, cukup lama dia menangis hingga akhirnya tampak lelah dan malah tertidur di lantai.


Rain sedikit kaget melihat Bianca yang tak sadar di lantainya, dia membuka pintu itu segera dan masuk ke dalamnya, segera dia mendekati Bianca, menyibakkan rambut Bianca dan melihat wajah wanita itu yang penuh dengan air mata, hidungnya dan pipinya memerah karena menangis.


Rain segera menggendong tubuh Bianca, meletakkannya dengan perlahan dan lembut sekali, Rain menarik selimut tebal ada di sana membiarkan tubuh Bianca nyaman di dalam pelukan kehangatan ranjangnya.


"Yuri," Ujar Rain yang tahu Yuri ada di balik pintu kamar itu, menunggu sewaktu-waktu perintah dari Rain atau Bianca.


"Ya Tuan," jawab Yuri.


"Ambilkan air dingin dan handuk," ujar Rain pada Yuri.


"Baik Tuan," Yuri segera berjalan meninggalkan tempat itu.


Rain menarik salah satu kursi di sana, meletakkannya di sisi ranjang dekat dengan Bianca, dia hanya menatap dengan diam pada tubuh Bianca yang tak bergerak, tampak pulas sekali tidurnya, efek obatnya sangat keras.


Tak lama Yuri masuk membawa semangkuk air dingin dan handuk kecil putih, dia meletakkannya di meja kecil di dekat ranjang Bianca, Yuri baru saja ingin mencelupkan handuk itu pada air dinginnya namun Rain langsung berbicara.


"Biar, aku saja," Rian perlahan berdiri dari tempat duduknya, Yuri tentu kaget dengan perkataan Rain namun dia tak bisa berkata apa-apa, dan dia hanya bisa memberikan handuk itu.


Yuri berdiri menjauh tepatnya ke sisi pintu, dia hanya melihat bagaimana Rain memeras handuk itu, lalu perlahan kembali mendekati Bianca, handuk itu perlahan dan dengan penuh perasaan dia usapkan ke wajah Bianca yang masih tampak memerah, mungkin karena dinginnya air itu, Bianca sedikit menggerakkan matanya, namun dia masih belum bisa lepas dari efek obatnya.


Rain menarik sejenak tangannya saat Bianca bereaksi dengan sentuhannya, namun setelah itu dia kembali mengusap pipi halus itu, menyeka air mata yang masih terlihat di matanya, Rain menatap terus wajah itu, terlalu cantik bahkan teramat cantik, namun kenapa ada yang tega melukainya?


Yuri yang memperhatikan itu hanya menggigit bibirnya menahan senyum kagum, Rain tampak sekali benar-benar begitu perhatian dengan Bianca.

__ADS_1


"Tinggalkan kami berdua," ujar Rain yang akhirnya sadar masih ada Yuri di sana.


"Baik Tuan," kata Yuri segera, dia keluar dan perlahan menutup pintu kamar itu, dia berdiri di dekat pintu itu akhirnya bisa senyum-senyum sendiri, dia yakin Tuannya akhirnya bisa berpindah hati, tentu itu membuatnya senang.


Berjam-jam Rain habiskan hanya duduk untuk menanti Bianca terjaga, saat wanita itu tampak sedikit gusar, Rain akan mendekat dan mencoba mengelus rambutnya, membuat Bianca perlahan-lahan kembali tenang. Entah kenapa dia bahkan merasa tak bisa beranjak barang sejenak dari sana.


Ken berjalan berkeliling kapal itu, dia sedang mencari Tuannya untuk melapor sesuatu, namun anehnya dia tak menemukan Tuannya itu di tempat-tempat biasa Rain ada.


Lalu Ken tak sengaja melewati ruangan Bianca, melihat Yuri yang sedang berdiri menunggu dengan setia, dia mengerutkan dahinya, berjalan ke arah Yuri.


"Ehm, apa kau melihat Tuan Rain?" tanya Ken dengan suaranya yang cukup besar dan tegas.


"Srrttt!" ujar Yuri dengan gestur satu jadi di depan bibirnya, meminta Ken agar tak terlalu berisik.


"Ada apa?" tanya Ken yang sedikit bingung dengan gelagat dari Yuri.


Ken membesarkan sedikit matanya dan mengerutkan dahinya, melihat Rain sedang duduk di sisi ranjang Bianca yang tertidur dengan nyenyaknya, Ken melihat wajah Rain yang walau dingin tapi dia tahu ada berkas perhatian dan juga kekhawatiran, Ken hanya mengerutkan dahinya lebih dalam.


"Sudah berapa lama?" tanya Ken.


"Sudah hampir 2 jam," kata Yuri.


"Aku harus melaporkan sesuatu," ujar Ken pada Yuri.


Yuri sebenarnya sedikit berat mengizinkan Ken merusak suasana intim di dalam sana, tapi biasanya jika Ken sudah bertindak, maka pasti ada sesuatu yang sangat penting yang harus disampaikan pada Rain.


Yuri mau tak mau mengizinkannya, Ken lalu mengetuk pintu kamar itu. Rain yang tadi hanya memperhatikan Bianca sedikit teralihkan.

__ADS_1


"Masuk," ucap Rain.


Mendengarkan persetujuan dari dalam, Ken segera membuka pintu, memberikan salam ketika melihat Rain melirik ke arahnya, Ken mendekati Rain yang matanya kembali melihat ke arah Bianca, dia membisikkan sesuatu.


Raut muka Rain langsung tampak datar dan dingin, dia segera mengerti dia harus meninggalkan kamar ini.


"Yuri jaga Nona," kata Rain mau tak mau meninggalkan tempat itu, Dia segera berdiri dan saat Rain keluar, Yuri langsung mengantikan Rain untuk menjaga Bianca.


Rain dan Ken segera menuju ke ruang kerja Rain yang tak kalah menakjubkannya, dia lalu segera duduk dan Ken segera mengambil posisinya.


"Bagaimana?" ujar Rain.


"Kami menemukan kapal yang mencurigakan mengikuti kita, aku mendapatkan kabar itu dari pantauan penjagaan kita dari udara, mereka ada sekitar 5 Kilometer dari kita, cukup jauh untuk dapat di deteksi, tapi sepertinya mereka memang mengikuti kita," ujar Ken menjelaskan dan menunjukkan foto pantauan udara yang dikirimkan ke tempatnya.


Rain mengerutkan dahinya, menatap ke arah laporan yang di berikan oleh Ken.


"Aku rasa ini ada hubungannya dengan Nona Bianca, mungkin mereka sedang memata-matai Anda dan Nona Bianca, Saya yakin ini adalah orang-orang yang dikirim oleh Tuan Drake," kata Ken terlihat sangat yakin.


"Kalau begitu terus saja pantau tentang kapal yang mencurigakan itu, aku ingin tahu apa yang bisa mereka lakukan di daerah kekuasaanku, Ken, siapkan penjagaan ketat untuk Bianca selama dia ada di pesisir timur," ujar Rain dengan wajah yang tampak berpikir dengan keras.


"Tuan, Anda dan Nona Bianca," ujar Ken yang tampak ingin menyampaikan sesuatu yang ada di dalam pikirannya.


"Aku tahu apa yang aku lakukan, Lakukan saja tugasmu," ujar Rain yang memandang tajam ke arah Ken yang langsung menurunkan pandangannya walaupun dia masih ingin sekali mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, perasaanya tak tenang jika Rain masih berhubungan dengan Bianca.


Baginya Bianca adalah wanita Drake, jika Rain menaruh hati padanya? bukankah ini sama saja seperti sejarah yang akan berulang? dan kali ini lawannya bahkan lebih buruk.


"Siapkan Rapat setelah aku tiba di sana," kata Rain lagi.

__ADS_1


"Baik," kata Ken segera berdiri, itu suatu tanda bahwa Ken harus menanggalkan Rain, Ken berdiri dan segera keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Rain sendiri memikirkan sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.


__ADS_2