
Pintu kamar Bianca tiba-tiba terbuka, Bianca kaget dan langsung melihat ke arah pintu yang terbuka, sosok pria yang sekarang sedang tak ingin dia lihat itu muncul di balik pintu.
Rain menatap ke arah Bianca, matanya yang sembab tentu jadi fokus utamanya, kenapa pagi-pagi begini Bianca menangis, bukankah kemarin dia baru saja begitu senang?
Bianca yang di tatap oleh Rain itu kembali sedikit salah tingkah, dia menghapus air matanya yang tersisa.
Rain masuk ke kamar Bianca lalu menutup pintunya, tak membiarkan Yuri, Ken dan Luke yang ada di luar sana tahu apa masalah Bianca.
"Ada apa denganmu?" tanya Rain.
"Tidak apa-apa," ujar Bianca terasa acuh, Bianca bahkan tak melihat Rain, dia berpura-pura mengambil sesuatu di lemarinya.
Rain merasa perubahan dari cara bicara Bianca, tak ada hangatnya sama sekali seperti semalam, Rain lalu mendekati Bianca, Bianca yang mengetahui Rain akan mendekatinya, langsung memutuskan untuk pergi dari sana, entahlah, dia begitu kesal, begitu marah, begitu sedih, begitu tak menyangka, hatinya yang rapuh itu hanya dipermainkan semata.
Rain yang melihat Bianca ingin menjauh darinya segera mencegah wanita itu lebih jauh dengan memegang tangannya, Bianca pun terdiam di tempat.
"Kau mau kemana? aku sedang bicara denganmu," ujar Rain sama datarnya, dia bicarq seolah bicara dengan bawahannya.
Bianca menahan nyeri dalam dadanya, dadanya sesak hingga rasanya sudah untuk bernapas, dia tak bisa mengendalikan perasaannya yang meronta saat sentuhan tangan hangat itu menyentuh kulit lengannya, membuat semakin sakit rasanya.
"Aku … Aku hanya ingin ke kamar mandi," ujar Bianca tertunduk, air matanya sudah mengumpul lagi.
"Kenapa menangis?" kata Rain lagi.
Bianca menarik napas panjang, tentu ingin dia bertanya pada Rain, benarkah apa yang dia dengar pagi ini? dia ingin sekali mendengar penjelasan pria ini, namun walau pun pertanyaan itu sudah menggaung di kepalanya, dia tetap saja mulutnya susah sekali membuka.
"Ada apa?" desak Rain lagi yang tak sabar mengetahui kenapa mata kembali basah.
__ADS_1
"Bagaimana jika ku balik, Tuan Rain? ada apa?" tanya Bianca sekarang berani menatap Rain, Bianca membenci dirinya sendiri, kenapa dia selalu menjadi gadis yang tak bisa mengutarakan apa yang dia inginkan.
Mendengar kata-kata Bianca, Rain hanya mengerutkan dahinya.
"Aku tak tahu apa maksudmu," ujar Rain, dia memang tak punya kesabaran untuk menerka-nerka apa yang ada di kepala wanita ini sekarang, lebih baik jika dia mengatakannya dengan gamblang.
"Jika tak tahu, tidak apa-apa," ujar Bianca lagi.
Rain sudah kesal dengan sikap Bianca ini, tiba-tiba sedih dan sekarang terdengar sangat-sangat menyebalkan.
"Bianca, sekali lagi aku tanyakan? ada apa? tolong jangan berbelit aku harus pergi untuk bekerja sekarang, kali ini jika kau mengatakan hal-hal yang tak bisa aku mengerti, aku tak akan bertanya lagi," kata Rain dengan tatapan kesal, Bianca menatap wajah pria itu, wajahnya cukup keras.
"Pergilah, aku tak mau membuatmu terlambat," kata Bianca.
"Baiklah!" kata Rain yang sekarang marah, dia merasa tak dihargai, padahal dia bertanya benar-benar dari hati.
Rain segera berbalik, dia memegang pegangan pintu ingin segera keluar dari sana.
"Terserah, kapan pun kau mau," ujar Rain yang walaupun sudah berusaha untuk menguasai amarahnya tapi tetap saja tak bisa dia kontrol.
Bianca diam saja ketika pintu itu tertutup, matanya yang indah kembali mengalirkan air mata, Bianca hanya menghapusnya cepat, Terserah? ya mungkin sekarang terserah pada Bianca, toh dia tak akan peduli.
Rain tak langsung melangkah pergi, dia benar-benar pusing memikirkan sikap Bianca ini. Ken dan Luke yang melihat Tuannya keluar dengan wajah masam bahkan tak berani menegurnya.
"Kita ke perusahaan sekarang," ujar Rain.
---***---
__ADS_1
Bianca tak mengemasi barang apapun, bahkan dia hanya membawa baju yang dia kenakan sekarang, dia tahu semua barang-barang ini adalah milik Rain, jadi lebih baik dia tak membawanya.
Bianca keluar dengan mata yang memerah bengkak karena menangis terus menerus, Bianca merasa konyol, bagaimana dia bisa begitu sedih menangis padahal tak ada satupun luka di tubuhnya, ternyata luka yang ditimbulkan sakit hati, lebih perih dari pada luka fisik, sakit ini menggerogoti seluruh tubuhnya dari dalam perlahan-lahan.
"Yuri, aku pamit ya," ujar Bianca dengan suara hidung karena tertutup oleh cairan akibat tangisannya. Bianca ingat janjinya untuk tidak kabur lagi.
"Nona,ada apa dengan Anda? lalu anda ingin kemana?" tanya Yuri kaget, dia melihat wajah Bianca yang jauh dari pada gambaran kemarin, ini sangat keterbalikannya.
"Aku ingin pulang ke rumahku, ayolah, jangan pura-pura tak tahu, kau juga pasti tahu bahwa semua ini hanya sandiwara," ujar Bianca yang merasa Yuri pun tahu hal ini, dia benar-benar bodoh, bahkan tak curiga kenapa Rain tiba-tiba begitu hangat padanya, lagi pula,siapa dia? Rain pasti menginginkan gadis yang lebih dari dia, dan dia pasti mendapatkannya.
"Apa? aku tak paham apa maksud Nona?" tanya Yuri yang nyatanya memang tak tahu apa-apa, Bianca mengerutkan dahinya, menganalisa wajah Yuri, melihat ketercengangannya, Bianca akhirnya yakin Yuri tak tahu apa-apa.
"Kau akan tahu jika kau bertanya dengan Ken, lagi pula tadi Rain sudah mengizinkan aku pulang, kau tak perlu takut, dia tak akan menghukummu," ujar Bianca mencoba tersenyum, merasakan kelopak matanya menebal.
Yuri masih tak rela Bianca pergi, namun mendengar bahwa Bianca mengatakan Rain sudah mengizinkannya, Yuri merasa apa benar yang dikatakan oleh Bianc rasanya tak mungkin, dia harus mencegah dan merayu Bianca agar mengurungkan niatnya.
"Nona, apa aku harus ku sediakan mobil untuk Anda," kata Yuri, jika dia menyediakan waktunya akan cukup untuk mengabari Ken.
"Tak perlu, ehm, boleh aku pinjam uang sedikit untuk bis, aku akan membayarnya, berikan saja nomor rekeningmu," ujar Bianca lagi.
Yuri mengerutkan dahinya, dia memang tahu Bianca tak punya apa-apa.
"Tak bisakah anda menunggu Tuan Rain pulang, aku takut Beliau marah saat tahu anda naik bis," ujar Yuri, ragu sebenarnya ingin memberikan uang untuk Bianca walau dia tahu uang itu tak akan seberapa.
"Tidak, Yuri, aku mohon, aku ingin pergi sekarang, percayalah aku akan membayarnya, aku yakin Rain juga akan senang jika aku sudah tak ada nantinya, satu tugasnya akan selesai," desak Bianca, kenapa keluar dari sini saja susah.
"Tugas?" tanya Yuri bingung.
__ADS_1
"Baiklah, jika tak ingin meminjamkan juga tak apa-apa, aku masih punya kaki untuk berjalan," ujar Bianca kesal, Yuri seolah mengulur waktunya.
Baru saja Bianca ingin pergi menuju ke ruang tengah, tiba-tiba sesosok wanita masuk ke dalam ruangan tempat Bianca dan Yuri berada.