Rain In The Winter

Rain In The Winter
145


__ADS_3

"Aku tak bisa berhenti bekerja, bagaimana dengan kehidupan ku di sini, aku tulang punggung," kata Bianca, dia tak terlahir kaya seperti Rain, untuk bertahan hidup itu susah sekali.


"Aku akan menanggung seluruh biaya hidupmu, belum cukup?" Kata Rain lebih ke arah ketus dari pada nada dingin biasanya.


"Tapi aku tak suka mendapatkannya dengan cuma-cuma," Kata Bianca.


"Kalau begitu layani aku," ujar Rain, layani? Bianca menggigit bibirnya, jika begini apakah dia benar-benar sudah seperti wanita panggilan?


"Tapi …." Kata Bianca lagi, tak suka sama sekali dengan hal ini.


"Diam lah, kau wanitaku, itu tugasku," ujar Rain melemparkan tatapan tajam yang membuat Bianca jadi urung untuk melakukan ceramah, tampaknya Rain benar-benar marah.


Tangan Bianca di genggam oleh Rain bahkan sampai di rumah Rain, saat turun pun Rain menarik Bianca hingga dia agak kesulitan untuk keluar, Rain juga membawa Bianca masuk dengan langkah yang cepat hingga Bianca harus lari mengimbangi.


Rain sedikit menghempaskan tubuh Bianca ke hadapannya, membuat Bianca kaget namun untungnya bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tak jatuh.


Rain menatap tubuh Bianca yang dibalut seragam hotel yang menurutnya sangat menganggu, baju ketat dengan rok mini, tak pantas digunakannya.


"Ganti pakaianmu," ujar Rain.


"He? Aku tak punya pakaian di sini," ujar Bianca, kalau dia punya dari tadi pagi dia sudah mandi di sini.


"Pakai baju ku," perintah Rain sambil menunjuk kamarnya, ini pertama kali dia mengizinkan wanita masuk apalagi menggunakan bajunya.


"Pasti tak cocok dan kebesaran."


"Pakai apa saja yang bisa kau pakai, gantilah!" Lama-lama Rain kesal juga melihat tingkah Bianca.


"Baik, apa kau ingin aku memasak makanan lagi agar aku tahu baju apa yang aku pakai," ujar Bianca, sebenarnya enggan menggunakan pakaian Rain, dia tahu suaminya ini punya masalah dengan barang-barang pribadinya, tapi herannya dengan Bianca dari dulu itu tak pernah menjadi masalah.


"Tidak, mereka sudah menyiapkan makanan, hari ini temani aku saja," ujar Rain, mulai duduk di sofanya.


"Baiklah," ujar Bianca memutar tubuhnya lambat, melihat pintu kamar yang tertutup rapat, apakah dia tak bisa menggunakan baju ini saja.

__ADS_1


Bianca masuk ke kamar Rain, tentu kamar itu sesuai dengan kepribadiannya, monoton sekali warnanya, sama seperti rumah mereka dulu sebelum Bianca menyentuhnya, Bianca lalu membuka lemari kamar Rain, bajunya tak banyak, hanya kaos, celana panjang yang pasti kebesaran lalu kemeja dan perlengkapan kerjanya, Bianca menyambar kemeja putih, lalu segera membawanya ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan tubuhnya lalu menata wajahnya yang sedikit ber-make up.


Bianca keluar perlahan dan menutup pintu kamar Rain, mungkin karena rumah ini sudah cukup tua, sepelan apapun Bianca berusaha, suaranya tetap terdengar, di sana dia bisa melihat Antony dan Rain sedang berdiskusi.


Mendengar suara pintu membuat Rain dan Antony mengalihkan pandangannya, Antony segera kaget dan cepat menunduk, pemandangan yang tak boleh dilihatnya, sebenarnya sangat menggoda, tapi dia bisa apa, dia masih lebih sayang nyawanya dari pada memandang Bianca dan Rain memergokinya.


Rain juga kaget melihat Pakaian Bianca yang memang terlihat lebih santai, namun tetap saja mengekspose tubuhnya, dia hanya menggunakan Kemeja putih rain yang tampak kedodoran, menutupi setengah pahanya, rambutnya yang tadi di tata kaku sekarang dia buat Cepol, make-upnya yang tadi terlihat sekarang sudah tak ada, hanya wajah polos yang malah makin membuatnya sempurna. Rain bahkan berhenti bernapas sesaat menatapnya, apa yang wanita ini pikirkan keluar dengan baju seperti itu, kalo dia dengan Bianca hanya berdua Rain pasti senang melihatnya namub ruangan itu penuh dengan bawahannya, wanita ini suka menggoda pria ya?


"Kalian keluar," ujar Rain pada semua orang yang ada di sana, tentu semua tak berani menatap Bianca, dengan menunduk semua keluar dengan Patuh, hanya Rain yang mengerutkan dahinya melihat penampilan Bianca.


"Aku sudah coba memakai celanamu, bahkan tak bisa semenit aku gunakan dia sudah jatuh, jadi hanya ini yang bisa, tapi aku masih menggunakan dalaman rokku kok," ujar Bianca, tentu dia memakai celana pendek sebagai pengaman.


"Tak perlu di tunjukkan," ujar Rain menahan ludahnya, semalaman dia menahan diri, wanita ini malah datang dengan dandanan seperti ini, otaknya langsung tak bisa bekerja dengan normal lagi.


"Ayo makan," kata Bianca.


"Ya," kata Rain patuh, Bianca sampai kaget mendengar hal itu, akhirnya Rain patuh padanya.


Meja makan sudah penuh dengan makanan, Rain segera memulai makannya, Bianca mengikuti setelah Rain mengambil semua makanan yang dia ingin makan, sebuah adap yang dari dulu dilakukan Bianca, mereka segera makan setelahnya.


sana, hanya mereka berdua.


"Kemana semua orang?" Tanya Bianca.


"Aku menyuruh mereka keluar," kata Rain yang baru selesai mengelap bibirnya.


"Kenapa?" Tanya Bianca polos.


Rain hanya menatapnya lalu melihat ke tubuh Bianca, Bianca langsung mengerti, ternyata karena dandanannya sekarang.


"Baiklah, aku akan membawa piringnya ke belakang," ujar Bianca, ingin mengambil piring Rain namun tangannya langsung di genggam lagi oleh Rain.


"Kau wanitaku, bukan pelayan pribadiku," ujar Rain, dia segera berdiri dan menarik Bianca menuju ruang tengah, tempat laptop dan pekerjaan Rain sudah ada.

__ADS_1


"Duduklah, temani aku bekerja," ujar Rain. Bianca hanya mengangguk, kalau menemani seperti ini rasanya ok-ok saja, pikir Bianca yang segera duduk di sofa putih yang terasa empuk itu.


Rain melihat Bianca duduk dengan kemejanya yang terangkat lebih pendek pastinya merasa terganggu, itu pemandangan menarik, tapi tidak saat dia bekerja, bisa buyar semua pikirannya, karena itu sebelum dia duduk, Rain mengambil selimut tipis lalu memberikannya pada Bianca.


"Untuk apa?" Tanya Bianca polos.


"Tutupi, di sini banyak CCTV," alasan Rain saja, tentu tak punya waktu menyiapkan CCTv di rumah ini.


"Oh, benarkah? Baiklah," kata Bianca yang tampak cuek, sudah malas menanggapi Rain, kan sudah dia bilang tak ada baju yang cocok untuknya di sini. Bianca memasang selimut itu menutupi kaki dan pahanya yang putih, setelah itu dia melihat Rain duduk di sampingnya mulai bekerja.


"Tidak merokok?" Tanya Bianca, biasanya dia sudah melihat pria ini dipenuhi asap nikotin.


"Aku menguranginya," ujar Rain bahkan tak melirik Bianca, fokus dengan pekerjaannya.


"Oh, baguslah, Ehm, aku harus pulang sore, jika tidak sahabatku akan curiga, tadi pagi saja dia sudah sedikit curiga," kata Bianca lagi, semakin cerewet.


"Hmm …." Jawab Rain singkat yang membuat Bianca melirik pria itu, gumaman itu membuat dirinya ingat dengan sosok Rain yang dulu.


Hening cukup lama, hanya ada suara keyboard laptop yang digunakan oleh Rain, ternyata menemani Rain bekerja juga bukan pekerjaan yang gampang, ini membosankan.


"Pasang saja Tv-nya," kata Rain yang tahu tampang Bianca sangat kebosanan.


"Kenapa tak dari tadi?" Kata Bianca semangat mengambil remot tV yang ada di meja, dia segera menyalakannya, sudah lama tak menonton TV dia merasa tak menemukan film ataupun acara yang cocok, tetap saja merasa bosan walau hanya duduk dan menonton tv.


Mungkin karena udara yang sejuk dan juga kurang tidur, perlahan malah Bianca tertidur di kursi itu, meringkuk di bawah selimut yang sudah menutupi semua tubuhnya, Rain akhirnya sadar, tempaknya sudah nyaman, namun pastinya tak senyaman di kamar.


Karena itu dia perlahan mengendong tubuh Bianca, ringan sekali menandakan betapa kurusnya wanita ini. Bianca yang seakan mendapatkan kehangatannya dari tubuh Rain langsung meringkuk bagai bayi dalam gendongan Rain, melihat betapa damainya wanita itu di dalam gendongannya, Rain akhirnya tersenyum manis.


Rain membawa Bianca ke kamarnya, dia meletakkan tubuh wanita itu dengan sangat perlahan, memposisikan kepalanya agar nyaman ditopang bantalnya yang empuk, Bianca tentu langsung tampak nyaman, tak lupa Rain menutupi tubuh Bianca dengan selimut, dan tanpa sadarnya mengecup dahi Bianca, seolah itu sudah kewajibannya.


"Rain, pulanglah!" Racau Bianca setelah Rain menarik bibirnya.


Rain menaikkan sudut bibirnya, masih menyangkal dia dan Rain punya hubungan? Bahkan dalam tidurnya dia bisa memanggil namanya, Rain yakin benar Bianca adalah wanitanya.

__ADS_1


"Aku sudah pulang," bisik Rain lembut, sebuah senyuman manis tersungging di bibir Bianca namun dia kembali menikmati tidurnya.


Rain segera meninggalkan wanita itu, memanggil kembali Antony dan melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2