
Rain segera mendorong tubuh Lidia, mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Lidia, dia tahu wanita ini sangat berbahaya, karena itu dia tidak ingin sampai Lidia bertemu dengan Bianca, Lidia bisa melakukan hal yang tidak-tidak pada Bianca, mengingat apa yang sudah dia lakukan pada Ceyasa terakhir kalinya.
"Kakak, kenapa kau begitu kasar padaku," ujar Lidia menangis tersedu-sedu namun Rain sama sekali tidak tersentuh dengan hal itu, dia hanya menatap jijik dengan wanita itu.
Saat dia masih melihat Lidia yang tampak sangat sedih itu, tiba-tiba dia mendengar seseorang datang dari belakangnya, Rain segera menoleh, melihat sosok Bianca yang baru saja datang, berhenti tak jauh dari belakangnya, Rain tentu kaget, bukannya dia sudah menyuruh Yuri untuk membawa Bianca dari pintu samping.
Lidia yang melihat sosok wanita yang baru datang itu menatap wanita itu saja, wajahnya yang tadi begitu sedih berubah datar, air matanya yang berlinang dibiarkannya saja seperti itu, matanya menjadi tajam melihat sosok Bianca, siapa wanita ini?
Bianca hanya mengerutkan dahinya, wajahnya kesal menatap wajah Rain yang tampak terkejut, dia lalu memandang Lidia, menatap gadis yang wajahnya manis itu, bahkan saat wajahnya berlinang air mata seperti ini, dia masih terlihat begitu manis, dan dari air matanya, tampak sekali dia sangat sedih, siapa wanita ini?
"Bukankah aku sudah menyuruhmu masuk dari pintu samping?" tanya Rain dengan nada suara kesal, dia tak bermaksud begitu, namun dia merasa kenapa Bianca tidak bisa mengikuti perintahnya? Padahal di sini dia hanya ingin melindungi Bianca.
"Kenapa? bukannya sebagai istrimu aku harus tahu siapa saja yang kau temui terutama seorang wanita seperti ini?" kata Bianca yang juga bertambah kesal, Rain bertanya dengan nada seperti itu pada dirinya, Bianca jadi turun harga dirinya di depan wanita ini.
"Bianca? Pergilah ke kamar sekarang," kata Rain, suaranya cukup tinggi, tak ada kehangatan seperti beberapa hari ke belakang, Bianca menjadi tambah marah karenanya, apakah karena wanita ini Rain jadi berubah begini? Siapa dia? Kenapa Rain tak ingin sekali Bianca bertemu dengan wanita ini.
__ADS_1
"Dia istrimu?" tanya Lidia yang tampak syok mendengar perkataan Bianca tadi, Rain mengubah arah pandangnya ke arah Lidia, Rain tampak kesal, sudah tidak ada gunanya dia menutupi bahwa Bianca adalah istrinya.
"Ya, aku istrinya, dan kau siapa?" tanya Bianca, dia harus mempertegas, Rain adalah miliknya.
"Tidak, tidak mungkin, kakak! kau tidak boleh menikah dengan siapapun! Kau itu milikku! Bagaimana bisa kau menikah dengan wanita lain, kemarin kau pura-pura cinta dengan Ceyasa, sekarang! kau menikah dengan dia!" histeris Lidia yang memandang Bianca dari atas hingga bawah, dari sorot matanya tampak begitu marah, bengis dan ingin membunuh Bianca, Bianca melihat itu sedikit mengerutkan dahinya, ternyata wanita ini mengerikan juga. Lidia langsung ingin mendekati Bianca.
"Lidia!" teriak Rain yang tahu apa yang akan dilakukan Lidia, kalau tidak diwanti-wanti, bisa-bisa Lidia akan menyerang Bianca sesuka hatinya. Rain langsung mengambil posisi di depan Bianca, mencoba melindungi istrinya.
Lidia yang melihat tingkah Rain itu terdiam, apalagi dia baru dibentak oleh Rain seperti itu, namun bukannya tenang, kemarahannya semakin memuncak. Bianca yang ada di balik tubuh suaminya itu pun terdiam, kenapa Rain begitu marah dengan wanita ini? baru kali ini Bianca melihat Rain begitu kasar dengan wanita.
Lidia awalnya hanya menatap Rain, Rain mengalihkan pandangannya berulang kali menatap Lidia dan anak itu, Lidia langsung mengusap air matanya, menggantinya dengan senyuman dan langsung memeluk dan menggendong tubuh mungil anak yang tampak lucu itu. Bianca yang ada di belakang Rain hanya bisa menebak-nebak, jangan- jangan.
"Carel," kata Lidia memandang anak itu, anak itu dengan gemasnya mengangguk, Lidia lalu melempar pandangnya ke arah Rain, "beri salam kepada ayah.”
Bagaikan sambaran petir yang bertubi-tubi, tubuh Bianca dan Rain terkaku, bagaimana bisa tiba-tiba Lidia membawa seorang anak dan menyuruhnya memanggilnya ayah?
__ADS_1
"Ayah," suara mungil itu terdengar halus dan lucu, matanya berbinar melihat Rain, seumur hidupnya akhirnya dia bisa bertemu dengan ayahnya, Carel berontak dan ingin turun, Lidia melepaskannya, dia langsung mendekati Rain dan dengan ramahnya memeluk kaki pria itu. Rain ingin mundur, namun dia tak ingin membuat kecil hati anak laki-laki ini, dia lalu memandang Bianca, Bianca hanya diam saja, Rain menggeleng-gelengkan kepalanya menandakan anak ini pasti bukanlah anaknya.
Bianca memperhatikan Carel, wajahnya sungguh mirip dengan Rain, matanya itu benar-benar mirip dengan Rain, apa benar dia adalah anak Rain?
"Bisa bawa dia pergi dari sini?" tanya Rain, tak mungkin dia berlaku kasar di depan anak ini, Yuri yang mengerti itu segera mengambil alih, dia mengajak Carel untuk pergi dari sana, untunglah Carel adalah anak penurut, dia langsung ikut dengan Yuri. Setelah memastikan Yuri dan Carel sudah tak ada, Rain langsung menatap ke arah Lidia dengan matanya yang merah, dia benar-benar tak tahu apa maksud Lidia datang dan membawa anak yang dia katakan adalah anaknya, padahal menyentuh Lidia sedikit pun tak pernah Rain lakukan.
"Dia bukan anakku!" kata Rain menunjuk ke arah Lidia.
"Dia anakmu," kata Lidia santai, seolah sudah menang dalam pertarungan ini, matanya lurus menatap Bianca, seolah mengejek bahwa dia punya hal yang Bianca tak punya, dia punya anak dari Rain.
"Bagaimana bisa? bahkan aku tidak pernah menyentuh dirimu, aku tidak pernah tidur denganmu," kata Rain dengan sangat marah, kalau di izinkan sekarang dia ingin memukul wanita ini, namun dia sudah berjanji tak akan pernah lagi melakukan hal itu pada wanita apalagi sekarang ada Bianca di belakangnya.
"Aku tak harus tidur denganmu untuk bisa punya anak darimu Kak, kau ingat dengan pemeriksaan sper-ma yang pernah kau lakukan dulu, mereka menyimpan sampelnya hingga kau mengatakan untuk menghancurkannya, tapi sebelum itu aku sudah memintanya, dan membuat diriku mengandung anakmu, percaya atau tidak, Carel adalah anakku dan dirimu," kata Lidia dengan nada yang mengejek.
Bukan hanya Rain yang kaget mendengarnya, Bianca pun kaget dengan semua hal ini, rasanya serangan datang bertubi-tubi hingga hanya bisa membuat dirinya terkaku diam, kepalanya terasa penuh untuk bisa memproses semua hal ini, mulutnya terkunci rapat, hingga tidak bisa lagi mengatakan apapun.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu?" kata Rain lagi, tak menyangka begitu liciknya Lidia hanya untuk mendapatkan dirinya.