Rain In The Winter

Rain In The Winter
103.


__ADS_3

Rain kembali memperhatikan kelihaian istrinya memasak, dia tersenyum kecil, kehangatan berdua seperti ini rasanya juga tak buruk.


"Aku rasa punya keluarga sederhana juga baik," kata Rain.


"Ya, aku rasa itu akan sangat baik, kau pulang bekerja saat aku memasak untukmu dan anak-anak kita nantinya," kata Bianca.


Rain tambah melebarkan senyumannya, melakukan pekerjaan rumah bersama, rasanya kebahagian seperti itu tak bisa di beli oleh uang.


"Akan ku beli rumah kecil yang hangat, saat kita liburan, kita bisa di sana menghabiskan waktu keluarga kita bersama-sama, tanpa pengawal ataupun pegawai, hanya kita," ujar Rain yang sekaligus seperti janji pada Bianca.


Bianca memandang Rain, sebuah gambaran keluarga bahagia muncul begitu saja pada benaknya, sangat indah. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu, sesuatu yang mengusik kepalanya seminggu ini, ingin dia utarakan namun belum menemukan waktu yang tepat.


"Ehm … boleh aku bertanya?"


"Hhm?" kata Rain.


"Bagaimana Lidia?" Tanya Bianca, belum bisa dia masuk ke intinya.


"Dia di Amerika, sementara ini kita bisa tenang, selama dia di sana, kita tak akan apa-apa," ujar Rain melirik Bianca.


"Oh," kata Bianca singkat.


"Katakanlah," ujar Rain, menebak dari wajah Bianca, ada hal lain yang ingin dia katakan. Bianca diam sejenak, namun dia memutuskan untuk mengatakannya.


"Aku hanya berpikir dan aku tahu hanya kau yang bisa menjawabnya, apa jika nanti kita punya anak, anak kita akan memiliki penyakit seperti Carel?" Tanya Bianca pelan, takut menyingung perasaan Rain, juga kembali membuat Rain merasa kehilangan lagi.


Rain diam, di tampak berpikir tentang hal itu.


"Semua keturunan kerajaan memiliki hal itu, tapi aku sudah meminta para dokter untuk menelitinya, lagi pula dokter dari kerajaan akan tetap bergabung, mereka akan membantu kita jadi aku rasa kita akan punya waktu untuk mencari obatnya sebelum anak kita nanti lahir," ujar Rain mencoba memberikan secercah harapan bagi Bianca.

__ADS_1


Bianca hanya diam, sedikit mengangguk dan berharap hal itu benar akan terjadi nantinya. Bianca lalu meletakkan sayur itu ke dalam mangkuk kaca.


"Kemarikan, ini panas," kata Rain yang segera mengambil mangkuk itu, meletakkannya ke tengah meja marmer di dapur itu, tempat makanan terhidang sebelum dibawa ke ruang makan. Rain lalu duduk di sana.


"Aku akan meminta pelayan membawakannya ke ruang makan," ujar Bianca.


"Tidak perlu, ayo makan di sini saja, " ujar Rain, Bianca mengangguk lagi, memang akan lebih terasa hangat jika makan berdua di meja dapur ini, ruang makan Rain terlalu luas jika makan berdua, lagi pula selalu ada pelayan dan pengawal di sana.


Bianca mengambilkan peralatan makan mereka, dia menyerahkan piring dan perlengkapan yang lain untuk Rain, selain itu dia menyiapkan air minum Rain dulu sebelum dia duduk di depan Rain yang sudah mencomot daging ikan yang ada di sana, semua makanan itu memang tampak begitu menyelerakannya.


"Makan sayuran, kau kurang memakannya," ujar Rain, Bianca memang tak suka makan sayuran, Rain mengambil setengah sayur dan meletakkannya ke piring Bianca, Bianca memajukan bibirnya tapi baru kali ini dia melihat Rain makan dengan berbicara.


"Makan ini, ini enak loh," ujar Bianca menunjuk daging dengan bumbu merah, tampak potongan cabai di sana.


"Tidak, terlihat pedas, aku tak suka makanan pedas," ujar Rain datar menyeruput sup rumput laut buatan Bianca, lalu memakan kembali menu daging yang lain, rasanya seenak kelihatannya.


Rain mengerutkan dahinya, menggelengkan kepalanya, tak ingin merasakan panas membakar mulutnya dan membuat dia kehilangan nafsu makannya.


"Dasar, pedas saja takut, tuh tidak pedas," kata Bianca memakan daging itu dan memajukan bibirnya tanda mengejek suaminya.


Rain tiba-tiba menaikkan tubuhnya, dia lalu memegang kepala Bianca dan menariknya agar mendekat ke arahnya, lalu tiba-tiba saja bibir Rain sudah menempel di bibir Bianca, lidah Rain sedikit memaksa masuk namun sejenak saja dia sudah menariknya.


"Pedas," ujar Rain kembali duduk, meminum supnya lalu segera makan.


Bianca yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam, pria di depannya ini, walau sudah bersama tapi tetap tak bisa dia tebak, membuat Bianca tak bisa menelan kembali daging yang ada di mulutnya.


"Ayo makan," kata Rain, kembali fokus dengan makanannya, seolah apa yang baru dia lakukan adalah hal biasa.


Bianca yang sadar langsung meminum air putihnya, mencoba mendorong makanannya, lalu setelah bisa menelannya, Bianca baru memulai makan sayurnya.

__ADS_1


Hening sejenak, keduanya berkonsentrasi dengan makanan mereka, berdua dengan suasana hangat dan dekat di meja dapur itu, sesekali Bianca menatap wajah pria di depannya, kesan dingin membuat dirinya semakin menyedot perhatian, mata tajamnya tak dipungkiri, sangat menawan, jika nanti dia punya anak, akankah semenarik ayahnya.


"Setelah ini, kita buat adik untuk Carel," ujar Rain tiba-tiba memecah keheningan dan suara hujan. Tak ada nada ajakan, malah seperti perintah tak bisa ditolak.


"Uhukkk..." Bianca tersedak mendengar ceplosan dari Rain, bagaimana bisa berbicara begitu. Rain hanya mengerutkan dahinya sejenak, lalu mengambil air putih untuk Bianca, Bianca menyambarnya lalu meminum semuanya, rasa pedas di tenggorokannya bagai membakar.


"Kenapa berbicara sejelas itu?" Tanya Bianca protes.


"Memangnya kenapa? Bukannya ingin cepat mempunyai anak?" Tanya Rain, menaikkan sudut bibirnya sedikit, membuat senyum licik tapi menggoda.


"Ya, tapi kan, ini di dapur, bagaimana kalau ada yang mendengar," kesal Bianca.


Rain melihat ke sekitar, tak ada orang.


"Lebih baik di katakan di sini dari pada di ruang makan kan? Kita buat adik Carel malam ini," goda Rain lagi, suka melihat wajah Bianca yang memerah, salah tingkah karna ulahnya.


"Dasar mesum, setidaknya biarkan aku makan dengan tenang dulu," kata Bianca malu, dia menutupinya dengan wajah kesal, lalu segera kembali menyantap makanannya.


Rain hanya diam memperhatikan wanitanya ini, terlalu imut membuatnya gemas. Begitu Bianca meletakkan sendoknya dan minum, Rain langsung turun, hal itu membuat Bianca langsung memerah wajahnya.


"Sudah kan?" Tanya Rain, dengan cepat mendekati Bianca lalu menariknya turun dari kursinya.


"Eh, tunggu dulu, aku …" kata Bianca mencoba memikirkan alasannya, rasanya aneh jika tahu mereka akan melakukan itu, biasanya itu terjadi tanpa rencana.


Rain mengerutkan Dahinya, lalu tiba-tiba wajah jahilnya langsung terlihat membuat Bianca jadi takut melihat suaminya sendiri.


"Oh, kau ingin melakukannya di sini? Mencari suasana baru? Kau nakal juga ya," goda Rain yang membuat Bianca membesarkan matanya dan menarik napas panjangnya dan tertahan, wajahnya tampak panik apalagi Rain mulai mendekatkan wajahnya.


"Bukan! Di kamar saja! Jangan di sini," ujar Bianca, dia berbalik menarik Rain, Rain yang pasrah di tarik oleh Bianca hanya bisa tersenyum manis, geleng-geleng melihat tingkah istrinya.

__ADS_1


__ADS_2