
5 menit lagi akan ada yang menjemputmu, bersiaplah.
Bianca mengerutkan dahinya, bagaimana dia bisa mengirimkan pesan yang juga terasa begitu dingin karena itu Bianca merasa tak ingin menanggapinya, lagi pula ini sudah larut malam, memangnya dia wanita apaan yang di panggil semalam ini ke tempat seorang pria.
Bianca mematikan ponsel itu, dan meletakkannya di atas meja di dekat ranjangnya, Bianca lalu segera kembali ingin tidur.
Namun baru saja dia ingin masuk ke dalam mimpinya pintu terdengar terketuk cukup keras hingga membuat Bianca terduduk, Bianca mengamati 2 buah hatinya untungnya mereka masih nyenyak dalam pelukan mimpi.
Bianca bergegas keluar dari kamarnya, saat dia membuka kamarnya dia melihat Yuri yang juga sudah ingin membuka pintu.
"Yuri biar aku saja, temanku datang," kata Bianca, dia tak tahu siapa yang datang, jika Rain akan ada kepanikan yang terjadi nantinya.
"Baik Nyonya," ujar Yuri sambil mengerutkan dahinya, selama ini tak ada teman Nyonyanya yang datang, apalagi semalam ini.
"Kembalilah tidur," ujar Bianca sebelum dia membuka pintunya, memastikan Yuri sudah kembali ke kamarnya.
Bianca menarik napasnya panjang, lalu dia membuka pintunya sebelum ketukan itu terdengar lagi, Bianca lalu melihat Rio dengan senyuman biasanya, Bianca jadi kesal melihat senyuman pria ini.
"Nona, Tuan …" kata Rio.
"Aku sudah tahu, tapi ini sudah malam, besok saja jika ingin bertemu," kata Bianca dengan ketus.
Rio lalu tersenyum lagi, dia menyerahkan ponsel lain ke arah Bianca tanpa mengucapkan apapun, Bianca mengerutkan dahinya, melihat sambungan telepon di ponsel itu, Bianca lalu mendengarkannya.
__ADS_1
"Jika dalam 5 menit kau tidak tiba di sini, aku yang akan ke sana," suara dingin dan datar itu terdengar, Bianca menggigit bibirnya, rasa kesalnya muncul lagi, bagaimana bisa pria ini jadi begitu pemaksa, tapi Bianca tak bisa membiarkan Rain datang ke sini, bagaimana jika Yuri tahu, apalagi jika Rain tahu keberadaan si kembar, Bianca tak ingin Rain tahu tentang mereka, Bianca belum bisa mempercayai Rain sekarang.
"Baiklah, tunggu aku ambil jaketku dulu," ujar Bianca menyerahkan kembali ponsel Rio, Rio hanya mengangguk profesional.
Bianca menutup pintunya, dia berjalan ke arah kamarnya, mengambil mantelnya lalu mengenakannya, Bianca juga mengetuk pintu kamar Yuri, Yuri segera keluar dengan cukup kaget.
"Aku harus kerja malam, permintaan bos, bisakah menjaga si kembar, aku akan pulang secepatnya," ujar Bianca mencari alasan, Yuri hanya mengangguk walaupun merasa aneh, tak pernah Bianca pergi larut begini hanya untuk bekerja, dia bahkan menolak pekerjaan lebih dari jam 7 malam agar bisa bersama dengan si kembar.
"Baiklah, aku pergi dulu," ujar Bianca.
Yuri hanya diam saja, dia segera melihat ke arah luar, melihat Bianca yang berjalan dan masuk ke dalam mobil sedan hitam, dia juga melihat seorang pria dengan setelan jas rapi yang membukakan pintu untuk Bianca, Ehm? Apakah Nyonya-nya mulai memiliki seorang pria yang lain?
Bianca melihat ke arah luar, sudah lama sekali tak pernah menaiki mobil semewah ini pastinya, dia memperhatikan ke mana mereka akan membawanya, jadi jika terjadi apa-apa, setidaknya dia tahu jalan pulang.
Mobil mereka segera berhenti, Rio membukakan pintunya untuk Bianca, Bianca keluar dan mengamati rumah yang sudah terlihat tua namun masih tampak kokoh.
"Nona, Tuan sudah menunggu di dalam," ujar Rio membukakan pintu rumah itu.
Bianca masuk ke dalam, selain sudah begitu lama kosong, isunya rumah ini berhantu hingga tak ada yang berani menempati tempat ini, tapi kenapa Rain malah berani, jangan-jangan dia tak tahu itu.
Namun ketakutan dan keraguan Bianca terhadap rumah itu luntur seketika melihat interior rumah itu yang tampak klasik namun indah, lampu gantung kristal besar ada di tengah ruangan membuat kesan mewah rumah itu, Bianca sedikit melongo melihatnya.
"Sudah datang," suara dingin itu terdengar, Bianca langsung menjaga sikapnya melihat pria yang baru turun dari tangga kecil yang menghubungkan ruangan itu ke ruangan lain yang lantainya lebih tinggi.
__ADS_1
"Apa mau mu? Ini sudah malam sekali, tak bisakah memanggilku pagi atau siang hari?" Kata Bianca, tak ada ramah-ramahnya, dia bahkan melihat pria itu tajam.
Rain tetap melanjutkan jalannya, dia bahkan tak melirik Bianca, malah mendekati Antony yang sedang memegang berkas perusahaannya.
Dia lalu duduk di salah satu sofa besar di sana, Antony menyerahkan berkas itu.
"Buatkan aku makan malam," ujar Rain memerintah Bianca yang bahkan tak di lihatnya, seolah dia memerintahkan pembantunya.
"He? Kau meminta ke sini hanya untuk makan malam? Ini sudah lewat jam makan malammu," kata Bianca tahu Rain selalu punya jam ketat untuk setiap makannya.
Rain melirik ke arah Bianca akhirnya, dia memberikan tatapan kejamnya.
"Aku tak suka mengulang perintah," kata Rain lagi membuat Bianca kesal sekali, bibirnya manyun dibuatnya, tapi karena dia sudah di sini, apalagi yang dia bisa lakukan, lebih. Baik cepat membuatkannya sehingga dia cepat bisa kembali dan tidur dengan si kembar.
Bianca langsung di tunjukkan di mana dapurnya, semua hal yang dia butuhkan sudah ada di sana, juga ada asisten yang membantunya memotong dan juga mencuci bahan-bahan makanannya.
Bianca membuat porsi kecil namun beragam jenis, ingat bagaimana pria ini dulu suka makan sesuatu yang beraneka ragam walau dia hanya memakannya sedikit, tak lupa pula membuatkan sup agar perut terasa hangat karena makan terlalu malam, Ada juga sayuran dan tentunya tak ada makanan pedas, Rain tak pernah menyukainya.
Pelayan membantu Bianca untuk menyiapkan makanan di meja yang sekarang tampak cukup penuh, lauknya ada 3 buah, sayuran dan sup, juga buah pencuci mulut sudah siap di sana.
Bianca hanya berdiri di ruang makan itu berbaur dengan para pelayan dan yang lainnya, dia melirik ke arah jamnya, sudah larut sekali, kemana pria itu? Dia harus cepat pulang dan juga harus bertanya tentang yang dikatakan oleh Rio tempo lalu.
Tak lama sosok pria itu datang, tampak lebih santai dengan kaos putih dan celana longgar untuk tidurnya, terlihat dia baru saja selesai mandi dengan rambut yang jatuh ke dahinya, gayanya tak berubah membuat Bianca sedikit menggigit bibirnya, sekilas melihat gambaran suaminya yang dulu, Bianca segera menyadarkan dirinya, pria itu bukanlah Rain yang dia kenal dulu.
__ADS_1
Rain duduk di tempatnya, menatap ke arah makanan yang cukup banyak untuknya.