Rain In The Winter

Rain In The Winter
118.


__ADS_3

"Itu yang masih aku dan Bram pikirkan, bagaimana wanita itu bisa mendapatkan sidik jari Tuan," kata Ken lagi, melewati lapangan yang cukup besar di sana.


"Tidak mungkin! Tuan tak mungkin melakukan hal itu, kau tahu Tuan sangat tak menyukai Nona Lidia bukan? Apalagi masalah Nyonya kemarin, Tuan bahkan tak ingin melihat prosesi pemakaman anaknya dengan nona Lidia?" Kata Luke tak percaya.


"Ya, Siena sudah menjelaskannya padaku, wanita itu benar-benar gila," ujar Ken.


"Kau tahu Seluruh kepala daerah, cabang, hingga devisi di ganti, mereka semua dipecat tanpa keterangan, semua diberhentikan hingga semua meneleponku," kata Luke berhenti sebelum dia masuk ke dalam Mess Ken.


"Benarkah?" Tanya Ken cukup kaget.


"Ya, mereka melapor padaku, rata-rata mereka adalah orang-orang yang sangat setia bahkan saat Tuan di penjara, namun mereka semua dipecat secara sepihak, aku sampai pusing mencari alasan pada mereka, kau tahu juga? Aksesku untuk masuk ke dalam perusahaan juga sudah dicekal, aku rasa aksesmu pun sudah di tolak, sepertinya Nona Lidia tak ingin kita semua kembali ke rumah perusahaan," kata Luke lagi.


Ken hanya diam, ini semua membuatnya pusing.


"Kita harus tahu dimana Tuan Rain, hanya dia yang bisa mengatasi semuanya," kata Ken.


"Benar! Jika benar Nona Lidia mendapatkan sidik jari Tuan, aku rasa Tuan ada di tangan Nona Lidia," Ujar Luke.


"Aku juga merasa begitu," ujar Ken lagi, sepemikiran dengan Luke.


"Kalau begitu kau harus menyelidikinya," kata Luke, hal begini memang biasanya cuma Ken yang bisa, Luke tak mengerti soal begini.


"Ya, aku tahu, masuklah, sudah malam, kita urus besok, aku benar-benar butuh istirahat," ujar Ken, merasa tubuhnya sudah cukup bertahan, dia harus mengistirahatkan semuanya.

__ADS_1


---***---


Bianca terbangun, melihat ke arah luar jendela, masih sepenuhnya gelap, dia juga melirik ke arah jam yang menggantung di tembok putih, hanya itu hiasan di tembok kosong itu.


Masih pukul 4 pagi, namun saat dia memulai untuk kembali tidur, matanya sama sekali tidak mau menutup, serasa tidurnya benar-benar sudah cukup.


Bianca lalu mencoba duduk, dia lalu menyibakkan selimutnya, perlahan turun, jika pagi begini dia lupa akan keadaan perutnya.


Dia sedikit meregangkan badannya, ranjang ini lebih keras dari pada miliknya di rumah Rain, membuat dia cukup kesulitan untuk tidur, Bianca melihat ke arah gelasnya, sudah kosong dan rasanya dia ingin minum air hangat, segan untuk membangunkan Yuri walaupun asistennya itu dipastikan siap menjaganya kapan pun, Bianca akhirnya mencoba untuk mengambil air hangat sendiri.


Bianca membuka pintu kamarnya, berjalan perlahan ke arah dapur, dia sedikit mengerutkan dahinya, masih dini hari namun dia bisa mendengar suara dari dapur mes itu, apakah Yuri sudah bangun.


Bianca sedikit terkejut melihat sosok yang sedikit asing dilihatnya dari belakang, tak butuh waktu lama sosok itu segera melirik ke arah belakang, ternyata Bram sedang membuat sesuatu.


"Hanya ingin mengambil air hangat," ujar Bianca.


"Saya akan ambilkan, sebentar Nyonya, " ujar Bram mengambil gelas lalu segera menuangkan air hangat di gelas itu, setelah itu dia segera menyerahkannya pada Bianca, Bianca sedikit tersenyum menatap pria itu, tampak gagah dengan pakaian dinas ketentaraannya.


"Jika terlalu panas aku akan memberikan air biasa," kata Bram sedikit tersenyum, berbeda sekali imagenya dengan saat pertama kali mereka bertemu, pria pendiam namun sekarang terlihat lebih hangat.


"Pagi sekali bangunnya?" Tanya Bianca lagi, duduk di salah satu kursi makan kecil yang hanya cukup empat orang.


"Saya memang biasa melakukannya, Nyonya, saya memasak telur, Anda ingin?" Tanya Bram, dia tahu betapa sulitnya Bianca makan saat ini.

__ADS_1


"Oh, ehm, jika tak merepotkan," ujar Bianca yang merasa cukup tergiur, makan telur pagi-pagi rasanya akan menyenangkan.


"Mau di tambah keju?" Tanya Bram lagi, Bianca mengerutkan dahinya, pria ini kenapa tampak begitu ramah.


"Oh, tidak, telur saja," ujar Bianca.


Tak lama Bram membawakan telur omelette yang tampak menggiurkan, Bianca kaget melihat betapa bagusnya Bram membuat makanan itu.


"Wah, kau pintar membuatnya," puji Bianca.


"Hanya masakan dasar," ujar Bram kembali berkutat dengan dapur karena dia sudah mempersembahkan makanannya untuk Bianca.


Bianca mulai memotong telur itu, namun dia masih ragu untuk memakannya, bau telur yang sebenarnya enak itu terlalu menyengat baginya, seketika kepalanya mengingatkannya pada kesedihannya.


"Apakah sudah ada kabar tentang Tuan?" Tanya Bianca pelan.


Bram diam, dia melirik wanita yang tampak memotong-motong telurnya, dari rautnya tampak kesedihan itu muncul kembali.


"Belum Nona, tapi kami akan berusaha sebaik mungkin," ujar Bram melanjutkan memasaknya.


Bianca tersenyum kecut, selalu itu saja yang mereka jawab jika dia bertanya tentang Rain, Bianca mengelus perut bawahnya yang masih rata.


Pulanglah! Bukannya kau berjanji pulang? Aku dan anak kita menunggumu di sini, pikir Bianca, tak sadarnya setitik air mata bening sebening kristal itu jatuh dari matanya, dia segera menutupinya dengan memasukkan makanan itu ke mulutnya, perlahan mengunyahnya, untung saja dia bisa melakukannya.

__ADS_1


Bram beberapa kali melirik wanita itu diam-diam, Bianca hanya tertunduk, Bram tahu bagaimana sedihnya wanita itu, ditinggal di saat dia paling membutuhkan Tuannya, pasti sangat menyiksa, Dia segera memakan makannya di dapur, merasa tak layak duduk bersama Bianca di sana, dia hanya bisa mengawasi wanita itu, tugasnya lah membuatnya aman selalu.


__ADS_2