Rain In The Winter

Rain In The Winter
96. Kau yang membuat dirinya.


__ADS_3

Bianca membuka pintu kamar Carel, melihat wanita yang tampak emosi apalagi setelah melihat dirinya.


"Kau! Berani-beraninya kau membawa anakku! Apa yang kau lakukan pada anakku!" Kata Lidia yang segera menuduh Bianca. Namun Bianca hanya mengerutkan dahinya, memandang Lidia yang kacau dengan wajah tenangnya, sorot mata tenang Bianca itu membuat Lidia sedikit gentar, Bianca belajar sorot mata itu dari suaminya, sorot mata itu lebih ampuh dari pada dia harus terpancing marah pada Lidia.


"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Lidia kembali mencoba menguasai keadaan, namun Bianca bergeming.


"Aku yang ingin bertanya seperti itu padamu, bagaimana seorang ibu meninggalkan anaknya sendirian dari tadi malam hingga tak tahu keadaan anaknya?" Ucap Bianca datar, terkesan angkuh apalagi Bianca melipat kedua tangannya di depan dadanya, menandakan sikap bertahannya.


"Itu bukan urusanmu, kau apakan anakku?" Kata Lidia lagi.


"Itu memang bukan urusanku, itu urusanmu, jika kau sudah berani untuk mengandung dan melahirkan anak dari pria yang kau curi bibitnya hanya untuk mendapatkan dirinya, seharusnya kau berani untuk bertanggungjawab menjaganya, kemana kau saat dia membutuhkanmu?" Kata Bianca, baginya orang tua tak bertanggung jawab seperti ini sangat menjijikkan, dia yang ingin Carel lahir, namun dia yang menelantarkannya.


"Berani-benarinya kau!" Kata Lidia melayangkan tangannya hendak ingin menampar pipi Bianca, namun Bianca dengan sigap menangkap tangan Lidia itu, Lidia kaget, dibalik tubuh ringkih dan kurus wanita ini, dia punya keberanian yang cukup menggentarkan hati Lidia.


"Bahkan bagiku kau sangat menjijikkan hingga tak pantas hanya untuk menamparku," ujar Bianca meremas tangan Lidia, dia sangat kesal, membayangkan Carel pasti sangat menderita semalaman, sendirian, berharap kasih sayang ibunya, namun ibunya entah pergi kemana.


"Kau! Lepaskan!" Kata Lidia ingin melepaskan dirinya namun cukup ditahan oleh Bianca walaupun akhirnya genggaman Bianca terlepas juga.


"Apa yang terjadi di sini?" Suara berat, dingin, dan datar itu bergema, membuat semua pandangan ke arahnya, tentu siapa lagi yang memiliki itu semua.


Rain berjalan mendekati mereka, Bianca memandang suaminya yang berwajah datar dan dingin, Rain sedikit melirik dirinya sebelum pandangannya ke arah Lidia, seolah mengatakan bahwa saat ini biar dia yang mengambil alih, Bianca diam.


"Kakak! Dia melakukan sesuatu pada Carel, dia pasti melakukan sesuatu hingga Carel jatuh sakit, padahal Carel dari bayi tak pernah sakit, dia ingin melenyapkan Carel karena dia takut Carel akan membuat dirimu berpaling," ujar Lidia langsung dengan nada cemas dan manjanya menyampaikan fitnah kejamnya, dia mendekati Rain yang hanya diam mendengarkan apa perkataannya, Rain melirik ke arah Bianca, lirikannya tajam membuat Bianca mengerutkan dahinya.


"Tidak, semua itu fitnah," ujar Bianca yang merasa tatapan Rain kenapa begitu tajam padanya.

__ADS_1


"Tidak! Pasti seperti itu, dia mengambil kesempatan saat aku harus mengurus sesuatu, kakak, dia mencelakakan anak kita," ujar Lidia yang merasa yakin Rain sudah terpancing.


Rain hanya diam, dia tak merespon atau menjawab apapun, bahkan dia tak menjawab kata-kata Bianca.


Rain lalu berjalan, membuka pintu kamar Carel, Lidia segera ingin masuk, tentu menyempatkan diri menghalau Bianca untuk masuk.


"Kau jangan masuk, dia anak kami berdua, jangan pernah mendekatinya lagi," ujar Lidia mengancam Bianca yang juga hendak masuk ke dalam.


Bianca tentu merasa tersudutkan, Rain sama sekali tak membantunya dan Lidia terus memojokkannya, ada apa ini sebenarnya.


Namun di tengah kebingungan dan keterkejutan Bianca, Rain malah menarik tangannya ingin membawa Bianca masuk bersamanya.


"Jika dia tak masuk, maka aku juga tak akan masuk," tegas Rain. Sebenarnya Rain bertindak seperti itu hanya karena dia s iniedikit kesal dengan Bianca yang lagi-lagi bertemu dengan Lidia padahal dia sudah melarang siapapun mengizinkan Bianca bertemu dengan Lidia, untung saja saat dia datang, dia melihat Bianca bisa menjaga dirinya, jika tadi Bianca terkena tamparan dari Lidia, dia bisa menampar Wanita ini lebih dari yang dia lakukan terhadap Bianca.


Rain tak menunggu jawaban Lidia yang langsung bertampang kesal, Rain segera masuk bersama dengan Bianca.


"Ma …" suara lirih pelan itu terdengar, cukup jelas di dengar siapapun.


Bianca mendengar itu segera melepaskan dirinya dari genggaman tangan Rain, kembali ke posisinya duduk di samping ranjang Carel, memegang tangannya yang kecil, Carel meresponnya dengan genggaman kuat tangannya. Rain memperhatikan itu semua.


Lidia yang mendengar dan melihat itu mengerutkan dahinya. Kenapa bisa anaknya memanggil Bianca 'Ma'.


"Mama di sini," ujar Bianca yang menaikkan amarah dari Lidia.


"Lepaskan tanganmu dari anakku!" Suara Lidia meninggi, membuat Bianca kaget, bagaimana Lidia bisa marah di saat anaknya yang sakit dan dirawat ada di depannya.

__ADS_1


"Lepaskan kataku!" Lidia segera melepaskan dengan kasar dan paksa pautan tangan Bianca dan Carel, dia juga mendorong Bianca membuat Bianca ingin terjatuh untung saja Rain segera bertindak hingga Bianca tak terjatuh.


"Lidia! Apa yang kau lakukan?" Tanya Rain yang tak terima Bianca dilakukan seperti itu.


"Jangan menyentuh anakku, dia bukan siapa-siapa, aku ibunya," kata Lidia.


"Jika kau ibunya, kemana kau pergi tadi malam meninggalkan anakmu sendiri di rumah tanpa pengawasan hingga kau tak tahu bagaimana keadaan anakmu?" Tanya Rain langsung ke arah Lidia yang langsung membuat Lidia kaget, dia kira Rain tak tahu tentang itu karena tadi Rain bersikap seolah-olah dia marah dengan Bianca dan membela Lidia, namun ternyata dia tahu.


"Aku harus mengurus sesuatu," kata Lidia.


"Aku penasaran dengan urusan yang lebih penting dari anak bagi seorang ibu," ujar Rain lagi. Bianca mencoba menenangkan suaminya, dia tahu tak baik bertengkar di depan anak apalagi Carel sekarang sedang sakit.


Melihat Bianca yang sedang mencoba menenangkannya, Rain akhirnya sadar, dia lalu mengenggam tangan Bianca.


"Kita pergi saja dari sini," kata Rain yang tak ingin lepas kendali lagi. Mendengar itu Lidia membesarkan matanya, kenapa bisa Rain meninggalkan dirinya dan anaknya.


"Kakak! Bagaimana kau bisa begitu tega meninggalkan aku dan Carel, dia sedang sakit, dia anakmu," ujar Lidia mencoba menghentikan langkah Rain yang hampir membuka pintu kamar itu. Nyatanya hal itu berhasil membuat Rain berhenti.


"Aku tahu hasil tes DNA itu belum keluar, tapi aku yakin dan tak ingin membuatmu menyesal, Carel adalah anak kita," ujar Lidia lagi, kali ini suaranya memelas, mencoba memancing sisi simpati Rain. Rain mengepalkan tangannya, Bianca menatap wajah marah suaminya.


"Dari awal kaulah yang membuat dia hadir di dunia ini, aku bahkan tak pernah menginginkannya, jika terjadi sesuatu padanya, itu adalah kesalahanmu, kau bahkan sama sekali tidak berhak meminta pertanggungjawaban dariku, kau yang membuatnya, maka kau yang harus menanggungnya, jangan usik aku ataupun keluargaku," ujar Rain langsung yang membuat bukan hanya Lidia yang kaget dengan kata-kata Rain, bahkan Bianca juga.


"Jika kau ingin aku bertanggung jawab padanya, aku akan melakukannya karena aku masih memikirkan bahwa anak ini lahir tanpa dosa dan bukan dia yang menginginkan terlahir seperti ini, tapi aku hanya bertanggung jawab padanya, jika benar dia anakku, aku menerimanya, tapi aku tak akan pernah menerimamu, kita tak punya hubungan apapun, satu lagi, Bianca adalah istriku, jika kau memintaku untuk memilih Carel dan Bianca, aku akan memilih Bianca, karena dia adalah pilihan ku dan juga tanggung jawabku seutuhnya,camkan itu," ujar Rain sambil menunjuk wajah Lidia, dia sudah sangat kesal dengan semua hal ini, dia memang punya perasaan dengan Carel namun bagaimana pun dia tak pernah menyangka apalagi mengharapkan kelahiran dari Carel, semua ini adalah ulah Lidia, dia sangat kesal tiba-tiba harus menanggung semua ini. Rain sudah mencoba untuk menahan dirinya, namun Lidia benar-benar mendorongnya ke batas pertahannya hingga kata-kata itu keluar tanpa melihat kondisi.


Bianca tentu kaget mendengarnya tapi dia tak ingin Rain berkata lebih lanjut, tak tahu apakah Carel bisa mendengar kata-kata ayahnya ini atau tidak, dia berdoa semoga saja tidak, karena itu Bianca segera menarik tangan Rain, membuat Rain kembali sadar dengan posisinya.

__ADS_1


"Kita pergi," kali ini lembut Bianca mengatakannya, Rain mengangguk dan segera melangkah pergi dari sana meninggalkan Lidia yang hanya bisa diam.


Ternyata dengan semua pengorbanannya, semua hal yang dia lakukan bahkan rela menjaga anak Rain, dia tak bisa mendapatkan hati Rain. Kalau begitu, jika dia tak bisa mendapatkannya, maka tak akan boleh ada yang bisa. Pikir Lidia sambil mengepalkan tangannya.


__ADS_2