
Bianca mengeluarkan kue yang baru saja dia panggang dengan sangat hati-hati, dia langsung meletakkannya di atas meja marmer di daerah dapur, bianca lalu meletakkan krim berwarna putih di atas kuenya, perlahan dia memutar kue itu mengoleskan krimnya agar merata.
“Apa Anda tidak lelah Nona?” tanya Yuri yang melihat sedari tadi Bianca terus saja bekerja.
Bianca memang sengaja untuk menyibukkan dirinya, sudah tiga hari ini Rain tidak menghubunginya sama sekali, dia terus-menerus menunggunya daripada merasa hampir gila, Bianca mencoba untuk tidak memikirkannya, dan Bianca sama sekali tidak punya keberanian untuk menelepon Rain.
Bianca mencoba bertanya kepada Yuri dan Yuri selalu bertanya kepada Ken tentang keadaan Rain, jawabannya tetap sama Rain sedang sibuk tapi yang terpenting keadaanya selalu sehat.
Bianca tersenyum sedikit namun terlihat begitu manis sambil memberikan sejenak pandangannya kepada Yuri yang duduk di depannya tanpa banyak bicara dia menggelengkan kepalanya menyatakan bahwa dia tidak lelah hari ini.
Yuri tahu perasaan Bianca, wanita ini pastilah merindukan Tuannya.
"Yap, sudah selesai, cobalah Yuri," ujar Bianca menyodorkan kue seputih salju, seperti namanya.
"Nona, sepertinya selama bekerja dengan Nona, berat badanku jadi naik, baru kali ini aku bekerja dan pekerjaanku adalah memakan makanan hasil atasanku," ujar Yuri yang memang menjadi ahli pencicip makanan buatan Bianca,wanita ini pintar sekali membuat makan-makanan terutama makanan manis.
"Haha, tidak apa-apa, makan lah, boleh dibagikan juga dengan orang-orang lain di sana, Yuri, aku ingin berjalan-jalan sejenak di pantai," kata Bianca yang merasa butuh angin segar malam. Bianca langsung melepaskan apron putih yang dia gunakan.
"Nona bisakah menunggu sebentar, aku akan memberikan kue ini dan memakannya," ujar Yuri yang sudah tanggung, kue lembut yang lumer di mulutnya itu sayang sekali dia tinggalkan.
"Nikmati saja, aku hanya berjalan di pantai di depan Villa," kata Bianca tersenyum manis.
Yuri merasa benar-benar tak rela, mau tak mau dia meninggalkan makanan enak itu, dan segera mengikuti Bianca yang sudah berjalan menuju ke pintu depan.
Bianca menampakkan kakinya yang sengaja dia biarkan tanpa alas, merasakan sisa-sisa hangat matahari yang tersimpan di pasir, angin malam itu tenang, pantainya pun tampak tenang, memantulkan cahaya putih dari rembulan di ujungnya, Rembulannya sangat besar hingga tampak menjadi primadona langit malam ini.
__ADS_1
Bianca merasakan butiran-butiran pasir putih kering memenuhi sela-sela jari jemarinya, lalu dia terus berjalan menuju dermaga kayu yang menjorok lebih ke lautan.
Bianca berjalan terus hingga dia sampai di ujung dermaga, melihat warna gelap air yang bergelombang, menatap ke seluruhannya yang gelap, angin menerpa tubuhnya namun hal itu malah membangkitkan seluruh kerinduannya, di ujung sana? sedang apa pria yang selama ingin mengisi kepalanya?
Bianca memeluk dirinya, menyandarkan dirinya pada satu-satunya tiang lampu yang berdiri di sana, Bianca mencoba untuk tidak terlalu larut dalam ketenangan dan bisikan suara ombak yang membuai, mencoba merayu pikirannya untuk membuka luka dalam yang sudah ingin Bianca lepaskan. Yuri memandangkan dari jauh apa yang dilakukan oleh Bianca, setiap malam, Bianca selalu melakukan itu, menatap langit malam, tapi baru kali ini dia melakukannya di sini.
Yuri sedikit kaget ketika ponsel satelit yang ada padanya bergetar, saat dia melihat nama di ponsel itu dia segera menangakatnya.
"Baik Tuan," kata Yuri mengangguk mantap padalah tidak ada siapa pun di sana.
Yuri segera melangkah mendekati Bianca, Bianca yang dari tadi melamun sedikit kaget dengan langkah buru-buru Yuri yang membuat suara hentakan kaki yang cukup berisik. Bianca mengerutkan dahi melihat tangan Yuri menyodorkan ponsel satelitnya.
"Nona, Tuan ingin berbicara dengan Anda," Kata Yuri segera, Bianca langsung mengambilnya, 3 hari dia menunggu telepon dari Rain, kemana-mana selalu membawa ponsel yang dia berikan, sejenak saya dia meninggalkannya pria ini malah meneleponnya sekarang.
"Eh, aku keluar sejenak dan lupa membawanya, maafkan aku," ujar Bianca,
Pria ini, 3 hari tak menghubungi bukannya bersikap lembut atau bagaimana, tiba-tiba saja terdengar kesal seperti ini, Bianca jadi ikut kesal karenanya, tapi apa yang diharapkan Bianca? Rain mengatakan bahwa dia merindukan Bianca?
"Jangan berdiri di ujung dermaga malam-malam begini, anginnya terlalu kencang," ujar Rain lagi.
Rain menatap ke arah layar CCTV yang ada di tabletnya seperti yang biasa dia lakukan, mencari dimana wanita itu namun dia tak menemukannya di mana pun, hingga akhirnya dia menemukan wanita itu di ujung dermaga, untuk apa dia malam-malam ada di sana? apakah dia tak tahu angin malam tak akan baik untuknya.
Bianca mengerutkan dahinya, melirik sekitar mencari dari mana kira-kira sekarang Rain memperhatikannya, mata Bianca tertuju pada kamera di pelataran villa itu.
"Kau memperhatikaku lagi?" tanya Bianca.
__ADS_1
"Selalu," ujar Rain tanpa basa basi, membuat Bianca langsung mengerutkan dahinya, dia menggigit bibirnya, pria ini benar-benar tak pandai merayu, berkata apapun yang ada dipikirannya, namun entah kenapa malah selalu mengundang senyum manis Bianca.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bianca basa basi, dia mencoba menggalihkan fokus Rain agar diizinkan tetap ada di dermaga itu, dia cukup menikmati kesunyiannya.
"Aku baik-baik saja, Apakah kau masih terus ingin di sana? apa harus aku ke sana dan memintamu masuk?" tanya Rain yang sedari tadi masih melihat Bianca bergeming di tempatnya.
Bianca sedikit tertawa kecil, mana mungkin itu terjadi, walau sebenarnya dia sangat ingin bisa melihat pria itu, 3 hari saja rasanya sudah begitu merindukannya.
"Jangan tertawa!" suara keras itu terdengar, membuat Bianca tiba-tiba terdiam, dia melihat ujung dermaga yang berbatasan dengan pantai, sosok dingin nan gagah itu sudah berdiri di sana.
Bianca membesarkan matanya, bagaimana bisa Pria itu tiba-tiba ada di sana, bagaimana bisa permintaannya terkabul begitu cepat?
Rain menyerahkan ponsel satelitnya pada Yuri, sebenarnya dia memutuskan untuk kembali ke pulau ini setelah 3 hari hanya memperhatikan wanita itu dari layar, entah kenapa rasanya sungguh tak puas, jadi malam ini dia putuskan untuk pulang, toh dengan helikopter, perjalan mereka hanya ditempuh 1 jam perjalanan dan memang tadi dia tidak mendarat di dekat Villa melainkan di sisi lainnya, ingin melihat secara langsung bagaimana ekspresi Bianca melihatnya ada di sana tiba-tiba.
Rain membuka Jasnya sambil berjalan menuju ke arah Bianca, langkah yang sangat mantap, Setiap langkah yang dibuat oleh Rain membuat jantung Bianca semakin terpacu.
Rain dengan cepat mengalungkan jas itu pada tubuh Bianca, membuat Bianca sedikit mengerutkan dahinya, menatap wajah dingin yang dengan serius memakaikannya jas itu, kehangatannya langsung membaur.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Bianca yang benar-benar kaget pria ini ada di depannya sekarang.
"Pulau ini milikku, kenapa aku tak boleh ada di sini?" tanya Rain menaikkan satu alisnya, menatap wajah cantik yang terterpa angin malam, sedingin apapun dia ingin memasang wajah marahnya, namun di depan wanita ini wajah itu pasti terlihat melunak.
"Iya sih, aku tidak mengatakan kau tak boleh ada di sini," kata Bianca lagi.
"Ayo, masuk,jangan sampai sakit," kata Rain meraih tangan Bianca, tanpa aba-aba dirinya segera menarik tangan itu, pelan dan lembut sebenarnya, namun karena Bianca yang hanya bisa terkesima dengan kelakuan hangat Rain ini membuat dia hanya bisa mengikuti Rain, sekarang perasaan Bianca benar-benar seperti Bom yang akan meledak secepatnya, wajahnya saja sudah memanas bagaikan seseorang yang demam.
__ADS_1