
"Naiklah," kata Bram dia berjongkok di depan Bianca.
"Ha?" Tanya Bianca bingung.
"Naik ke punggungku, aku akan membawa Nyonya turun, aku tahu berbahaya jika meminta Nyonya turun, tapi ini satu-satunya jalan, naik nyonya, kita tak punya banyak waktu," kata Bram.
Bianca tentu ragu awalnya, namun dia juga tak mau jadi beban dan menghambat Bram, melihat punggung bidang itu, Bianca memantapkan hatinya, perlahan dia menaiki punggung itu dan Bram dengan entengnya menggendong Bianca, beratnya benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan pelatihannya.
Bram tak ambil waktu lama, dia segera turun dengan cepat menapaki satu persatu anak tangga itu, Bianca menutup matanya, rasanya takut jika turun digendong seperti ini, tak terasa Bram sudah menuruni 3 lantai, dan saat ingin turun di lantai 2, Bram Dan Bianca mendengar suara seperti para pengawal yang sudah tahu mereka naik tangga darurat, sepertinya karena CCTV.
"Turun!" Kata Bram pelan, menurunkan Bianca lalu segera menariknya keluar dari tangga darurat itu, dia langsung berjalan menyusuri lorong, sepertinya semua karyawan sudah di minta untuk berlindung di satu ruangan, terlihat tidak ada satupun karyawan yang ada di sana.
Bram dan Bianca berjalan mengendap, takut tiba-tiba di sergap, Bram dengan posisinya menjaga Bianca, mengacungkan pistol dengan mantapnya, dan saat si sebuah belokan benar saja, dia mendapatkan todongan pistol, mereka sama-sama menodongkan pistol, Bram menarik Bianca di balik tubuhnya, menjadikannya tameng agar Bianca selamat.
"Bram!" Kata seorang pria yang wajahnya keras seperti juga halnya Bram.
"Antony," kata Bram yang ternyata kenal dengan pria ini, sama-sama tentara yang biasa diminta menjadi pengawal.
Antony melirik ke arah Bianca yang meringkuk ketakutan, namun Bram mengetatkan tangannya, membuat Bianca agar tenang.
"Menyerahlah," kata Antony.
"Apa perintah atasanmu?" ujar Bram tegas.
Antony diam sejenak, sebenarnya enggan untuk melakukan perintah atasannya.
"Membunuh kalian," kata Antony.
__ADS_1
"Kita lakukan seperti biasa," kata Bram menatap tajam pada Antony.
"Baiklah," kata Antony.
Bram dan Antony perlahan meletakkan pistol mereka ke lantai di dekat kaki mereka sambil terus menatap ke arah masing-masing, Bram lalu melepaskan tangan Bianca, Bianca kaget tentunya, kenapa ini?
"Nyonya, menyingkirlah," kata Bram melirik ke arah Bianca.
Bianca hanya mengangguk, secepatnya dia menjauh, namun tak ingin terlalu jauh, takut tiba-tiba tersergap oleh pengawal yang lain.
Bram dan Antony memulai duel mereka, mereka saling memberikan serangan namun keduanya bisa saling menangkis, Ken memberikan pukulan dan Antony memberikan tendangan, mereka segera tersungkur bersama, lalu bangkit lagi secepatnya, segera lagi bertarung namun terlihat begitu sengit, mereka seimbang sekali, bahkan Bianca sampai tak bisa melihat tendangan dan pukulan mereka karena begitu cepat, mereka yang bertarung, Bianca yang kesusahan bernapas.
Namun tiba-tiba Antony mengambil pistolnya lalu dengan secepat kilat menodongkannya ke kepala Bianca, Nyonyanya hanya menyuruhnya menghabisi wanita ini.
Bianca terdiam kaku, dia bahkan tak bisa berkedip apalagi berteriak, tubuhnya bergetar dan terasa dingin, rasa takut itu terasa sekali, ujung pistol itu terasa di dahinya, dia benar-benar tak bisa bernapas.
Sesaat semua terasa tegang, namun tiba-tiba Antony tertawa, dia menurunkan pistol itu, lalu berputar ke arah Bram yang tetap mengacungkan pistolnya.
"15 menit, aku akan arahkan bawahanku ke lantai 5, kalian bebas keluar, tapi hanya 15 menit," ujar Antony, dia tak bisa mengkhianati teman seperjuangannya. " Semua unit mereka di lantai 5," kata Antony memberikan perintah dari handsfree-nya dan menyerahkan kartu aksesnya, Bram menurunkan pistolnya.
"Terima kasih," kata Bram, secepat kilat menarik Bianca, tak melihat Antony yang hanya tersenyum melihatnya, mereka lalu segera kembali ke lift dan menuju lantai basement, setelah melihat keadaan baik-baik saja, Bram menarik Bianca, Antony melakukan janjinya, tak ada pengawal sedikitpun di sana.
Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil dan tanpa pikir panjang lagi mereka keluar dari gedung perusahaan itu.
---***---
Bianca hanya bisa diam, tubuhnya bagai tak bernyawa, seolah jiwanya mati dengan dinginnya cara Rain menatapnya.
__ADS_1
Bianca terombang ambing dalam mobil itu, matanya yang indah itu menyuram, sesuram hatinya, bagaimana tak sedikitpun hati Rain tergerak padanya, bagaimana dengan mudahnya dia malah ingin menghabisi Bianca, apakah benar tak ada Bianca lagi di ingatannya?
Bianca tak lagi menangis, air matanya serasa mengering, sakit, sangat sakit dia rasakan, bahkan rasanya bagai hatinya diremukkan dan dirampas keluar dari tubuhnya, ternyata walaupun raganya ada, namun Rainnya memang telah mati.
Bram hanya memperhatikan wanita di sebelahnya, tampak begitu tertekan hingga hanya duduk dengan matanya yang kosong, Bram ingin mengajaknya berbicara namun rasanya dia mengurungkan niatnya.
Tiba-tiba ponsel Bram bergetar, Bianca hanya melirik sejanak, melihat Bram mengangkatnya.
"Halo?" Kata Bram yang terus melaju mobilnya, dia sudah hampir sampai di wilayah militer.
"Atasanku meminta untuk membunuh kalian semua, dia meminta kami untuk mencari bahkan keseluruh negeri agar memastikan kalian mati, malam ini kami akan masuk ke dalam markas militer, kau tahu kami bisa melakukannya, maka sebelum matahari terbenam, menghilanglah, jika aku menemukanmu lagi, aku tak bisa lagi membiarkanmu lolos," suara Antony terdengar, tanpa menunggu balasan dari Bram, telepon itu terputus.
Bianca yang awalnya masih larut dengan sakit di hatinya tertarik menatap ke arah Bram, wajah pria itu tampak tegang dan panik, Bianca mengerutkan dahinya.
"Ada apa?" Tanya Bianca.
"Kita harus bergegas ke markas militer," kata Bram tak punya waktu lagi, waktu mereka sempit.
Bianca yang melihat hal itu hanya bisa diam, dia merasa mereka belum juga seratus persen aman.
Mobil Bram diparkirkan tepat di depan mess Bram, mendengar suara mobil terparkirkan. Ken, Luke, yang sudah tiba duluan segera mendekati mereka, Yuri dan Siena mengikuti. melihat Bianca dan Bram turun tanpa luka, mereka akhirnya bisa bernapas lega.
Namun, Bram langsung mendekati mereka dengan tergesa, wajahnya tampak begitu cemas.
"Antony!" Kata Bram pada Ken, Ken mengerutkan dahinya, tahu pria berambisi itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Ken.
__ADS_1
"Dia adalah pengawal yang di sewa Tuan Rain sekarang, dia mengatakan bahwa atasannya, aku tak tahu perintah siapa, apakah Tuan Rain atau Nona Lidia, mereka mengirim orang yang diperintahkan untuk membunuh kita semua bahkan mencari kita keseluruhan negeri, dan malam ini mereka akan masuk ke markas militer," kata Bram tergesa, membuat Ken membesarkan matanya.