Rain In The Winter

Rain In The Winter
205


__ADS_3

Suara ketukan terdengar saat Rain baru saja ingin kembali mencium Bianca, namun seolah yakin ada sesuatu yang sangat penting, Bianca yang tadinya ada di pelukan Rain langsung melepaskan dirinya dan segera turun dari ranjang tunggu itu, Rain hanya berwajah sedikit kecut, dia masih ingin bermesraan dengan istrinya.


Bianca membuka pintu lalu segera melihat Yuri yang berdiri di depan dengan muka segan.


"Nyonya, ada dokter Irene, Beliau membawa hasil pemeriksaan darah Tuan dan juga Gio dan Gwi," kata Yuri pada Bianca.


"Oh, baiklah, tunggu sejenak," ujar Bianca kembali menutup pintu kamarnya, melirik suaminya yang sudah kembali berbaring dengan kedua tangannya menjadi tumpuan tidurnya.


"Ada apa?" Tanya Rain.


"Dokter Irene membawa hasil darahmu dan darah si kembar," ujar Bianca menyusuri ruangan mencari kamar mandi, dia ingin mencuci wajahnya sedikit, tak ingin terlihat seperti habis bangun tidur.


Bianca akhirnya menemukan kamar mandinya dan bergegas masuk, Rain masih cukup malas, entah kenapa setelah dia bangun dari koma, tubuhnya masih terasa berat dan dia serasa tak terlalu ingin banyak bergerak, namun dia segera menaikkan tubuhnya, kembali duduk dan segera ingin bergabung dengan Bianca mencuci wajahnya, Bianca sedikit kaget namun langsung terbiasa, dia segera menyerahkan handuk kecil setelah Rain mencuci wajahnya.


Bianca dan Rain keluar bersamaan langsung melihat dokter Irene yang tersenyum cerah, dari senyumnya Bianca bisa menebaknya, hatinya cukup nyaman.


"Selamat sore Tuan dan Nyonya, saya di sini ingin menyampaikan kabar bahagia, hasil dari tes darah Tuan Rain serta kedua anak kalian, semuanya sangat bagus, untuk si kembar penyakit itu sudah tidak aktif, namun tetap beberapa tahun ke depan Tuan dan Nona kecil harus melakukan pemeriksaan untuk memastikan keadaannya," kata dokter Irene tersenyum senang. Mendengar itu Bianca tampak bahagia, anaknya lepas sudah dari jeratan maut yang kapan saja bisa menjerat mereka.


"Bagaimana dengan Rain?" Tanya Bianca lagi, Dokter Irene kurang menjelaskan tentangnya.

__ADS_1


"Saya hanya bisa menjelaskan tentang hasil pengobatan berdasarkan hasil darahnya, hasil darah Tuan Rain pun sudah tidak aktif, artinya penyakit ini sudah tak akan menjangkiti Tuan Rain untuk selamanya, sekarang keadaannya sama seperti keluarga kerajaan yang lain yang sudah bebas dari penyakit ini," kata Dokter Irene kembali menjelaskan.


Bianca tersenyum lalu melirik ke arah suaminya yang ada di sampingnya, Rain menarik sudut bibirnya ke atas sedikit saja, membuat senyuman tipis itu terlihat seraya menyisipkan tangannya di pinggang kecil istrinya.


"Tentang masalah efek samping yang lainnya Dokter Malvis dan DOkter Derian yang lebih berwenang untuk menjelaskannya," ujar Dokter Irene.


"Ya, terimakasih Dokter," kata Bianca, setidaknya ada kabar bahagia yang bisa dia dengarkan.


"Baiklah, karena keadaan kedua Tuan dan Nona muda sudah baik, saya akan melepas infus mereka agar mereka bisa bebas bergerak," kata dokter Irene.


Bianca mengangguk setuju, Gio dan Gwi yang mendengarnya pun semangat, akhirnya mereka tak perlu terlalu terbatas dengan selang-selang ini.


"Jangan menangis, Gwi dan Gio hebat," ujar Rain menggendong kedua anaknya, walau tampak susah, Rain berusaha menenangkan keduanya. Satu anak di setiap lengannya.


"Sini Gwi sama mami," kata Bianca yang merasa kasihan melihat Rain yang digelayuti dua anaknya, untungnya Gwi menurut dan segera memeluk ibunya, Gwi masih senggugukan melihat tangannya yang diperban, Bianca memandang suaminya, Gio sudah tenang dipelukannya, Rain menaikkan sudut bibirnya, merasa ini adalah gambaran keluarga yang dia impikan selama ini.


---***---


Rutinitas Bianca dan Rain sekarang sudah seperti biasa dengan keluarga kecil mereka yang bahagia, setelah diizinkan pulang walaupun dengan cara memaksa dari rumah sakit itu, Dokter Malvis merasa kekhawatirannya mungkin terlalu berlebih, Rain bangun keesokan harinya dengan keadaan baik-baik saja, jadi Dokter Malvis tak punya alasan untuk menahan Rain lebih lama di rumah sakit.

__ADS_1


Rain dan Bianca memutuskan untuk tinggal di negara ini, Mereka memikirkan tentang keadaan Gwi dan Gio yang sudah terlihat nyaman dan juga senang memiliki saudara, jika pindah lagi mereka yakin Gwi dan Gio akan merasa kecewa.


Tak butuh waktu lama, seminggu setelah si kembar dirawat, mereka segera masuk sekolah yang sama dengan Pangeran Xander dan Gwen, tentu mereka berbeda kelas, Gio dan Gwi ada di TK sedangkan Gwen dan Xander sudah duduk di bangku SD, namun mereka cukup sering terlihat bersama.


Setiap pagi sesuai dengan janjinya, Rain selalu menghampiri Bianca untuk memberikan sebuah ciuman hangat yang sekarang menjadi rutinitas mereka, Rain dibantu oleh Archie mendirikan cabang perusahaannya di negara ini, sementara perusahaannya belum selesai, dia mengutus Luke untuk menjadi CEO dan mengurusi semua perusahannya di negara asal mereka, hal ini dilakukan karena Ken sudah tak mungkin lagi mengurusi perusahaan mereka, Ken punya perusahaannya sendiri yang berkerja sama dengan mertua angkatnya.


Tak terasa 7 bulan sudah semua berjalan begitu hangat dan nyaman, kekhawatiran di diri Bianca pun perlahan memudar, kali ini dia benar-benar merasakan kehidupan yang sangat indah, setelah semua yang terlewati, jatuh bangun dihiasi air mata dan keringatnya, sekarang hanya ada canda dan tawa. Sepertinya semuanya akan berjalan dengan baik sekarang.


"Papi!" Teriak Gio yang baru saja masuk ke dalam rumah mereka, Gio dan Gwi baru saja pulang dari sekolahnya dan sosok pertama yang mereka lihat adalah ayah mereka yang sebenarnya sedang melalukan panggilan untuk mendengarkan laporan dari Luke.


"Berhenti dahulu, laporkan saja nanti malam, kirim laporannya juga ke emailku, anak-anakku sudah pulang," ujar Rain ingin menyudahi hal ini.


"Baik Tuan," ujar Luke segera, sudah tahu bagaimana Rain sekarang, waktunya dengan keluarga adalah hal terpenting baginya.


Rain menaikan sudut bibirnya, berjalan menuju kedua anaknya yang segera merentangkan tangannya untuk di gendong, hari ini giliran Gwi yang mendapat gendongan dari ayahnya, Gio sedikit kecewa tapi dia tahu memang ini giliran adiknya untuk di gendong, lagi pula dia pria, tak pantas menjadi kesal hanya karena ini.


"Gio dan Gwi baru pulang? Bagaimana keadaan di sekolah," ujar Rain segera menggenggam tangan Gio, tak ingin membuat kecil hati anaknya.


"Hari ini Gio dan Gwi bisa menyanyi di depan kelas, Gio dan Gwi juga mendapat nilai yang bagus dalam menulis dan mengeja," ujar Gio melaporkan semuanya pada ayahnya.

__ADS_1


"Itu baru anak papi," kata Rain terdengar bangga, membuat hati Gio kembali besar karenanya, dan Gwi langsung memeluknya senang.


__ADS_2