
Bianca tak bisa menutupi wajah kagetnya melihat hampir 20 orang yang berkumpul di sana.
"Ya, Nyonya, perintah khusus Tuan Rain jika anda diwajibkan keluar, mereka semua yang selalu akan menjaga Anda, baik terlihat maupun tak terlihat," kata Yuri yang seperti merasa tak aneh dengan hal ini. Bianca yang mendengar itu tambah mengerutkan dahi, hanya untuk menjaga dirinya seorang Rain harus mengerahkan orang sebegitu banyaknya? Kenapa terasa cukup berlebihan.
"Ya, tapi aku hanya ingin memastikan Carel tak apa-apa, bukan pergi ke medan perang Yuri," protes Bianca lagi, bukankah akan sangat berlebihan membawa mereka semua.
"Saya tidak bisa mengambil resiko nyonya, Jika Tuan Rain tahu anda pergi tanpa mereka, Beliau akan sangat marah, lagi pula ini sudah pas nyonya, 8 orang yang akan menjaga Anda 2 di setiap sudut anda, depan, belakang, kanan dan kiri, yang lain akan membentuk lapisan penjagaan dari luar hingga ke dalam rumah nantinya," ujar Yuri menjelaskan untuk apa penjaga sebegitu banyaknya.
"Baiklah," kata Bianca tak bisa berdebat walaupun dia yakin ini masih terlalu berlebihan, bahkan ibu negara saja tak mungkin di jaga begitu banyak orang.
"Ya, Mari Nyonya, mobil sudah siap," ujar Yuri yang segera mempersilakan Bianca untuk pergi, di depan mereka langsung bersiaga 2 penjaga, yang lain mengikutinya dengan bertahap, Bianca geleng-geleng kepala melihat pengikutnya yang setia menjaganya di belakang.
Mobil mereka segera melaju, membuat iring-iringan 5 mobil sekaligus dengan mobil Bianca ada di bagian tengahnya, dengan iringan mobil seperti ini bukannya malah menarik perhatian, pikir Bianca yang melihat 2 penjaganya tampak siaga di depannya, sikap mereka selalu sempurna.
Mobil mereka masuk ke kawasan rumah Rain, tampak sepi tanpa tanda-tanda apapun, Bianca segera turun ketika para penjaga sudah siap, dia segera masuk tentu dengan kawalan penjaga juga Yuri.
Begitu pintu dibukakan, tampak kepala pelayan yang segera menyambut Bianca dengan wajah yang lega namun juga cemas.
"Nyonya, selamat datang," sapanya.
"Bagaimana keadaan Carel?" Tanya Bianca langsung.
"Tuan Muda Carel ada di kamarnya, dia sedang menggigil, tapi suhu tubuhnya sangat panas," ujar kepala pelayan yang sudah berumur itu, melihat kecemasan di matanya, Bianca tahu ini tak main-main.
__ADS_1
Bianca langsung masuk ke dalam ke arah yang ditunjukkan oleh kepala pelayan itu, dia lalu membuka sebuah pintu, Bianca langsung masuk dan melihat pengasuh Carel dan 2 orang pelayan wanita sedang sibuk menjaga dan merawat Carel, melihat Bianca semua langsung memberikan salam mereka.
Bianca langsung duduk di tepi ranjang tempat Carel, matanya terpejam, bibirnya yang biasa merah mirip Rain itu, sekarang terlihat pucat dan gemetar, tubuhnya juga gemetar hebat, Bianca langsung memegang keningnya, rasanya bukan lagi hangat, tapi bagaikan panas membakar, Bianca sampai kaget.
"39.6 derajat Nyonya," kata pengasuhnya dengan wajah cemas, "Tuan Muda Carel tak pernah panas seperti ini sebelumnya."
"Siapkan semua keperluan Carel, baju dan selimut, kita bawa dia langsung ke rumah sakit," inisiatif Bianca, nalurinya berkata tak mungkin membiarkan Carel di rumah saja padahal panasnya begitu tinggi.
"Baik Nyonya," ujar Pengasuh Carel.
Bianca langsung perlahan menggendong Carel, bocah kecil itu cukup berat walaupun tubuhnya kecil, apalagi dia segera meringkuk karena kedinginan, salah satu pelayan yang tak tega segera menyelimutinya kembali, Bianca dengan sigap membawa Carel keluar, dia juga langsung membawa Carel ke dalam mobil, membiarkan anak itu dalam pangkuannya, memeluknya dan mendekapnya, mencoba membagi suhu tubuhnya agar panas dari Carel sedikit menurun.
"Bertahanlah anak pintar, sebentar lagi kita akan sampai," kata Bianca.
Bianca mendengar suara lirih itu memanggilnya 'Ma' langsung membuat hatinya bergetar, diam-diam ternyata pria kecil ini juga sudah mencuri hatinya, ayah dan anak nyatanya punya hal yang meluluhkan hati Bianca.
Mereka akhirnya sampai ke rumah sakit khusus anak yang paling dekat dengan rumah mereka.
Carel segera di tangani, tangan mungilnya itu jari telunjuk Bianca, erat sekali seolah tak ingin melepaskannya, Bianca pun tak ingin berpisah dari Carel yang sedari tadi sudah tak membuka matanya lagi.
"Nyonya, Anak anda harus di rawat, kami akan melakukan tindakan, apakah anda mengizinkannya?" Kata dokter yang meminta inform concern untuk Bianca.
"Ya, ya, lakukan yang terbaik," kata Bianca.
__ADS_1
"Nyonya, maaf, biarkan kami melakukan tindakannya," kata dokter itu segera, beberapa perawat segera sibuk, dari pengamatan Bianca, Carel akan dipasangkan infus.
Bianca menggigit bibirnya melihat tangan mungil itu ingin ditancapkan jarum, walaupun jarumnya terlihat kecil, namun bagaimanapun itu tajam dan Bianca tahu seberapa linunya itu, dia juga pernah merasakannya.
"Nyonya, saya butuh tanda tangan anda untuk berkas," kata seorang perawat yang tiba-tiba menegur Bianca.
"Oh, iya, baik-baik," ujar Bianca.
Bianca segera pergi ke meja Administrasi, menandatangani beberapa kertas, di sana tertulis dia sebagai orang Tua dari Carel, Bianca sedikit ragu awalnya untuk menandatangi kertas itu mengingat tak setitik darah pun dia punya hubungan dengan Carel, namun itu semua langsung dia kesampingkan, jika tak begini, mereka tak akan merawat Carel.
Bianca duduk di samping ranjang Carel ketika anak itu sudah dimasukkan ke dalam ruangan presidential suite, dokter mengatakan akan mengawasi keadaan Carel selama 24 jam ini, Yuri juga sudah berhasil menghubungi Luke dan melaporkan semuanya, menurut Yuri, Rain akan segera ke rumah sakit setelah rapat yang dia pimpin selesai.
Bianca mengelus dahi dan rambut Carel yang sangat halus, lurus, dan lemas, sekarang semakin tampak kemiripan dirinya dengan Rain, Bianca bahkan yakin anak ini sudah pasti darah daging Rain, namun dia tak kecewa sama sekali, malah dia senang, memiliki anak tiri seperti ini, siapa yang tak akan merasa jatuh cinta.
Suasana yang begitu tenang itu tiba-tiba terusik dengan suara gaduh dan teriakan dari Luar, Bianca mengerutkan dahi, orang mana yang tak beretika membuat kegaduhan di rumah sakit seperti ini?
"Lepaskan aku! Di dalam sana adalah anakku! Aku ingin melihatnya," suara nyaring melengking itu terdengar jelas hingga ke dalam ruangan membuat Bianca langsung tahu siapa yang ada di luar sana.
Bianca segera ingin pergi keluar, namun Yuri melarangnya.
"Nyonya, Tuan tak izinkan anda bertemu dengan Nona Lidia," ujar Yuri menghalangi.
"Aku membawa anaknya ke sini, aku harus bertanggung jawab," ujar Bianca tegas, mendengar hal itu Yuri mengerti, lagipula ada 20 orang yang sekarang menjaga Bianca, Lidia tak akan berani melukai bahkan ujung kuku Bianca sekali pun.
__ADS_1