Rain In The Winter

Rain In The Winter
22.


__ADS_3

...Aku selalu iri bila melihat burung di angkasa....


...Mereka terbang dengan bebas dan leluasa....


...Aku berharap aku pun punya kesempatan serupa....


...Melihat bagaimana bebasnya rupa dunia....


_______________________________________________


"Baiklah, aku mengerti," kata Drake yang mengangguk kecil.


"Baiklah, aku rasa sampai di sini pertemuan kita, aku masih punya bebarapa hal yang aku harus urus dulu, jadi, sampai jumpa lagi Tuan Drake," kata Siena berdiri dia lalu segera memberikan senyuman hangat perpisahan untuk Drake.


Drake berdiri, dia hanya membalasnya dengan sedikit anggukan kepala, Siena meliriknya sambil berlalu meninggalkan pria itu, meninggalkan wangi lembut nan manis yang membuat Drake langsung mabuk kepayang, apa lagi melihat lenggak lenggok dari Siena yang meninggalkanya.


Melihat pertemuan tuannya dengan wanita itu selesai, Ben segera mendekati Tuannya yang masih saja mengikuti kemana Siena pergi, bahkan hingga Siena tak tampak lagi, pria itu masih memandanginya terus menerus.


"Aku mau kau mencari semua tentang wanita itu," kata Drake baru memandang Ben saat Ben sudah ada di depannya.


"Baik Tuan," kata Ben.


"Kita pulang sekarang, ada yang harus aku lakukan," kata Drake lagi segera berjalan ke arah luar restoran itu.


Drake segera keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya, dia melewati ruang demi ruang rumahnya yang megah bak istana itu, dia lalu melihat pelayan utama rumahnya yang segera menyambutnya.


"Dimana Bianca?" tanya Drake.

__ADS_1


"Seperti yang ada inginkan, Nona Bianca masih ada di ruang tahanan di basemen, apa perlu kami membawa Nona Bianca kemari?" tanya kepala pelayan itu.


"Tidak perlu, biarkan saja dia, aku ingin kalian tidak memberikannya apapun, makanan maupun minuman," kata Drake melirik pelayannya dan segera setelah itu dia meninggalkannya begitu saja.


---***---


Bianca memeluk dirinya sendiri di lantai dingin tempat itu, entah sudah berapa banyak dia menangis, bahkan sekarang dia sudah tak sanggup lagi menangis, saat dia sadar dia sudah ada di dalam ruangan bagai penjara ini, tempatnya gelap dan pengap, dia terus berteriak ingin bertemu dengan ibunya, namun tak satu orang pun mengubrisnya.


Suaranya sudah sangat serak akibat terlalu banyak berteriak, meraung dan menangis, matanya lelah, tubuhnya pun lelah, dia hanya bisa terduduk di ujung penjara bawah tanah itu.


Bianca tak tahu sudah berapa lama dia ada di ruang penjara itu, yang pasti tubuhnya sudah begitu lemah, tak ada satu orang pun yang datang, bahkan memberikannya setetes air pun tak ada, awalnya dia merasa perutnya perih karena menahan lapar, namun sekarang dia bahkkan tidak bisa merasakan apapun lagi, suasananya remang dan berdebu, Bianca jadi ingat dengan terowongan yang pernah dia lewati bersama Rain.


Bianca membuka matanya lemah saat dia mendengar pintu ruangan itu seperti dibuka, dia melirik ke arah pintu itu, seseorang memberikannya secangkir minuman, lalu segera setelah itu meninggalkannya begitu saja.


Bianca mencoba bangkit, namun tubuh ringkihnya terlalu lemah bahkan untuk berdiri, Bianca mencoba untuk meraih secangkir minuman itu, dia ingin sekali sekedar membasahi tenggorokannya, dengan merangkak perlahan akhirnya dia bisa juga meggapainya.


Bianca melirik sejenak, pintu itu nyatanya tak tertutup sempurnah, entah mungkin karena terlalu lama tak mendapat asupan makanan atau karena memang harus berpikir, cukup lama Bianca memandangi celah pintu itu hingga akhirnya dia memutuskan untuk berdiri.


Tertatih dia berdiri, perlahan membuka pintu usang itu, melihat ke arah lorong basemen yang kosong, Bianca mengerutkan dahinya, apa ini hanya jebakan atau memang mereka ceroboh dan meninggalkan pintu ini sepeti ini saja.


Bianca memberanikan dirinya, dengan baju lusuh masih berlumuran darah ibunya yanga sudah menghitam dia keluar dari ruangan itu, baunya sudah tak terkira, karena terkurung telalu lama baunya sudah seperti kotoran yang busuk.


Bianca perlahan menaiki tangga menuju pintu untuk ke ruangan atas, Bianca mengerutkan dahinya, apakah ini memang hari keberuntungannya, lagi-lagi pintu itu tidak tertutup, dia lalu membukanya, perlahan melihat ruangan di dekat dapur yang sudah gelap gulita, ternyata ini sudah malam.


Bianca kembali berjalan dengan kakinya yang gemetar dan lemas, dia memasuki dapur rumah Drake yang luas, matanya mengedar, melihat jam dinding yang ada di sana, sudah pukul 2 pagi ternyata, pantas saja seluruh rumah ini sepi.


Mata Bianca sedikit berbinar melihat ke arah pintu kaca yang menuju taman belakang, dia segera berjalan secepat yang dia bisa, sialnya, pintu itu tertutup, namun Bianca mencoba untuk tak panik, mungkin kuncinya ada di sekitar sana.

__ADS_1


Bianca mengedarkan matanya, perlahan membuka beberapa laci di dekat tempat itu, laci pertama dia tak menemukan apapun, di laci ke dua, juga, saat dia membuka laci ke tiga, dia mendengar suara benda jatuh.


Bianca terdiam, napasnya langsung tercekat, dia menahan napasnya dan menunggu apa yang akan datang padanya, namun setelah dia mendengarnya selanjutnya hanya hening, Bianca dengan perlahan kembali membuka laci lemari yang ketiga dengan tangannya yang gemetaran.


Dan dia menemukan beberapa kunci, dia langsung mengambilnya, berharap salah satu dari kunci itu adalah kunci untuk membuka pintu ruang belakang itu.


Bianca segera mengarah ke pintu belakang, mengambil salah satu kunci untuk di masukkan ke dalam lubangnya, mungkin karena memang gugup atau memang dia gemetar karena tak ada tenaga, tangannya bergetar begitu kuat hingga memasukkan kunci ke lubangnya itu terasa begitu menyusahkan.


Sialnya, itu bukan kunci yang tepat, Bianca mencabutnya, mencoba lagi, semakin lama dia mencoba semakin bergetar tangannya, bahkan dia hampir menjatuhkan kunci-kunci itu, untungnya dia bisa menangkapnya.


Bianca mencoba lagi, dia diam ketika mendengar suara Klik yang membuat jantungnya bahkan serasa berhenti berdetak, pintu itu akhirnya terbuka, Bianca dengan ragu mencoba untuk membuka pintu itu, takut ada alaram atau apapunlah, dan ternyata yang dia takutkan tidak terjadi.


Udara malam hari yang sangat menusuk menerpa kulitnya, namun Bianca tersenyum menyambutnya, sekian lama akhirnya dia bisa merasakan dinginnya angin malam kembali, dia tak mengambil waktu lama, segera berlari ke arah belakang dari rumah itu yang langsung mengarah ke pagar tua, untunglah Bianca pernah mendengar pagar belakang rumah ini rusak dan tak bisa terkunci, mudah-mudahan saja itu masih belum di perbaiki.


Bianca berlari secepat yang dia bisa, walaupun kakinya gemetar dan goyah, walaupun rasanya dia sudah ingin pingsan, dia tetap memaksakan dirinya, bagaimana pun ini adalah satu-satunya jalan dirinya keluar dari neraka dunia itu.


Sebenarnya lari Bianca itu terlihat pelan dan terseok, namun cuma itulah yang dia bisa, mungkin karena sudah tengah malam, dan keadaan hening juga dingin, tak ada penjagaan sama sekali, Bianca lalu segera memegang besi tua yang dinginnya menyengat tangannya, mendorongnya dengan kekuatan yang tersisa, benar saja pintu itu terbuka dengan mudahnya.


Bianca melirik ke belakang, dengan napasnya yang beruap karena udara dingin menusuk, dia segera keluar, tak lagi bisa merasakan atau memang tak peduli dengan apa yang dia injak, kerikil tajam, ranting kecil, bahkan duri sudah tak lagi dia rasakan, yang penting dia harus pergi sejauh mungkin dari sana.


"Tuan, Nona Bianca berhasil keluar," kata Ben yang memperhatikan semuanya dari CCTV bersama Drake.


"Maka biarkan dia lari semampunya, kita akan lihat nanti," ujar Drake yang berdiri dari tempat duduknya, melihat Bianca yang hilang di hutan belakang rumahnya. Dia hanya ingin lihat, sejauh mana wanita itu bisa berlari, apakah benar bisa selamat atau malah mati dingin di hutan itu, tak akan menjadi rugi baginya bila salah satu dari kedua kemungkinan itu terjadi pada Bianca. Drake lalu meninggalkan tempat itu kembali ke kamarnya yang hangat dan beristirahat.


___________________________________________________


Yes, kita lanjut esok hari ya kak, hahaha

__ADS_1


__ADS_2