
"Kau tidak malu untuk datang ke sini pagi-pagi buta dan membuat keonaran hingga Nona muda terbangun? " ujar Yuri segera dengan wajahnya yang kesal, siapa yang berani menganggu ketenganan rumah ini akan berhadapan langsung dengannya, bahkan Bram sekalipun.
"Kau tahu kemana Nyonya kemarin pergi? dia bersama seorang pria," kata Bram pada Yuri.
"Lalu apa salahnya? Nyonya adalah wanita lajang, lagi pula itu salahmu, bukannya sudah aku katakan untuk mengatakan perasaanmu pada Nyonya? Tapi kau hanya diam saja, Nyonya juga punya hak untuk bisa bahagia, mungkin pria ini lebih jantan dari dirimu untuk menyatakan perasaannya, lalu kenapa kau harus marah begitu padanya? " cerocos Yuri dengan gayanya yang telihat tak takut sama sekali dengan Bram, geram pagi-pagi begini Bram melakukan hal seperti ini, walaupun Yuri tahu Bram pastinya sangat sakit hati melihat Nyonya dengan pria lain tapi bukan begini caranya, lagi pula dia yang salah, siapa pun wanitanya jika tidak mendapatkan kepastian pastinya akan lelah untuk menunggu.
Bram hanya bisa diam mendengarkan rentetan kata-kata dari Yuri itu, dia menggigit bibirnya, apa yang dikatakan oleh Yuri benar adanya, dia yang terlalu bodoh 3 tahun ini bahkan tak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya pada Bianca.
"Bukannya kau yang selalu mengatakannya, bahwa dia adalah Nyonya dan sedangkan kau hanya seorang bawahan, walaupun aku tahu nyonya tak pernah menganggap kita seperti itu, tapi kau sendiri yang mengatakannya kan? Karena itu tak ada hakmu untuk marah padanya jika dia memiliki seorang pria, lain kali jika punya perasaan dengan seorang wanita, katakanlah dengan sebenarnya, jangan menjadi pria pengecut yang bahkan menyerah sebelum tahu jawabannya, pulanglah, jangan sampai Tuan dan Nona muda terbangun hanya karena ulah konyolmu," ujar Yuri memecah keheningan malam dan langsung menusuk tepat di jantung Bram, membuatnya sesak untuk bernapas di udara malam yang lembab dan juga dingin ini, tatapan Yuri yang tajam itu pun menusuk sanubarinya, selama bersama dengan wanita ini, baru kali ini dia melihat Yuri bisa begitu pedas mengucapkan kata-kata, biasanya wanita ini hanya wanita pendiam yang hanya berbicara seperlunya saja padanya.
Yuri menyipitkan matanya mencoba membuat tatapannya semakin tajam, tanpa menunggu jawaban dari Bram, Yuri segera membalik tubuhnya, membuka pintu lalu menutup pintu itu. Bram terdiam cukup lama di sana hanya melihat pintu usang itu di sana, rasanya dia baru saja dapat tamparan keras dari Yuri, benar, selama ini dia yang bodoh, 3 tahun kesempatannya untuk memberitahukan perasaannya pada Bianca, namun disia-siakan olehnya.
---***---
Bianca yang mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Yuri pada Bram dari kamarnya sambil mencoba kembali menidurkan Gwi dan dia hanya bisa diam, dia menggigit bibirnya, pasti rasanya sangat sakit, Bianca tahu rasanya kehilangan seseorang yang dia cintainya, karena itu dia juga tahu bagaimana perasaan Bram sekarang, namun apa yang bisa Bianca lakukan, dia tak mungkin memberikan kesempatan walau sekecil apapun pada pria itu, hal itu akan membuat dia dan Bram makin terpuruk dengan hubungan yang nantinya akan disesali mereka berdua, lagi pula Rain pasti bisa membunuh mereka berdua jika Bianca malah memilih Bram.
__ADS_1
Suara ponsel bergetar terdengar membuat Bianca kaget, dia segera menyambarnya tak ingin membuat Gwi terbangun lagi karena baru saja anak perempuannya itu tertidur kembali di pelukannya. Bianca melihat nomor yang sama yang digunakan oleh Rain meneleponnya, pria ini juga tak tidur?
"Halo?" sapa Bianca.
"Kau sudah mengikuti apa yang aku katakan?" tanya Rain tanpa basa-basi sama sekali.
"Ya, sudah," kata Bianca menurunkan suaranya.
"Kenapa? tidak suka membuat pria itu patah hati?" tanya Rain yang menangkap nada suara Bianca yang turun.
"Biasakanlah, mungkin kau akan sering melakukannya untuk pria lain, karena kau tak bisa kabur lagi dariku," ujar Rain, Bianca mengerutkan dahinya, gombalan apa ini?
"Kau tidak tidur?" tanya Bianca mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, tidurlah, besok akan ku hubungi," kata Rain, tanpa mengatakan salam perpisahan dia langsung saja memutuskan panggilan itu, membuat Bianca mengerutkan dahinya, sedikit kesal dengan perlakuan rain yang seperti ini, seenaknya saja.
__ADS_1
Bianca segera merebahkan dirinya kembali setelah meletakkan ponselnya, dia melihat kedua anaknya yang tidur bak malaikat, sangat lucu melihat keduanya, Bianca menggigit bibirnya, dia tak mungkin menyembunyikan mereka terus menerus lagi pula Rain adalah ayah mereka, apakah Rain akan marah jika tahu selama ini Bianca menyembunyikan mereka? Tapi kapan waktu yang tepat Bianca memberitahukannya pada Rain? Amankah hal itu? Bianca masih punya rasa takut untuk mengakui keberadaan mereka pada Rain, takut diantara orang-orang itu ada yang membelot dan akhirnya mencelakakan anak-anaknya, Bianca tak masalah jika dia jadi saasaran dari Lidia, namun dia tak akan bisa hidup jika nantinya Lidia malah menyerang anak-anaknya, Bianca jadi resah memikirkannya, membuatnya tidak bisa tidur kembali hingga pagi menyingsing.
Rain menutup teleponnya, diantara dinginnya pagi dia melihat pintu rumah itu tertutup, baru saja dia melihat drama pertengkaran, dia tak menyangka penjaga yang dia berikan dulu untuk Bianca ternyata sangat royal melakukan tugasnya, dia senang melihat Bram dimarahi oleh Yuri tadi, jika itu Bianca, pasti wanita itu tak akan bisa melakukannya sebaik itu.
"Pastikan dia kembali ke kapalnya dan berlayar," kata Rain membuang batang rokok yang masih setengah, lalu dia segera masuk ke dalam mobilnya, Antony mengangguk perlahan seolah mengiyakan apa yang dikatakan oleh Rain, Lalu dia mengikuti tuannya untuk masuk ke dalam mobil.
"Semua keperluanku sudah selesai? " tanya Rain lagi pada Antony saat mobil mulai berjalan.
"Sudah Tuan, semuanya sudah selesai, Video itu juga sudah dikirimkan, kita tinggal menunggu waktu untuk mereka merespon, mungkin esok atau lusa, kita sudah tahu bagaimana mereka meresponnya," kata Antony, semalaman ini dia dan Rio bekerja dengan keras, tak semenit pun mereka habiskan untuk beristirahat, sebuah resiko yang memang selalu ada jika mereka bekerja dengan Rain, Pria ini tahan bahkan tidak tidur semalaman.
"Ya, aku harap mereka segera meresponnya sesuai dengan apa yang kita rencanakan, ketatkan penjagaan di sini sampai hari penjemputan datang, aku minta kau bekerja sama dengan wilayah militer yang lain, usahakan semuanya tidak berhubungan dengan wilayah militer kalian," kata Rain lagi melihat ke arah jendela yang masih gelap.
"Siap Tuan," kata Rain.
Rain hanya diam, sepertinya memang harus seperti ini, sekarang dia harus menghadapi langsung dengan semua ancaman yang sudah merusak hidupnya, dia harus menghabisi semuanya.
__ADS_1