
"Aku baru saja sampai, begitu mendengar kabar dari kakak, aku dan Ken segera kemari, dia tadinya ada di sini, tapi sekarang dia langsung ke tempat Luke untuk mencari kakak," kata Siena menuangkan segelas air hangat untuk Bianca yang memang di sediakan oleh Yuri di sana.
"Tapi kata Rain bukannya kalian akan menikah? Minggu depan bukan?" Tanya Bianca.
"Sepertinya kami harus mengundurkan tanggalnya, tak masalah kami belum menyebarkan undangannya, lagipula mana bisa kami berpesta saat kakak belum juga ditemukan," ujar Siena, menyerahkan air hangat itu.
"Terima kasih," ujar Bianca, meminum sedikit air hangat yang meredam gejolak di perutnya, tak menyangka ngidam ini seperti ini, seluruh tubuhnya lemas tak ada tenaga dan semuanya serba salah, tak tahu persis juga apakah memang begini ataukah lebih berat padanya karena dia juga sedang ada masalah.
"Nyonya makanannya," ujar Yuri, membawa bubur, sup, dan juga beberapa lauk yang sebenarnya sangat menyelerakan, khusus dibuat oleh Chef agar mengurangi mualnya.
Bianca awalnya enggan, sudah berapa kali dia coba untuk makan hari ini, tapi baru beberapa suap dia harus menguras semua isi perutnya kembali, tapi kalau dia tak makan sekarang, kasihan bayinya, karena itu terpaksa dia makan perlahan.
Siena dan Yuri hanya melihat Bianca memakan makanannya dengan pelan, sesuap, dua suap, akhirnya masuk juga dalam perutnya, melihat hal itu Yuri cukup bahagia, akhirnya ada juga yang bisa masuk ke dalam perut Bianca.
Namun baru saja merasa senang, tiba-tiba Bianca merasakan mual yang amat sangat, padahal sudah dibuat sedemikian rupa agar makanan itu mengurangi mual tapi Bianca tetap saja merasa sangat mual.
Dengan cepat dia memindahkan meja kecil itu, bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan kembali menguras seluruh makanan yang baru saja dia telan. Siena dan Yuri yang mendengar Bianca muntah hanya bisa diam dan cemas.
"Kakak, kau baik-baik saja?" Tanya Siena.
"Ya, jangan masuk, aku akan segera keluar," ujar Bianca, tak lama terdengar lagi suara Bianca yang sedang muntah, membuat Siena mengerutkan dahinya, apakah nanti dia juga begini? Kenapa begitu tersiksa?
Yuri yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala, tak tahu harus apa yang dibuatkan untuk Bianca agar dia berhenti muntah.
---***---
Ken akhirnya sampai juga, dengan perahu Speedboat dia mendekati kapal induk pencarian untuk Tuannya, Luke segera menyambutnya, tak ada senyuman hangat yang ada hanya wajah lelah nan datar, Ken yakin teman seperjuangannya ini sudah tak istirahat beberapa lama.
"Bagaimana?" Tanya Ken.
"Nihil, mereka tak menemukan apa pun, bagaimana bisa Pilot itu ditemukan namun Tuan tidak," ujar Luke tak habis pikir.
"Hanya ada beberapa kemungkinan, Tuan terseret arus, Tuan telah dimangsa, atau Tuan memang sudah tak ada di laut ini," ujar Ken lagi menatap lautan tenang itu.
"Malam kejadian memang ada hujan namun kepala pencarian juga mengatakan tak akan terlalu jauh ombak membawa tubuh Tuan, Ada beberapa ikan hiu, tapi aku rasa tak mungkin mereka menyisakan hanya pilot saja yang utuh bukan? Kenapa harus menghabiskan Tuan, namun tidak menyentuh tubuh Pilot sama sekali," ujar Luke.
__ADS_1
"Kalau begitu ada kemungkinan bahwa Tuan sudah tak ada di laut ini lagi, " kata Ken tampak serius memandang ujung lautan yang datar, lautan di sini sangat bersahabat.
"Apa maksudmu?" Tanya Luke.
"Berapa lama kau mendapatkan kabar tentang kecelakaan Tuan setalah kecelakaan terjadi?" Tanya Ken menyipitkan matanya.
"Kurang lebih 30 menit," ujar Luke melihat Ken yang tampak serius menatap ke arah peta memperhatikan tempat kejadian kecelakaan.
"Itu cukup jika ada seseorang yang ingin mendapatkannya, Tuan punya puluhan orang yang menjaganya jika dia ada di darat, tapi jika di udara, tak ada yang bisa menjaganya," kata Ken menyimpulkan, otaknya mulai bekerja.
"Maksudmu? Ada yang sengaja melakukan ini hanya untuk mendapatkan Tuan?" Tanya Luke, dia memang kurang mengerti tentang hal ini karena dia memang hanya ahli dalam perusahaan.
"Drake? Dimana dia?" Tanya Ken menatap Luke dengan tajam.
"Setauku dia tak di negara ini, Nona Lidia pun begitu, terakhir kali Nona Lidia sepertinya begitu marah dengan Tuan karena memilih Nyonya, apa mungkin Nona Lidia melakukan hal ini?" Tanya Luke lagi
"Mungkin saja, jika Drake dan Lidia bersatu," kata Ken dengan mata tajamnya, Luke tampak sedikit kaget namun juga cemas.
Ken segera mengambil ponsel satelitnya, menelepon seseorang dengan segera.
Tak menunggu jawaban dia mematikan ponselnya, Luke hanya mengerutkan dahinya.
"Lakukan pencarian kembali, aku akan mencarinya di daratan," ujar Ken segera, dia kembali turun ke Speedboat yang masih menunggunya.
Luke ingin mencegahnya, baru saja dia datang malah pergi lagi, padahal Luke butuh teman di atas kapal ini, dia mulai gila mencari Tuannya di sini.
---***---
"Apakah sudah bisa dimulai?" Tanya Lidia melihat tubuh Rain yang ada di atas ranjang percobaan itu, sebuah alat mirip dengan alat pemindai otak ada di atasnya, dokter sengaja memberikannya sebuah suntikan penenang agar dia tak bisa bangun saat percobaan ini.
"Jangan terlalu tergesa-gesa, kita harus memperhatikan segalanya," ujar dokter itu dengan seksama memasukkan data-data.
"Ya, ya, lakukanlah secepatnya, aku harus pergi untuk membuat gempar sebuah perusahaan," kata Lidia melirik ke arah tubuh Rain.
"Nyonya, apa kau yakin, mesin ini belum pernah diaplikasikan pada manusia, efeknya sama sekali tak bisa kita duga, ini bisa merusak saraf dan otaknya dan membuat dia cacat, atau paling parah dia bisa saja meninggal," kata dokter itu belum yakin dengan apa yang ingin dia lakukan.
__ADS_1
Lidia melihat raut ragu di wajah dokter itu, dia menatapnya cukup tajam hingga memicingkan matanya, tatapan tajam dari Lidia itu langsung membuat Dokter itu gugup dan salah tingkah.
"Lakukan saja, jika kau ragu melakukannya, percayalah aku tak akan ragu menggantikannya denganmu," kata Lidia mendekati pria itu. Membuat Dokter itu langsung kaku, "lakukan sekarang," bisiknya membuat siapa saja bergidik ngeri.
"Ba … baik, baik," ujar dokter itu, melirik sekitar yang dijaga penjaga dengan senapan Laras panjang. Mau tak mau dia harus melakukannya.
Dia segera memutar sebuah alat di sana, perlahan suara alat itu bekerja terdengar, Lidia tersenyum puas, dia awalnya melihat ke arah Tubuh Rain, tak ada yang berubah, namun lama kelamaan tubuhnya mulai bergetar, seolah kejang karena alat itu, tangan Rain tampak mengepal kuat, seperti menahan rasa sakit yang sangat.
"Ada apa ini?" Tanya Lidia sedikit panik, walau dari mulutnya dia seolah tak peduli Rain mati, tapi jauh di dalam hatinya, dia ingin pria itu hidup, sekali saja dalam hidupnya dia ingin di cintai oleh pria yang sekarang ada di ruang itu.
"Sepertinya dia menolak hal ini," kata Dokter itu juga panik, menurunkan dayanya agar Rain tak kejang dan berontak.
"Bagaimana bisa? Dia kan sedang tak sadar?"
"Dirinya tak sadar namun otak, perasaannya semuanya sadar dan aku tak bisa mengontrol hal itu," kata Dokter itu.
"Dokter, hidungnya mengeluarkan darah," ujar Seorang asistennya.
"Kita harus menghentikannya, jika tidak …" kata Dokter itu.
"Sebentar!" Kata Lidia tak ingin membuang kesempatan ini dalam hatinya mungkin sebentar lagi Rain akan sukses di hapus ingatannya.
"Tuan Tanda vital semua naik, sangat berbahaya," kata asisten yang lain memonitor semuanya.
"Nona! Dia akan mati!" Kata dokter itu.
Lidia melihat alat itu, dengan cepat dia memutar putaran yang digunakan dokter untuk mengaktifkan alat itu, mematikan semuanya.
Dokter yang sudah berkeringat dingin itu hanya memandang Lidia yang ternyata juga terlihat panik.
Lidia menatap ke arah tubuh Rain yang perlahan menenang, dia menarik napas panjang.
"Lakukan lagi setelah dia normal, lakukan secepatnya, aku harus ke perusahaan untuk menegaskan kedudukanku, jangan coba-coba untuk melakukan hal diluar tugasmu! Lakukan atau kau akan mati," ujar Lidia marah, matanya memerah, ada rasa panik, takut namun juga kesal.
Dokter itu tak menjawab, dia hanya melihat wanita itu melenggang pergi baru dia bisa bernapas lega.
__ADS_1
"Lakukan perawatan padanya, Kita lakukan lagi nanti malam jika memungkinkan," ujar Dokter itu memegang kepalanya, nyatanya mesinnya belum juga berfungsi dengan baik. Akankah ini berhasil atau malah membuat pria itu cacat atau malah kehilangan nyawa, Dokter itu tak tahu pastinya.