Rain In The Winter

Rain In The Winter
174.


__ADS_3

"Tuan, aku harus memeriksa keadaan Anda sekali lagi," kata dokter itu melihat Rain yang duduk dengan wajah seriusnya, menunggu semuanya siap agar dia bisa kembali ke keluarganya. Rain hanya menatap ke arah dokter itu, mengangguk setuju. Dokter itu segera melakukan pemeriksaan rutin untuk Rain.


"Apakah pusing Anda sudah hilang?” tanya dokter itu lagi pada Rain.


"Tidak menganggu lagi," kata Rain, sedikit masih tak nyaman namun sama sekali tidak menganggunya.


"Jika ada apa-apa, saya meminta izin untuk kembali memasukkan obat anti nyeri ke tubuh Anda," ujar dokter itu menanyakan inform consern terlebih dahulu, Rain hanya mengangguk mantap.


"Katakan padaku, dari CT-Scan terakhir, seberapa parah kerusakan yang di sebabkan oleh penghapusan itu?" tanya Rain, dia tahu dokter ini hanya tak ingin mengatakan sebenarnya, sorot matanya yang dari tadi tampak ragu dan cemas menandakan ada sesuatu yang dia tutup-tutupi.


Dokter itu terdiam, dia menatap ke arah Rain, tentu saja dia terlalu  bodoh berpikir dia bisa menutupi hal itu dari orang seperti Rain, pria ini tentu bisa membaca semua pikirannya hanya dengan cara melihat matanya.


"Mereka merusak cukup banyak saraf Anda, aku tak tahu bagaimana bisa mereka melakuannya, tapi itu terlihat jelas, semakin Anda memaksakan kerja otak Anda, maka semakin parah gejala yang akan muncul, satu lagi, jika benar penyakit keturunan itu sebegitu parahnya, aku takut dia mempercepat kerusakan di otak Anda," kata Dokter itu perlahan mencari kata-kata yang tempat memberitahukan keadaan sebenarnya untuk Rain.


"Apa yang akan aku alami?"


"Perdarahan pastinya, kehilangan kesadaran, kejang, bahkan koma, itu yang paling kita takutkan, jika memang penyakait keturunan Anda itu menyerang juga, maka yang paling parah …. " kata dokter itu tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Aku mengerti itu," ujar Rain sambil melihat ke sekeliling rumahnya, serasa memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


----***---

__ADS_1


"Lihatlah, dia sangat kelelahan," ujar Siena yang melihat Gio sudah tidur di strollernya, mainan baru bagi Gio pastinya, Gio tampak lelap karena seharian ini sudah dibawa jalan-jalan dan berbelanja begitu banyak hal yang dia inginkan, dia dibawa ke mall, dia bermain, bahkan makan makanan yang belum pernah dia makan sebelumnya, tak menyangka kehidupannya bisa berubah begitu pesatnya.


"Ya, dia kelelahan, kau membelikannya begitu banyak hal hingga dia tidak ingin tidur siang sama sekali, " ujar Bianca melirik ke Gio, Gwi yang di dorong oleh Yuri tampak masih segar, gadis kecil itu hanya dengan imutnya makan es krimnya.


"Mami, kita akan pulang?" tanya Gwi yang melirik ibunya yang sedang menatapnya.


"Ya, kita pulang, sudah malam, bukannya sudah cukup jalan-jalannya?" tanya Bianca yang melihat anaknya sangat lucu dengan baju pink yang baru dibelikan oleh Bibi Siena-nya, semakin memancarkan kecantikan dan kelucuan anaknya.


"Ya, benar, Gwi sudah lelah," katanya namun tetap memakan es krim yang sekarang sudah membuat sudut bibirnya cemong, es krimnya tertinggal di sana.


"Sini Mami usap," kata Bianca perlahan mengusap bibir anaknya dengan tisu basah, Gwi tersenyum manis tanda terima kasihnya.


"Terima kasih, Mami," kata Gwi, membuat Siena yang tadi mendorong Stroller Gio langsung mendekatinya dan mencubit pipi Gwi, untunglah empunya tak menolak, keinginan Siena akhirnya terkabul untuk mencubit pipi tembam itu.


"Oh, tidak, Bibi tidak akan membiarkan kalian pergi dari sini," kata Siena, bagaimanapun di sini mereka lebih aman.


Bianca hanya tersenyum sedikit, hari ini setelah bertahun-tahun, akhirnya Yuri bisa melihat Bianca menggunakan pakaian yang pantas, gaun sederhana namun terlihat begitu elegan dan mewah, tentu itu adalah pilihan dari Siena, seharian ini dia mengubah penampilan Bianca, dari seorang yang tampak menarik namun sederhana menjadi seorang nyonya besar yang bahkan membuat seorang pria hingga memutarkan kepalanya saat dia berjalan.


"Nona Siena, Mobil sudah siap," kata seorang pria seperti penjaga yang mendekati mereka, dari tadi mereka memang di jaga 4 orang penjaga.


"Oh, baiklah, sudah malam, ayo pulang," kata Siena, segera mendorong stroller Gio lagi, mereka segera masuk ke dalam mobil yang sedang menunggu mereka.

__ADS_1


Gio tampak kembali tertidur saat dia sudah di dudukan di car seat miliknya, sedangkan Gwi yang ada malah tak ingin duduk di car Seatnya, dia ingin dipangku oleh ibunya agar bisa melihat ke arah jendela, tak terbiasa duduk di tempat itu.


"Gwi senang tidak tinggal di sini? " tanya Siena menggoda keponakannya.


"Senang," kata Gwi dengan gayanya, tentu dia senang, dia bisa melihat kota yang sangat indah, rumahnya pun besar dan membuat Gwi bahkan bisa berlari dengan leluasa ke sana ke sini, apa yang dia inginkan dia bisa dapatkan seharian penuh ini, bahkan maminya tak bisa menolak pemberian dari Bibinya ini.


Gwi memandang Siena dengan sedikit dalam, dia memiringkan wajahnya menatap sosok bibi yang baru saja dia temui pagi ini, wajahnya sangat cantik, wanginya harum selalu bagaikan wangi bunga yang semerbak, Ibunya bilang bahwa dia adalah adik ayahnya, jadi apakah ayah Gwi setampan ini juga?


"Bibi, Bibi sangat cantik, apakah papi Gwi juga tampan?" tanya Gwi dengan suara polosnya, hal itu membuat Siena sedikit mengerutkan dahinya, menatap ke arah Bianca, Bianca hanya menggigit bibirnya, anak-anak tentu belum tahu tentang Rain adalah ayah kandung mereka.


"Ya, tentu anak manis, jika tidak kau tidak akan secantik ini, Gwi sangat mirip dengan papi Gwi, " kata Siena mencolek hidung mancung milik Gwi, seketika memancing tawa kecil anak itu, senang bahwa ayahnya ternyata tampan, tapi yang ada digambaran Gwi adalah paman tampan itu, pria paling tampan yang pernah dia temui.


"Bibi, kenapa Papi Gwi pergi ke surga?" tanya Gwi polos.


Siena diam, dia hanya membesarkan matanya sambil kembali melihat ke arah Bianca yang juga kaget gadis kecilnya ini langsung bertanya hal ini, padahal dia berpikir untuk mengatakan hal ini pada Siena setelah mereka sampai di rumah, Siena tentu kaget, Kakak angkatnya belum meninggal, jadi kenapa Gwi mengatakan hal itu?


"Aku akan menjelaskannya padamu, ini semua salah paham, Rain juga sudah tahu tentang ini," kata Bianca melihat ke arah Siena, Siena yang awalnya diam lalu mencoba tersenyum menatap ke arah kedua bola mata Gwi yang bagaikan dua mata boneka yang cantik.


"Papi Gwi belum pergi ke surga, Papi Gwi dan Gio hanya sedang sakit dan tak mengenali Gio dan Gwi, papi Gwi akan kembali secepatnya," kata Siena menjelaskan pada Gwi yang tampak mencerna perkataan dari bibinya, dia menatap ibunya seakan menuntut jawaban.


Bianca tentu tak bisa melarang Siena mengatakan hal itu karena sebenarnya itu memang terjadi, walaupun Bianca tak tahu apakah kali ini Rain benar-benar akan kembali atau bagaimana, tapi anak-anaknya harus tahu, ayah mereka masih hidup.

__ADS_1


"Maafkan Mami, mami salah, papi Gwi belum pergi ke surga," kata Bianca menjelaskan.


__ADS_2