Rain In The Winter

Rain In The Winter
93. Aku tak ingin berbohong padamu Bianca.


__ADS_3

Rain mengerutkan dahinya, dia tak bisa makan siang dengan Carel karena dia sudah berjanji akan makan siang dengan Bianca.


"Ayah rasa ayah tidak …" kata Rain ingin menolak.


"Ayahmu orang yang sibuk Carel, dia tak akan punya waktu untuk makan bersama mu, kita makan berdua lagi saja," ujar Lidia langsung membuat wajah Carel yang tadinya berharap ceria, menjadi langsung kecewa dengan lekukan wajah yang membuatnya cukup lucu.


"Ayah, makan sama," pinta Carel membujuk Rain, memegang tangan Rain dengan tangannya yang kecil, terasa hangat bagi Rain, hati kecilnya tak bisa menolak ajakan itu seketika.


"Baiklah, ayah akan makan siang denganmu, tapi tunggu ayah selesai bekerja," kata Rain lagi seramah mungkin.


Carel terlonjak senang, bukan hanya Carel, Lidia pun begitu, dia tak bisa menutupi rasa senangnya, Rain berdiri dan menatap Lidia yang tersenyum puas, wajah Rain tampak datar.


"Luke minta supir membawa mereka ke restoran High Tower," kata Rain melirik Lidia tajam.


"Baik Tuan," kata Luke, namun segera mengikuti Rain yang segera keluar dari ruangan itu.


Rain berjalan ke arah ruangannya, dia tak ingin membohongi Bianca bahwa dia akan makan dengan Lidia dan Carel, juga tak ingin membuat hati wanita itu gundah, karena itu dia memutar otaknya bagaimana agar tetap membuat anak itu senang, namun juga tak membuat kecewa hati Bianca.


"Luke, pergilah, jemput Nyonya dan bawa dia ke ruangan ku segera," ujar Rain yang merasa dia harus tetap bersama Bianca jika dengan wanita lain.


---***---


Bianca berjalan menyusuri jalan menuju ke ruang kerja suaminya, Luke menjemputnya tiba-tiba padahal seharusnya mereka bertemu di rumah.


Luke membuka pintu ruangan kerja Rain, Rain langsung berdiri ketika melihat istrinya masuk ke dalam dengan senyuman tipisnya, namun senyuman itu sedikit memudar saat melihat wajah cemas dan serius suaminya.


"Aku kira kita akan makan di rumah, aku sudah memasak beberapa makanan lalu Luke …" kata Bianca yang mendekati Rain, Rain pun begitu, namun Bianca berhenti berbicara karena melihat wajah suaminya tetap saja cemas, "ada apa?" Instingnya sebagai istri cepat bekerja.


"Maafkan aku, tapi aku tidak ingin membohongimu apa lagi membuatmu sedih," ujar Rain.

__ADS_1


"Katakan," pinta Bianca.


"Lidia tadi datang bersama dengan Carel, aku terpaksa menemuinya karena dia mengatakan bahwa Carel sedang sakit, di sana Carel meminta untuk makan siang denganku, aku sudah berusaha menolaknya, tapi aku tak suka wajah kecewanya, jadi aku menerimanya," jelas Rain.


"Oh," nada suara itu turun menandakan kekecewaan.


"Jadi aku ingin kau ke sini," kata Rain memegang kedua pundak Bianca.


"Untuk apa? Kau akan makan dengan anakmu," ujar Bianca dengan nada kesalnya.


"Untuk menemaniku, kau istriku, kau harus ada di sisiku ketika aku bersama yang lain," kata Rain lembut, Bianca menatap ke arah pria itu, benarkah Rain ingin Bianca datang karena ini? Kenapa tiba-tiba Bianca merasa suaminya ini benar-benar mencintainya.


"Benarkah?" Kata Bianca.


"Ya, mulai sekarang kemanapun aku pergi, kau harus ada di sisiku," ujar Rain.


"Kau sekarang mulai pintar menggoda ya," kata Bianca yang merasa kata-kata Rain cukup menggelitiknya.


Pintu ruangan di High Tower itu terbuka, Lidia yang sudah menunggu cukup lama itu segera berdiri ingin menyambut Rain dengan wajah sumringahnya, namun wajah itu langsung berubah ketika melihat dengan siapa Rain datang, senyumannya hilang seketika melihat sosok Bianca di sana.


"Kenapa dia ada di sini?" Ketus Lidia, dia kira hanya akan ada dirinya, Carel dan juga Rain makan bersama bagaikan keluarga yang hangat.


Namun kenapa wanita murahan ini malah dibawa kemari oleh Rain.


"Aku sudah punya janji dengan istriku, lagi pula aku sudah berjanji dengan istriku kemana pun aku pergi jika ada wanita lain aku akan membawanya," ujar Rain yang menarik kursi di sebelahnya, membiarkan Bianca duduk dengan anggun bak ratu, lalu Rain duduk di sampingnya, Lidia mengenggam garpu yang ada di tangannya dengan erat sekali, ingin rasanya dia menusukkan garpu itu ke arah Bianca.


"Ayah, lapar," ujar Carel yang belum bisa memahami bahwa suasana diantaranya itu sangat tegang, bagaimana ibunya tampak begitu kesal.


"Ya, kita akan makan," kata Rain sedikit tersenyum, Bianca pun tersenyum manis pada Carel yang dengan polosnya juga tertawa ramah padanya, tak tahu wanita ini adalah ibu tirinya.

__ADS_1


Makanan mereka segera dihidangkan, makanan nomor satu yang ada di sana, Carel tampak makan dengan semangat walaupun belepotan, namun itu sisi lucunya, membuat Rain dan Bianca semangat juga melihatnya, Carel ternyata anak yang bisa menarik perhatian semua orang.


Hanya Lidia yang tak bisa menikmati makan siang yang tadinya akan menjadi makan siang terbaik untuknya, bahkan dia tak bisa menelan sedikitpun makanannya, apalagi melihat Rain dan Bianca yang menganggapnya tak ada di sana dan hanya berbicara dengan Carel.


Lidia sudah tak tahan lagi, dia segera menghempaskan kedua tangannya ke meja membuat Carel kaget karenanya, Rain dan Bianca pun segera mengerutkan dahinya.


"Kita pulang Carel," kata Lidia menurunkan Carel dari kursi makanya, Carel tampak enggan, dia meronta dan menangis, makanannya belum juga selesai.


"Lidia, biarkan dia habiskan makanannya," kata Bianca yang kasihan melihat Carel meronta ingin kembali ke kursinya.


Lidia sinis melihat Bianca, membuat Bianca mengerutkan dahinya, apa dia salah bicara?


"Jangan urusi urusanku," ujar Lidia ketus.


"Lidia! Biarkan dia makan, kau yang mengatur makan siang ini, tapi kau pula yang ingin pergi," kata Rain ambil alih, tak suka istrinya diperlakukan seperti itu.


Lidia memandang Rain, wajahnya sinis, lalu dia tertawa remeh.


"Makan siang ini awalnya akan menjadi makan siang yang indah antara aku, dirimu, dan anak kita, tapi kau malah membawa wanita perebut pria orang lain itu ke sini dan merusak semuanya! Kau pikir apa aku masih bisa makan melihat kalian begitu!" Kata Lidia histeris, bahkan membuat Carel diam karenanya.


"Lidia! Jaga mulutmu!" Kata Rain meninggikan suaranya, membuat Carel yang takut menjadi menangis, Bianca tak peduli dengan kata-kata Lidia, dari tadi dia hanya memandang Carel yang ketakutan, sangat kasihan melihatnya.


"Baiklah, itu keputusanmu, kau lebih memilih wanita itu dari pada kami, saat Tes DNA itu keluar, kau akan menyesal, Carel! Diamlah, ikut ibu," ujar Lidia menarik Carel yang enggan pergi dari sana, tangannya mengulur ke arah Rain dan Bianca, tampak ingin meminta tolong.


Tentu hal itu membuat Bianca tak enak, Bianca langsung segera ingin menggapai Carel, namun Rain langsung menahan tangannya.


"Tapi …" kata Bianca yang tak tega.


Rain hanya menggeleng, walau dia juga tak tega melihat anak itu merenggek meminta tolong, tapi dia tak ingin Lidia semakin mengada-ngada nantinya, sekali saja menunjukkan simpati,maka dia akan memanfaatkan Carel lebih jauh.

__ADS_1


Bianca hanya menatap sedih ke arah anak itu yang suaranya masih terdengar berteriak, namun dia tak bisa apa-apa, kenapa seorang ibu bisa begitu tega? Hanya itu yang ada di dalam pikirannya.


__ADS_2