
Bianca tak sejenak pun beranjak dari sisi anaknya, mencoba mengamati kedua buah hatinya yang terus tampak biasa saja, tak ada perubahan sama sekali, 1 jam berlalu dan jam-jam berikutnya berjalan begitu saja dan suasana kamar itu tetap riang, tawa dan canda dari Gio dan Gwi mewarnainya, tak ada tanda-tanda efek samping itu muncul, Bianca dan semua orang yang terlibat bernapas lega melihat semuanya, ketegangan dan juga beban Bianca seolah menguap sudah.
Siang menyerah pula pada putaran bumi, membuat matahari harus rela digantikan rembulan sesaat, semua berjalan lancar hingga malam mulai larut.
Bianca masih melihat kedua buah hatinya baru saja selesai makan, Gio dan Gwi tampak sudah biasa saja, Perawat yang datang tiap jam untuk memeriksa keadaan pun tampak sudah mulai mengendurkan penjagaan mereka, bagi mereka efek samping dari pemberian serum itu ternyata tak ada.
"Kak, sepertinya kakak bisa sedikit membersihkan diri, pasti akan menyegarkan, aku dan Yuri ada di sini menjaga Gio dan Gwi, mereka akan baik-baik saja," ucap Siena menatap ke arah Bianca, walau sudah banyak menebar senyuman, namun tampak jelas jejas lelah di dirinya.
"Ehm," kata Bianca sambil mengamati keadaan kedua anaknya, Gio sedang bermain dengan robot yang diberikan oleh Siena, begitu juga Gwi yang memeluk Teddy bearnya sambil tampak asik dan fokus menatap film kartun kesukaannya, "baiklah, aku titip mereka sejenak."
"Ya," kata Siena menebar senyum kembali bermain dengan Gio.
Bianca segera mengambil beberapa perlengkapannya untuk mandi, ada beberapa pakaian yang sudah di bawakan oleh Yuri tadi untuknya.
Bianca tak menghabiskan waktu lama untuk mandi, walaupun menyegarkan diri dengan air hangat itu terasa sangat nyaman baginya tapi dia juga masih cukup khawatir dengan keadaan anaknya walaupun dokter Irene mengatakan keadaan si kembar akan baik-baik saja.
Saat dia keluar dari kamar mandi itu, lampu kamar perawatan si kembar sudah terlihat redup, Bianca hanya melihat Yuri yang ada di antara kedua anaknya, Dia melirik ke arah Gio yang masih heboh dengan mainannya, sedangkan putri kecilnya sudah tampak terlelap memeluk Teddy Bear-nya.
"Nona Siena pergi ke lantai atas untuk melihat keadaan Tuan Ken, dia pergi setelah melihat Gwi tertidur Nyonya," ujar Yuri memberitahukan kemana Siena pergi.
__ADS_1
"Ya, tidak apa-apa, dia memang harus melihat keadaan suaminya, Yuri, kau sudah makan?" Tanya Bianca melihat beberapa makanan di meja makan, setelah mandi dia baru merasa perutnya kosong, dari siang tadi tak terisi apapun hanya air putih yang melewati tenggorokannya.
"Sudah Nyonya, anda makanlah, ini sudah hampir jam 9 malam."
Bianca hanya mengangguk, perlahan dia menarik kursi meja makan yang tak jauh dari ranjang kedua anaknya, menyantap makan malam yang terasa sudah dingin dan hambar baginya, dia melirik ke arah Yuri yang menyiapkan sebuah sofa ranjang di samping tempat tidur Gwi.
"Yuri, dimana kau akan tidur?"tanya Bianca pelan, melirik ke arah Gio yang mulai ingin terlelap.
"Dimana saja Nyonya, jangan khawatirkan saya, silakan segera istrahat, saya akan tetap menjaga Tuan dan Nona muda," kata Yuri, Bianca hanya mengangguk, kembali menjatuhkan perhatiannya pada Gio yang sudah terlelap tampaknya.
Selesai makan, Bianca hanya sejenak memberikan kecupan pada kedua anaknya, lalu dia memutuskan merebahkan tubuhnya, disaat beginilah dia baru sadar, bukan hanya jiwanya yang lelah, tubuhnya pun tak kalah lelahnya, remuk bagai seluruh tulang dan sendinya dipatahkan, dia kesusahan mencari keadaan nyamannya, hingga beberapa kali harus memutar tubuhnya.
Bianca memandang wajah polos putrinya yang terlelap di dekatnya, Yuri juga tampak duduk di sofa dekat dengan Gio, masing-masing mereka menjaga satu anak, Bianca tersenyum tipis, sepertinya semua akan berjalan dengan baik.
Namun dirinya pun sepertinya sudah mencapai batas lelahnya, seharian ini dia benar-benar sudah dicoba dengan segala tekanan, sedikit saja menutup matanya agaknya akan membuat dirinya lebih bisa menghadapi hari esok.
Bianca merasa dia hanya menutup matanya sejenak, namun terbangun karena suara yang cukup gaduh menurutnya, saat dia membuka matanya, 2 perawat dan dokter Irene tampak berdiri mengelilingi ranjang Gwi, Bianca awalnya merasa itu mimpi, namun setelah mengerjapkan matanya yang terasa sepat itu beberapa kali, dia akhirnya sadar sepenuhnya, di sisi lain dia juga melihat Yuri yang tampak panik, ada apa pikirnya langsung.
Bianca langsung berdiri, kepalanya yang pusing karena perubahan posisi tubuh yang tiba-tiba tak lagi dihiraukannya dan dengan cepat berada di antara mereka untuk melihat keadaan putri kecilnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Bianca lemas, melihat putrinya tampak gelisah, juga tampak sedikit menggigil Sekarang.
"Nona Muda demam tiba-tiba, panasnya tinggi, 38.7 derajat," ujar salah satu perawat, dokter Irene tampak memasukan suntikan untuk mengatasi demamnya.
Mata Bianca yang tadi masih berat terbuka sempurna, jantungnya serasa ingin melompat keluar dari tubuhnya mendengar hal itu, bagaimana bisa? Anaknya tadi baik-baik saja, kenapa bisa begini? Pikirnya panik sekali, rasanya kembali hatinya terhujam sesuatu menatap gadis kecilnya yang masih tampak menutup mata namun gelisah, bibirnya gemetar, Bianca jadi tak tahu harus apa.
"Bukannya efeknya seharusnya sudah tak ada?" Tanya Bianca mengelus dahi putrinya, panas, panas sekali, rasanya ingin dia saja yang mengalami panas ini.
"Sepertinya efeknya lambat terjadi," kata dokter Irene melirik ke arah Bianca,tanpa senyum ramah biasanya, tentu itu makin membuat Bianca panik.
"Lalu kita harus bagaimana? Apa yang akan terjadi? Bukannya kalian bilang hanya demam ringan? Ini panas sekali?" Cerocos Bianca yang tak bisa lagi menutupi paniknya, rasa penyesalan timbul dibenarknya, dia tak menjaga putrinya dengan baik.
"Nyonya jangan panik, kita akan berusaha yang terbaik," kata Dokter Irene, tak mungkin dia mengatakan bahwa bisa saja efeknya lebih parah dari ini, hal itu akan mengguncang Bianca lebih dalam
Bianca tak puas tentu dengan perkataan dokter Irene yang rasanya hanya mencoba menenangkannya tanpa memberikannya jawaban pasti. Namun baru saja dia ingin bertanya lebih lanjut,
"Mami? Mami?" Suara racauan keluar dari bibir mungil Gwi.
"Di sini Mami, Gwi mami di sini," kata Bianca berbisik pelan, menahan air matanya yang berontak ingin keluar.
__ADS_1
"Mami, peluk," pinta Gwi, matanya terbuka setengah namun kembali tertutup, tangannya lemah mengarah ke Bianca.
"Bolehkah?" Tanya Bianca sambil mengusap hidungnya yang berair.