
Ken terduduk di salah satu sel sementaranya, dia sudah ada di sana lebih dari 12 jam, setelah interogasi yang cukup panjang sekarang dia hanya menunggu keputusan untuk dirinya.
Seorang sipir lalu membuka pintu sel sementara itu, Ken memandangnya dengan lirikannya, pria ini orang yang pernah di kenalnya.
"Tuan Ken Walker," ujar Pria itu dengan raut wajah senang.
"Ya," kata Ken dengan posisinya.
"Anda dibebaskan, Tunanganmu benar-benar hebat, dia menyediakan bukti kuat bahkan sebelum 48 jam, kau sangat beruntung," ujar sipir itu, dia menepuk pundak Ken sebelum membuka borgolnya.
"Terima kasih," ujar Ken yang hanya diam saja, tak ingin terlalu banyak berbicara di sini dan segera setelah tangannya bebas dia segera keluar dari sel tahanan sementara itu.
Saat sipir itu membuka pintu pertama, dia langsung melihat Siena yang dengan wajah sedih juga cemas menatapnya, tanpa tunggu panjang memeluknya dengan erat, sedikit wajah lega dan bahagia akhirnya terpancar, Ken pun memeluk tubuh kecil calon istrinya itu, melirik pria di belakangnya, seorang pengecara terkenal memberikan salam padanya.
"Baiklah, ayo kita keluar dulu dari sini," kata pengacara itu, mendengar hal itu Siena mengurai pelukannya, tanpa menunggu lama lagi dia segera berjalan keluar bersama Ken dan mereka segera masuk ke dalam mobil mereka.
"Kau tak apa-apa kan? Apa mereka menyiksamu?" Ujar Siena menatap Ken, baru saja keluar dari penyekapan, dia harus ditahan di penjara dengan tuduhan yang penuh fitnah, membuat hati Siena hancur karenanya.
"Tidak, terima kasih, jangan khawatir," ujar Ken menenangkan Siena, Siena tak lagi bisa berkata-kata, untunglah ayahnya memerintahkan orang terbaik untuk mengurus kasus ini.
"Kau benar-benar di jebak dan polisi di sini benar-benar korup," ujar Pengecara itu geleng-geleng kepala.
"Terima kasih," ujar Ken sambil memeluk Siena dengan satu tangannya.
"Kau tahu siapa yang menjebakmu ini?" Tanya Pengecara dengan wajah bertekuk.
__ADS_1
"Ya, aku tahu," ujar Ken, selama di dalam tahanan dia sudah memikirkan sesuatu, pasti semua ini ulah Lidia.
"Benarkah? Siapa?" Ujar Siena menaikkan tubuhnya, pelukan hangat itu pun terurai.
"Aku yakin ini ulah Lidia, dia juga Mengganti semua karyawan di perusahaan, aku yakin tujuannya agar kita tidak kembali fokus mencari Tuan Rain, dia berpikir aku akan di penjara lebih lama sehingga fokus kita menjadi menangani kasusku, aku bertambah yakin Tuan Rain ada padanya," ujar Ken menatap tajam pada Siena dan juga Pengecara itu, sebab itu pula semenjak keluar dari Penjara wajah Ken tampak begitu ketat, ternyata ada yang mengganjal di pikirannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Siena.
"Tentu mencari tahu keberadaan kakakmu, kita akan pergi ke perusahan sekarang," ujar Ken tak ingin membuang-buang waktu, dia juga ingin menjaga 'element of surprise'nya, karena dia tahu, Lidia tak akan menyangka dia bisa keluar secepat ini.
"Bukankah ini sangat berbahaya, kita bagaikan masuk ke kandang singa, itu bunuh diri," ujar Siena yang melihat tekat kuat di wajah Ken, dia takut hal ini kembali membuat Dia berpisah dengan belahan jiwanya ini.
"Dia tak mungkin melakukan sesuatu padaku di sana, terlalu banyak bukti dan saksi, aku yakin aku akan baik-baik aja," kata Ken menegang tangan Siena, walaupun perkataan Ken begitu meyakinkan namun di hati Siena ternyata dia belum juga bisa tenang.
"Aku ikut denganmu," ujar Siena.
"Tidak mau, dia juga kakakku, jika aku tak diizinkan, aku tetap akan menyelinap masuk," kata Siena dengan wajah mantapnya, Ken menunduk pasrah, satu sifat Siena yang baginya luar biasa, tak pernah takut apapun, terkadang ada baiknya, namun kebanyakan mengundang bahaya.
"Baiklah, jangan menyelinap, ikut saja denganku," ujar Ken dari pada dia menyelinap dan pergi sendirian itu gawat sekali.
Pengacara itu hanya membesarkan matanya tak percaya bahwa Ken menyetujuinya.
"Percayalah, lebih baik dari pada gadis ini bertindak nekat," ujar Ken lagi, pengacara itu tampak tak setuju namun juga tak bisa menolak.
Mobil mereka tak lama Sampai di depan perusahaan Rain, Ken langsung masuk ke dalam perusahaan itu, namun baru Sampai resepsionis mereka segera di tahan oleh 5 orang penjaga di sana, Ken bahkan tak mengenali orang-orang ini.
__ADS_1
"Anda tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam," ujar penjaga itu.
"Kau tak tahu aku siapa?" Kata Siena.
Namun para penjaga itu bergeming, mereka tetap dengan posisinya menahan mereka untuk masuk. Namun salah satu dari mereka mendengar sebuah perintah dari handsfree-nya.
"Silakan, Nyonya Lidia menunggu anda Di ruang meeting internal," ujar penjaga itu.
Ken dan Siena mengerutkan dahinya, Nyonya? Sejak kapan dia menjadi Nyonya? Kecurigaan mereka semakin kental.
Tak mengambil waktu lama Ken segera menarik Siena, tak mengizinkan wanita itu lepas dari genggaman tangannya, mereka segera di antar oleh penjaga yang mengizinkan tadi, Ken benar-benar sudah kehilangan akses di perusahaan ini, bahkan untuk naik dia harus menggunakan kartu akses dari pria ini, dulu, sidik jarinya bisa membuka semua sistem di perusahaan ini.
"Silakan, ruangan paling kiri dari sini," ujar Pengawal itu.
"Tak perlu diberitahu, aku ada di sini lebih lama dari pada dirimu," ujar Ken pada pria itu, dia bergegas pergi menuju ke ruang meeting internal itu, langkahnya cepat dan besar membuat Siena kadang-kadang harus berlari kecil menyeimbangkan dirinya, biasanya jika sudah emosi, Ken selalu seperti ini.
Ken langsung membuka pintu meeting itu, di ujung meja meeting yang luas itu dia melihat sosok manis yang segera menatap mereka, senyumannya sumringah dan memuakkan, Siena menyipitkan matanya menatap wanita itu, kenapa? Kenapa kakaknya harus terus berurusan dengan wanita gila ini.
"Wow, tak ku sangka aku bisa melihatmu secepat ini," ujar Lidia bangkit, melihat wajah kusut dari Ken dan Siena, dia menebak, mereka pasti langsung ke sini setelah dari penjara.
"Kenapa? Berharap aku lebih lama di penjara akibat fitnahmu?" Kata Ken ketus.
"Wow, seorang asisten sekarang berani berkata begitu, oh ya, kau bahkan bukan siapa-siapa," ujar Lidia perlahan sekali mendekati mereka, tatapan matanya tajam menatap Siena.
"Lalu kau siapa? Beraninya duduk di sini," ujar Siena, wanita gila ini harus dia yang melawannya.
__ADS_1
Lidia berhenti, menatap wajah Siena yang menatapnya tajam, dia lalu menggeleng kecil sambil tertawa tak percaya, berani sekali wanita yang bahkan baru saja diangkat jadi adik Rain ini berbicara begitu padanya.
"Aku siapa? Bukannya seharusnya aku yang bertanya seperti itu, wanita J*l*Ng?!" Kata Lidia, tentu menyulut emosi Siena yang sudah memuncak, dia ingin mendekati wanita itu dan menjambaknya, membenturkan kepalanya ke meja lalu melemparkan tubuhnya dari lantai 17 ini. Untung saja Ken menahan tubuhnya, jika tidak dia benar-benar akan melakukannya.