Rain In The Winter

Rain In The Winter
112. Kita harus pergi sekarang.


__ADS_3

Ken mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, matanya menangkap perubahan di ponselnya, satu panggilan masuk, dia langsung menyentuh handsfree-nya.


"Laporkan!" Perintah Ken dengan matanya yang tetap tajam menatap ke arah jalanan yang cukup lengang karena dia belum masuk ke dalam daerah perkotaan.


"Kami sudah mendapatkan posisi Nona Lidia sekarang, Sedangkan Drake dia masih belum bisa kami lacak namun menurut catatan bandara dia sudah ada di kota ini seminggu yang lalu," suara dari sana terdengar sama tegasnya dengan Ken.


"Dimana Wanita itu?" Tanya Ken, dia mengetatkan genggamannya pada kemudi mobilnya, di otaknya sudah tergambar sesuatu, pasti Tuannya ada bersama mereka.


"Nona Lidia terakhir terlihat memasuki Perusahaan Tuan Rain, dan dia belum tampak keluar dari sana hingga sekarang," lapornya lagi.


"Kau yakin?" Tanya Ken mengerutkan dahinya.


"Ya, aku yakin, dia tiba di sana 30 menit yang lalu."


"Sial, pantau terus keberadaan mereka berdua, aku ingin kau segera melaporkan jika mereka berpindah lokasi, dan tolong perintahkan beberapa orang untuk menjaga Rumah Tuan Rain," kata Ken menggertakkan giginya.


"Kirimkan lokasinya, aku akan melakukan yang terbaik," kata suara itu lagi.


"Terima kasih, aku akan mengirimkannya segera," ujar Ken.


Panggilan itu segera ditutup, Ken segera mengirimkan lokasi rumah Rain dan setelah melakukan hal itu dia segera menekan gas lebih dalam dan memacu mobilnya lebih cepat.


Apa yang kau rencanakan sekarang Lidia? Pikir Ken dengan wajahnya yang tampak marah.


---***---


Bram melihat sekeliling, mengamati dari balik jendela, melihat ke semua arah yang bisa dia lihat, semuanya tampak tenang, terlalu tenang hingga mengusiknya.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Yuri yang melihat Bram tampak cukup gelisah.


"Bagaimana keadaan Nyonya dan Nona?" Tanya Bram kembali mengamati sekitar, walau ada lebih dari 6 orang yang mengamankan hanya bagian depan rumah itu, intuisi Bram merasa ada yang tak benar.


"Nyonya mencoba istirahat, sedangkan Nona sedang ada di kamarnya untuk sedikit beristirahat juga, ada apa?" Tanya Yuki.


"Tidak … aku ... Hanya," ujar Bram menatap sekeliling sekali lagi, matanya yang tajam melihat pergerakan samar di balik pepohonan yang ada di depan rumah yang memang terletak di perbukitan, melihat hal itu dia merasa ini tak benar.


"Yuri! Bawa Nyonya dan Nona langsung ke dalam mobil, ada sesuatu yang tidak beres! Cepat!" Ujar Bram langsung menyiapkan senjata apinya, Yuri yang melihat hal itu langsung siaga, tanpa pikir panjang langsung berlari ke arah kamar Bianca.


"Siaga!" Ujar Bram memberikan perintah pada penjaga yang ada di luar, mendengar itu mereka semua menjadi siaga, namun baru saja mereka tampak lebih awas, dua dari para penjaga itu langsung lumpuh terkena tembakan jitu di kepala.


"Ada apa ini?!" Tanya Siena panik, dia yang langsung muncul saat Yuri memperingatkan mereka.


"Nona, sepertinya ada penyerangan, kita harus keluar dari sini," kata Bram siaga.


"Benarkah? Bagaimana bisa? Siapa yang menyerang?" Tanya Siena, rasanya mereka tak punya musuh lagi, lagipula dalam kondisi berduka begini, siapa yang mau menyerang mereka, tak lama Bianca dengan wajahnya yang pucat dan lemas, dia hanya memandang bingung.


"Nyonya, Nona, ayo sekarang, kita harus ke garasi untuk pergi dari sini," kata Bram, dia berpikir untuk pergi dari pada melawan mereka, 2 wanita harus di jaganya, apalagi Nyonya-nya sekarang sedang dalam keadaan lemah, dia tak mau ambil resiko untuk keselamatan Nyonya dan calon bayi Tuannya.


Bram segera menuntun mereka, di ikuti dua penjaga yang juga menjaga mereka dengan siaga, sesampainya di garasi, Bram langsung meminta merrka masuk ke dalam sebuah Jeep Wringler Rubicon berwarna hitam, Bianca, Yuri dan Siena duduk di belakang, sedangkan Bram dan salah satu dari penjaga duduk di depannya, yang lain menjaga ke mobil itu untuk keluar.


Perlahan pintu bagasi otomatis itu terbuka dan mereka menunggu hingga pintu itu bisa dilalui oleh mereka dan begitu pintu itu cukup untuk mereka lewati, Bram langsung menekan gas mobilnya, mereka melihat beberapa petugas yang sudah tergeletak di tanah membuat suasana tegang seketika, ternyata apa yang dikatakan oleh Bram benar adanya, padahal baik Bianca maupun Siena sedikit tak percaya ada yang akan menyerang mereka.


Sebuah tembakan mengenai bodi mobil itu, seketika membuat semua wanita di sana terpekik, di depan mereka Bram melihat ada 2 orang yang coba menghalangi jalannya mereka dengan senjata Laras panjang yang siap menerjang mereka.


"Merunduk!" Perintah Bram tanpa lagi menggunakan kata sapaan. Semua wanita yang ada di belakang melihat itu segera merunduk, Bianca bahkan lupa dengan semua kondisi perutnya yang kacau balau, padahal saat tadi masuk dia sudah sangat mual dan enggan karena bau mobil yang menyesakkan.

__ADS_1


Namun Bram bukannya melambatkan mobil itu, Bram langsung menekan gasnya lebih dalam, membuat salah satu penghalang itu terpental karena tabrakan mobil itu. Sedangkan yang lain segera menghindar, menembaki mobil Jeep itu dengan berondongan peluru, satu peluru memecahkan kaca belakang, menghamburkan semua kaca yang berterbangan, Bianca dan Semua orang di sana berteriak histeris, untungnya semua selamat tanpa luka dan mereka segera keluar dari area rumah itu.


"2 mobil mengejar kita," ujar Penjaga yang mengamati mobil di belakang mereka.


"Kalian tetap menunduk, hambat mereka," kata Bram melirik ke arah penjaga itu, penjaga itu segera mengangguk, dia mengambil senjatanya.


"Nona, saya harus di belakang," kata penjaga.


"Baik," kata Siena dengan mantap, baginya dia pernah berada di dalam kondisi lebih berbahaya dari ini, berbeda dengan Bianca yang sudah gemetaran.


Dengan cepat Siena dan penjaga itu segera bertukar tempat.


"Nyonya terus menunduk," kata Yuri yang juga sudah menunduk dari tadi, dia menutupi tubuh Bianca dengan tubuhnya, mencoba melindunginya.


Penjaga itu mengambil posisi, dengan cepat dia membidik pengemudi yang ada di dalam mobil yang mengikutinya, namun belum stabil dia membidik, ternyata dari jendela penumpang mobil itu keluar tangan yang memegang pistol, secara asal menembaki mereka.


Suara teriakan terdengar keras, menutupi suara peluru yang memantul di badan mobil, penjaga itu segera mengambil posisi kembali setelah tidak ada tembakan, dia membidik dengan serius, dan dengan satu tembakan, dia langsung mengenai supir mobilnya sehingga membuat mobil itu oleng dan memblokir jalan itu, sehingga mobil yang ada di belakangnya segera menabrak mobil itu hingga ringsek.


Penjaga itu mengambil napas lega, Bram pun begitu.


"Nyonya, sudah amat," kata Penjaga itu.


Bram melirik ke arah Siena, saking tegangnya suasana tadi membuat dia tak sadar Siena sedang meringis kesakitan, ternyata tangannya berdarah.


"Nona?" Kata Bram kaget.


"Siena! Kamu berdarah," kata Bianca yang juga baru melihat ke arah tangan Siena.

__ADS_1


____________________


Hallo kakak, aku minta maaf, baru bisa up skrg karena keadaan yang ga memungkin sama sekali, lagi puncak2nya mual dan muntah, maaf ya kak


__ADS_2