Rain In The Winter

Rain In The Winter
137.


__ADS_3

"Ya, Aku melihat Yuri dan Si kembar pergi tadi pagi, sepertinya mereka menuju ke pusat pulau, mereka naik bis ke pusat kota," ujar Nyonya Mia dengan senyuman tak pudarnya.


Bianca sedikit terdiam, dia memproses apa yang dikatakan oleh Nyonya Mia, jadi Yuri pergi sendiri tanpa paksaan? Tapi kemana Yuri pergi membawa si kembar, jarang sekali Yuri pergi dari rumahnya pagi-pagi begini, selain dia harus membersihkan dan menyiapkan makanan, biasanya dia juga tak ingin si kembar terlalu banyak terkena matahari.


"Anda yakin? Apakah mereka dipaksa? Atau seperti di culik?" Pasti Bianca lagi, mana tahu mereka terpaksa.


"Tidak, aku melihat Yuri dan si kembar malah sangat ceria tadi pagi, mungkin mereka hanya berjalan-jalan saja, jika ingin pergi saja ke kota, kota kan kecil, pasti ketemu jika mencarinya dengan teliti," ujar Nyonya Mia, Bianca mengangguk pelan, ya, walaupun di katakan pusat kota dan pusat pulau, itu tak lebih hanya deretan rumah yang lebih ramai dengan sedikit fasilitas toko, sekolah dan juga kesehatan, itu saja tak ada yang lebih.


"Baiklah terima kasih Nyonya, aku pergi dulu," ujar Bianca melirik ke arah jalanan di depannya, dia melihat Bis yang menuju kota sudah mulai mendekati halte di dekat rumahnya.


Bianca segera berlari kecil, dia langsung masuk ketika bis itu baru saja berhenti, tak lama mereka segera pergi dari sana.


Tak butuh waktu lama bis itu sampai ke satu-satunya jalan yang ada di pusat kota pulau itu, keramaian pulau ini hanya sejalan ini saja, Bianca segera lebih waspada walaupun dari tadi sebenarnya dia sudah melihat jalanan itu dengan teliti berharap menemukan Yuri dengan anaknya sudah berjalan pulang.


Bianca tak lama menemukan sosok yang sepertinya dia kenal, dengan cepat dia berdiri.

__ADS_1


"Aku berhenti di sini!" Teriak Bianca membuat supir Bis bahkan kaget hingga menghentikan bisnya mendadak, semua orang di dalam bis itu menatap Bianca aneh, Bianca jadi sungkan karenanya Bis harus berhenti mendadak.


Bianca segera turun dan bis itu kembali berjalan, Bianca dengan cepat langsung mendekati Yuri yang tampak berdiri mengamati sesuatu.


"Nyonya?" Kata Yuri kaget, kenapa tiba-tiba Nyonyanya ada di sini bukannya dia mengatakan akan berkerja hingga malam.


Bianca diam mengamati tempat itu dia bahkan tak mendengar apa yang dikatakan oleh Yuri, ternyata itu adalah sebuah tempat pendidikan anak usia dini, di sana dia melihat Gio dan Gwi tampak ceria di bimbing seorang wanita yang Bianca langsung asumsikan sebagai seorang guru, mereka tampak menari dengan riang, Bianca hanya bisa diam melihat ke arah anak-anaknya yang tampak senang bergaul dengan teman-teman yang sebenarnya lebih besar dari pada mereka.


"Nyonya, maafkan saya, kemarin saat Si kembar pergi dengan Bram, Bram bertanya pada mereka apakah mereka ingin bersekolah, dan mereka mengatakan sangat ingin sehingga Bram membawanya ke sini untuk uji coba, Tuan dan Nona muda sangat pintar dan juga sangat cepat beradaptasi, membuat pihak sekolah pun sangat senang jika mereka bisa bersekolah, Bram langsung membayar semua keperluan Tuan dan Nona muda, karena itu pagi ini saya kembali membawa mereka ke sini, saya seharusnya mengatakan hal ini pada Anda tadi malam atau tadi pagi, tapi kerena Nyonya terlihat terburu-buru saya jadi tidak bisa mengatakannya, " ujar Yuri, Bianca hanya diam bergeming melihat betapa Gio dan Gwi menikmati waktu sekolahnya, dia tak menyangka kedua anaknya itu sudah masuk ke sekolah.


"Nyonya, saya rasa biarkanlah Tuan dan Nona muda bersekolah, dengan begini saya juga akan bisa bekerja untuk membantu Nyonya, saya akan mengambil pekerjaan paruh waktu dan saat mereka pulang saya juga akan bisa menjaga mereka, Nyonya, mereka sangat bahagia bisa punya banyak teman," kata Yuri yang juga merasa kasihan pada Tuan dan Nona muda mereka, mereka dari kecil hanya terkurung di rumah tanpa banyak bergaul, Yuri mengerti kenapa Nyonya-nya menjadi seorang ibu yang over protective pada anaknya, selain masalah keselamatan mereka yang masih terancam, mungkin dikarenakan kehamilan Bianca dulu terasa sangat berat, Bianca juga pernah hampir kehilangan ke dua anaknya, pernah juga bahkan tak diperbolehkan untuk beranjak dari tempat tidurnya selama 1 bulan hanya demi mempertahankan si kembar, dan Yuri tahu, setelah si kembar lahir, Si kembar adalah hidupnya yang baru, Bianca bisa kembali tersenyum hanya kerena mereka dan si kembarlah yang membuatnya tak lagi mengenang masa lalunya.


Lalu dia ingat sesuatu, Apakah yang dikatakan oleh Rain benar adanya? Bisakah dia tak mengusik mereka lagi sehingga Bianca tak perlu menghapus senyum bahagia itu dari Gio dan Gwi. Bianca tahu sakitnya hidup berpindah-pindah seperti itu, dan akhirnya mempengaruhi cara bergaul mereka, Bianca takut anaknya menjadi seperti dirinya, seorang yang tertutup terhadap dunia dan tak mempunyai teman sama sekali.


Tiba-tiba Gio dan Gwi melihat ke arah luar, mereka terlonjak senang melihat ibunya yang ternyata sudah ada di sana, dengan langkah kecilnya namun mantap mereka mendekati Bianca yang memaksakan sebuah senyuman menyambut mereka yang harus terhalang sebuah pagar.

__ADS_1


"Mami! Mami datang?" Tanya Gio, tak menyangka ibunya ada di sini.


"Ya, mami mau lihat Gio dan Gwi sekolah," ujar Bianca sedikit terharu melihat anaknya cepat sekali dewasa.


"Mami, Gio punya banyak teman, dan mereka baik sekali, Gio senang," celoteh Gio yang kegirangan.


"Wah, benarkah?" Kata Bianca menanggapi Anaknya.


Gio mengangguk, "Gio nanti kenalin ke mami ya."


"Ya, lalu Gwi bagaimana?" Tanya Bianca, perhatiannya tertuju pada gadis kecilnya yang hanya diam dengan selembar kertas putih di tangannya.


"Gwi menggambar, ini kita semua?" Kata Gwi menunjukkan gambar orang-orang khas anak-anak.


"Siapa saja itu?" Tanya Bianca tersenyum, melihat 2 gambar anak kecil, 3 gambar orang dewasa.

__ADS_1


"Ini Gwi, ini kak Gio, ini mami di tengah, yang ini bibi Yuri," ujar Gwi menjelaskan, Bianca mengerutkan dahinya melihat 1 lagi gambar yang tak di jelaskan oleh Gwi, gambar seorang yang cukup jauh terpisah dari mereka.


"Lalu ini siapa?" Tanya Bianca menunjuk ke arah gambar dengan krayon biru itu.


__ADS_2