Rain In The Winter

Rain In The Winter
66.


__ADS_3

Siena tak ambil pusing, di segera berjalan ke arah kamarnya setelah memastikan pria itu sudah keluar dari rumahnya.


Siena membuka pintu kamarnya perlahan, masuk ke dalam kamarnya yang besar namun baru saja dia menutup pintu itu, tubuh kecilnya itu disergap langsung dari belakang, dia tentu kaget dan terpekik, melihat tangan gagah yang sudah menahannya untuk bergerak.


Tubuhnya langsung di balik secara paksa, matanya yang tadi membesar berubah sayu dan lembut, senyum manis terlihat di bibirnya yang selalu merah.


"Aku tidak suka kau berlama-lama dengannya," suara pria yang berat itu terdengar, nada cemburunya kental terasa, napasnya menerpa halus pipi Siena.


"Dia … sudah mulai susah untuk disingkirkan sekarang, aku rasa dia terlalu terpikat padaku, aku harus menguranginya," kata Siena meletakkan kedua tangannya di dada pria yang bidang itu, mengelusnya lembut, tapi wajah pria itu tampak mengeras, menahan kesal.


"Kenapa kau harus menawarkan diri menjadi orang yang merayunya," kata Ken melepaskan tangan gagahnya dari pinggang kecil Siena, Siena melihat wajah kecewa dan frustasi dari Ken yang hanya duduk di ranjangnya.


"Kita sudah membicarakan ini bukan? siapa lagi yang bisa melakukannya kecuali aku? Drake bukan pria biasa, dia harus di kalahkan dengan kelembutan," kata Siena mendatangi prianya, berdiri di depan Ken yang masih saja tak bisa mengerti dan menerima jalan pikiran dari Siena.


Rain memang membutuhkan seseorang untuk bisa membuat dia mendapatkan Bianca dan juga membuat Drake merasakan akibat yang sudah dia perbuat, Siena saat itu tahu dan malah menawarkan dirinya sendiri untuk membantu kakak angkatnya itu, Ya, setelah keluar dari penjara karena pencabutan perkara dari ayah dan ibu angkatnya, Siena menemui Rain dan entah bagaimana sekarang Siena malah menjadi adik angkat Rain.


Rain dan Ken pasti tak setuju awalnya, namun Siena mendesak, dia tahu bagaimana rasanya hidup tersiksa seperti itu, apalagi saat Siena merasa ada yang tak beres dengan Drake dan Bianca, dia merasa mungkin wanita itu merasakan hidup yang sama seperti dia dulu, karena itu dia tergerak untuk menolong wanita itu, terlepas dari tujuan awal Rain yang mau balas dendam, tapi Siena cukup mengerti kakaknya itu, dia tak akan melukai wanita sedikit pun.


"Ayolah, harus aku jelaskan berapa kali, jika tak begini, kita semua tak akan sampai pada keinginan kita, Bianca mungkin tak akan keluar dari pria kejam itu, BTW, bagaimana hubungan kakak dengan dia?" ujar Siena lembut menggoda prianya ini, tangan Siena mengalung di leher Ken dan meletakkannya begitu saja di bahu Ken yang kekar itu, tentu Ken menjadi lunak, tangannya kembali memegang pinggang wanitanya.


"Nona Bianca pergi hari ini, aku dengar dia tahu bahwa Tuan Rain mendekatinya hanya sebagai cara untuk menaklukkan Drake," kata Ken yang juga pusing memikirkan hal itu.


"Benarkah? lalu? kakak tak mencarinya?" tanya Siena tak percaya, dia tahu semuanya, bahkan dia tahu bahwa perlakuan Rain pada Bianca yang menurutnya luar biasa, tak pernah dia tahu kakaknya bisa memperlakukan wanita seperti itu.


"Tentu, namun Tuan Rain hanya membiarkan Nona Bianca untuk bisa menenangkan dirinya dulu, dia memerintahkan 6 penjaga untuk menjaga Nona Bianca dari jauh, sekarang mereka sedang berjaga di sekitar rumah Nona Bianca," ujar Ken.

__ADS_1


"Aku rasa kakak benar-benar jatuh cinta dengan Bianca," kata Siena lagi.


"Ya, aku takut memang begitu," ujar Ken.


"Hei, jangan begitu, jangan melarang orang untuk jatuh cinta dengan siapa? jika kak Rain jatuh cinta dengan Bianca, apa salahnya? apa karena dia sudah pernah tidur dengan Drake? itu bukan maunya bukan? kalau begitu aku juga sudah tak suci lagi, kenapa kau denganku?" kata Siena yang sedikit kesal, dia melepaskan kalungan tangannya dan duduk di samping Ken, dia melipat tangannya kembali dan memasang wajah cemberutnya, membuat wajah semakin imut, Ken gemas melihatnya.


"Bukan begitu," ujar Ken mengacak rambut Siena, tahu hal ini sangat sensitif bagi Siena, perlu waktu lama bagi Ken agar Siena mau menerima keberadaannya, untunglah sekarang mereka sudah bersama.


"Lalu?" suara ngambek Siena masih terdengar.


"Nona Bianca adalah wanita Drake, aku rasa jika nantinya dia masuk ke dalam rencana yang di siapkan Tuan Rain, Drake akan tahu di mana dia bisa menyerang Tuan Rain, Aku hanya tak suka itu terjadi lagi, aku kira setelah tuan Rain keluar dari penjara, maka hidupnya akan tenang tak perlu lagi penuh amarah," ujar Ken menjelaskan kegusarannya, Siena hanya melirik kekasihnya itu.


Siena tak menjawab, dia malah menyerang tubuh Ken, membuat pria yang di sebelahnya itu dari duduk akhirnya jatuh berbaring di ranjangnya.


"Aku rasa kau lebih cinta pada kakakku dari pada aku," kata Siena yang sekarang tubuhnya ada di atas dada Ken, wajah mereka begitu dekat hingga bisa merasakan hangatnya sapuan napas masing-masing di pipi mereka.


"Buktikan," kata Siena menggoda.


Ken tersenyum manis, dia langsung mencium bibir Siena dengan lembut, awalanya hanya perlahan, namun suasana dan atmosfir yang mendukung malah membuat ciuman itu semakin lama semakin intens.


Namun baru saja ciuman itu memanas, ponsel Ken berdering, dia mengambilnya dari sakunya, dan melirik ke arah ponselnya tanpa memutus jalinan bibirnya dengan Siena, nama Rain muncul di layarnya, membuat Ken segera menyudahi ciumannya dan mengangkat telepon itu, Siena tampak kecewa, pacarnya ini terlalu loyal dengan kakaknya.


"Halo?" kata Ken, dia segera bangkit, membuat Siena memajukan bibirnya.


"Bagaimana keadaannya?" kata Rain, Ken ingin menghela napasnya, hampir setiap 10 menit sekali Rain bertanya bagaimana kabar Bianca, jika begitu khawatir kenapa tak langsung mendatanginya? tapi Ken tak mungkin mengatakannya.

__ADS_1


"Belum ada laporan mencurigakan, dari tiba di rumah hingga sekarang Nona Bianca belum terlihat keluar, terakhir kali sesuai yang sudah saya laporkan, Nona Bianca sedang bersih-bersih rumahnya," ujar Ken memberikan laporan.


Siena mendengarkan hal itu dan tanpa permisi dia mengambil ponsel yang ada di tangan Ken, membuat Ken kaget.


"Kakak!" suara Siena seperti protes, Rain yang mendengar suara adiknya itu hanya diam.


"Tak bisakah jangan menganggu kami malam ini? kau tak tahu ini hari ulang tahunku?" kata Siena lagi, Rain di sana mengerutkan dahinya.


"Benarkah? aku lupa," aku Rain jujur.


"Ya, aku tak heran, bahkan kau lupa dengan ulang tahunmu jika bukan Ken yang mengingatkan," kata Siena lagi.


"Baiklah, besok datang untuk bertemu denganku, katakan pada Ken laporkan apapun yang mencurigakan," kata Rain yang bahkan bukan seperti mengajak bertemu, malah lebih seperti sedang memerintah Siena, Siena tentu sudah biasa dengan sikap kakaknya ini, bagaimana Bianca bisa menyukai pria kaku ini.


"Baiklah, aku akan mengatakannya pada Ken, jangan ganggu kami," kata Siena lagi, menekankan hal itu.


Rain tak menjawab, dia malah memutuskan panggilan teleponnya, Siena menatap layar ponsel kekasihnya itu, kakaknya menyebalkan sekali.


"Sudah diputus?" tanya Ken.


"Ya! dia memutus panggilanku begitu saja, selalu saja begitu," ujar Siena melemparkan ponsel itu ke tempat tidurnya, Ken tersenyum manis melihat Siena yang kesal, kesal pada Ken, Kesal juga pada kakaknya.


Ken kembali melingkarkan tangannya pada pinggang kecil Siena, membuat Siena tak bisa menahan rasa kesalnya lebih lama.


"Mau dilanjutkan atau tidak?" tanya Ken.

__ADS_1


Siena tertawa kecil mendengarkan kata-kata nakal pacarnya, dia lalu segera mencium Ken kembali dengan ganas, menghabiskan waktu mereka berdua dalam kehangatan bersama.


__ADS_2