Rain In The Winter

Rain In The Winter
107. Rasa sakit yang terpatri nyata.


__ADS_3

Hujan turun perlahan membuat hari menggelap lebih cepat,Bianca melirik ke arah jam dinding di ruang tengah itu, petir yang menghiasi awan hitam itu tampak menerangi daratan, membuatnya menjadi memerak.


"Yuri, apa ada kabar dari Tuan?" Tanya Bianca pelan, ada perasan tak nyaman di hatinya menatap kilatan di atas awan sana.


"Ehm, saya akan bertanya pada Luke, Nyonya," ujar Yuri yang juga merasa janggal, jika Tuannya sudah pulang dari tadi seharusnya dia sudah sampai 1 jam yang lalu, tapi kenapa sampai sekarang Tuannya belum juga sampai? Apa karena cuaca buruk? Yuri juga tak bisa mengatakan bahwa Tuannya sudah pulang dari tadi pada Bianca, hal itu akan membuat Bianca semakin cemas, Yuri tak ingin melakukan hal itu karena keadaan Bianca yang sedang mengandung, itu akan tak baik untuk kandungannya.


Bianca mengangguk, lalu dia kembali melihat ke arah hujan dan juga awan kelabu di atas sana, mencoba untuk menganulir rasa di hatinya, mungkin hanya karena dari kecil dia takut akan petir dan gemuruhnya.


Yuri menjauh sejenak, dia segera menelepon Luke, 3 kali panggilan dia lakukan tak satu pun di jawab oleh Luke, Yuri tambah cemas karenanya, ada apa sebenarnya?


"Nyonya, Luke tidak menjawab, sepertinya mereka terhalangi oleh cuaca buruk, Nyonya jika anda mau, silakan istirahat di kamar, begitu Luke bisa di hubungi saya akan memberitahu Anda Nyonya," kata Yuri yang tahu Sepanjangan hari ini Bianca hanya duduk menunggu Tuannya.


Bianca menatap kembali malam gelap itu, dia mengerutkan dahinya, tubuhnya memang masih terasa tak begitu nyaman, selain itu setelah makan malam tadi dia sedikit merasa mual, Bianca sejujurnya ingin terus menunggu Rain pulang dan menyampaikan kabar ini padanya, tapi Bianca juga sadar, dia tak boleh mengikuti keinginan dirinya sendiri karena dia harus memikirkan bayi yang sedang berkembang di dalam rahimnya sekarang.


"Baiklah, Yuri beritahu aku jika Tuan Rain sudah pulang," ujar Bianca perlahan berdiri lalu berjalan ke arah kamarnya.


"Baik Nyonya," kata Yuri, dia juga berjalan mengikuti Bianca, saat Bianca masuk ke dalam kamarnya, Yuri berjaga di depan pintunya, siapa tahu Bianca membutuhkannya nanti.


Bianca duduk di ranjanganya, menyelimuti kakinya sebatas pinggang agar bisa lebih nyaman, dia masih berusaha untuk menunggu Rain, siapa yang tahu Rain akan pulang sebentar lagi.

__ADS_1


Detak jam terdengar pelan, menghipnotis siapa pun, perlahan namun pasti Bianca mulai merebahkan tubuhnya mencoba untuk terjaga namun nyatanya kehangatan dan kenyamanan yang menyelimuti, apalagi wangi maskulin yang di tinggalkan oleh Rain membuatnya merasa aman, dia tak sadar menutup matanya.


"Bian?" Suara lembut itu terdengar di telinga Bianca, membuat Bianca membuka matanya langsung, padahal baru saja rasanya dia menutup matanya.


"Rain?" Tanya Bianca, dia langsung membalikkan tubuhnya, mendapatkan sosok pria itu menatapnya dengan senyuman manisnya, hangat sekali tak ada kesan dingin sama sekali. Bianca langsung duduk dan bersandar pada kepala ranjang, "sudah pulang?"


Rain hanya menaikan satu sudut bibirnya, dia lalu segera duduk di pinggir ranjang, memandang Bianca perlahan, Bianca mengerutkan dahinya, kenapa Rain seperti ini? Biasanya kalau Rain baru pulang, dia pasti langsung mandi, tak pernah duduk di ranjang dengan baju kerja seperti ini, apalagi sejak tadi Rain hanya menatapnya dengan senyumannya.


"Kenapa?" Kata Bianca mengerutkan dahinya lebih dalam, dia lalu segera ingat kabar bahagia yang ingin dia katakan,"Rain! Dokter mengatakan aku sedang mengandung!"


Rain hanya menaikkan Sudut bibirnya lebih lebar, dia hanya mengangguk seolah sudah tahu apa yang ingin disampaikan oleh Bianca, Bianca yang awalnya tampak bahagia jadi berkurang wajah senangnya, kenapa Rain seperti biasa saja, apakah dia sudah tahu dari Yuri? Yah … padahal Bianca pikir ini akan menjadi hal yang membuat Rain terkejut, dia ingin sekali melihat wajah Rain yang terkejut bahagia.


"Jagalah dia untukku, aku harus pergi dulu," kata Rain lembut, lembut sekali seolah hanya berbisik pada Bianca padahal Bianca ada di sampingnya, Bianca hanya memandang Rain yang aneh menurutnya.


"Rain! Rain!" Teriak Bianca, dia ingin mengejar tapi entah kenapa seluruh tubuhnya kaku tak bisa di gerakkan, bahkan hingga Rain hilang di balik pintu yang tertutup, pria itu sama sekali tak menghentikan langkahnya walau Bianca berteriak keras.


"Rain!" Teriak Bianca paling keras yang membuat matanya terbuka, nafasnya memburu, matanya segera liar menatap sekitar, masih di kamarnya, namun dia tak menemukan Rain di sisinya, Bianca segera duduk dan segera menenangkan nafasnya dan juga jantungnya.


Bianca melirik ke arah jam di kamarnya, sudah lebih dari tengah malam, tapi kenapa Rain tidak juga ada di kamarnya, apa yang terjadi sebenarnya?

__ADS_1


Bianca menyibak selimutnya lalu segera berjalan ke arah pintu kamarnya, dia melihat ruangan di depan kamarnya sudah kosong, namun dia bisa mendengar sayup-sayup suara yang ada di ruang tengah, apakah Rain ada di sana? Apakah dia sudah pulang lalu lanjut bekerja dan tak ingin membangunkan Bianca.


Bianca berjalan perlahan, dia lalu mengerutkan dahinya melihat Yuri dan seorang pria ada di sana, mereka menghidupkan Tv di ruang tengah itu, saking terpananya mereka hingga tak sadar dengan kedatangan Bianca.


"Sebuah kecelakaan helikopter terjadi di daerah laut selatan, dikabarkan bahwa helikopter itu adalah milik pengusaha sukses Tuan Rain Arthur pemilik Marka Corp, helikopter mengalami kegagalan mesin hingga jatuh ke dalam laut, Sampai sekarang helikopter yang ditumpangi oleh Tuan Rain bersama pilotnya sudah terindentifikasi di bawah laut, dikabarkan tak ada tanda-tanda baik penumpang maupun pilot helikopter selamat dari kecelakaan tersebut," suara pembawa berita memenuhi ruang tengah, membuat Bianca membesarkan matanya, suara itu jelas hingga tak mungkin dia salah dengar, Rain kecelakaan?!


"Ada apa ini?" Tanya Bianca langsung membuat Yuri dan pria itu tampak kaget, wajah mereka sudah panik bertambah panik ketika melihat Bianca di sana.


"Nyonya?" Tanya Yuri, dia pun sama syoknya dengan Bianca, Bram baru datang memberikan kabar ini.


"Ada apa ini? Yuri? Ada apa dengan Rain?" Tanya Bianca masih tak percaya, tangannya rasanya dingin, tubuhnya bergetar tiba-tiba, jantungnya berdetak begitu kencang hingga menyesakkannya, itu pasti dia salah dengar.


Mata Bianca yang tampak berkilau terkena lampu, menunjukkan bahwa dia sudah berkaca-kaca, mata itu menatap lirih ke arah Bram yang hanya diam, dia tak tahu harus mengatakan apa, Luke yang memintanya untuk mengabarkan hal ini pada orang-orang di rumah, sebenarnya mereka tak ingin menganggu Bianca dulu malam ini dan memberitahunya esok pagi, tak di sangka Bianca tahu sekarang.


"Yuri, Rain dia tak apa-apa kan?" Suara Bianca bergetar menatap Yuri yang tertunduk, tak sanggup melihat wajah Bianca yang sudah mulai berlinang air mata, Susana yang seharusnya bahagia malah menjadi duka, "Rain akan pulang kan?" Tanya Bianca lagi, sekarang dia menatap Bram, namun Bram juga segera menundukkan wajahnya.


"Kenapa kalian semua menunduk! Bagaimana keadaan suamiku!" Histeris Bianca yang tak bisa lagi menutupi rasa sakitnya, sakit sekali hingga sesak rasanya, benar-benar tak sanggup bernapas.


Bianca memegangi dadanya dan terhuyung ke belakang, dia tak bisa bernapas, walau berusaha untuk menariknya dalam, seolah semuanya tercekat di lehernya, paru-parunya serasa mengkerut, membuat kepalanya berkunang-kunang dan tiba-tiba saja dia merasa lemas dan tak bertenaga. Bianca mencoba menggapai apapun agar bisa berdiri tegak namun dia tak bisa.

__ADS_1


"Nyonya!" Kata Yuri yang melihat Bianca lunglai jatuh, Bram yang melihat hal itu juga segera sigap, dia melompati sofa yang menghalangi mereka, dan cepat menggedong tubuh Bianca yang lunglai.


"Bawa Ke kamarnya," kata Yuri, Bram hanya mengangguk, dia segera membawa tubuh Bianca ke kamar, meletakkan wanita kecil itu perlahan, saat Yuri memakaikan selimut tebal itu di tubuhnya, sebulir air mata turun begitu saja, Yuri dan Bram hanya bisa diam merasakan kesedihan yang terpatri di wajah Bianca, bahkan dalam tidurnya, rasa sakit itu nyata terasa.


__ADS_2