Rain In The Winter

Rain In The Winter
146.


__ADS_3

"Katakan padaku, apa kau sudah bisa menghubungi mereka?" Ujar Rain menatap ke arah Antony dengan tajam.


"Maaf Tuan, namun itu memang sulit sekali, sesulit mendapatkan informasi tentang Nona Bianca dulu," ujar Antony dengan wajah tegas namun juga sedikit bersalah.


"Bagaimana bisa begitu sulit?" Ujar Rain, kenapa bisa dia selalu kesulitan mendapatkan informasi sekarang, padahal sebelumnya semua sangat mudah dia dapatkan.


"Rasanya memang ada yang sengaja membuat semuanya runyam, Aku bahkan tak bisa menyentuh keberadaan Ken sama sekali, aku hanya bisa tahu Ken, Nona Siena dan Luke semua ada di negara tempat asal Nona Siena, seberapa kerasnya aku mencari, sepertinya sudah ada yang mengetahuinya dan mereka membuat seolah-olah aku akan melakukan hal yang jahat pada mereka, namaku bahkan di cekal untuk masuk ke negera itu, begitu juga Anda," kata Antony juga bingung, padahal niatnya tak pernah untuk mencelakakan mereka, namun kenapa sepertinya mereka benar-benar membenci Antony seolah dia adalah satu-satunya penjahat di dunia ini.


Rain mengerutkan dahinya, feeling-nya mengatakan ini pasti ada hubungannya dengan Lidia, wanita itu seperti punya kekuasaan lain di balik Rain, dia bahkan tak bisa percaya dengan kepala-kepala cabangnya yang menurut Lidia adalah orang-orang kepercayaannya dulu, bahkan dia sudah tak begitu ingin mengurusi perusahaan utamanya, hingga dia hanya pergi ke tempat-tempat baru yang dia inginkan.


Rasanya jika Rain ada di Ibukota, langkahnya bahkan nafasnya juga diawasi oleh seseorang, karena itu dia tak bisa bebas, hanya Antony dan Rio yang bisa dia percaya sekarang. Lidia benar-benar sangat berkuasa sekarang.


Dia juga yakin kenapa dia tak bisa menemukan Bianca, semua ini pasti ada campur tangan dari Lidia.


"Bukannya mereka juga mencari Bianca?" Tanya Rain lagi, Antony pernah mengatakan bahwa pria dan wanita yang dulunya pernah dia temui itu juga berpisah dengan Bianca dan mereka juga mencarinya.


"Ya, tapi sudah hampir 2 tahun ini mereka menutup semuanya, mereka seperti sudah tak ingin mencari atau mencoba untuk kembali menghubungi Anda, Saya juga tak bisa memberikan informasi lebih, jika saya gegabah, Maka Nona Lidia akan tahu tentang hal ini," kata Antony.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Pria yang bernama Bram? Bukannya dia yang bertugas menjaga Bianca?" Tanya Rain lagi.


"Ya, tapi aku tak menemukannya di sini, aku rasa dia memang sedang tak bertugas di sini, dia juga merasa aku adalah ancaman paling besar, karena itu tak jauh beda dengan Ken dan Luke, mendengar namaku saja mereka langsung tak ingin lagi ada di tempat ini," ujar Antony tak habis pikir.


Dia, Bram dan Ken adalah teman dalam satu kesatuan dulu, namun memang awalnya Ken dipekerjakan di luar dari ketentaraan dan tak lama dia malah keluar dari ketentaraannya, Bram pun menyusul Karena di minta oleh Ken, namun Bram hanya melakukannya saat ada tugas genting, sedangkan Antony lebih banyak dikirim ke luar negeri untuk tugas perdamaian sehingga cukup lama mereka berpisah, namun saat dia pulang, dia mendapatkan tugas untuk menjadi penjaga keamanan Rain, tentu dia harus mengikuti semua perintah atasnya, dia tak menyangka tugas awalnya adalah melenyapkan Bram, namun itu juga tak dilakukannya karena masih memiluki kesetiakawanan terhadap Bram.


Awalnya dia juga mengikuti perintah Lidia, namun karena merasa tak masuk akal, dia meminta berhenti namun Rain menolaknya dan memintanya sebagai Asistennya, sebagai Asistennya Antony sudah tak pernah lagi menurut oleh perintah Lidia, namun entah kenapa teman-temannya itu begitu membencinya hingga ketika dia sedikit saja melangkah mendekati mereka, maka mereka seolah hilang atau tak akan bisa di sentuh, anehnya, mereka selalu tahu hal itu.


"Kalau begitu lebih baik kau melakukan tugas bayangan di sini, aku rasa Bram belum tahu karena dia juga belum menemuimu, jika dia tahu aku yakin dia akan berusaha menyakinkan Bianca untuk menjauhiku lagi," ujar Rain.


"Kau tetap menyakinkan Lidia aku masih ada di tempat lainnya kan?" Kata Rain melirik ke arah Rio, dia tahu bahwa Lidia tak mungkin mencari tahu tentang keberadaan Rain dari Antony, sejauh ini Rio bertindak seolah-olah dia pro dengan Lidia, memberikan semua hal tentang Rain namun hanya sesuai dengan perintah Rian.


"Sejauh ini pergerakan asistennya masih mencari di arah pulau yang aku katakan, orang suruhannya akan Sampai ke pulau seberang besok karena keterbatasan kendaraan, namun aku akan siap-siap membuat laporan seolah-olah Anda sudah akan pergi lagi ke tempat yang lain, anda tenang saja, saya sudah menyuruh duplikat anda untuk bergerak membawa alat pelacak anda ke tempat yang lebih jauh tentunya," ujar Rio tersenyum, jauh lebih santai dari pada Antony tentunya.


"Baiklah, sekarang Antony, tugasmu adalah mencari informasi tentang Bram, aku juga akan menanyakannya pada Bianca, tapi selama aku ada di sini, lebih baik untuk tidak terlihat," ujar Rain.


"Baik Tuan," ujar Antony dengan tegasnya.

__ADS_1


"Antony? Bagaimana tes DNA-nya?"


"Aku sudah menghubungi dokter pribadi anda yang ada ditempat khusus anda sekarang, mereka siap melakukannya secepatnya, esok aku akan mengambil samplenya," lapor Antony lagi.


"Baiklah, jangan menyakiti mereka saat mengambil samplenya," ujar Rain sambil berdiri dari duduknya, Antony dan Rio yang tadi duduk di depan Rain segera berdiri.


"Siap Tuan," jawab Antony lagi, Rain hanya mengangguk sambil menatap mereka, namun Rio dan Antony mengerti dan segera memberikan salam sambil berjalan meninggalkan Rain.


Rain berjalan masuk ke dalam kamarnya, pelan membuka pintu kamarnya agar wanita yang sedang tidur dengan nyenyaknya di sana tidak terbangun, Rain menaikkan satu sudut bibirnya, wanita itu masih meringkuk nyaman.


Rain tentu tak ingin menganggu Bianca tidur, karena itu dia tak melakukan apapun yang dapat membuat Bianca bangun, dia bahkan tak ingin menyentuh ranjang itu, Rain hanya duduk di sofa dekat dengan Bianca, memandang wajah cantik itu sesaat lalu memutuskan kembali menatap laptopnya sambil sesekali menatap Bianca yang beberapa kali berganti posisi, Rain baru tahu, wanita ini lasak juga tidurnya.


Bianca membuka matanya perlahan-lahan, merasakan matanya masih cukup enggan terbuka, tubuhnya bukannya semakin enak setelah tidur malah semakin terasa lelah, ah, dia ingin kembali tidur, pikirnya sambil memutar tubuhnya ke arah lain.


Namun diantara remang matanya yang malas menangkap sosok pria yang samar duduk di dekatnya.


Bianca mengerjapkan matanya beberapa kali baru dia sadar bahwa pria yang sedang duduk di sofa tertidur dengan topangan tangannya adalah Rain, Bianca tentu kaget, dia melihat keadaan kamar itu, itu kamar Rain, dia menggigit Bibirnya merasa sedikit aneh dengan tingkah Rain namun juga tersentuh di saat bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2