Rain In The Winter

Rain In The Winter
168.


__ADS_3

"Lihat, baru begitu saja kau sudah panik, jika kau tahu apa yang sudah aku rencanakan untuk mengantarmu ke alam baka, kau pasti akan menangis berlutut padaku," ujar Rain yang menikmati teriakan Lidia, seolah itu adalah bayaran 4 tahun yang terbuang hanya karena wanita sial ini.


"Kau! Kau ingin apa? Mencambuk ku lagi seperti dulu? Lakukan aku sudah tahu rasanya! pria hina!" ujar Lidia dengan tatapan tajam menusuk seolah dia akan bisa menahan segala yang diberikan oleh Rain nantinya.


"Kau kira aku akan melakukan hal itu, itu hanya hukuman yang sangat rendah, apa yang kau lakukan padaku dan keluargaku sangat tak pantas, bahkan membunuhmu dengan peluru bersarang di kepalamu saja itu adalah hukuman sangat ringan, kau akan mati dengan cepat tanpa merasakan penderitaannya," ujar Rain, menarik kembali rokoknya, menghembuskan asapnya jauh ke atas, dia lalu melirik Lidia dengan senyuman sinis.


"Lalu kau mau apa? Kalau mau membunuhku lakukan saja! Kau pria brengs3k! Jika tahu begini aku akan membiarkan mu mati di alat itu! ku biarkan alat itu menghancurkan otakmu!" histeris Lidia bagai kesetanan.


"Aku ingin mendengarkan teriakkan mu, aku ingin kau bisa merasakan sakit yang amat sangat hingga kau memohon untuk di bunuh secepatnya!" Kata Rain dengan sangat penuh amarah.


"Lakukan jika kau mau! Ingat Rain, aku tak akan membiarkan kau senang! Bahkan di alam sana aku akan menuntut balas padamu! Lakukan!" Teriak Lidia menggema bagaikan teriakan kebencian yang sangat.


"Baiklah kau yang meminta ini untuk cepat dilakukan," kata Rain, dia melirik ke arah penjaga tempat itu. "Lepaskan!" Kata Rain memerintah.


Lidia yang mendengar itu membesarkan matanya, mendengar langkah mendekati tempatnya perlahan, suara Geraman yang bahkan bisa membuat bulu kuduk berdiri terdengar keras, Lidia menatap ke arah Rain yang santai, dia bahkan sudah duduk, seolah ingin menyaksikan pemandangan seru ini.

__ADS_1


"Rain! Apa yang kau lakukan?" Kata Lidia panik, suara Geraman itu berubah Auman yang sangat keras, Lidia menatap ke arah lorong tempat suara itu terdengar.


"Tinggal menekan satu tombol dan hewan yang ada di balik pintu itu akan mencabik tubuhmu, percayalah, mereka sudah tak diberi makan 3 hari ini, melihat dirimu pasti mereka tak segan mencabik dirimu," ujar Rain tenang.


"Kau Gila Rain!" Kata Lidia gemetar, suaranya pun tak selantang tadi.


"Ya, kau yang sudah merusak otakku hingga aku tak bisa lagi merasakan belas kasihan," kata Rain, "jangan pura-pura lupa apa yang sudah lakukan padaku, saat melakukan itu, apa kau tak berpikir aku bisa segila ini nanti?"


"Rain! Lepaskan aku! Aku minta maaf! Aku akan pergi, aku janji tak akan pernah melakukan apapun lagi pada kalian, sampai mati aku tak akan menunjukkan diriku, bahkan bayanganku pun tak akan mendekati kalian, Kakak! Demi masa lalu kita, kau ingat kan bagaimana dulu kita tumbuh bersama," kata Lidia memohon, suara eraman dan goresan cakar di balik pintu besi itu terdengar sangat menakutkan.


"Sial sekali aku hanya mengingat hal itu, dan sial bagimu aku jadi ingat bagaimana sifatmu yang selalu melakukan segala hal untuk mendapatkan apa yang kau mau, aku juga tahu kau adalah wanita yang terbiasa ingkar janji, jadi maaf aku tak bisa mengambil resikonya," kata Rain tenang.


"Maaf Lidia, saat kau menghapus memori ku, kau juga menghapus simpatiku, lakukan sekarang, aku mual mendengarnya," kata Rain lagi dengan sinis, bahkan penjaga itu tampak kaget, dia kira ini hanya gertakan oleh Rain tapi ternyata bosnya ini bersungguh-sungguh.


"Rain!!!" Teriak Lidia keras sekali.

__ADS_1


Penjaga itu dengan gemetar membuka pintu baja di kedua sisinya.


Lidia menatap dengan ngeri ke arah kedua terowongan yang terbuka, dengan pencahayaan yang remang dia bisa melihat wajah begis kedua singa jantan dengan mata kuning tajam mengintai siap menerkam dan menerjang, gigi tajam yang sangat besar terlihat, tubuhnya bahkan lebih besar dari tubuh Lidia, dua singa dari kanan dan kiri Lidia tampak sangat bernafsu untuk menyerangnya, Lidia tak bisa lagi mengatakan apa-apa membayangkan gigi-gigi tajam itu mencabiknya sudah membuatnya lemas tak bersuara, nasibnya sudah pasti habis sekarang, Suara Auman dan juga suara erangan itu terdengar sampai menggetarkan tempat itu.


Dengan jeritan panjang yang menyayat bagaikan merasakan sakit yang sangat terdengar menggema saat Singa-singa itu mulai mencakar, menggigit, mencabik tubuh Lidia yang masih sadar dan tak bisa apa-apa ketika mereka mulai mengoyak tubuhnya.


Antony yang ada di sana saja tak sanggup melihat hal itu, pemandangan ini lebih parah dari pada pembunuhan dengan pisau ataupun pistol, Antony bahkan melihat satu kaki Lidia yang sudah tercabik lepas dari tubuhnya, namun Lidia masih menjerit menyaksikan tubuhnya terpisah darinya dan di makan oleh singa, bau anyir dan genangan darah sudah bagaikan air mengalir, benar-benar kacau melihatnya.


Rain hanya memastikan singa itu menyerang Lidia setelah itu dia berdiri dan pergi diiringi suara jeritan dan rintihan Lidia yang memekakkan telinga.


"Pastikan tak ada yang tersisa dari dirinya," kata Rain pada petugas yang tadi, dia melemparkan puntung rokoknya sambil berjalan pergi, Antony mengikutinya, hampir mual melihat hal ini, sedangkan penjaga itu kaku hingga gemetar, dia tak tahan namun jika dia tak melakukan tugasnya bisa-bisa dia yang menggantikan tempat Lidia.


Rain segera masuk ke dalam mobilnya, di atas sini bagaikan tak ada apapun terjadi, suara jeritan pun tak terdengar sama sekali, Rain menatap ke arah lebatnya pepohonan di tengah hutan itu, tempat masuknya tadi juga cuma seperti gua, Rain melirik ke arah Antony yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.


"Tinggal 1 lagi," kata Rain dingin, Antony saja bergidik ngeri, tak membayangkan Tuannya bisa begitu parah menyiksa orang-orang yang dia tak suka, tak menyangka di balik jiwanya yang dingin, ada sifat psikopat yang tersembunyi, bagi Rain ini memang ada dalam dirinya, hanya saja salah Lidia untuk membangunkan iblis dalam dirinya.

__ADS_1


"Tuan, anda tak akan menyiksa Bram seperti itu bukan?" Ujar Antony sebenarnya benar-benar mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Rain, walaupun Bram sudah bertindak mengkhianati mereka, tapi siksaan sepeti itu sepertinya terlalu berat untuk sikapnya, padahal dia hanya ingin menjaga Bianca dan anak-anaknya.


"Tenang, aku akan masih punya akal sehat untuk dirinya," ujar Rain, Antony sedikit bernapas lega walaupun masih ada pikiran apa yang akan dilakukan oleh Rain, Antony jadi khawatir kalau begini, tapi dia juga tak bisa melakukan apapun lagi. Semoga Tuannya benar-benar masih punya akal sehat untuk Bram.


__ADS_2