
"Jadi Gwi punya papi? Papi Gwi akan pulang?" tanya Gwi lagi, menatap ke arah ibunya lalu Siena kembali lagi ke ibunya.
"Ya," ujar Bianca singkat, ada rasa haru dan bersalah karena mengatakan bahwa selama ini papi mereka sudah tak ada.
"Ye! Gwi punya papi!" kata Gwi dengan suka cita, Bianca mengerutkan dahinya, dia kira Gwi akan marah karena dia sudah mengatakan bahwa ayahnya sudah tak ada, namun ternyata Gwi malah senang dan melihat sisi positifnya dari pada mempermasalahkan kesalahan ibunya.
"Gwi tidak marah dengan mami? " tanya Bianca.
"Tidak! Gwi sedang senang, Gwi punya papi, Bibi, Mami, kapan Gwi bisa bertemu dengan Papi Gwi? " tanya Gwi lagi dengan senyum cerianya.
"Eh …. " kata Bianca bingung.
Tiba-tiba ponsel Siena berbunyi, dia segera melihat ke arah ponselnya, nama Ken terpampang di sana.
"Halo? Apa kau baik-baik saja?" tanya Siena yang segera mengangkatnya, seharian ini dia menunggu telepon dari suaminya ini, tapi Suaminya itu hanya menelepon sejanak dia sudah sampai di negaranya, ini adalah telepon yang sangat ditunggunya.
Siena mendengarkan sejenak apa yang dikatakan oleh Ken, wajahnya yang berharap tadi sedikit kaget dan langsung tersenyum gembira menatap Bianca dan juga si kecil Gwi.
"Baiklah, aku akan mengatakannya, aku juga akan menunggu," kata Siena tampak tak sabar, dari gayanya sepertinya Bianca tahu Ken akan segera pulang, Siena mengatakan kata Ya beberapa kali sebelum dia memutuskan panggilannya dengan riang sekali.
"Ken akan pulang?" tanya Bianca menebak wajah sumringah adik iparnya itu.
Siena segera mengangguk dengan sangat cepat, Bianca tersenyum manis, jika Ken sudah pulang berarti semuanya sudah selesai, tapi kenapa tidak ada kabar dari Rain? Apakah dia tak akan datang ke sini? Bianca teringat sesuatu, Rain pernah berkata dia dilarang untuk masuk ke dalam negara ini, jadi bagaimana? apakah mereka harus kembali pergi dari sini?
__ADS_1
"Coba tebak, aku rasa ini karena permintaan gadis kecil ku yang imut ini, " kata Siena lagi, kembali mencubit gemas namun pelan pipi Gwi, lagi-lagi Gwi membiarkannya, malah tersenyum manis.
"Ada apa?" kata Bianca yang tadi masih berkutat dengan pikirannya.
"Kak Rain pun akan datang ke sini," kata Siena dengan mata yang berbinar, memancing percikan asa di mata Bianca, dia langsung tampak sangat bahagia, "Gwi, papi Gwi akan segera datang, kita akan menyambutnya besok pagi.”
"Papi Gwi pulang besok pagi! Mami! Gwi bisa lihat papi besok pagi," kata Gwi senang memeluk ibunya.
"Ya, kita akan lihat papi pulang," ujar Bianca dengan senyum sumringah, saking senangnya air matanya berkumpul di ujung-ujung sisi matanya, akhirnya mereka bisa berkumpul kembali seperti mimpinya.
---***---
Bianca kembali tak bisa tidur nyenyak di kamar itu, mungkin karena memang belum terbiasa dengan semuanya apalagi cuacanya yang jauh berbeda dengan cuaca biasa di pulaunya dulu, selain itu dia tak terbiasa karena kedua anaknya sudah memiliki kamar mereka masing-masing, tentu Bianca tak bisa melepaskan mereka secara langsung, setelah menidurkan mereka, barulah bianca pergi ke kamarnya sendiri, lagi pula tak mungkin mereka akan tidur berempat nantinya jika Rain sudah kembali ke sini.
Bianca bangkit dari ranjang besarnya dan segera turun dari ranjangnya, melirik ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 4 pagi, tapi matanya dari tadi seolah tak bisa diajak untuk kembali menutup karena itu dia putuskan untuk keluar dan mencari suasana yang lain, lagi pula rumah ini masih cukup asing baginya.
Bianca masuk ke dalam ruangan tengah rumah itu lalu menuju ruang makan, Bianca melirik ke arah yang berbatasan dengan ruang makan itu, ada meja makan lain di luar ruangan, lalu Bianca melihat ke ujung tempat itu, Bianca jadi ingat, Siena mengatakan bahwa anak-anak tak boleh keluar ke halaman belakang rumah karena ada jurang dalam di sana.
"Kakak, " suara Siena terdengar menegur Bianca, Bianca yang mendengar hal itu kaget, dia langsung mencari Siena, wanita itu tampak seksi dengan baju tidurnya dan secangkir teh hangat di tangannya.
"Oh, sudah bangun?" tanya Bianca yang tak menyangka Siena juga sudah bangun begini pagi.
"Tak bisa tidur, sepertinya kakak juga, aku sangat semangat menunggu mereka datang," kata Siena sumringah lalu duduk di salah satu sofa yang sangat empuk itu, menyeruput teh yang dia buat.
__ADS_1
"Ya, benar," kata Bianca ikut duduk di dekat Siena.
"Kakak, mau teh, biar aku minta mereka membuatkannya," ujar Siena.
"Tak perlu, Siena, kemarin soal aku mengatakan bahwa Rain sudah meninggal itu karena masalah yang sudah disebabkan oleh Bram, aku mengira selama ini Rain masih ingin membunuh kami, sehingga aku tak bisa mengatakan pada mereka bahwa ayah mereka masih ada namun berniat membunuh mereka, jadi aku hanya mengatakan bahwa ayah mereka sudah tidak ada," kata Bianca menjelaskan, jelas sekali kemarin Siena sangat kaget dan bingung kenapa Bianca bisa begitu, dia hanya takut jika Siena merasa Bianca kejam mengatakan pada anaknya bahwa Rain sudah tak ada.
"Aku mengerti itu kak, aku juga akan melakukan hal yang sama mungkin jika ada di posisi kakak, aku tak akan menghakimi kakak soal itu," kata Siena dengan senyum manisnya yang sedikit tersenyum.
"Baguslah jika begitu," kata Bianca.
"Pesawat mereka akan tiba sekitar jam 5.20 nanti, apakah anak-anak akan dibangunkan? " tanya Siena, sedikit tak setuju kasihan membangunkan si kembar, toh nantinya mereka juga akan kemari.
"Aku rasa tidak, kita saja yang menyambut mereka datang, " kata Bianca.
"Baiklah, kalau begitu aku akan siap-siap, aku sudah lama tak bertemu dengan Kak Rain, aku jadi ingin tahu apakah dia masih sedingin biasanya? " tanya Siena.
"Yah, masih dingin dan kaku seperti biasanya," kata Bianca tersenyum sedikit riang, ingat bagaimana suaminya itu.
"Ah, aku makin tak sabar dengan semua ini, baiklah kakak, aku akan siap-siap dulu, sebelum jam 5 sepertinya kita sudah bisa jalan, baiklah aku masuk dulu ya kak," kata Siena langsung semangat berdiri.
"Baiklah, aku juga akan bersiap.”
----
__ADS_1
Upnya hari ini segini dulu ya kak, udah dibuat sih,cuma sudah terlalu malam untuk di edit ulang, haha...
besok lagi ya... makasih atas pengertian semuanya