
"Nona, semua berjalan sesuai rencana," terdengar seorang pria memberikan laporan pada Lidia yang terlihat begitu santai di meja makannya.
"Bagus sekali, bagaimana keadaannya?" tanya Lidia lagi melirik pria yang sekarang menjadi asistennya.
"Pingsan, Tuan Ken mencekiknya dengan kuat namun tidak sampai membunuhnya," ujar pria itu tanpa ekspresi, dingin seperti bosnya.
"Oh, kalau begitu," kata Lidia melihat pria jangkung di sebelahnya itu, dia tersenyum manis, "Bunuh dia," sebuah perintah yang tak akan pernah ada yang mengira bisa dia perintahkan.
"Bunuh!" kata pria itu memegang handfreenya, Lidia tersenyum sangat manis, senang akan semua rencana yang dia sudah buat, rasanya kali ini Tuhan begitu baik padanya, Rain ada di sisinya, dan pria tamak itu akan hilang selamanya.
"Kenapa kita harus membunuh Tuan Drake Nona? bukankah dia salah satu rekan yang bisa kita gunakan?" kata Asisten Lidia.
"Ya, tentu, kita sudah menggunakannya, itulah gunanya dari awal, mati! lagi pula aku tidak akan membiarkan dia menjadi duri, pria licik tapi bodoh dan lemah sepertinya akan sangat menyusahkan, dari awal aku tahu dia akan memerasku, dan siapa yang ingin berbagi kekayaan Suamiku dengannya, bodoh sekali," kata Lidia meminum anggur merah yang ada di gelasnya.
"Benar, dia akan terus mengancam kita menggunakan Tuan Rain, itu sangat membahayakan," ujar asisten Lidia dengan datar saja.
"Yap! kau pintar, kabari aku jika dia sudah benar-benar mati, lalu segera lanjutkan rencana berikutnya, aku ingin melihat suamku dulu," ujar Lidia, dia melegang santai menuju ke arah tempat Rain di rawat.
Lidia menatap tubuh yang masih tampak diam bagai tak bernyawa itu.
"Bagaimana?" tanya Lidia pada dokter itu.
"Esok adalah ekperimen terakhir, jika dia gagal, maka dia tak akan bisa selamat, otaknya tak akan kuat menerimanya," ujar Dokter itu.
Lidia melirik ke arah Rain, wajahnya tampak datar, dia tak berusaha begitu keras hanya untuk melihat akhirnya Rain mati, dia ingin memiliki pria ini.
"Buka pintunya!" kata Lidia.
"Nona, itu tidak diperbolehkan," kata dokter itu.
"Buka pintunya, kau berani melarangku?" ujar Lidia, dokter itu mau tak mau membukakan pintunya.
__ADS_1
Lidia melangkah ke arah ruangan itu, dingin sekali hingga membuat dia cukup menggigil karenanya. Lidia mendekati tubuh itu, dia berdiri di samping Rain, pria ini begitu menarik perhatian, bahkan tertidur pun terlihat begitu tampan.
Lidia lalu membungkukkan tubuhnya, dia lalu berbisik pelan pada telinga Rain.
"Kakak, aku tahu kau mencoba melawan, kau sangat hebat, tidak sadar pun kau masih bertahan, tapi esok adalah percobaan terakhir, pasrahlah, jika tidak, kau akan mati, dan kau tahu apa yang akan ku perbuat jika kau mati? aku akan memburu istrimu itu hingga ke ujung dunia, dan akan aku berikan dia siksaan yang bahkan akan membuatmu menjerit di dunia sana, jadi sekarang, pasrahlah."
Rain tak merespon apapun, tapi Lidia cukup yakin pria tangguh ini mendengarkannya, dia lalu tersenyum dan mengecup pipi Rain seperti seorang ibu memberikan salam selamat malam pada anaknya, dengan perlahan dia berbalik lalu keluar dari sana. Dokter yang melihat itu hanya diam karenanya.
---***---
Seorang penjaga dengan jas hitam lengkap masuk ke dalam kamar yang tadi digunakan oleh Ken dan Drake untuk berkelahi.
Dia menatap ke sekeliling mencari tubuh Drake, dengan sarung tangan karetnya dia mencari denyut nadi di leher Drake, tentu masih terasa.
Dia lalu membuka tasnya, perlahan mengambil sebuah suntikan dengan jarum halus dan dengan perlahan dia mencari pembuluh darah di tubuh Drake, dia lalu menyuntikan cairan berawarna sedikit merah jambu.
Tak butuh waktu lama, Drake tampak membuka matanya seolah dia mendapatkan syok yang bahkan membuatnya sadar seketika, namun dia segera terlihat kejang, tangannya memegang lehernya yang kembali tercekat walaupun tak ada yang menghalanginya, tubuhnya menggelepar merasakan panas yang amat sangat hingga serasa melelehkan semua organ dalamnya, dia bahkan hingga menggaruk lantai mencari pertolongan namun rasa di dalam tubuhnya sangat menyiksa, dia benar-benar tak sanggup lagi, seolah seluruh pembuluh darahnya pecah, dan tak lama matanya mendelik ke atas, menyisakan warna putihnya saja, dan perlahan tubuhnya menegang bagaikan papan, dan akhirnya lemas sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
"Tikus sudah pulang," katanya tersenyum, dia berdiri, satu tugasnya selesai, sekarang dia tinggal mengambil rekaman CCTV dan membawanya pada Nonanya, semua berjalan lancar.
---***---
Ken duduk di ruang tengah di mess militer itu, mess yang dulu dia gunakan sebelum dia keluar dari militer dan fokus menjadi asisten Rain, berkat Bram yang masih aktif membantu Ken untuk ada di markas militer itu. Setelah dia membersihkan diri dan juga setelah memastikan Siena tidur kembali, Ken menemui Bram yang masih saja mencoba mencari hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku rasa Tuan Rain masih hidup dan Lidia terlibat dengan semua ini," ujar Ken yang membuat Bram yang masih sibuk dengan laporan-laporan melirik Ken.
"Kau yakin?" Tanya Bram.
"Tadi pagi dia membawa surat penyerahan kekuasaan, di sana ada sidik jari Tuan Rain, aku yakin Tuan Rain ada padanya dan menggunakan sidik jari itu untuk melakukannya," ujar Ken lagi, menatap Bram sama tajamnya.
"Untuk apa Lidia menginginkan perusahaan Tuan Rain? Setahuku Lidia juga punya cukup kekayaan untuk dirinya sendiri," ujar Bram.
__ADS_1
Ken belum memikirkan hal itu, dia melirik ke arah ponsel satelitnya yang bergetar, hanya ponsel ini yang masih ada padanya.
"Halo?" Tanya Ken.
"Kau di mana?" Ujar Luke tergesa-gesa.
"Di markas militer," kata Ken.
"Ha? Bagaimana kau bisa ke sana?"
"Terlalu panjang ceritanya, ada apa?"
"Aku sudah ada di Ibukota, aku menelepon ponselmu yang lain namun tak aktif karena itu menelepon dengan ini, aku harus bertemu denganmu," kata Luke lagi dengan serius.
"Baiklah, aku di markas militer wilayah barat, aku menunggumu," kata Ken segera.
"Ya," kata Luke, dia segera mematikan panggilannya dan melajukan mobilnya segera.
Mobil Luke berhenti di parkiran khusus dari markas militer itu, dia harus di jemput oleh Bram atau Ken agar bisa masuk ke wilayah khusus itu, Ken yang menjemputnya.
"Hei," kata Luke menyapa teman seperjuangannya yang wajahnya selalu tampak datar dan keras itu.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Ken yang tak ingin basa basi lagi, mengajak Luke berjalan menuju messnya.
"Oh, ya, di sini tak apa-apa?" Tanya Luke melihat wilayah militer yang sepi itu.
"Tak masalah," ujar Ken.
"Baiklah, Apa kau memimpin perusahaan?" Tanya Luke.
"Tidak, Nona Lidia yang melakukannya, kenapa?" Kata Ken, dia ingin tahu ada apa.
__ADS_1
"Nona Lidia? Bagaimana bisa?"