Rain In The Winter

Rain In The Winter
213. Ending


__ADS_3

3 tahun kemudian...


"Ceritakan padaku Bibi," kata Ceyasa menggebu.


Siena dan suri yang duduk di dekat Bianca pun tampak antusias, mereka sedang berbincang hangat di ruang minum teh kerajaan, sedangkan para pria di ruangan lain untuk membahas hal yang lain pula, ini acara makan malam formal keluarga kerjaan yang memang selalu di selenggarakan.


Bahkan Bella, Nakesha dan Aurora yang duduk tak jauh pun ikut ingin mendengarkan kisah Bianca.


"Ya, dia masih seperti itu, kadang ingat namun kadang lupa dengan kami," ujar Bianca lagi menyerupun tehnya.


"Jadi terkadang Paman menjadi pria lain? Dan setiap kali dia kehilangan ingatannya dia akan jatuh cinta lagi dengan Bibi, saat dia kembali dia juga akan lupa pernah melakukan apa?" Tanya Ceyasa yang selalu saja paling heboh di sana, padahal statusnya adalah ratu, untung saja Ratu Ayana sudah lama mangkat, jika tidak dia sudah kena tegur terus menerus.


"Benar," ujar Bianca kalem.


"Wah, bukannya itu menyenangkan, akan ada cerita dan suasana baru," kata Siena yang juga akhirnya bisa membuat kakak iparnya ini bercerita, padahal selama ini dia tak ingin mengatakannya, Ceyasa memang bisa membuat orang tergoda.


"Jadi selama ini sudah berapa kali dia hilang ingatan?" Ujar Bella penasaran.


"Sudah 4 kali Kak, tahun lalu dia hanya mengalaminya sekali," ujar Bianca.


"Uh, berarti sudah 4 kali Bibi membuat paman jatuh cinta lagi ya? Dan rasanya pasti seperti baru berpacaran," ujar Ceyasa yang masih heboh, ada rasa iri melakukan itu, ide pria yang tetap jatuh cinta walaupun berapa kali dia melupakannya adalah hal yang terdengar romantis padahal belum tentu yang melakukannya merasa begitu.


Bianca hanya mengangguk pelan. Suri ambil bagian, menggunakan bahasa isyaratnya, untung saja Bianca sudah cukup belajar, dia juga cukup banyak bergaul dengan Ceyasa, Suri dan Siena selama 3 tahun ini.


Berapa paling lama Paman kehilangan ingatannya? Tanya Suri dengan lambaian tangannya.


"Paling lama dia pernah kehilangan ingatannya hampir 1 bulan, namun tak ada bedanya, dia tetap Rain," ujar Bianca menjelaskan.


"Berapa waktu paling lama yang dibutuhkan untuk Rain bisa jatuh cinta lagi padamu?" Tanya Nakesha yang tak kalah antusiasnya dengan Ceyasa sekarang.

__ADS_1


"Ehm, dia pernah tak ingin mendekati kami 4 hari lamanya, tapi setelah itu semuanya kembali normal, itu saat paling frustasi, karena dia seperti menolak semuanya," ujar Bianca mengingat, pengalamannya dengan Rain yang hilang ingatan nyatanya menjadi tantangan dan bumbu tersendiri bagi kehidupan rumah tangganya, kadang menyegarkan, tapi juga tak lepas dari haru biru perjalan rumah tangga


"Apakah sekarang kakak sedang ingat atau malah sedang tak ingat?" Kata Siena.


"Entahlah, sejujurnya mereka tak bisa dibedakan, apalagi akhir-akhir ini Rain lebih suka mengerjaiku dengan tak melakukan hal-hal biasanya, tapi jika dia ingin ke sini, pasti dia sedang ingat semuanya," ujar Bianca lagi


"Ah, terkadang aku ingin Archie lupa ingatan sejenak dan sedikit lebih romantis, tidak hanya bertengkar denganku terus menerus," ujar Ceyasa cemberut yang langsung disambut gelak tawa oleh semuanya.


Bersamaan dengan itu para pria yang selesai membahas tentang bisnis mereka masuk ke dalam ruang minum teh itu, sekelompok pria yang nyatanya lebih cocok menjadi artis atau model dari pada menjadi seorang raja, presiden ataupun pengusaha sukses. Masing-masing dari mereka berdiri di belakang istrinya. bagaikan sederet pria tampan yang sangat nyaman memandangnya.


Rain mengurutkan dahinya melihat para wanita yang menatapnya, namun dia tetap memasang wajah datarnya yang dingin, sambil berdiri di belakang istrinya.


Ken segera berdiri tegap di belakang istrinya yang ada di samping Bianca, berdiri berdampingan dengan Kakak iparnya yang dulunya adalah Tuannya.


Jared langsung meletakkan tangannya di kedua pundak istrinya, Suri dengan senyumannya mencapai tangan itu, menatap suaminya yang selalu ada di sampingnya.


"Ada apa?" Tanya Jared berbisik pada istrinya yang tampak sumringah, Suri menggelengkan kepalanya, Jared hanya membalasnya dengan senyuman.


"Ada apa ini? Kenapa semua tampak bahagia?" Tanya Archie memecah hening yang romantis ini.


"Srtt! Ini rahasia wanita," kata Ceyasa yang langsung nyeletuk mendengar perkataan suaminya, hanya suaminya yang paling berisik di antara pria-pria yang lain, tentu itu menurut Ceyasa.


"Itu tak adil, kenapa wanita harus tahu semua hal tentang suaminya, sedangkan wanita sendiri punya rahasia," ujar Archie, Ceyasa melirik suaminya sinis.


"Tidak juga, aku tak perlu memberitahukan semuanya pada Ibumu," ujar Jofan menjawab.


Archie yang mendengar itu menekuk wajahnya.


"Benarkah?" Tanya Archie yang mulai memandangi satu persatu pria yang ada di sana, satu persatu mereka menggeleng menandakan bahwa istri mereka tak pernah ingin tahu semua apa yang mereka lakukan, Archie melihat ke arah Jared, Jared pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Itu artinya hanya aku yang selalu di introgasi istriku? Kau ini istri yang kejam," kata Archie melihat sinis istrinya yang duduk di depannya. Semua orang di sana tertawa tertahan, tak mungkin terang-terangan menertawai seorang raja walaupun kelakuannya tak seperti raja saat ini.


"Ehm, ayahnya masih ada di sini," Tegur Jofan, Archie mengulirkan matanya malas, anak dan ayah sama saja pikirnya.


"Itu agar kau tak nakal," kata Ceyasa membela diri.


"Kapan aku nakal? Dasar kau menjatuhkan harga diriku," kata Archie lagi.


"Kan kau yang membongkarnya sendiri, dasar," kata Ceyasa yang membungkam Archie.


"Ya, Baiklah, yang penting istri senang," kata Archie mencari alasan menutupi kekalahannya dari istrinya ini.


Semua kembali menahan tawanya hingga akhirnya tak bisa dan saling tertawa lepas, menambah warna pertemuan ini.


Langkah kaki kecil akhirnya mendatangi mereka, Gwi dan Gio langsung bergabung dengan ayah dan ibu mereka, usianya sudah 5 tahun.


Jared menyambut gadis kecilnya yang sekarang berumur 12 tahun berjalan anggun perpaduan sempurna seperti ibu dan ayahnya., Gwen langsung menggandeng ayahnya dengan manja.


Xander masuk belakangan dengan langkahnya yang tegap, dia sedikit tersenyum, menebar aura kepimimpinan walaupun dia masih 13 tahun namun tampak menunjukkan kharismanya sebagai pangeran dan pewaris sah tahta kerajaan, Ceyasa langsung menyambut anaknya yang segera duduk di sampingnya, semuanya keluarga akhirnya berkumpul bersama dalam kehangatan dan kebahagiaan, tanpa ada dendam, semuanya melangkah maju ke depan.


Bianca menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat, apapun yang terjadi kedepannya dia sudah yakin bisa melewatinya, tanpa rasa was-was dan takut lagi, dia yakin, suaminya akan selalu ada di sisinya dan juga menepati janjinya, akan selalu jatuh cinta padanya setiap kali, lagi dan lagi


---***---


Seperti hujan yang rela mengubah bentuknya menjadi butiran salju yang indah untuk memberikan keindahan yang nyata di dunia dan juga Salju yang akan meleleh kembali menjadi air yang memberikan kehidupan di musim berikutnya, menunggu dengan sabar dirinya menguap dan kembali menjadi hujan, seperti itulah siklus kehidupan, walau panjang perjalanan, tapi akhirnya mereka harus rela Melawati semuanya, dimana hanya mereka yang mengerti yang sanggup melakukannya dan tahu bahwa akhirnya mereka adalah satu dan sama, Hujan akan menjadi salju, dan salju akan menjadi hujan diwaktu yang lainnya.


Saya selalu suka dan setuju dengan sebuah ide tentang cinta sejati yang pasti kembali pada tempatnya, berapa pun cobaan dan rintangan, berapa banyak hati yang mencoba mengganti, namun cinta sejati akan kembali lagi dimana tempatnya bermula, mungkin sebagian mengatakan itu adalah jodoh, bagi saya itu adalah salah satu bukti bahwa keabadian itu nyata di dunia.


"Bahwa dalam perjalanan yang paling indah sekalipun pasti ada terpaan angin bahkan badai yang mengguncang, tapi itulah yang membuat kita akhirnya mencapai tujuan bersama, karena yakinlah, kapal yang berlayar di lautan paling tenang pun, membutuhkan sedikit tiupan angin untuk mencapai tujuannya."

__ADS_1


----*****-----


__ADS_2